Skip to main content

Posts

Showing posts with the label lebay

I'm not smarter than a kenek metromini

Sore itu, hari kedua puasa. Seturun dari mobil tumpangan rekan kerja di perempatan Utan Kayu, saya melanjutkan perjalanan pulang naik Metromini ke arah Rawamangun. Si kenek menyodorkan tangan kanannya tanda meminta ongkos. Saya pun memberikan selembar uang Rp5.000-an. Si kenek mencari-cari kembalian, Rp3.000. Namun, di genggamannya hanya banyak lembaran uang Rp2.000-an, tak ada satu pun Rp1.000-an. "Ada uang pas aja, Mas?", tanyanya sambil mengembalikan uang lima ribu yang sudah saya berikan tadi. "Nggak ada i.", jawab saya sembari memperlihatkan isi dompet yang hanya ada dua lembar Rp10.000-an. *miskin ya? "....", si kenek mengatakan sesuatu yang tidak terlalu terdengar jelas oleh telinga saya. "Apa???", saya memasang telinga baik-baik. "Sepuluh ribuannya aja.", ulang si kenek. "Oo..", saya baru tersadar dari ke- telmi -an. Kemudian saya memberikan Rp10.000-an, dan si kenek memberi kembalian empat lembar Rp2.000-an. ...

kisah si gigi bungsu

Ternyata tak hanya anak bungsu yang terkadang bandel, gigi bungsu pun terkadang seperti itu. Cerita berawal sekitar satu setengah tahun yang lalu. Ketika itu, -kalau tidak salah ingat- bagian 'kanan belakang' gigi saya sakit, ngilu. Beberapa hari berlalu, saya biarkan saja begitu. Sampai pada saat saya hampir tidak tahan, saya putuskan untuk pertama kali pergi ke dokter gigi. Kebetulan ( Qodarullah , red), di kantor saya ada poliklinik gigi, fasilitas cuma-cuma dari instansi. Pergilah saya ke poliklinik gigi. Setelah gigi saya diperiksa -atau lebih tepatnya cuma dilihatlihat sebentar-, si dokter gigi menyarankan untuk mencabut gigi paling belakang, yang tumbuh tidak wajar, menyilang. Selain itu, tidak lupa resep ponstan - mefenamic acid atau asam mefenamat. Dasar saya, ponstan hanya beberapa kali ditelan, rekomendasi cabut gigi pun tak dihiraukan, lantaran sakit itu sudah hilang. Padahal si dokter juga sudah bilang, -kurang lebih- "mungkin nanti setelah minum obat sakit...

mogok nulis

mogok nulis tak ada tulisan hari ini tak ada kalimat tak ada kata tak ada satu huruf pun titik. *yang ini tak usah dihitung

tidakpenting.com

biro umum bisa aja.. Himbauan seperti pada gambar di atas terpasang pada hampir semua toilet di kantor kami. Pertanyaan yang sering muncul di benak saya -dan mungkin juga di benak pegawai lain yang kebanyakan mikir dan kurang kerjaan- dari kalimat ambigu tersebut adalah : 1. "Tutup kloset agar selalu dibuka bila tidak digunakan!", berarti tutup kloset justru agar ditutup saat digunakan? Jika Biro Umum menjawab, "Tidak! Tutup kloset agar selalu dibuka, baik saat digunakan maupun saat tidak digunakan!", maka muncul pertanyaan berikutnya : 2. Kenapa tidak cukup ditulis, "Tutup kloset agar selalu dibuka!"?, dan kalau memang begitu 3. Apa gunanya ada tutup toliet jika tidak pernah ditutup? *serius, benar-benar tidak penting -baik tulisan itu, maupun tulisan saya ini. hhe..

