Skip to main content

Nasi Bakar

Lain halnya kalau sedang ada istri, tinggal duduk manis menanti matangnya masakan istri, aktivitas sabtu pagi seorang 'bujang-lokal' tidak akan jauh-jauh dari hunting sarapan.

Seperti pagi ini, setelah me-mandor-i mesin cuci sampai selesai menjemur pakaian, saya bersepeda sekalian hunting sarapan. Iya, naik sepeda. Selain karena motor saya agak ngadat (double strarter-nya tidak berfungsi), mulai dua minggu lalu, saya coba membangkitkan kembali semangat bersepeda. Bagi yang belum tahu sejarahnya, dulu sebelum beli motor, saya kemana-mana bersepeda, lho. *kecuali kalo agak jauh, ya naik angkot lah* Termasuk setelah menikah, tidak jarang saya membonceng istri dengan sepeda mini itu. Romantis, kan? Romantis, lah. Diakui atau tidak, pokoknya romantis! Titik.

Karena saya jarang berolahraga, bersepeda inilah alternatif terbaik, insyaAllah.

Kembali ke hunting sarapan. Kalau sedang ada istri, istri saya lah yang bingung mau masak apa lagi, saya mah tinggal nunggu mateng, tinggal makan aja, haha. Kalau sedang LDR seperti ini, giliran saya yang bingung mau beli makan apa lagi?! Tapi pagi ini, saya punya ide brilian *halah*. Sabtu pagi lalu, juga ketika bersepeda, saya melihat ada yang jual nasi bakar di pinggir jalan. *yaeyalah, masak di tengah jalan?* Sebenernya ingin beli waktu itu, tapi saya sudah terlanjur membulatkan tekad untuk maem bubur ayam pagi itu. Jadi, pikir saya, lain kali saja, insyaAllah.

Dan, akhirnya, kesempatan kedua datang pagi ini. Ini sekaligus membuktikan bahwa pepatah yang berbunyi 'Kesempatan tidak datang dua kali' tidak sepenuhnya benar!! *iki opo?* Sesampainya di TKP, seperti biasa, pertama kali yang saya perhatikan adalah harga *cia, jujur banget* "Nasi Bakar Bagus Rp10.000", begitu bunyi tulisan di spanduk sederhana itu. Nasinya aja Rp10.000, pake sayur dan lauknya jadi berapa ya?, pikir saya. Maklum, saya hanya membawa selembar 20.000-an. Biar nyaman, saya memang sengaja membawa barang seperlunya saja waktu bersepeda. Dompet, handphone, laptop, sampai kipas angin saya tinggal di rumah.

Kembali ke nasi bakar. Ternyata konsep saya tentang nasi bakar salah. Jadi, nasi bakar Rp10.000 itu sudah meliputi nasi, sayur, dan lauk yang terbungkus daun pisang jadi satu. Mungkin mirip dengan konsep 'arem-arem' (bahasa Jawa). Bedanya, kalau arem-arem direbus, bukan dibakar, dan ukurannya lebih kecil. Pilihan lauknya (nasi bakar, red) ada beberapa; pedak, ayam pedak, ayam jamur, dan ikan teri. Tanpa pikir panjang dan alasan yang jelas, saya pilih ayam jamur. --daripada ayam jamuran?

Sampai rumah, saya segera menyantap nasi bakar "Bagus" itu. Saya bukan seorang pakar kuliner, lidah saya juga tidak terlalu sensitif untuk dapat membedakan gradasi rasa masakan; tidak enak, kurang enak, cukup enak, sangat enak, ataupun sangat enak sekali. Kesan saya atas pengalaman pertama makan nasi bakar hanya: 'Sepertinya rasanya mirip-mirip nasi liwet Solo ya.'

Sekian.

