Saturday, October 31, 2009

Sekolah Kehidupan

Terdaftar dengan terlahir

Di sini aku belajar bernapas

Di sini aku belajar melihat

Di sini aku belajar mendengar

Di sini aku belajar merasakan

Di sini aku belajar menangis

Di sini aku belajar tertawa, terbahak

Di sini aku belajar berdiri

Di sini aku belajar berjalan

Di sini aku belajar berlari

Di sini aku belajar berhenti

Di sini aku belajar berfikir

Di sini aku tumbuh

Di sini aku berkembang

Di sini aku belajar mencinta dan membenci

Di sini aku belajar memberi dan menerima

Di sini aku belajar bertahan hidup

Di sini aku menjadi tahu

Di sini aku belajar dan akan terus belajar

Naik kelas

Dan lulus

Dan mati

Thursday, October 22, 2009

Tanya apa?

Ada dan tiada

Jauh dan dekat

Gelap dan terang

Kanan dan kiri

Ambil dan buang

Siang dan malam

Pintar dan bodoh

Tawa dan tangis

Malaikat dan iblis

Berhenti dan jalan terus

Tidur dan terjaga

Manis dan pahit

Kuat dan lemah

Datang dan pergi

Tajam dan tumpul

Ikut dan tinggal

Masa lalu dan masa depan

Lihat dan buta

Tinggi dan rendah

Ramai dan sunyi

Menang dan kalah

Pujian dan cacian

Mengerti dan tak mengerti

Dengar dan tuli

Hujan dan reda

Naik dan turun

Hitam dan putih

Tanya dan jawab

Waras dan gila

Bumi dan langit

Bicara dan membisu

Jelas dan samar

Tuan dan budak

Jatuh dan bangkit

Diam dan bergerak

Peduli dan masa bodoh

Hidup dan mati

Saturday, October 17, 2009

I am

Saya agak lemah dalam hafalan tapi kuat dalam logika. Sangat dewasa tapi terkadang childish. Kadang jenius tapi kadang bertindak bodoh/konyol(-_-‘). Serius tapi sangat suka bercanda. Care tapi cuek dalam hal-hal tertentu. Pendiam tapi tidak kepada teman akrab/orang dekat. Lebih menikmati menangis daripada tertawa, tapi masih lebih banyak tertawa daripada menangis. Astaghfirullah.

Lemah dalam hafalan. Ya, makanya sampai saat ini saya belum hafal Juz 30. Hhe, jadi malu.. (tapi tinggal dikit lagi kok, insyaAllah..). Dan tolong jangan tanya saya tentang jalan karena jenis hafalan yang saya paling tidak bisa adalah menghafal jalan. Maka dari itu, saya selalu berharap mendapati sopir taxy yang jujur, baik hati, tidak sombong, dan rajin mencuci muka.

Kuat dalam logika. Karena lemah dalam hafalan, saya jadi kurang bisa mendatangkan dalil –secara otentik, persis- ketika bicara masalah agama. Saya akui itu sebuah kelemahan besar. Tapi logika saya sedikit banyak dapat menutupinya, at least bagi diri saya sendiri. Misalnya seperti ini, dalam matematika, semua bilangan jika dibagi ~ (tak terhingga) akan sama dengan nol. Jika dikaitkan dengan kehidupan di dunia dan kehidupan di akherat, berapa pun usia kita sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan lamanya hidup di akherat. Contoh 65 tahun : ~ = 0, tak ada artinya. Atau mau dikalikan 365 hari? Oke. (65x365 hari)* : ~ = 0, sama saja, tak ada artinya. Mau dikali lagi dengan 24 jam? Dikali 60 menit? Dikali lagi 60 detik? Sama saja, Gembel! Atau umurnya diganti 1 abad? Pufh.. Jadi, hanya orang yang tidak tahu matematika saja yang lebih mementingkan dunianya daripada akherat. Logika tersebut [semua bilangan jika dibagi ~ (tak terhingga) akan sama dengan nol] juga dapat digunakan dalam melihat perbandingan makhluk dengan Sang Pencipta, kita dengan Allahu Ta`ala. Berapa pun hebatmu, Saudara, misalkan ada ukuran angka untuk kehebatan, kekuatan, dll jika dibandingkan dengan Maha Besar Allah yang ~, akan sama dengan 0, tak ada apa-apanya.

