Pernahkah kita berpikir atau pernahkah terpikir oleh kita, bahwa hidup kita akan seperti ini, SANGAT TERGANTUNG PADA KERTAS. Setiap hari hampir setiap manusia berlombalomba mengumpulkan KERTAS. Kertas. Kertas yang sebenarnya mempunyai nilai intrinsik –kalau tidak boleh dikatakan tidak bernilai- yang sangat minim itu kini -atau bahkan dari dulu- telah menjadi raja dunia. Dipujapuja. Diperebutkan setiap orang. Didewadewakan. Bahkan tak jarang kita baca di koran, orang berbunuhbunuhan hanya karena KERTAS. Menyedihkan sekali. Iya, kertas itu bernama –atau lebih tepatnya dinamai uang. Uang KERTAS. Kertas yang telah berevolusi menjadi uang.
Sejarah uang kertas
![]() |
uang kertas |
Bagaimana ceritanya KERTAS bisa berevolusi menjadi UANG? Begini Saudara-saudara.. Pada zaman dahulu kala, untuk memenuhi kebtuhan hidupnya manusia melakukan barter, yaitu menukarkan barang yang dimilikinya dengan barang yang dibutuhkannya yang dimiliki orang lain. Dalam sistem barter, transaksi hanya akan dapat terjadi jika terpenuhi dua syarat sekaligus, yakni pada saat yang sama, pihak pertama membutuhkan barang pihak kedua dan sebaliknya, pihak kedua membutuhkan barang pihak pertama.
Karena sulit terpenuhinya dua syarat sekaligus tersebut, maka untuk mempermudah transaksi digunakanlah alat tukar. Pada awalnya, alat tukar tersebut berupa barang-barang semisal hewan ternak seperti kambing atau sapi.
Kemudian, karena barang-barang tersebut dinilai kurang praktis, tidak mempunyai mobilitas yang tinggi dan susah dipecahpecah, maka digunakanlah garam sebagai alat tukar, praktis, mobilitas tinggi dan mudah dipecahpecah. Tidak berhenti sampai di situ. Garam memang praktis, mempunyai mobilitas yang tinggi, dan mudah dipecahpecah, tetapi garam kurang tahan lama, cepat rusak, dan asin (yang teraqkhir ini ga ada hubungannya emang).
Lalu, manusia pada waktu itu sepakat untuk menjadikan sesuatu yang berharga (mempunyai nilai intrinsik), praktis, mobilitas tinggi, mudah dipecahpecah, dan tahan lama. Digunakanlah logam. Dan logam yang paling populer digunakan sebagai alat tukar adalah emas dan perak. Dikenallah uang logam. Pada zaman Nabi Muhammad, uang emas dikenal dengan Dinar, dan uang perak dikenal dengan Dirham. Penggunaan logam -emas dan perak, terutama emas- sebagai alat tukar adalah sebuah ide paling brilian –at least menurut saya- karena selain keunggulankeunggulan di atas, emas juga memiliki keunggulan penting sebagai alat tukar: terbatas dan tidak dapat diperbanyak seenaknya sehingga nilai atau daya belinya sangat stabil.
Tetapi apa mau dikata, entah karena sifat manusia yang tidak pernah puas atau karena kecerdasan –lebih tepatnya kelicikan- beberapa gelintir orang, sehingga emas sebagai alat tukar kembali dipertanyakan. Emas masih diniai kurang praktis, walaupun memiliki mobilitas tinggi, namun emas -dan logam pada umumnya- dalam jumlah yang banyak cukup berat dan merepotkan dibawa kemanamana (dasar manusiamanusia manja).
Setelah berpikirpikir, mereka menemukan sebuah ide gila, menjadikan kertas sebagai uang. Kenapa ide gila? Karena kertas bisa dikatakan tidak mempunyai nilai riil!, tidak terbatas!, dapat dibuat dengan mudah!, dan lain lain. Tetapi, untuk sedikit “mewaraskan” ide gila ini, pada awalnya, mereka menjadikan emas sebagai jaminan setiap lembar uang kertas yang dicetak. Lagilagi tetapi, pada perkembangannya uang kertas sekarang ini patut diduga tidak lagi dijamin dengan emas. Uang kertas hanya didasarkan pada kepercayaan, yang berarti otomatis jika suatu saat kepercayaan tersebut hilang, maka uang kertas tidak lebih dari sekadar lembaran kertas.
Dalam sejarah Amerika pernah terjadi ketika debitur lari-lari mengejar kreditur untuk membayar hutang, tetapi sang kreditur lari menghindar karena tidak mau menerima uang yang hendak dibayarkan oleh debiturnya. Peristiwa ini terjadi antara tahun 1775–1780 ketika uang kertas mereka yang disebut Continental – tidak ada harganya! Saat itu sampaisampai ada barber shop yang menggunakan uangnya sebagi wallpaper (penutup tembok) karena uang harganya kurang lebih sama dengan kertas wallpaper.
Tidak bisa dipungkiri lagi oleh siapapun, nilai uang kertas sangat labil bahkan terus mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Hanya saja mayoritas kita tidak menyadari, seberapa burukkah penurunan nilai tersebut.
