Thursday, June 28, 2012

senyum di balik jendela

Saya harap ini tidak terus berlanjut sampai Maryam mengerti. Bahwa tidur terlalu larut itu tidak baik. Apalagi hampir setiap malam Maryam seperti itu. Maryam hampir-hampir tidak pernah tidur malam sebelum pukul delapan. Lebih sering ia tidur lewat pukul sembilan malam. Kalaupun tidur pukul tujuh-an, biasanya satu atau dua jam setelahnya, ia akan bangun lagi (nglilir, red). Dan biasanya setelah itu, ia akan lebih sulit tidur lagi, bisa sampai pukul sebelas. Apa yang Maryam lakukan? Bermain! Seringkali Maryam mengajak kami --yang sudah setengah tidur-- menemaninya bermain.

Maryam memang sedang senang-senangnya bermain --sambil belajar *padahal Maryam nggak kenal sama Bobo* Racauannya sudah semakin beragam. 'Kosasukukata'-nya semakin bertambah banyak, meskipun sebagian besar masih tanpa arti. Seringkali ia bermain sambil teriak-teriak. Bukan apa-apa, kami hanya tidak ingin itu mengganggu waktu istirahat nenek kontrakan *saya tidak tahu istilah yang lebih tepat*, Bu Tolip, apalagi jika sudah di atas pukul sembilan. 

Maryam bisa bermain dengan apapun. Tempat bedak, kunci rumah, radio, sampai dompet abi-nya tak jarang ia jadikan mainan. Maryam juga sangat berminat dengan buku, bukan untuk dibaca, tetapi untuk disobek-sobek. Maryam juga tidak akan membiarkan ummi-nya memasak sendirian. Ia selalu ingin 'membantu'. Biasanya, pada momen-momen seperti itu, ummi-nya akan mendudukkannya di kereta dorong dan mengencangkan sabuk pengamannya. Sejurus kemudian, Maryam mulai meneriakkan racauannya atau ia akan mengunyah-kunyah sabuk pengaman seolah-olah sedang menikmati sepotong coklat. Seperti itu sampai Maryam bilang "pipih(s), pipih(s)" tetapi terlambat karena kereta dorong telah basah kuyup.

Kebiasaan Maryam tidur terlalu larut kadang membuat ummi-nya 'stress sesaat'. Ummi-nya akan masuk ke kamar lain dan menutup pintu membiarkan Maryam bermain. Saat sadar ummi tidak lagi berada di sampingnya, Maryam akan mendatangi pintu itu, mengetuk-ketuknya sambil menangis. Tentang menangis, entah belajar dari mana --karena kami tidak punya TV--, Maryam sudah bisa pura-pura menangis untuk sekadar menarik perhatian. Tak jarang tangisan pura-puranya berujung tangisan beneran. Karena tak ingin mengganggu tetangga, ibunya keluar lalu memintanya untuk segera tidur. Dan Maryam sepertinya mengerti. Dan kadang pula, Maryam sebenarnya sudah ingin tidur, tetapi lama ia hanya bergulung-gulung di kasur seperti orang dewasa sedang banyak pikiran.

Karena kebiasaannya tidur larut ini, Maryam jadi jarang bangun pagi. Ketika melihat balita lain sudah diajak jalan-jalan setengah enam, saya hanya bisa berkata dalam hati, "Haha, Maryam masih bobok."

Tetapi biasanya Maryam sudah bangun ketika kami makan pagi atau ketika saya hendak berangkat ke kantor, bersalaman dengan abi-nya sambil tersenyum manis. Dan senyum manis itu masih mengintip di balik jendela kaca mengantar keberangkatan abi-nya untuk bekerja.

Kepulangan saya pun tak pernah sepi dari teriakan semihisteris Maryam. Sambil melonjak-lonjak di gendongan ummi-nya, Maryam menyambut kedatangan abi-nya di gang depan rumah kontrakan. Atau jika sedang berada di dalam rumah, Maryam akan merangkak cepat menuju jendela kaca lalu berkicau, "abee, abee".

Iya. Sampai hari ini, Maryam masih belum benar-benar mau berjalan. Sebenarnya, lima-enam langkah ia sudah bisa. Namun, mungkin ia masih merasa lebih nyaman merangkak. Mungkin kami harus sedikit 'memaksanya' berjalan.

Jika sedang terjaga, Maryam tidak akan melewatkan momen makan bersama kami. Dia sudah akan cukup senang hati diberi irisan wortel dan sesekali seperenam atau sepertujuh suap sendok nasi berikut kuahnya, tak lupa dengan air putih dalam tempat minum warnya pink di sampingnya.