Sangat dewasa, tapi kadang kekanak-kanakan. Hmm, sangat dewasa, tapi kadang kekanak-kanakan. Ya seperti itu saja. Sangat dewasa, tapi kadang kekanak-kanakan. Maaf, tidak ada penjelasan lebih lanjut. v^^

Kadang jenius. Percaya atau tidak? Saya ini malas belajar (terutama terkait masalah akademik), tapi kok –bukan bermaksud sombong, hanya sedikit narsis, alah- saya termasuk “anak pintar” =). Sejak SD sampai SMA kelas 1, tidak pernah keluar dari rangking 3 besar kelas. Mulai kelas 2 SMA, gara-gara minder saja di tengah orang-orang Tionghoa di sebuah kelas unggulan di SMA unggulan di Solo. Hhe. Tapi masih masuk 10 besar, Alhamdulillah. IP saat kuliah berkisar 3,53; 3,57; dst.. Tapi, IPK terakhir di STAN 3,48. Lumayan lah yaw? Yah, karena IPK 3,5 ke atas harus ke departemen Keuangan, makanya saya segitu saja biar bisa mangkir ke BPK. Kick3x. -ngeles- Yang terakhir kemaren pas diklat, mendapat nilai paling tinggi pula, padahal saya belajarnya biasa-biasa saja.

Kadang bodoh. Pelupa atau lebih tepatnya pikun, telmi –telat mikir-, lugu –lucu-lucu guoblog-, plin-plan, dan sejumlah sifat bodoh lainnya telah lama mengeram di tubuh saya dan mungkin sudah beranak pinak. Salah satu hobi saya pada tahun pertama kuliah di STAN adalah “meledakkan teko pemanas air milik teman-teman kos saya”, pernah karena colokannya lupa dicabut, pernah karena keliru mencolokkan colokan teko pemanas air tsb padahal hendak menghidupkan kipas angin, dsb. Hobi yang lain adalah menghilangkan kunci kamar. Entah sudah berapa kunci kamar yang telah saya hilangkan dengan sukses. Dan orang yang paling berjasa bagi perkembangan hobi saya yang satu ini, adalah Babe (bapak kos), yang dengan sukarela dan pasrah menghancurkan gembok-gembok yang kuncinya menjadi tumbal kegemaran saya ini.

Serius. Beneran. Saya anaknya serius lho. Susah jelasinnya yang ini.

Suka bercanda. Yang ini juga susah dijelaskan. Jadilah teman dekat saya, dan lihatlah betapa saya sangat suka bercanda. =D

Care. Ya, saya peduli pada hidup saya. Saya peduli pada orang-orang terdekat saya, keluarga saya. Saya peduli pada Saudara seiman. Saya peduli pada kelangsungan hidup di planet ini –halah-. Dan banyak hal yang saya pedulikan, saya pikirkan. Tapi tak perlu memilih saya menjadi presiden.

Tapi saya tidak terlalu peduli terhadap penampilan saya. Mungkin ini buruk ya? Hhe. Saya tidak peduli terhadap pandangan orang lain kepada saya. Saya tidak peduli terhadap orang yang tidak peduli pada dirinya sendiri. Menghabiskan tenaga saja memikirkan orang-orang seperti itu.

Pendiam. Ssst…

Lebih menikmati menangis daripada tertawa. Terdengar melankolis sekali ya? Tapi itulah yang saya rasakan.
Tapi masih lebih banyak tertawa daripada menangis. Huahahaha.. Astaghfirullah. Astaghfirullah.

Tuesday, October 13, 2009

Apakah hidup saya mulai berantakan lagi?

