Wednesday, July 27, 2011

sudah benarkah doa berbuka puasa Anda?

Yahudi berilmu tanpa beramal, sedangkan Nasrani beramal tanpa berilmu. Seorang Muslim, sudah seharusnya berilmu sebelum beramal. Sudah benarkah do'a berbuka puasa yang selama ini kita amalkan? Pembahasan selengkapnya klik di sini. Berikut saya kutipkan do'a berbuka puasa yang shahih:

Do’a pertama:

Terdapat sebuah hadits shahih tentang doa berbuka puasa, yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ

“Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah-ed.”
 
[Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki]

(Hadits shahih, Riwayat Abu Daud [2/306, no. 2357] dan selainnya; lihat Shahih al-Jami’: 4/209, no. 4678)

[Syarah Hisnul Muslim, bab Dua’ ‘inda Ifthari ash-Shaim, hadits no. 176]

Do’a kedua:

Adapun doa yang lain yang merupakan atsar dari perkataan Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash radhiyallahu ‘anhuma adalah,

اَللَّهُمَّ إنِّي أَسْألُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ، أنْ تَغْفِرَ لِيْ

“Allahumma inni as-aluka bi rohmatikal latii wasi’at kulla syain an taghfirolii-ed”

[Ya Allah, aku memohon rahmatmu yang meliputi segala sesuatu, yang dengannya engkau mengampuni aku]

(HR. Ibnu Majah: 1/557, no. 1753; dinilai hasan oleh al-Hafizh dalam takhrij beliau untuk kitab al-Adzkar; lihat Syarah al-Adzkar: 4/342)
[Syarah Hisnul Muslim, bab Dua’ ‘inda Ifthari ash-Shaim, hadits no. 177]

Tuesday, July 26, 2011

menjadi orang asing..

ketika mata-mata itu masih lelap, ketika kebanyakan lambung masih lekat dengan tempat tidur, ketika ruh-ruh masih melayang di alam mimpi; dia telah bangun untuk menunaikan shalat fajar -berjama’ah di masjid, kemudian berdzikir pagi..

ketika orang-orang sibuk dengan dunia; dia selalu meluangkan waktu untuk shalat dhuha..

ketika kebanyakan manusia sedang tunggang langgang mencari makan siang; dia dzuhur -berjama’ah di masjid..

ketika orang-orang berkemas-kemas pulang; dia ashar -berjama’ah di masjid, kemudian berdzikir petang..

ketika kebanyakan orang beristirahat setelah lelah seharian mencari uang; dia shalat maghrib -berjama’ah di masjid..

ketika orang-orang menyantap makan malam; dia shalat isya’ -berjama’ah di masjid..

ketika mata-mata itu telah kembali terlelap, ketika kebanyakan lambung kembali lekat dengan tempat tidur,  ketika ruh-ruh kembali melayang di alam mimpi; dia kembali terjaga untuk shalat malam..

ketika kebanyakan orang menganggap biasa meninggalkan shalat; dia tetap menegakkannya meskipun telah sekarat..

ketika kebanyakan manusia memilih bernyanyi; dia membaca kitab suci..

ketika kebanyakan manusia lebih hafal ratusan lirik lagu; dia hafal berjuz-juz al-Qur’an..

ketika orang-orang mati-matian belajar Bahasa Inggris; dia belajar Bahasa Arab..

ketika orang-orang memperbaiki grammar dan spelling-nya; dia memperbaiki tajwid dan makhraj-nya..

ketika orang-orang mengejar dan berbangga dengan gelar-gelar dunia; dia hanya ingin satu gelar, Abdullah..

ketika orang-orang memenuhi perutnya, menggemukkan badannya; dia perbanyak berpuasa..

ketika manusia berlomba-lomba mengumpulkan harta; dia berlomba-lomba menuntut ilmu..

ketika orang-orang sibuk menghitung hartanya; dia sibuk menghitung zakatnya..