guest

Mungkin karena ada rencana menerapkan e-audit , kantor ini sedikit demi sedikit mulai berbenah. Ya, e-audit , audit berbasis elektronik. Entah bagaimana detail konsepnya, yang jelas setahu saya, e-audit haruslah didukung oleh jaringan  -entah berbasis internet atau apa- yang kuat. Awalnya saya juga agak meragukannya. Koneksi internet di kantor saja lemot dan terkadang malah -sering- error , bagaimana mau menerapkan e-audit [?]. Sudah tiga hari ini, di laptop -pinjaman kantor- saya, muncul wireless network berjudul Guest -dan yang penting bisa diakses-, entah karena saya baru sadar, atau mungkin memang baru saja ada. Walhasil , saya pun jadi tak perlu beranjak dari tempat duduk menghampiri komputer kantor jadoel berdebu di sudut ruang kerja saya untuk sekadar meng-akses internet. Modem? *Hhe.* Saya tidak punya modem. Bukannya tidak mampu beli *jiah*, bukan pula tidak mampu bayar tagihannya, tetapi karena saya tidak ingin kejadiannya seperti ini -seperti beberapa hari i...

sedang agak sibuk

Ceritanya berawal dari tulisan finally, non skripsi tempo hari. Seminar akuntansi keuangan, mata kuliah yang harus saya ambil sebagai ganti skripsi, mengharuskan saya menyusun sebuah paper minimal 25 halaman untuk kemudian dipresentasikan di depan kelas. Setelah membaca-baca beberapa buku Teori Akuntansi, saya tertarik –atau sangat tertarik- untuk mengambil rekayasa laba sebagai topik untuk paper saya, rencananya. Lalu, bergerilya lah saya mencari bahan untuk topik tersebut. Facebook saya yang sudah lama tak saya kunjungi *sampai penuh sarang laba-laba* ternyata masih berguna –selain untuk menge- link kan blog ini ke “pasar”-. Saya posting status saja di facebook , kurang lebih “ada yang punya artikel tentang rekayasa laba?”. Efektif! Walaupun hanya satu teman yang comment *hiks*, tetapi cukup berguna -atau sangat berguna-. Dia –Toufan Sougi Saputra- merekomendasikan kepada saya sebuah judul buku yang sesuai dengan topik tersebut, The Financ...

finally, nonskripsi

Susah ditebak. Begitulah saya, mungkin. Makanya waktu kecil saya jago maen petak umpet. *Hhe* Tapi ini ga ada hubungnnya dengan petak umpet. Tapi tentang kuliah saya. Akhirnya, setelah perjuangan panjang nan melelahkan selama beberapa semester ini, sampailah saya di ujung perkuliahan di STIE Indonesia, the last semester , insyaAllah . Melelahkan karena saya melaluinya sambil bekerja; kerja sambil kuliah. Bahkan mulai semester ketiga, saya musti melaluinya sambil bekerja dan berumah-tangga; kerja kuliah nikah *KKN, begitu saya menyebutnya*. Alhamdulillah saya dapat melaluinya dengan cukup baik – at least tidak ada satu pun mata kuliah yang harus diulang-. Dan alhamdulilah , hari ini semester terakhir saya akan dimulai, insyaAllah . Semester terakhir ini sebenarnya saya tidak perlu repot-repot tiap pekan dua kali mengunjungi kampus, cukup bertemu beberapa kali dengan dosen pembimbing dan ke kampus untuk sidang skripsi, seandainya saya memilih jalu...

pulang tepat waktu

Beberapa hari ini, di kantor saya beredar isu bahwa toleransi absensi 15 menit akan dihapus. *sepertinya saya harus jelaskan dulu*. Sejak saya magang di kantor ini dua tahun yang lalu, keadaannya sudah seperti ini. Tiap pagi setiba di kantor dan sore hari ketika hendak pulang kantor, para pegawai harus mengunjungi kotak-kotak mesin absensi elektronik (finger print) yang terletak di lobby-lobby tiap gedung untuk mencolokkan jarinya ke mesin tersebut (absen, red). Jam kerja sesuai peraturan adalah mulai pukul 07.30 s.d. 17.00. Namun, *sekali lagi, keadaannya sudah seperti ini sejak saya datang* ada sebuah kebijakan tak tertulis bahwa para pegawai mendapat toleransi 15 menit untuk absensi pagi dan sore. Jadi, pegawai yang absen pagi pukul 07:44:59 masih terhitung hadir tepat waktu (tidak terlambat), dan pegawai yang absen sore pukul 16:45:01 masih terhitung pulang pada waktunya (tidak pulang lebih awal). *ini rahasia! ingat, rahasia!* *copy paste* Nah, beberapa hari ini, di kantor saya ...

