Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2011

sudah benarkah doa berbuka puasa Anda?

Yahudi berilmu tanpa beramal, sedangkan Nasrani beramal tanpa berilmu. Seorang Muslim, sudah seharusnya berilmu sebelum beramal. Sudah benarkah do'a berbuka puasa yang selama ini kita amalkan? Pembahasan selengkapnya klik di sini. Berikut saya kutipkan do'a berbuka puasa yang shahih:
Do’a pertama:

Terdapat sebuah hadits shahih tentang doa berbuka puasa, yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ
“Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah-ed.”
[Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki]
(Hadits shahih, Riwayat Abu Daud [2/306, no. 2357] dan selainnya; lihat Shahih al-Jami’: 4/209, no. 4678)
[Syarah Hisnul Muslim, bab Dua’ ‘inda Ifthari ash-Shaim, hadits no. 176]
Do’a kedua:
Adapun doa yang lain yang merupakan atsar dari perkataan Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash radhiyallahu ‘anhuma adalah,

اَللَّهُم…

menjadi orang asing..

ketika mata-mata itu masih lelap, ketika kebanyakan lambung masih lekat dengan tempat tidur, ketika ruh-ruh masih melayang di alam mimpi; dia telah bangun untuk menunaikan shalat fajar -berjama’ah di masjid, kemudian berdzikir pagi..
ketika orang-orang sibuk dengan dunia; dia selalu meluangkan waktu untuk shalat dhuha..
ketika kebanyakan manusia sedang tunggang langgang mencari makan siang; dia dzuhur -berjama’ah di masjid..
ketika orang-orang berkemas-kemas pulang; dia ashar -berjama’ah di masjid, kemudian berdzikir petang..
ketika kebanyakan orang beristirahat setelah lelah seharian mencari uang; dia shalat maghrib -berjama’ah di masjid..
ketika orang-orang menyantap makan malam; dia shalat isya’ -berjama’ah di masjid..
ketika mata-mata itu telah kembali terlelap, ketika kebanyakan lambung kembali lekat dengan tempat tidur,  ketika ruh-ruh kembali melayang di alam mimpi; dia kembali terjaga untuk shalat malam..
ketika kebanyakan orang menganggap biasa meninggalkan shalat; dia tetap menegak…

memaksa diri..

Jika seseorang saya menjadi dua, maka yang satu ibarat ibu yang sangat menyayangi dan lebih tahu tentang kebaikan anaknya sedangkan yang lain ibarat anak kecil yang serba ingin tahu dan banyak mau.
Ibu yang baik tentu tak akan membiarkan anaknya melakukan apa saja. Si anak belum banyak tahu yang baik dan yang buruk, bahkan yang berbahaya bagi dirinya. Menjadi tugas si ibu untuk mendidik, mengajari, dan senantiasa mengawasi anaknya. Lengah sedikit saja, bisa-bisa fatal akibatnya.
Terkadang si anak menerima apa adanya, menelan bulat-bulat perintah si ibu. Cukup dengan kata-kata yang lembut, si anak menurut. Namun, terkadang ia bersikeras menginginkan sesuatu –yang tidak baik untuknya, tanpa tahu akibatnya atau ia tidak menginginkan sesuatu yang sangat penting untuk dirinya. Ibu tentu harus memperingatkannya lebih keras, bahkan jika perlu mencegah dan memaksa si anak dengan tangannya. Semua itu, tentu berlatar belakang kasih sayang si ibu dan demi kebaikan si anak sendiri.
Kurang lebih, si …

Bersemilah Ramadhan

Judul                  : Bersemilah Ramadhan Penulis             : Armen Halim Naro –rahimahullah Penerbit             : Pustaka Darul Ilmi Jumlah Halaman  : vii + 62 halaman
“Saudaraku, telah datang kepada kita bulan Ramadhan, musim kebaikan, musim penggandaan ganjaran dan pemberian hadiah besar-besaran, dibukakannya pintu-pintu kebaikan. Bulan diturunkannya al-Qur’an, di dalamnya petunjuk, penerangan untuk manusia.
Hari-hari Ramadhan merupakan musim bercocok tanam, tanahnya subur, air hujan lagi banyaknya, hamanya telah menjauh dari ladang.
Hari dimana orang-orang shalih mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya, mereka sedikitkan tidur pada malam harinya, mereka giatkan bekerja dalam ketaatan dan ibadah pada siangnya.
Di antara malamnya ada sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ya, seribu bulan dalam artian sama dengan ibadah lebih dari 83 tahun, ibadah secara terus menerus tanpa henti. Segera! Isi hari-hari Anda dengan beribu-ribu kebaikan…”
Alhamdulillah, Ramadhan insyaAllah sege…

kaki kanan dan kaki kiri

Minggu pagi yang cerah, kaki kanan dan kaki kiri sedang bersepeda bersama waktu itu. Setelah keduanya hampir lelah mengayuh dan memutuskan untuk kembali pulang, mereka menyempatkan diri sekadar membeli makan pagi, alias sarapan dalam bahasa manusia. Mampirlah mereka membeli ketupat sayur di pinggir jalan, dibungkus, pakai telor. Masukkan ke keranjang sepeda di bagian depan; cukup satu bungkus yang akan mereka makan bersama; memang rukun sekali mereka berdua.
Dari situ, kedua kaki itu benar-benar hendak pulang. Tapi tunggu dulu, mereka tiba-tiba ingat sesuatu. Persediaan uang di dompet tuannya menipis. Kebetulan –qodarullah, red- di seberang jalan sana ada ATM *Automatic Teller Machine, bukan Anjungan Tunai Mandiri. Mereka kayuh kembali sepedanya ke ATM yang masih satu komplek dengan Apotik Rini itu. Apotik –yang entah kenapa- paling laris dari beberapa apotik yang ber-jejer di sepanjang Jalan Balai Pustaka.
Sampailah sepasang kaki itu di tempat tersebut. Ramai-ramai; rupanya sedang ada …