Dunia tidak seperti milik berdua lagi. Sekarang, dunia seperti milik bertiga.

yakinlah, ini bukan jendela rumah saya. jendela ini hanya ilustrasi

Thursday, June 21, 2012

alur opini audit

alur opini audit
Setelah mendapatkan beberapa temuan audit --tentu saja yang telah 'disepakati' bersama auditee, yang harus dilakukan berikutnya adalah mengelompokkan dan menguantifikasi temuan. Seperti yang sudah pernah sedikit disinggung di sini, bahwa temuan audit dapat digolongkan ke dalam dua kelompok besar: kelompok Salah Saji (misstatement) dan kelompok Pembatasan Lingkup (Tidak Cukup Bukti). Secara mudah, dapat dikatakan temuan digolongkan dalam kelompok Salah Saji apabila auditor mendapatkan bukti yang cukup untuk menguantifikasi secara pasti salah saji yang terjadi dalam laporan keuangan (LK). Sebaliknya, temuan digolongkan dalam kelompok Pembatasan Lingkup apabila auditor gagal memperoleh bukti yang cukup untuk meyakini salah saji yang terjadi, termasuk setelah ditempuh prosedur alternatif --jika ada.

Salah saji dapat terjadi karena kesalahan pilihan kebijakan akuntansi, kesalahan penerapan kebijakan akuntansi, atau ketidakcukupan pengungkapan dalam LK. Pembatasan lingkup dapat berupa keadaan di luar kendali entitas (catatan akuntansi hancur, disita, dsb), keadaan terkait sifat dan waktu penugasan (waktu yang tidak cukup, pengendalian intern yang lemah, ketidakcukupan catatan akuntansi, dsb), atau pembatasan oleh manajemen.

Setelah masing-masing temuan digolongkan pada dua kelompok tersebut, langkah berikutnya adalah menguantifikasi temuan-temuan tersebut. Untuk kelompok temuan salah saji, nilai salah saji telah jelas. Untuk kelompok pembatasan lingkup, nilai yang diukur adalah kemungkinan dampak salah saji, jika ada, atau besarnya nilai yang tidak dapat ditemukan dengan prosedur audit, termasuk prosedur alternatif. Sekadar catatan, tidak semua temuan pembatasan lingkup wajib dinilai karena ada temuan-temuan yang memang tidak menyangkut nonimal tertentu dalam laporan keuangan.

Setelah semua temuan dikuantifikasi, auditor menentukan materialitas (material atau tidaknya) salah saji atau pembatasan lingkup masing-masing temuan. Hal ini dilakukan melalui pembandingan nilai temuan dengan materalitas individu (kita sebut saja MI) akun yang terpengaruh oleh temuan tersebut. *materialitas individu dan materialitas agregat akan dibahas di lain waktu, insyaAllah* Jika nilai salah saji atau pembatasan lingkup lebih dari MI akun yang terpengaruh oleh satu atau beberapa temuan, maka akun tersebut layak dijadikan pengecualian opini. Dari langkah ini, auditor mendapatkan akun-akun yang akan menjadi pengecualian opini. Jika tidak ada satupun (nilai salah saji atau pembatasan lingkup masing-masing temuan tidak lebih dari MI masing-masing akun yang terpengaruh), maka auditor dapat memberikan opini Wajar Tanpa pengecualian (WTP).

Nilai salah saji akun-akun yang menjadi pengecualian/yang material yang didapatkan dari langkah di atas dijumlahkan untuk dibandingkan dengan materialitas agregat (kita sebut saja MA). Jika jumlah salah saji kurang dari MA, auditor dapat memberikan opini 'Wajar dengan Penjelasan (WDP) karena Salah Saji'. Jika jumlah salah saji lebih dari MA dan pengaruhnya bersifat pervasive terhadap keseluruhan LK, auditor dapat memberikan opini Tidak Wajar (TW).

Selain jumlah salah saji yang material, nilai pembatasan lingkup akun-akun yang menjadi pengecualian juga dijumlahkan dan dibandingkan dengan MA. Jika jumlah pembatasan lingkup kurang dari MA, auditor dapat memberikan opini 'Wajar dengan Penjelasan (WDP) karena Pembatasan Lingkup'. Jika jumlah salah saji lebih dari MA dan pengaruhnya bersifat pervasive terhadap keseluruhan LK, auditor dapat Tidak Memberikan Pendapat (TMP).

Fuih, demikian penjelasan panjang lebar dari saya. Ada pertanyaan? Seharusnya ada. Makhluk apa itu "pervasive"?