ketika manusia mengkhawatirkan kemiskinan; dia mengkhawatirkan dosa-dosanya..

ketika orang-orang memimpikan liburan ke luar negeri; dia memimpikan naik haji..

ketika orang-orang mengidolakan orang-orang barat; idolanya hanya Rasulullah Muhammad -shalAllahu ‘alayhi wassalam..

ketika orang tak melepaskan sumpalan earphone di telinganya –entah apa yang mereka dengarkan- di jalan-jalan; dia tak mengeringkan lisannya dari dzikrullah..

ketika para wanita ramai-ramai pamer aurat; ia menutupnya rapat-rapat..

ketika para laki-laki mengumbar pandangan; dia menundukkannya..

ketika orang-orang berbangga dengan dan berlomba dalam kecantikan dan ketampanannya; dia hanya ingin memperbaiki agama dan akhlak-nya..

ketika orang-orang berpacaran sampai tua; dia menikah muda..

ketika manusia berdesak-desakkan di konser musik; ia duduk tenang di majelis ilmu..

ketika manusia banyak tertawa; dia banyak menangis..

ketika kebanyakan manusia lebih senang menonton televisi dan mendengarkan musik; dia nyaman mendengar lantunan ayat suci al-Qur’an dan kajian..

ketika orang-orang lebih suka membaca koran, majalah, tabloid; dia membaca buku-buku agama..

ketika membicarakan kejelekan orang menjadi budaya; dia menutup telinga dan membungkam mulutnya..

ketika orang-orang bercita-cita tentang wanita, harta, dan tahta; dia hanya mengharapkan surga dan wajah-Nya..

ketika orang-orang merindukan apa yang dirindukan hawa nafsunya; dia hanya merindukan perjumpaan dengan Rabb-nya..

ketika manusia berlomba-lomba membangun dunianya; dia membangun akhiratnya..

“Islam itu berawal dari keterasingan dan akan kembali menjadi asing seperti awalnya. Maka beruntunglah orang-orang asing.”
[HR. Muslim No. 145]

al ghuroba'





















*demi Allah, saya tidak sedang membicarakan diri sendiri, tapi demi Allah saya ingin seperti dia, saya ingin menjadi orang asing saja..

Monday, July 25, 2011

memaksa diri..

Jika seseorang saya menjadi dua, maka yang satu ibarat ibu yang sangat menyayangi dan lebih tahu tentang kebaikan anaknya sedangkan yang lain ibarat anak kecil yang serba ingin tahu dan banyak mau.

Ibu yang baik tentu tak akan membiarkan anaknya melakukan apa saja. Si anak belum banyak tahu yang baik dan yang buruk, bahkan yang berbahaya bagi dirinya. Menjadi tugas si ibu untuk mendidik, mengajari, dan senantiasa mengawasi anaknya. Lengah sedikit saja, bisa-bisa fatal akibatnya.

Terkadang si anak menerima apa adanya, menelan bulat-bulat perintah si ibu. Cukup dengan kata-kata yang lembut, si anak menurut. Namun, terkadang ia bersikeras menginginkan sesuatu –yang tidak baik untuknya, tanpa tahu akibatnya atau ia tidak menginginkan sesuatu yang sangat penting untuk dirinya. Ibu tentu harus memperingatkannya lebih keras, bahkan jika perlu mencegah dan memaksa si anak dengan tangannya. Semua itu, tentu berlatar belakang kasih sayang si ibu dan demi kebaikan si anak sendiri.

Kurang lebih, si anak baru pada taraf berfikir tentang keinginan dan kesenangan dirinya sedangkan si ibu berfikir tentang kebutuhan dan kebaikan anaknya.

Demikian pula diri kita, atau setidaknya diri saya –karena saya tidak tahu banyak tentang Anda. Seolah ada dua sisi mata uang dalam diri ini; tidak dapat dipisahkan dan saling berlawanan. Yang satu hendak ke sana, yang satu ingin kemari.