Sudah lama tidak menulis di blog ini ya..
Mungkin saya terlalu sibuk. Bagus kalau saya disibukkan urusan akherat. Tapi sepertinya yang menyibukkan saya lagi-lagi dunia. Puff..
Sekarang saya tinggal di Rawamangun, Jakarta Timur. Meninggalkan Kampus STAN, Bintaro Sektor 5 yang 4 tahun sudah saya tinggal di sana. Tahukah Anda sebabnya? Kuliah lagi! Tolol. Kenapa saya malah kuliah lagi?? Saya sendiri tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan dari pertanyaan ini, selain nyengir innocent.
Ikut-ikutan teman? Maybe.
Ya, saya terlalu mudah ikut arus. Sejak dulu. Sekolah di TK Indria Putra II dan SD Mojo I karena kakak-kakakku semua sekolah di sana. SMP 6, karena Kakak tertuaku sekolah di sana. SMA 3, karena dua sepupuku sekolah di sana. Jurusan IPA di kelas 3 SMA, karena teman-teman juga pada pilih IPA. STAN, karena GRATIS dan DIJAMIN KERJA (yang ini lain). Jurusan Akuntansi, karena pada pilih akuntansi. BPK, karena teman-teman sekelas pada pilih BPK. Gila! Hampir sepanjang hidup saya cuma ikut-ikutan. Dan SUKSES! Ya, sukses sebagai FOLLOWER, bukan TRENDSETTER. Sekarang teman-teman sekantor pada kuliah di STEI Rawamangun, saya juga ikut. Mungkin nanti mereka masuk lubang biawak, saya juga ikut kali ya..
Sungguh sangat tidak serasi dengan judul Blog ini. Just wanna be myself. Masih jauuuh sekaliii. Atau mungkin saya adalah pengikut? Jadi menjadi diri saya sendiri adalah ya menjadi pengikut itu. Maybe..
Dan sekarang, saya mulai agak sedikit menyesal. Masa muda saya hilang hanya untuk ikut-ikutan. -halah, lebbay- Tapi bener, sekarang waktu saya benar-benar tersita, tergadai, ter-apalagi ya? Bangun 04.00, shubuh, tidur lagi, bangun lagi, mandi, dandan, berangkat ke halte, nunggu bus jemputan, tidur lagi di bus, ngantor sampai 17.00, pulang naik bus jemputan lagi, sampai, mampir beli maem malem, maghrib, berangkat lagi kuliah, sampai di kos lagi 21.15. Huaaa… T_T hamper tidak ada waktu untuk sekadar buang angin. (maksutnya dipikir sendiri saja ya.. ini sejenis majas hiberbola varian terbaru).
Kalau ditarik lagi ke tujuan awal saya, tujuan penciptaan manusia, puff.. sepertinya bertolak belakang. Seharusnya saya mengejar akherat, bukan dunia. Bagaimana ini?
Tapi tenang, Sodara-sodara. Alhamdulillah saya masih sempat tholabul ‘ilmu syar’i, menghadiri majelis ta`lim. Walopun cuma seminggu sekali, dua jam saja. Hhe..
-cukup sekian dulu. sedikit untuk pemanasan kembali menulis-

Monday, May 25, 2009

berani ambil keputusan, dan berani terima konsekuensinya..

Life is so simple..
 

Suatu hari saya mendapat nasihat sangat bagus dari seorang teman. Dan tidak ada yang lebih bagus dari sebuah pertemanan selain saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
 

Beliau bilang seperti ini (kurang lebih):
 

“Mereka berani berbuat salah terang-terangan, kenapa antum tidak berani berbuat benar terang-terang-terangan? (dan kalimat tanya yang tidak membtutuhkan jawaban ini menyadarkan saya bahwa kiamat sudah sangat dekat -kebalik-balik gitu- ..)
 

Solusinya ya keluar, insyaAllah ada pekerjaan yg lebih baik di luar. Kembali ke Tauhid (dan semua permasalahan, intinya adalah Tauhid!), seberapa besar tawakkal antum kepada Allah?
 

Orang besar itu, kata Mario Teguh, berani ambil keputusan, dan berani terima konsekuensinya. Kebanyakan orang saat menghadapi masalah, tahu solusinya, tapi tidak berani mengambilnya atau berani mengambilnya tapi tidak siap dengan konsekuensinya.
 

