Wednesday, February 22, 2012

ada Yahudi di Papua

Empat kali ke Papua, ini sedikit "oleh-oleh" dari saya..

Onomi Fokha, ucapan selamat datang Papua

bagus, masih ada yang pakai nama Irian (tempat mahatari terbit) alih-alih Papua (tanah yang jauh)


(Tidak) Dilarang Merokok! [?]


atribut Yahudi di Papua; pantas saja sering rusuh, ada tukang rusuh di sana

bahkan ada simbol Zionis di mobil plat merah, ckckck..

Tuesday, February 21, 2012

kita tidak miskin!

Pernahkah seseorang mengeluhkan hidupnya kepada Anda, bahwa dia seolah orang paling miskin sedunia? Atau mungkin Anda sendiri pernah berpikir seperti itu? Renungkanlah ini, Kawan..

Jika seseorang datang kepada Anda, menawarkan 100 juta (rupiah) untuk membeli satu biji bola mata Anda, akankah Anda menjualnya?

Jika seseorang datang kepada Anda, menawarkan 100 juta untuk membeli sebelah telinga Anda, akankah Anda menjualnya?

Jika seseorang datang kepada Anda, menawarkan 100 juta untuk membeli tangan kanan Anda, akankah Anda menjualnya?

Jika seseorang datang kepada Anda, menawarkan 100 juta untuk membeli kaki kiri Anda, akankah Anda menjualnya?

Saya yakin Anda tentu tidak akan pernah menjualnya, bukan? Bahkan dengan nominal yang lebih besar dari itu. Mari kita hitung. Anda memiliki dua mata (200 juta), dua telinga (200 juta), dua tangan (200 juta), dan dua kaki (200 juta). Dari situ saja, Anda memiliki 800 juta. Padahal masih banyak organ tubuh Anda yang lain "yang mungkun bisa dijual." Katakanlah ada sekitar 50 organ yang bisa dijual dengan harga masing-masing 100 juta, maka Anda memiliki 5 miliar rupiah. Bagaimana jika harganya lebih dari itu -yang saya kira tetap saja Anda tak akan pernah menjualnya-, tidak dengan rupiah, tetapi dengan dolar. 5 miliar dolar setara dengan sekitar 50 triliun rupiah (misalkan 1$ = Rp10.000). Masya Allah, Anda memiliki 50 triliun rupiah.

Allah telah memberi kita "minimal 50 triliun rupiah" sejak kita terlahir ke bumi. Belum lagi faslitas yang Dia sediakan untuk kita secara cuma-cuma; udara misalnya, air, tak terhingga nilainya.

Masihkah berpikir kita miskin?

Monday, February 20, 2012

cerita biasa

Tinggalkan Jayapura dan Surakarta (Solo, red), sekarang saya sudah kembali ke Jakarta, kota tersibuk se-Indonesia Raya; tentu saja kembali bersama keluarga tercinta.

Setelah dua pekan me-reviu Konsep LK di BPK Perwakilan Provinsi Papua dan satu pekan 'membayar hutang rindu' kepada keluarga di Surakarta, tiga hari kerja pertama di Jakarta dilalui dengan melanjutkan reviu tempo hari dengan Rapat Koordinasi Teknis. Satu malam di antaranya sampai pukul 23.15 WIB.

Hari ke-empat, barulah ngantor seperti biasa. Kalaupun ada yang berbeda, itu adalah sekarang saya berangkat ke kantor dengan bersepeda motor. Lumayan menghemat waktu, hanya perlu 30 menit-an perjalanan rumah-kantor naik sepeda motor. Bandingkan dengan waktu rumah-kantor menggunakan angkutan umum yang mencapai 45 s.d. 60 menit-an, bahkan terkadang lebih. Setidaknya waktu bersama keluarga bisa dihemat beberapa menit setiap harinya. 15 menit x 2 pp (pulang pergi) x 20 hari kerja = 10 jam; minimal waktu yang dapat dihemat setiap bulannya, wow! Lumayan juga ya..

Itu kelebihannya. Kekurangannya, tentu saja ada. Sikon jalanan di Jakarta jauh berbeda dengan jalanan di Surakarta, jauh lebih ramai, padat; jalannya pun lebih besar-besar, rumit, bergelombang, banyak lubang maupun gundukan; para pengendaranya pun lebih 'garang'. Praktis, saya harus ekstra berhati-hati berkendara di jalan raya di Jakarta. Apalagi, perjalanan rumah-kantor sebagian besar melewati jalan protokol kota ini. Ditambah waktu liburan di Surakarta kemarin, saya gagal total mendapatkan SIM. Otomatis, setiap kali melihat rompi hijau Pak Polisi, hati saya jadi agak 'grek-grek gimana' gitu. *Huehehe... Padahal kantor saya tidak jauh dari Kantor Korlantas..

Sekian dulu cerita biasa dari saya. Lumayan buat ngisi bulan Februari. Hihii..

'Cah Solo'