Sama seperti si ibu, satu sisi –yang baik tentu saja, terkadang harus memaksa sisi yang lain untuk mau tidak mau ikut dengannya, demi kebaikan bersama. Dan hati kecil kita, tahu persis siapa sisi yang baik dan siapa yang buruk sebagaimana orang-orang membedakan mana si ibu dan mana si anak kecil. Dan sisi baik mampu untuk memaksa sisi yang lain sebagaimana si ibu sangat mampu memaksa anak balitanya.

Hanya terkadang sering kita lalai, kita membiarkan sisi buruk melakukan apa saja. Selama ini kita, sebagian kita, sebagian dari diri ini, belum bisa menjadi seorang ibu yang baik.

Saatnya memaksa diri.

Thursday, July 21, 2011

Bersemilah Ramadhan

Bersemilah Ramadhan
Judul                  : Bersemilah Ramadhan
Penulis             : Armen Halim Naro –rahimahullah
Penerbit             : Pustaka Darul Ilmi
Jumlah Halaman  : vii + 62 halaman

“Saudaraku, telah datang kepada kita bulan Ramadhan, musim kebaikan, musim penggandaan ganjaran dan pemberian hadiah besar-besaran, dibukakannya pintu-pintu kebaikan. Bulan diturunkannya al-Qur’an, di dalamnya petunjuk, penerangan untuk manusia.

Hari-hari Ramadhan merupakan musim bercocok tanam, tanahnya subur, air hujan lagi banyaknya, hamanya telah menjauh dari ladang.

Hari dimana orang-orang shalih mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya, mereka sedikitkan tidur pada malam harinya, mereka giatkan bekerja dalam ketaatan dan ibadah pada siangnya.

Di antara malamnya ada sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ya, seribu bulan dalam artian sama dengan ibadah lebih dari 83 tahun, ibadah secara terus menerus tanpa henti. Segera! Isi hari-hari Anda dengan beribu-ribu kebaikan…”

Alhamdulillah, Ramadhan insyaAllah segera menyapa kita kembali. Semoga kita diberi umur panjang untuk bersua dengan bulan yang mulia itu tahun ini, juga pada tahun-tahun yang akan datang. Amin.

Sebagian kita mungkin telah mulai mempersiapkan diri, sangat termotivasi, sampai benar-benar tak sabar menyambut kedatangan Ramadhan. Namun, sebagian lagi mungkin belum mendapat feel untuk menyambut bulan yang sungguh sangat istimewa ini. Sebagian yang lain, lebih memilih meng-antri tiket kereta api atau berburu tiket pesawat untuk rencana pulang kampung bertemu sanak kerabat lebaran nanti *sungguh visioner*. Yang lain lagi, mendadak menjadi pengamat harga bawang putih dan cabai merah di pasaran.

Bersemilah Ramadhan, sebuah renungan dan motivasi ibadah di Bulan Ramadhan. Sebuah buku yang insyaAllah akan mengantarkan kita menemukan feel dalam menyambut dan menjalani Bulan Ramadhan.

Dibuka dengan basmallah dan muqaddimah dari penulis, buku ini berisi sepuluh tulisan berantai tentang keutamaan, keistimewaan, ,maupun pelajaran dari Bulan Ramadhan. Mulai dari Keutamaan Ramadhan, Pergantian Masa, Ayyamam Ma’duudat (Hari-hari Yang Berbilang), Ramadhan Musim Ibadah, Bulan Melatih Ibadah, Bulan Derma Dan Berbuat Baik, Bulan Al-Qur’an, Bulan Jihad Melawan Hawa Nafsu, Puasa dan Ikhlas, dan Bulan Silaturrahim. kemudian penulis menutupnya dengan Diary Satu Hari di Bulan Ramadhan. Tak lupa penerbit juga menampilkan Biografi Penulis di bagian akhir buku.