Terus terang saya juga baru tahu belakangan ini tentang pervasive. Sejauh pandangan saya, pervasiveness ini malah seperti alat yang ditanamkan dalam konsep alur opini di tempat saya bekerja hanya untuk mempersulit opini TW dan TMP. Karena setahu saya sebelum ini, jika total salah saji material lebih dari MA, itu sudah cukup untuk memberikan opini TW. Begitupula jika total pembatasan lingkup yang material lebih dari MA, itu sudah cukup untuk memberikan opini TMP. *Liat kanan kiri, hapus, ah.* Pervasiveness adalah pengaruh salah saji atau pembatasan lingkup suatu akun terhadap akun-akun lain dalam LK. Pervasiveness dapat ditentukan dari tiga indikator, yaitu kompleksitas, proporsi, dan pengungkapan (disclosure). Kompleksitas adalah sifat pengaruh akun terhadap akun-akun lain dalam LK. Proporsi adalah besarnya nilai salah saji/pembatasan lingkup terhadap total nilai seluruh akun yang diaudit. Pengungkapan adalah informasi yang harus disampaikan dalam LK --termasuk CaLK-- agar stakeholders tidak salah dalam pengambilan keputusan.

Satu lagi pertanyaan yang seharusnya muncul adalah: bagaimana jika total nilai salah saji dan total nilai pembatasan lingkup sama-sama lebih dari MA dan sama-sama pervasive? Untuk kasus seperti ini, opini yang diberikan auditor seharusnya cenderung lebih ke TMP.


Udah dulu ya. CMIIW.

sumber: Panduan Pemeriksaan LKPD

Tuesday, June 5, 2012

ujian kehidupan

Hidup ini seperti sekolah. Seperti sekolah, ada juga ujian dalam hidup ini. Seperti ujian, ada yang akan lulus dan ada pula yang akan gagal. Namun, tak seperti ujian sekolah yang hanya diadakan pada waktu tertentu, ujian hidup ini terus berjalan sepanjang nafas kita.

Banyak orang mengira ujian hidup itu hanya berupa kekurangan; kemiskinan, ketidaksehatan (sakit), kesempitan, dsb. Padahal, kelebihan; kekayaan, kesehatan, kelapangan waktu, kekuasaan dsb pun justru ujian yang lebih banyak menipu orang; menggelincirkan, menggagalkan mereka! Karena ujian jenis ini membuat mereka kehilangan kesadaran (tidak sadar) bahwa mereka sedang diuji, bahwa ujian hidup ini berjalan sepanjang waktu.

Iya. Jika jawaban untuk 'soal' kekurangan adalah sabar, jawaban untuk 'soal' kelebihan adalah syukur. Betapa banyak orang yang mampu bersabar ketika diuji dengan kekurangan. Namun, betapa banyak pula orang yang tidak bersyukur ketika diuji dengan kelebihan; dengan tidak menggunakannya untuk kebaikan; untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya dan justru menggunakan kelebihan mereka untuk keburukan. Mereka gunakan kelebihan yang diberikan Allah justru untuk bermaksiat kepada Allah?! Naudzubillahi min dzalik.

Ok. Lalu, mengapa Allah diam saja? Allah diam saja? Tidak! Atau Allah tidak tahu? Tidak mungkin! Atau Allah tidak mampu (membalas)? Tidak mungkin!! Allah bukan tidak tahu, Allah bukan tidak mampu, Allah bukan tidak kuasa, tetapi Allah hanya menunda.

Jika setiap perbuatan langsung Allah balas seketika itu juga, tidak akan ada orang jahat, Bung! Semua akan menjadi orang baik. Tidak akan terbedakan; siapa yang beriman dan siapa yang kufur. Semua orang akan berlomba-lomba berbuat baik untuk mendapat 'hadiah' di depan mata mereka. Dan semua orang akan menjauhi perbuatan dosa untuk menghindar dari adzab yang seketika datang.

Namun, Allah menyimpan balasan sejati di akhirat. Orang-orang yang beriman, percaya, yakin akan balasan Allah itu, tentu akan menjalankan apa-apa yang Dia perintahkan sebagaimana mereka menginginkan surga dan menjauhi apa-apa yang Dia larang sebagaimana mereka ingin menjauh dari api neraka.

Itulah. Seperti ujian sekolah, ada yang lulus dan ada yang gagal. Namun, ujian kehidupan ini jauh lebih besar dari ujian sekolah; yang lulus masuk masuk surga, yang gagal dihempaskan ke neraka --naudzubillah. Dan, hari pengumuman kelulusan itu adalah hari kiamat --kubro ataupun sughro.

ujian kehidupan