Monday, November 29, 2010

change!

aku ingin mengubah dunia ini. tapi belum bisa..

aku ingin mengubah negara ini. tapi belum bisa..

aku ingin mengubah kota ini. tapi belum bisa..

aku ingin mengubah keluarga ini. tapi belum bisa..

maka, aku ingin mengubah diri sendiri dulu.


***

Monday, November 15, 2010

uang kertas




Pernahkah kita berpikir atau pernahkah terpikir oleh kita, bahwa hidup kita akan seperti ini, SANGAT TERGANTUNG PADA KERTAS. Setiap hari hampir setiap manusia berlombalomba mengumpulkan KERTAS. Kertas. Kertas yang sebenarnya mempunyai nilai intrinsik –kalau tidak boleh dikatakan tidak bernilai- yang sangat minim itu kini -atau bahkan dari dulu- telah menjadi raja dunia. Dipujapuja. Diperebutkan setiap orang. Didewadewakan. Bahkan tak jarang kita baca di koran, orang berbunuhbunuhan hanya karena KERTAS. Menyedihkan sekali. Iya, kertas itu bernama –atau lebih tepatnya dinamai uang. Uang KERTAS. Kertas yang telah berevolusi menjadi uang.
Sejarah uang kertas
uang kertas
Bagaimana ceritanya KERTAS bisa berevolusi menjadi UANG? Begini Saudara-saudara.. Pada zaman dahulu kala, untuk memenuhi kebtuhan hidupnya manusia melakukan barter, yaitu menukarkan barang yang dimilikinya dengan barang yang dibutuhkannya yang dimiliki orang lain. Dalam sistem barter, transaksi hanya akan dapat terjadi jika terpenuhi dua syarat sekaligus, yakni pada saat yang sama, pihak pertama membutuhkan barang pihak kedua dan sebaliknya, pihak kedua membutuhkan barang pihak pertama.
Karena sulit terpenuhinya dua syarat sekaligus tersebut, maka untuk mempermudah transaksi digunakanlah alat tukar. Pada awalnya, alat tukar tersebut berupa barang-barang semisal hewan ternak seperti kambing atau sapi.
Kemudian, karena barang-barang tersebut dinilai kurang praktis, tidak mempunyai mobilitas yang tinggi dan susah dipecahpecah, maka digunakanlah garam sebagai alat tukar, praktis, mobilitas tinggi dan mudah dipecahpecah. Tidak berhenti sampai di situ. Garam memang praktis, mempunyai mobilitas yang tinggi, dan mudah dipecahpecah, tetapi garam kurang tahan lama, cepat rusak, dan asin (yang teraqkhir ini ga ada hubungannya emang).
Lalu, manusia pada waktu itu sepakat untuk menjadikan sesuatu yang berharga (mempunyai nilai intrinsik), praktis, mobilitas tinggi, mudah dipecahpecah, dan tahan lama. Digunakanlah logam. Dan logam yang paling populer digunakan sebagai alat tukar adalah emas dan perak. Dikenallah uang logam. Pada zaman Nabi Muhammad, uang emas dikenal dengan Dinar, dan uang perak dikenal dengan Dirham. Penggunaan logam -emas dan perak, terutama emas- sebagai alat tukar adalah sebuah ide paling brilian –at least menurut saya- karena selain keunggulankeunggulan di atas, emas juga memiliki keunggulan penting sebagai alat tukar: terbatas dan tidak dapat diperbanyak seenaknya sehingga nilai atau daya belinya sangat stabil.
Tetapi apa mau dikata, entah karena sifat manusia yang tidak pernah puas atau karena kecerdasan –lebih tepatnya kelicikan- beberapa gelintir orang, sehingga emas sebagai alat tukar kembali dipertanyakan. Emas masih diniai kurang praktis, walaupun memiliki mobilitas tinggi, namun emas -dan logam pada umumnya- dalam jumlah yang banyak cukup berat dan merepotkan dibawa kemanamana (dasar manusiamanusia manja).
Setelah berpikirpikir, mereka menemukan sebuah ide gila, menjadikan kertas sebagai uang. Kenapa ide gila? Karena kertas bisa dikatakan tidak mempunyai nilai riil!, tidak terbatas!, dapat dibuat dengan mudah!, dan lain lain. Tetapi, untuk sedikit “mewaraskan” ide gila ini, pada awalnya, mereka menjadikan emas sebagai jaminan setiap lembar uang kertas yang dicetak. Lagilagi tetapi, pada perkembangannya uang kertas sekarang ini patut diduga tidak lagi dijamin dengan emas. Uang kertas hanya didasarkan pada kepercayaan, yang berarti otomatis jika suatu saat kepercayaan tersebut hilang, maka uang kertas tidak lebih dari sekadar lembaran kertas.
Dalam sejarah Amerika pernah terjadi ketika debitur lari-lari mengejar kreditur untuk membayar hutang, tetapi sang kreditur lari menghindar karena tidak mau menerima uang yang hendak dibayarkan oleh debiturnya. Peristiwa ini terjadi antara tahun 1775–1780 ketika uang kertas mereka yang disebut Continental – tidak ada harganya!  Saat itu sampaisampai ada barber shop yang menggunakan uangnya sebagi wallpaper (penutup tembok) karena uang harganya kurang lebih sama dengan kertas wallpaper.

bingung iedul adha ?


Sama. Saya juga agak bingung..

Ini mukadimah Ustadz Abu Qotadah dalam pembahasan ikhtilaf mengenai iedul adha tempo hari: 
  1. setiap orang beramal berdasarkan ilmu yang telah sampai kepadanya yang dia yakini.
  2. dalam hal penetapan iedul adha (termasuk di dalamnya puasa arafah) memang terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama.
  3. yang harus dilakukan adalah, memilih di antara pendapat ulama tersebut, yang lebih kita yakini kebenarannya berdasarkan dalil/hujjahnya.
Allahu Ta`ala A`lam.

Jadi, baca2 dulu di sini, pahami, kemudian pilih yang kita yakini..
Allahu Ta`ala A`lam.