Bersemilah Ramadhan ditulis oleh seorang ustadz asal Pekanbaru yang qodarullah telah wafat tahun 2007 silam pada usia yang masih tergolong muda, Al Ustadz Armen Halim Naro–rahimahullah. Ustadz lulusan Universitas Islam Madinah dengan nilai cumlaude ini memiliki tata bahasa yang sungguh memesona. Penyampaian yang menyentuh hati, keilmuan yang tinggi, serta pesona bahasa sang penulis menjadi keunggulan buku ini.

Pembahasan yang ringkas menjadikan buku ini tidak terlalu tebal sehingga otomatis menjadikan harga jualnya pun terjangkau. Jumlah halaman yang tidak terlalu banyak serta pembagian menjadi beberapa tulisan terpisah mungkin membuatnya menarik bagi calon pembaca yang terkadang malas membaca buku-buku tebal.

Buku ini insyaAllah sangat bermanfaat untuk dibaca menjelang atau di dalam Bulan Ramadhan -apalagi ditambah dengan mendengarkan ceramah Bedah Buku Bersemilah Ramadhan oleh Ustadz Armen -rahimahullah, yang dapat di-download di sini- untuk menambah semangat dan motivasi kita dalam beribadah. Allahu A’lam.

“Wahai engkau yang tidak cukup melakukan dosa pada Rajab..
Lalu engkau sambung pada bulan Sya’ban..

Telah datang bulan puasa kepadamu setelah keduanya..
Jangan engkau jadikan lagi bulan itu bulan dosa..

Bacalah al-Qur’an dan bersungguhlah dalam bertasbih..
Karena bulan itu bulan al-Qur’an dan tasbih..

Berapa banyak yang engkau kenal mereka yang berpuasa..
Dari keluarga, tetangga, dan saudara..

Mereka telah dimusnahkan oleh kematian menyisakan dirimu..
Alangkah dekatnya yang sekarang dengan yang terdahulu..”

Tuesday, July 19, 2011

kaki kanan dan kaki kiri

Minggu pagi yang cerah, kaki kanan dan kaki kiri sedang bersepeda bersama waktu itu. Setelah keduanya hampir lelah mengayuh dan memutuskan untuk kembali pulang, mereka menyempatkan diri sekadar membeli makan pagi, alias sarapan dalam bahasa manusia. Mampirlah mereka membeli ketupat sayur di pinggir jalan, dibungkus, pakai telor. Masukkan ke keranjang sepeda di bagian depan; cukup satu bungkus yang akan mereka makan bersama; memang rukun sekali mereka berdua.

Dari situ, kedua kaki itu benar-benar hendak pulang. Tapi tunggu dulu, mereka tiba-tiba ingat sesuatu. Persediaan uang di dompet tuannya menipis. Kebetulan –qodarullah, red- di seberang jalan sana ada ATM *Automatic Teller Machine, bukan Anjungan Tunai Mandiri. Mereka kayuh kembali sepedanya ke ATM yang masih satu komplek dengan Apotik Rini itu. Apotik –yang entah kenapa- paling laris dari beberapa apotik yang ber-jejer di sepanjang Jalan Balai Pustaka.

Sampailah sepasang kaki itu di tempat tersebut. Ramai-ramai; rupanya sedang ada acara di Apotik Rini. Oh, mungkin ini yang bikin Apotik Rini berhasil memenangkan persaingan antar apotik di daerah Rawamangun selain karena sepertinya apotik ini apotik yang paling tua –bisa dilihat dari bangunannya. Sesekali waktu, mereka mengumpulkan pelanggan untuk sekadar senam pagi, lalu setelah itu bagi-bagi hadiah –mungkin.

Biasanya kaki kanan dan kaki kiri memarkir sepeda mereka di dalam komplek apotik. Tetapi karena kali ini tempat telah penuh dengan motor terparkir di situ, maka mereka hanya meninggalkan sepedanya di pinggir jalan, dikunci setang *jaman sekarang, sepeda mini pun pakai kunci setang.