lari

aku hanya ingin lari

dari kota yang ternyata tidak aku ingini

kota yang hingar bingar tak karuan

kota yang wanita, harta, dan tahta dipuja bak raja,

bahkan dewa

dijunjung tinggi-tinggi seperti tuan oleh budaknya

aku kadang tak mengerti

tak tahu atau tak mau tahu

lupa atau pura-pura lupa

hidup ini seperti bukan kehidupan

dunia seperti selamanya

kematian seperti tak ada

surga neraka seolah dongeng belaka

kota ini seperti bukan kota

ini hanya kota mati

yang dihuni orang-orang mati hati

selain segelintir,

yang mungkin bisa dihitung jari

muak,

terkadang diri ini muak, sangat

marah,

pada siapa ku hendak marah

kecuali pada diri sendiri

keadaan seperti terlalu parah untuk diubah

diri ini pun terlalu lemah untuk mengubah

sebut saja aku pengecut

mungkin lebih pantas,

dari pada aku terlena bersama mereka

aku hanya ingin lari

candu

Saya tak pernah benar-benar mengerti seberapa sulitnya berhenti merokok, karena -alhamdulillah- saya bukan perokok, tak pernah merokok. Tetapi mungkin saya bisa mengira-kira, memang tak semudah membalik telapak tangan untuk meninggalkan rokok. Oh, tidak. Saya bukan hendak menyajikan pembenaran bagi Anda yang belum bisa berhenti merokok. Justru mungkin sebaliknya.
Tidak banyak -kalau tidak mau dikatakan tidak ada- orang yang tidak mengerti bahaya rokok. Sekadar bisa membaca saja, mereka jelas-jelas akan tahu akibat-akibat berbahaya yang dapat ditimbulkannya. "Peringatan Pemerintah" terpampang di setiap bungkus rokok, iklan-iklan, baliho, dan segala macam atribut yang berbau rokok. Lalu kenapa? Mereka 'sulit' berhenti merokok karena mereka telah 'menikmatinya', nikmat sesaat yang semu; kecanduan. 'Nikmat' yang akan mengantarkan mereka ke lembah kebinasaan dan penyesalan berkepanjangan. Hanya saja, ditambah lagi, bahaya-bahaya rokok yang sekadar belum dat…

Hidayat Sutardi

Wajahnya sudah mulai keriput. Matanya sayu. Jenggotnya telah mulai berubah warna putih. Badannya masih tegap, meski ketika mulai kecapekan berjalannya agak tertatih; kaki kanannya agak diseret; lututnya sakit katanya. Pendengarannya telah kabur sejak dia duduk di bangku sekolah menengah; kekurangan yang mungkin membuatnya berhenti mengejar cita-cita kebanyakan orang untuk kemudian memilih meneruskan pekerjaan orang tuanya, bertani.
Keluarga, juga orang-orang di sekitarnya mengenalnya sebagai sosok pekerja keras. Kulit sawo matang yang menghitam terbakar panas matahari, tonjolan-tonjolan pembuluh darah di sekujur kedua tangan dan kakinya menjadi bukti shahih bahwa dia seolah tak kenal kata lelah. Bertani, mencetak batu bata, serta segala macam pekerjaan rumah laki-laki ia lakoni.
Terlepas dari kekurangan-kekurangannya, bagi saya beliau adalah seorang bapak mertua yang luar biasa. Begitu pula bagi ibu mertua dan anak-anaknya, beliau adalah kepala keluarga yang tiada duanya. Istri saya ser…

the last, kompre

Setelah perjuangan melelahkan -hampir- dua tahun lamanya..

Setelah dua semester pendek dilewatkan dan empat semester panjang dijalani.. -sambil bekerja dan menikah dini

Setelah tujuh belas mata kuliah dilalui..

Setelah lima puluh satu SKS dihabisi..

Setelah akhirnya memilih non skripsi..

Setelah dua pekan sebelumnya baru tahu bahwa ujian kompre di STEI, lisan.. -bukan tertulis seperti di STAN

Setelah bolak-balik sampai tiga kali untuk sekadar mendaftar..

Setelah dua hari sebelumnya baru dapat "kisi-kisi full version" -yang segambreng itu

Setelah belajar keras dengan menghabiskan kopi bergelas-gelas..

Setelah pindah ruang ujian tanpa pemberitahuan..

Akhirnya, tibalah saya di sini . . .

Jumat, 24 Juni 2011, Ruang A305 A206, Kampus STEI..
UJIAN KOMPREHENSIF TERTULIS LISAN
d a a a a n . . . . .


Setelah ditanyai tiga dua dosen penguji..

Setelah sekitar sepuluh pertanyaan dijawab..


L

U

L

U

S

Alhamdulillah.