erwin belajar berenang

Memenuhi janji saya, SATU HARI SATU TULISAN . Tapi seandainya saya tidak membawa laptop pinjaman dari kantor ini ke rumah, mungkin saya tidak menulis dulu di sini. *iya, iya. betul, laptop pinjaman!* Mungkin saya akan menggantinya dengan menulis buku diary di rumah saja. Ya, saya atau kami –saya dan istri saya- memiliki sebuah buku yang kami gunakan untuk menuliskan kesan pesan dan uneg-uneg kami dalam berumah tangga. Karena terkadang sesuatu lebih mudah ditulis daripada diucapkan. Selain itu, ada dokumentasi, bukti otentik, dan kenangan yang mungkin bisa kami tertawai di lain hari ketika membacanya kembali. Hari ini, saya mau bicara –atau menulis- tentang cita-cita duniawi yang saya kemukakan tempo hari : pandai berenang, atau paling tidak, bisa berenang *hhe, jadi malu*. Ya, dengan terpaksa harus saya sampaikan kenyataan pahit ini. Bahwa sampai hari ini saya ga bisa berenang *diam!*. Pertama kali saya menceburkan diri ke kolam renang adala...

dan, semester ini pun berlalu..

Kemarin, saya bolos ke kantor untuk sekadar menuntaskan perkuliahan semester genap di STEI tahun ini (wajar -dengan pengecualian-, jikalau sebagian dari anda tidak mengenal kampus ini, salah satu dosen kami, menyebutnya Sekolah Tinggi Elmu Ikonomi). Sepakat atau tidak, saya menyebut semester ini semester yang cukup melelahkan. Hampir mirip dengan semester ketiga di STAN, di mana di sana ada Trio Macan (begitu temanteman di STAN menyebutnya dulu untuk tiga mata kuliah “terkutuk”, Intermediete Accounting, Financial Management, dan Cost Accounting ) plus beberapa mata kuliah hafalan –dan saya paling tidak bisa menghafal, apalagi menghafal pelajaran-. Ya. Semester ini senin sampai sabtu saya kuliah. Melelahkan sekali, bukan? Siang bekerja mencari uang, malam kuliah mencari ilmu -halah-. Ahad, mencari istri -Haha, nggak lah-. Yang saya “sukai” dari semester ini adalah ada 4 mata kuliah akuntansi sekaligus (wow), akuntansi keuangan 2, akuntansi keuangan lanjutan 1, akuntansi manajemen, dan...

saya, beberapa waktu yang lalu

saya, sekarang.. sedang duduk manis di depan komputer jinjing, mengetik tulisan sederhana ini. saya, satu jam yang lalu.. menjama` makan pagi dan makan siang di sebuah warung pinggir jalan dekat kampus. saya, sehari yang lalu.. terbingungbingung oleh mata kuliah advanced accounting yang –menurut saya- ada yang salah dengan metode mengajar sang dosen. saya, sepekan yang lalu.. menyimak taushiyah dari lisan mulia seorang ustadz, dengan sesekali terkantukkantuk. saya, sebulan yang lalu.. melepas rindu kepada ibu tercinta, keluarga, dan kampung halaman. saya, setahun yang lalu.. berpisah dengan teman-teman dari Kalibata yang kini menyebar di seluruh penjuru nusantara. saya, satu dasawarsa yang lalu.. berdaptasi dengan teman dan lingkungan baru di sebuah SMP belakang rumah sakit dan sungai jorok. saya, satu abad yang lalu.. bahkan ibu bapak saya pun belum lahir! saya, dua puluh tiga tahun yang lalu.. keluar dari rahim seorang ibu, telanjang dan tanpa dosa. saya...