Kaki kiri dan kaki kanan tiba tepat di depan pintu ATM, terjadilah apa yang terjadi pagi itu. ‘Seseorang’ membuka pintu ATM dengan serampangan. Ujung pintu ATM bagian bawah yang terdiri kaca tebal berlapis logam keras mengkilat itu menghantam telak kaki kanan, tepat di ujung kuku jempolnya. Seketika itu segar darah merah bersimbah, kuku jempol kaki kanan lepas separo. Kondisinya sangat mengenaskan, kuku itu seperti tutup botol yang baru saja dicongkel paksa. Belum terbuka sepenuhnya, masih menggantung setengah di tempatnya.

Kaki kiri pun panik, tetapi –alhamdulillah- masih bisa berpikir jernih. Segera ia papah saudaranya ke sepeda mereka. Ia naikkan kaki kanan ke sepeda, lalu dikayuhnya sepeda itu sendirian. Kebetulan –qodarullah, red- tidak jauh dari situ ada sebuah rumah sakit, Rumah Sakit Persahabatan. Saking terburu-burunya, tak peduli sepeda mereka melaju berlawanan arus. Saat menyeberang perempatan,  lampu merah yang menyala atau lampu hijau yang padam pun tak lagi dihiraukan.

Untunglah –alhamdulillah- kedua kaki sampai di RS Persahabatan dengan ‘selamat’. Sesampainya di sana, setelah meletakkan sepeda sekenanya, kaki kiri kembali memapah kaki kanan ke IGD –Instalasi Gawat Darurat. Satpam-satpam rumah sakit yang baik hati pun mengantarkan mereka sampai ke ruang medikasi.

Ada satu pasien manusia juga di ruang itu. Sepertinya ia habis jatuh dari sepeda motor. Kaki, tangan, dan dagunya lecet-lecet. Alhamdulillah, si kaki kanan hanya luka jempolnya saja. Kaki kanan pun berbaring di ranjang sebelah pasien itu. Darah sepertinya tidak lagi mengalir. Ganti keringat dingin sekarang yang mengalir. Tetapi, kaki kanan lumayan tenang sebenarnya waktu itu.

Setelah selesai mengurus pasien yang tadi, si perawat menghampiri kaki kanan dan kaki kiri. Setelah meminta izin untuk mencabut kuku malang itu, ia menyemprotkan pembius, menjepit kuku jempol kaki kanan, lalu mulai mencongkel tepi kuku yang masih melekat. Sakit, lumayan..

Keringat dingin semakin deras mengalir, tidak hanya di kaki kanan dan kaki kiri, tetapi juga di sekujur tubuh tuannya. Bahkan disertai sedikit kepala pusing dan pandangan agak kabur, seperti mau pingsan –untungnya tidak jadi, alhamdulillah. Sesekali sang tuan meringis kesakitan. Setelah beberapa saat, kuku berhasil dilepas seluruhnya, legalah, alhamdulillah.

Kemudian, Pak Perawat membubuhkan cairan obat dan membungkus jempol kaki kanan dengan kain kasa. Selesai.

Setelah menyelesaikan urusan administrasi, kedua kaki meninggalkan RS Persahabatan –tetapi tidak menanggalkan persahabatan-, pulang kembali ke rumah. Hari sudah mulai agak siang, sinar matahari sudah mulai terasa terik.


kaki kanan yang malang, "la ba`sa thohurun, insyaAllah"

Sesampainya di rumah, ‘seseorang’ yang membuka pintu ATM serampangan tadi baru diingat. Dia ternyata adalah si tangan kiri. Sudah seharusnya, dia meminta maaf. Tak apa, kita semua bersaudara. Dan toh si tangan kiri sejujurnya tak sengaja. Siang itu juga, setelah makan ketupat sayur yang telah mendingin, mereka semua tidur siang bersama.