NB: sebenernya saya sudah mengambil gambar nasi bakar before and after dibuka, dan before and after dimakan, tetapi lagi-lagi ada kendala, bluetooth hp-laptop saya nggak mau connect. harap maklum. tapi ini ada gambar hasil googling yg cukup mewkili:

nasi bakar

Comments

Popular posts from this blog

Cara Bikin Daftar Isi Otomatis di Ms Word

Capek dong, yah? Tiap kali atasan ngerevisi konsep laporan, kamu harus neliti lagi halaman demi halaman buat nyocokin nomor halaman ke daftar isi? Mending-mending kalau atasan kamu (yang ngrevisi) cuma satu, kalau ada lima belas?! Sebenernya kalau kamu pinter dikit , suruh aja junior kamu yang ngerjain bikin aja daftar isinya belakangan pas laporan udah final. Tapi karena kamu maunya pinter banyak , bikin aja daftar isi otomatis! Kayak gimana tuh, yuk kita bahas. Bagi yang belum tahu, semoga berguna. Bagi yang udah tahu, ngapain kamu masih di sini? Pergi sana! Aku tidak mau melihat mukamu lagi! Enyahlah!! #becanda, *sinetron banget ya* Sebelumnya, karena saya memakai Ms Office 2010, maka saya akan jelaskan berdasarkan versi tersebut. Apa? Kamu pakai Ms Office 2007? Ga masalah, mirip-mirip kok. Apa? Kamu masih pakai Ms Office 2003? Plis deh, itu udah sewindu lebih. Apa? Ms Office kamu bajakan? Itu urusan kamu! Apa? Ms Office kamu versi 2003 dan bajakan? Wuargh!! Apa? kamu belum...

Dua Milyar Seribu Rupiah

Alkisah, ada seorang kaya memiliki dua orang pekerja, sebut saja si Amir dan si Budi. Suatu hari, orang kaya tersebut memberi uang senilai dua milyar rupiah (Rp2.000.000.000,-) kepada di Amir dan memberi uang pula kepada si Budi sebesar dua milyar seribu rupiah (Rp2.000.001.000,-). Si Amir merasa iri terhadap si Budi dan tidak terima atas pemberian tersebut. Bagaimana pendapat Anda tentang sikap Amir tersebut? Pantaskah ia berlaku demikian, iri atas selisih seribu rupiah, yang bahkan untuk membayar parkir motor saja sekarang tidak cukup? Padahal ia pun telah diberi dua milyar rupiah! Cerita tersebut hanyalah pengibaratan. Alhamdulillah, kita telah diberi nikmat yang sangat besar oleh Allah, bahkan nikmat yang paling besar, tidak ada lagi nikmat yang melebihinya, karena hanya dengannya, seseorang dapat masuk surga, yakni nikmat Iman/Islam. Ibaratkan nikmat Iman/Islam ini adalah satu milyar rupiah (meskipun tidak sebanding, hanya sebuah pengiibaratan). Kita pun telah dib...

Belajar

Siapapun Anda dan apapun status serta profesi Anda, Anda tidak boleh berhenti belajar. Anda harus menjadi seorang pembelajar, untuk sukses, bahkan untuk sekadar bertahan hidup. Dan salah satu cara paling baik untuk belajar adalah dengan menulis -karena butuh membaca atau mendengar sebelumnya. Maka, saya (kembali) menulis. Belajar. Ayat pertama yang Allah turunkan kepada Nabi terakhir menyiratkan perintah belajar; iqra’ (bacalah). Belajar merupakan salah satu hal terpenting dalam kehidupan. Sebagai orang berakal, kita sepakat bahwa suatu saat kita akan mati. Dan sebagai orang beriman, kita pun sepakat bahwa ada kehidupan yang lain setelah kematian; kehidupan yang jika kita pikir lebih lanjut lebih penting dari kehidupan kita hari ini, karena kita akan hidup abadi selamanya di sana nanti. Maka, sebagai orang berakal dan beriman, kita seharusnya sepakat bahwa belajar tentang kehidupan akhirat, yakni tentang ilmu agama, lebih penting dari belajar ilmu-ilmu duniawi. Prioritas...