Buku Biru; ini tidak ada hubungannya dengan Film Biru. Camkan itu, Rudolfo! Ini hanya kebetulan ( qadarullah , red) bahwa buku diary dimana saya dan istri menuliskan curhat tentang rumah tangga yang kami bangun itu berwarna biru. Hanya itu. Titik. Sewaktu kuliah tingkat tiga, teman-teman sekelas saya mengkreasi sebuah buku diary satu kelas *yang ini berwarna hijau* dimana seluruh penghuni kelas boleh menuliskan apapun di situ. Buku itu cukup mampu mencairkan suasana kelas, mengisi waktu luang, semisal ketika dosen yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang, dosen yang telah datang tak kunjung mengajar, ataupun dosen yang telah mengajar tak kunjung kelar *eh. Dalam waktu singkat, buku hijau itu menjadi idola sekelas, lebih diidolakan daripada buku tebal Advance Accounting . Teman-teman berebutan *termasuk saya nggak ya? (pura-pura) lupa* untuk menulis di dalamnya, atau sekadar membaca. Cara operasional buku itu hanya dioper dari meja ke meja. Kadang ada yang membawanya pulang...
just wanna be myself: sebuah blog pencarian jati diri -halah,sok2an-