Monday, July 11, 2011

lari

aku hanya ingin lari

dari kota yang ternyata tidak aku ingini

kota yang hingar bingar tak karuan

kota yang wanita, harta, dan tahta dipuja bak raja,

bahkan dewa

dijunjung tinggi-tinggi seperti tuan oleh budaknya

aku kadang tak mengerti

tak tahu atau tak mau tahu

lupa atau pura-pura lupa

hidup ini seperti bukan kehidupan

dunia seperti selamanya

kematian seperti tak ada

surga neraka seolah dongeng belaka

kota ini seperti bukan kota

ini hanya kota mati

yang dihuni orang-orang mati hati

selain segelintir,

yang mungkin bisa dihitung jari

muak,

terkadang diri ini muak, sangat

marah,

pada siapa ku hendak marah

kecuali pada diri sendiri

keadaan seperti terlalu parah untuk diubah

diri ini pun terlalu lemah untuk mengubah

sebut saja aku pengecut

mungkin lebih pantas,

dari pada aku terlena bersama mereka

aku hanya ingin lari

lari

Tuesday, July 5, 2011

candu

Saya tak pernah benar-benar mengerti seberapa sulitnya berhenti merokok, karena -alhamdulillah- saya bukan perokok, tak pernah merokok. Tetapi mungkin saya bisa mengira-kira, memang tak semudah membalik telapak tangan untuk meninggalkan rokok. Oh, tidak. Saya bukan hendak menyajikan pembenaran bagi Anda yang belum bisa berhenti merokok. Justru mungkin sebaliknya.

Tidak banyak -kalau tidak mau dikatakan tidak ada- orang yang tidak mengerti bahaya rokok. Sekadar bisa membaca saja, mereka jelas-jelas akan tahu akibat-akibat berbahaya yang dapat ditimbulkannya. "Peringatan Pemerintah" terpampang di setiap bungkus rokok, iklan-iklan, baliho, dan segala macam atribut yang berbau rokok. Lalu kenapa? Mereka 'sulit' berhenti merokok karena mereka telah 'menikmatinya', nikmat sesaat yang semu; kecanduan. 'Nikmat' yang akan mengantarkan mereka ke lembah kebinasaan dan penyesalan berkepanjangan. Hanya saja, ditambah lagi, bahaya-bahaya rokok yang sekadar belum datang seolah hanya omong kosong bagi mereka, seperti surga dan neraka bagi orang-orang tak beragama. Nikmat di depan mata dan bahaya yang 'jauh' entah kapan datangnya membuat mereka terus saja menghisap racun.

Maka, jika Anda benar-benar ingin berhenti merokok, satu, luruskan niat bulatkan tekad untuk meninggalkan rokok. Dua, yakini bahwa rokok berbahaya -haram, tentu saja-, bahkan tidak hanya bagi Anda, tapi juga berbahaya bagi keluarga tercinta dan orang-orang di sekitar Anda. Tanpa perlu pusing memikirkan kapan bahaya itu datang, yakini saja. Kalaupun selama ini terasa enak saja dan tidak terjadi apa-apa, yakinilah, itu hanya sementara, semu, tipuan agar Anda terjerumus semakin dalam, semakin dalam. Tiga, yakini juga, ini -meninggalkan rokok- jelas untuk kebaikan Anda dan orang-orang yang Anda cintai. Empat, bergaullah dengan orang-orang yang tidak merokok, tinggalkanlah teman-teman perokok, setidaknya ketika mereka sedang merokok.  Lima, tentu saja jangan lupa berdoa, karena tidak ada daya dan upaya melainkan berasal dari-Nya.

matikan, sekarang!

Sebenarnya, saya tidak hendak khusus membicarakan rokok di sini, hanya saja rokok merupakan contoh paling mudah. Justru, konsep di atas dapat digunakan untuk segala macam candu. Bahkan candu lahir dan batin. Segala sesuatu yang secara sesaat terasa nikmat, tapi berdampak buruk -bahkan sangat buruk- pada akhirnya. Dan terkadang kita benar-benar tahu dan yakin akan dampak buruk itu, tetapi kita tetap saja, juga seolah -hanya seolah- benar-benar sulit meninggalkannya. Saya pernah menulis tentang filosofi narkoba, mirip-mirip itu juga.