Tapi kalau memang belum sanggup ada kaidah memilih keburukan yang lebih kecil dari beberapa keburukan, ya terima keadaan seperti itu, bertobat kepada Allah, kembalikan yang bukan hak kita. Tolak kalau berani, atau kalau tidak berani kembalikan ke kas Negara. Yang jelas, jangan membenarkan yang salah, tapi akui itu salah, lalu mohon ampun kepada Allah.
 

Hadits tentang seorang safar, dengan baju lusuh berdoa kepada Allah, berkumpul tiga keutamaan pada dirinya, tapi doanya tertolak karena makanan yg ia makan dari yg haram, pakaian yg ia kenakan dari yg haram. Maka, jaga betul-betul harta kita..
 

Yang jelas, jangan lepas ngaji. Pelihara hubungan dengan teman semanhaj, saling menasehati. Antum mau pindah kos deket kantor, ga ngaji lagi, hancur antum! Karena kebanyakan jam kita habiskan di kantor, otomatis kita lebih terwarnai kantor, kalau ga ngaji. Hancur. Lalu, cari istri akhwat salaf, jangan sembarangan.
 

Baca kisah-kisah orang sholih, para sahabat yang kita jauuuh sekali dengan mereka. Umar, menjadi khalifah (pejabat) hanya dua setengah tahun dan mati terbunuh. Siap ga kita seperti mereka?”
 

Saya sudah tidak peduli lagi, blog ini mau jadi blog apa..
 

Oya, bagi Bapak-papak Ibu-ibu yang mungkin membaca tulisan ini (tetep optimis kalau suatu saat blog ini ada yang baca selain saya sendiri) dan tersinggung, saya sama sekali bukan mau minta maaf. Terserah mau dibilang apa saya.
 

Catatan saya:
 

Yang paling saya notice dari nasihat tsb adalah bahwa hidup ini sebenarnya sangat sederhana sekali. Kita hanya perlu mengambil keputusan yang sesuai dengan hati nurani kita, sesuai dengan kebenaran yang datang dari Allah dan RosulNya. Lalu, kita terima akibat apa pun dari keputusan tersebut. Tanpa perlu khawatir. Tanpa perlu takut. Tanpa ragu-ragu. Masa iya, kita Allah menyia-nyiakan umatNya karena menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya? Pemberi Rizki nya siapa, Bos? Masa iya kita takut miskin, takut kelaparan sebentar sedang surga terbentang (insyaAllah) menanti di hadapan kita?
 

Yes. Life is so simple..
 

Menjadi diri sendiri adalah mengambil keputusan sesuai nurani kita dan menerma konsekuensi dari keputusan itu. Membuka topeng dan berjalan tegak..
 

Tapi, sekali lagi realita tak semudah teori, Jenderal.
 

Dan tahukah kamu? Ada fitnah (godaan) yang lebih dahsyat dari fitnah harta? padahal fitnah harta saja saya masih kurang yakin mampu menghadapinya..
 

Dan perjalanan ini masih akan berlanjut..

Tuesday, May 19, 2009

Love what you do, do what you love.

Love what you do, do what you love.
 

Ini juga salah satu cara paling ampuh menjadi diri sendiri, especially frasa kedua tuh. Do what you love. Enak sekali bukan mengerjakan apa pun yang kita suka, melakukan apa pun yang kita mau. Enak sekali David Beckham terkenal dan menjadi kaya raya berkat hobinya bermain bola. Enak sekali Valentino Rossi kebut-kebutan tanpa takut ditilang atau dikejar-kejar polisi, malah dapet trofi lagi. Enak sekali orang kaya (atau orang yang bapaknya kaya), hobinya tersalurkan tanpa perlu memikirkan uang. Tapi kenyataan tidak selalu semanis itu, Jenderal. Kadang kita harus menerima bahwa sesuatu yang kita dapat tidak sama dengan yang kita inginkan. Pekerjaan yang kita tekuni saat ini bukan yang kita cita2kan sejak kecil. Berapa banyak anak yang bercita2 menjadi Dokter, akhirnya jadi Guru (dan lebih banyak lagi yang jadi buruh pabrik). Berapa banyak anak dengan cita2 wartawan, akhirnya jadi loper Koran. (niru2 iklan. Yo ben.) Berapa banyak anak dengan cita2 pilot, akhirnya menjadi sopir angkot. Dan berapa banyak anak dengan cita2 astronot, akhirnya menjadi robot. (maksute opoo?)

