Saturday, January 19, 2013

Dua Garis Merah Muda (part 2)

Saya di Mamuju (Sulawesi Barat), Maryam dan Ummi-nya di Solo, rumah kontrakan kami di Jakarta --alhamdulillah tidak kebanjiran. *turut berduka sedalam-dalamnya untuk para korban banjir Jakarta, mari introspeksi diri, semoga ini segera berlalu* 

Dua tahun lebih berlalu sejak saya posting Dua Garis Merah Muda, September 2010. Alhamdulillah, dua garis merah muda itu saat ini telah 'menjelma menjadi' seorang bocah lucu 1 tahun 8 bulan bernama Maryam.

'Target' saya dulu, minimal Maryam harus sudah berusia 2 tahun sebelum Ummi-nya mulai mengandung calon adiknya agar ia bisa menuntaskan minum ASI-nya. Namun, belakangan diketahui dari Abu Muhammad Faris al Qiyanji, seorang ahli herbal melalui siarannya di Radio Rodja bahwa kehamilan tidak menghalangi seorang ibu untuk menyusui. *Ya, kamu harus bilang, "Wow!"* Sejak itu, 'idealisme' saya bahwa jarak ideal anak satu dengan adiknya minimal 2 tahun 9 bulan (2 tahun untuk waktu menyusui si kakak, dan 9 bulan untuk waktu mengandung si adik) mulai pudar.

Tempo hari, saya meninggalkan Ummu Maryam, istri saya, di Solo, ke Jakarta untuk kemudian ke Mamuju dalam keadaan ia telat datang bulan 3 atau 4 hari. FYI, 'bulan' istri saya termasuk tamu yang 'disiplin', jarang datang tidak tepat waktu. Sejak kehadiran Maryam, tercatat hanya 2 kali istri saya terlambat datang bulan, masing-masing sekitar satu minggu.

Kali ini, sudah 9 hari, tamu yang biasanya datang setiap 30 hari itu tidak muncul juga. Akhirnya, kemarin malam, istri saya membeli kembali strip uji kehamilan di sebuah apotek dekat rumah, setelah dua tahun lebih tidak membelinya. Sebenarnya, waktu itu pun, kami membeli dua strip uji kehamilan. Namun, karena test yang pertama telah menunjukkan hasil positif yang meyakinkan, maka, satu strip kehamilan yang lain saya tambahkan saja ke kado pernikahan seorang teman kantor saya. Hha..

Akhirnya, tadi pagi, istri saya kembali melalukan test kehamilan mandiri, kali ini benar-benar sendiri, tanpa saya. Sebelum memberi tahu saya hasilnya, ia meminta saya menebak, saya pun cuma menulis, "Positif, 'kan?" di SMS balasan. Dan hasilnya benar saja, lagi-lagi positif! Alhamdulillahirrabil'alamin.

Ok, kami harus segera mempersiapkan segala sesuatunya kembali. Semoga dimudahkan. Amin.

dua garis merah muda (2)

Thursday, January 3, 2013

Dilema Tugas ke Daerah

Di unit kerja saya, para staf terbagi menjadi dua 'kubu', kubu suka tugas ke daerah dan kubu anti tugas ke daerah. Kubu suka tugas ke daerah terdiri dari 1) para bujangan yang belum punya 'beban hidup' dan memang punya hobi traveling, 2) staf-staf yang rajin dan/atau 3) staf yang suka dapat tambahan penghasilan. Ya, karena kami mendapatkan uang perjalanan dinas yang lumayan ketika bertugas ke daerah. Kubu yang satu, kebalikannya, anti ke daerah, adalah staf yang 1) sudah cukup punya banyak uang, misalnya karena suami sudah kaya raya dan mungkin mereka bekerja sekadar mengisi waktu luang saja, 2) ibu-ibu yang sangat mencintai keluarganya sampai susah jika harus berpisah barang sehari saja, dan/atau 3) bapak-bapak yang seperti ibi-ibu nomor dua.

Saya, tentu saja termasuk ke dalam kubu kedua poin tiga. *Hhe* Praktis, tahun 2012 yang lalu, saya 'hanya' empat kali ke daerah dengan total kurang lebih 29 hari. Empat belas hari bertugas ke Jayapura di awal tahun untuk Reviu Laporan Keuangan. Kemudian ke Aceh, Padang, dan Mataram masing-masing lima hari untuk Workshop Penilaian Mandiri Integritas.

Ini bisa dikatakan 'prestasi' luar biasa. Catatan saya itu telah mengalahkan catatan Mbak Indri yang terkenal paling anti tugas ke daerah, yang masuk ke dalam dua sub kubu sekaligus: dua poin satu dan dua poin dua. Ibu-ibu yang duduk persis di depan tempat duduk saya itu memang hanya bertugas dua kali ke daerah, tetapi jumlah harinya melebihi jumlah hari saya: 34 hari (kalau tidak salah), empat belas hari ke Makassar (Reviu LK)  dan dua puluh hari ke Pontianak (Reviu SPM).

Catatan saya tahun 2012 itu juga menjadi rekor pribadi tugas ke daerah paling sedikit dalam setahun, lebih sedikit dari tahun-tahun sebelumnya bahkan dari tahun dimana saya masih bekerja sambil kuliah yang bisa dijadikan alasan untuk tidak bertugas ke daerah.

Satu hal yang menjadi akibat jarangnya saya tugas ke daerah tentu saja bahwa Kartu GFF (Garuda Frequent Flyer) saya masih saja berwarna biru. Karena untuk naik ke Sylver, minimal ada sepuluh penerbangan. Dan tahun 2012, saya hanya melakukan delapan kali penerbangan (empat kali pulang pergi). Kalah dari rekan kerja junior saya yang sudah Sylver sejak tahun-tahun kemarin. Paragraf ini memang kurang penting, sebenarnya.

Bagi saya, tugas ke daerah berbanding terbalik dengan berkumpul bersama anak dan istri karena setiap kali bertugas ke daerah saya harus memulangkan mereka ke Solo. Dan tentu saja butuh waktu tambahan untuk mengantar dan menjemput mereka kembali dari dan ke Jakarta. Dengan kata lain, tahun ini adalah tahun dimana saya paling banyak menghabiskan waktu bersama keluarga, alhamdulillah.

Tugas ke daerah memang senantiasa menjadi dilema bagi ibu-ibu dan orang-orang seperti saya ini. Sekarang pun, tinggal menghitung hari untuk mengantar pulang Maryam dan Ummi-nya ke Solo karena saya harus bertugas ke daerah sekitar 15 Januari. 'Menarik' untuk ditunggu, tahun ini berapa kali dan berapa hari saya harus bertugas ke daerah. Semoga bisa lebih 'baik'. Amin.

Garuda Indonesia