Umumnya orang terkecoh oleh pandangan jangka pendek dimana nilai uang kertas seolah berfluktuasi satu sama lain, kadang naik dan kadang turun. Ini benar kalau yang kita pakai rujukan adalah sesama uang kertas!
Kaidah menimbang adalah bahwa anak timbangan haruslah memiliki berat yang tetap, pasti, dan teruji. Rupiah hanya memiliki nilai relatif terhadap uang US$ misalnya –tetapi daya beli riilnya atau nilai absolutnya tidak bisa ditentukan dengan membandingkan Rupiah dengan US$- karena keduanya tidak memiliki nilai yang pasti dan teruji. Untuk mengukur nilai atau daya beli uang kertas yang akurat, emas atau dinarlah salah satu ukuran yang paling akurat dan telah teruji selama beriburibu tahun.
Selain menggunakan alat ukur yang baku dan teruji, mengukur nilai mata uang juga harus dilakukan dalam rentang waktu yang cukup, misalnya 5–10 tahun atau bahkan lebih karena jika rentang waktu yang digunakan hanya jangka pendek, kita bisa terkecoh dan keliru dalam mengambil keputusan.
Dengan mudah kita bisa melihat bahwa hanya dalam tempo kurang dari sepuluh tahun saja (tahun 2009, yang kita pakai baru data Januari minggu ke-3), tidak ada satu mata uang fiat-pun yang bisa survive mempertahankan nilai daya belinya.
US$ yang katanya perkasa, dalam rentang waktu tersebut daya beli belinya terhadap emas tinggal 32 %, sementara Euro tinggal 42%, Yen tinggal 37%, Sing $ tinggal 36%, Poudsterling tinggal 28% dan mata uang kesayangan kita Rupiah tinggal 21%! Uang kertas akan terus mengalami penurunan nilai dari waktu ke waktu. Dan entah sampai kapan uang kertas dapat bertahan.
Hal tersebut di atas disebabkan karena setiap kali pemerintah suatu negeri mencetak uang melebihi kebutuhan transaksi riilnya, maka nilai uang yang ada di masyarakat otomatis turun nilainya, inilah teori Ibnu Taimiyyah sekitar 800 tahun lalu yang masih sangat valid sampai sekarang. Keadaan seperti ini tidak akan terjadi bila mereka mengikuti saran Ibnu Taimiyyah: “Jumlah fulus (uang yang lebih rendah dari Dinar dan Dirham seperti tembaga) hanya boleh dicetak secara proporsional terhadap jumlah transaksi sedemikian rupa sehingga terjamin harga yang adil. Penguasa tidak boleh mencetak fulus berlebihan yang merugikan masyarakat karena rusaknya daya beli fulus yang sudah ada di mereka”. Mengapa pemerintah “dapat seenaknya” mencetak uang? Karena uang yang digunakan adalah kertas yang dengan sangat mudah dapat diperoleh.
Solusi
![]() |
dinar dan dirham |
Sama dengan ketika kita menyadari ada gejala penyakit mematikan di tubuh kita, orang yang hati-hati akan segera periksa ke dokter dan melakukan pencegahan agar gejala penyakit tersebut tidak benarbenar berubah menjadi penyakit yang berakibat fatal. Orang yang acuh akan membiarkan saja gejala yang ada sampai penyakit benarbenar datang, padahal saat itu bisa jadi pengobatan sudah terlambat.
Orang yang paham akan menyadari bahwa uang kertas yang ada ditangan mereka akan terus berkurang dengan cepat nilainya. Mereka kembali berburu emas dalam kepanikannya, karena mereka tahu hanya emas-lah uang yang tidak pernah kehilangan daya beli.
Dengan fenomena terus menurunnya seluruh mata uang kertas, apakah kita berramairamai menumpuk emas atau Dinar? Tidak juga! Karena emas atau Dinar sebagai investasi hanya nomor dua setelah sektor riil meskipun dia nomor satu sebagai unit of account (timbangan) maupun sebagai store of value (penyimpan nilai – agar tidak susut seperti uang kertas). Atau dengan bahasa lain boleh dikatakan hanya sebagai proteksi nilai, bukan investasi.
Yang terbaik bagi kita semua adalah jika kita bisa menggerakkan sektor riil dengan perdagangan yang riil. Sebagai contoh Dinar yang harga nya kurang lebih setara dengan seekor kambing sepanjang zaman, menyimpan Dinar tidak lebih baik dari memelihara kambing.
Nilai satu Dinar kita akan tetap satu Dinar setahun yang akan datang -meskipun dalam Rupiah atau Dollar bisa jadi nilainya sudah 30% lebih tinggi saat itu!-, tetapi satu ekor kambing kita insyaAllah bisa jadi dua kambing -atau satu setengah setelah dipotong ongkos pelihara!- tahun depan.
Jadi urutan terbaiknya adalah ‘pelihara kambing’ (merepresentasikan sektor riil), jika karena satu dan lain hal belum bisa ‘pelihara kambing’ baru pertahankan aset kita dalam satuan emas atau Dinar agar tidak ikut tenggelam bersama tenggelamnya mata uang kertas. Allahu Ta`ala A’lam.
*Disarikan dari artikelartikel pada geraidinar.com dan memori saya tentang pelajaran ekonomi kelas 3 SMP.
Comments
Post a Comment