Monday, July 4, 2011

Hidayat Sutardi

Wajahnya sudah mulai keriput. Matanya sayu. Jenggotnya telah mulai berubah warna putih. Badannya masih tegap, meski ketika mulai kecapekan berjalannya agak tertatih; kaki kanannya agak diseret; lututnya sakit katanya. Pendengarannya telah kabur sejak dia duduk di bangku sekolah menengah; kekurangan yang mungkin membuatnya berhenti mengejar cita-cita kebanyakan orang untuk kemudian memilih meneruskan pekerjaan orang tuanya, bertani.

Keluarga, juga orang-orang di sekitarnya mengenalnya sebagai sosok pekerja keras. Kulit sawo matang yang menghitam terbakar panas matahari, tonjolan-tonjolan pembuluh darah di sekujur kedua tangan dan kakinya menjadi bukti shahih bahwa dia seolah tak kenal kata lelah. Bertani, mencetak batu bata, serta segala macam pekerjaan rumah laki-laki ia lakoni.

Terlepas dari kekurangan-kekurangannya, bagi saya beliau adalah seorang bapak mertua yang luar biasa. Begitu pula bagi ibu mertua dan anak-anaknya, beliau adalah kepala keluarga yang tiada duanya. Istri saya sering bercerita, saat-saat ketika ia masih kecil dulu. Seperti kebanyakan anak kecil pada umumnya yang kebanyakan bermain, alih-alih ditanya bapak, “sudah makan belum, Nduk?”, bapak justru lebih pilih bertanya, “sudah sholat belum, Nduk?”. Atau ketika ia dimarahi habis-habisan ketika bolos TPA, tapi tidak diapa-apakan ketika tak bisa-bisa mengerti pelajaran sekolahnya.

Setahu saya, bapak selalu bangun untuk sholat Tahajjud, setiap malam. Tak pernah saya lewatkan malam di rumah beliau, melainkan saya mendapati bacaan Al Qur’an di seperiga malam menjelang shubuh dalam sholat beliau -sedangkan saya hanya terbangun sebentar kemudian kembali tidur. Sholat wajib jangan lagi ditanya, beliau Alhamdulillah tak pernah absen sholat berjamaah di masjid, kecuali dengan alasan syar’i. Maka, ketika bapak tak kelihatan barang setengah hari di masjid, Lik Kirno, yang paling sering menjadi imam, menjadi orang pertama yang mendatangi rumahnya, bertanya kenapa dan ada apa.

Seperti tempo hari, pagi itu, ketika malang tak dapat ditolak. Saya kebetulan (qodarullah, red) sedang di Solo. Ibu dari luar rumah setengah berlari dan setengah berteriak meminta tolong untuk membantu bapak bangun, di depan rumah. Qodarullahu wa masya’a fa`ala. Bapak terjatuh –hanya- gara-gara menarik tali jemuran. Tali jemuran yang kiranya hendak dipakai untuk menjemur popok Maryam, si cucu, dan segala macam cucian bayi yang segunung-gunung itu. Tali jemuran yang telah diikat di pohon satu itu mendadak lepas ketika bapak mengencangkan tali yang lain di pohon yang lain. Terpelantinglah beliau ke belakang. Kaki kanannya –yang lututnya memang sudah sakit- tidak bisa menahan berat badannya untuk bangkit. Kali ini pangkal kakinya sakit, sedikit di bawah pinggang. Jangankan untuk berjalan, berdiri, bahkan sekadar menapak pun terasa sangat sakit.

Saya dan ibu pun membantu memapahnya sampai di bangku depan rumah. Setelah itu, sepupu ipar yang perawat, Bang Anggi, datang sekadar memeriksa tekanan darah dan kadar asam uratnya, normal. Sorenya, Lik Saliyo, yang tukang pijat, juga datang, sedikit memijitnya, tak apa-apa katanya. Malamnya, Mas Mardi, yang –katanya- tukang urut urat saraf pun datang, mengurutnya lumayan lama, tidak apa-apa juga katanya. Tidak panas, tidak bengkak, -seharusnya- tidak terjadi apa-apa seperti yang dikhawatirkan; tulang retak, patah, atau melesat, mungkin. Sedikit tenang lah kami.

Namun, satu dua hari dilalui, seolah tak ada perkembangan berarti. Bapak masih saja terbujur tak berdaya di pembaringan, untuk sekadar beranjak bangun dari tempat tidur, duduk, masih saja harus memanggil ibu untuk dibantu. Akhirnya, diputuskan untuk membawa beliau ke rumah sakit, me-rontgent-kan tulangnya.


broken

Singkat cerita setelah di-rontgent, Alhamdulillah ‘alaa kuli hal, segala puji bagi Allah di setiap keadaan, diketahuilah ternyata memang ada tulang yang patah. Saya tidak tahu tepatnya, -karena telah berada di Jakarta- mungkin di sekitar di bawah pinggang di atas paha, mungkin juga tepat di sambungannya. Kata dokter, bapak harus dioperasi. Setelah anak perempuannya untuk sekadar melahirkan cucunya, dioperasi belum ada dua bulan yang lalu, sekarang ganti bapak yang harus juga dioperasi. Dan ini adalah operasi bapak yang kedua setelah beberapa tahun sebelumnya, kepala beliau juga pernah dioperasi akibat jatuh dari sepeda gara-gara ter-serempet mobil, dan sekarang gara-gara seutas tali jemuran. Allahu Akbar, betapa jika Allah berkehendak, sesuatu yang kecil dan remeh temeh pun cukup untuk membinasakan manusia. Dan sungguh benarlah bahwa kehidupan seorang mukmin tak akan lepas dari dua perkara, syukur dan sabar; bersyukur ketika mendapat nikmat dan bersabar ketika mendapat musibah.

Alhamdulillah, kemarin (Sabtu, 30 Juni, red) pukul 16.00 s.d. 18.30 di rumah sakit dr. Tunjung, Kartasura, operasi telah dilaksanakan dengan baik dan lancar. Operasi yang memakan waktu cukup lama. Semoga bapak diberi kesabaran dan kemudahan untuk sembuh dan dapat kembali beraktivitas seperti sedia kala. Dan semoga kita semua dapat pandai-pandai bersyukur atas nikmat-nikmatNya sebelum mereka hilang dari kita. Amin.

Friday, July 1, 2011

the last, kompre

Setelah perjuangan melelahkan -hampir- dua tahun lamanya..

Setelah dua semester pendek dilewatkan dan empat semester panjang dijalani.. -sambil bekerja dan menikah dini

Setelah tujuh belas mata kuliah dilalui..

Setelah lima puluh satu SKS dihabisi..

Setelah akhirnya memilih non skripsi..

Setelah dua pekan sebelumnya baru tahu bahwa ujian kompre di STEI, lisan.. -bukan tertulis seperti di STAN

Setelah bolak-balik sampai tiga kali untuk sekadar mendaftar..

Setelah dua hari sebelumnya baru dapat "kisi-kisi full version" -yang segambreng itu

Setelah belajar keras dengan menghabiskan kopi bergelas-gelas..

Setelah pindah ruang ujian tanpa pemberitahuan..

Akhirnya, tibalah saya di sini . . .

Jumat, 24 Juni 2011, Ruang A305 A206, Kampus STEI..

UJIAN KOMPREHENSIF TERTULIS LISAN

d a a a a n . . . . .


Setelah ditanyai tiga dua dosen penguji..

Setelah sekitar sepuluh pertanyaan dijawab..


L

U

L

U

S

Alhamdulillah.

lulus