Ya, dan pada dasarnya saya pengin curhat (at least kepada diri saya sendiri di masa depan yang baca tulisan ini, coz sampai saat ini kayaknya ga ada yg buka blog ini kecuali saya sendiri. Huhuhu. Ya iyalah, orang ga pernah diumumin, mana nama blognya super duper aneh lagi).


Percaya nggak percaya, sampai sekarang saya masih bingung, apakah saya ini jenius atau idiot ya? Dan believe or not (hwalah..) sampai sekarang saya juga masih bingung, apakah saya ini orang yang beruntung atau silakan coba lagi (belum beruntung maksutnya..). Tapi kalau dari segi akherat, Alhamdulillah saya merasa beruntung sekali menjadi seorang muslim.
 

Percaya nggak percaya lagi cita2 pertama saya adalah menjadi seorang pelukis. Tapi itu kayaknya Cuma cita2 monyet sih (mengadopsi dari cinta monyet gituh). Pernah ingin jadi polisi. Pernah ingin jadi detektif. Pernah juga ingin jadi arsitek. (wah, pengalaman saya banyak sekali ya… apa sih itu pan Cuma cita-cita.goblog). Dan yang terakhir dan masih menjadi cita2 saya sampai hari ini adalah ingin menjadi entrepreneur. Pengusaha sukses. Muda terkenal. Tua kaya raya. Mati masuk surga. Hahaha… Namun, Anda belum beruntung. Silakan coba lagi.. Kenyataannya sekarang adalah saya seorang CPNS. Whuaaa… nggak nyambung pan??

Namun, di sisi lain. Saya juga merasa beruntung bahwa saya bisa seperti ini hari ini. Dan perjalanan menuju hari ini bagi saya penuh dengan keberuntungan. Seolah dimudahkan, walaupun kadang ada kerikil, bahkan yang cukup tajam, kadang ada beling (pecahan kaca), kadang ada kotoran sapi juga, ada juga ranjau darat, ada uang 5 ribuan juga jatuh di jalan, diambil ngak ya?? Liat kiri kanan.. (opooo seeh…). Ya, benar dimudahkan. Saya ingin sekolah di SMP 6, Alhamdulillah keterima. Di SMA 3, juga keterima. Pengin masuk IPA (walopun Cuma ikut2an), juga keterima. Ingin kuliah di STAn, keterima juga (padahal yang mboncengin saya pas USM STAN dan saya juga nginep di tempat sodaranya, malah ga keterima). Di Spes Akuntansi, keterima juga. Bikin TA Sistem Akuntansi (yang gampang.hehe..), kesampean juga. Milih BPK, masuk juga. Pengin penempatan pusat, dipenuhi juga. (walopun ga di unit kerja permintaan saya). Subhanallah, ternyata banyak sekali..(nggak nyadar, asal nulis, ternyata banyak juga ya..). Tapi kalau ditarik ke awal lagi, ini jauh dari cita2 saya dari cita2 kelas 1 SD sampe cita2 hari ini. Kok bisa ya? Sejak dimana distorsinya? (alaah..)
 

Dan yang harus dilakukan di saat seperti ini adalah napas buatan, eh salah.. adalah mengimplementasikan frasa kedua dari judul di atas. Love what you do. Mencintai pekerjaan saya. Ya, yang saya lakukan adalah bekerja sebaik mungkin dan sesantai mungkin, se enjoy mungkin, sambil jualan pulsa di kantor dan merencanakan untuk membuat sebuah atau dua buah usaha sampingan untuk mewujudkan impian saya menjadi entrepreneur dan mencoba menguasai dunia. Hahaha… (teteup)
 

Ya intinya saya belum mengerti betul bagaimana agar saya bisa benar2 mencintai pekerjaan saya sebagaimana saya mencintai istri saya kelak. Hwalah..
 

Bagi yang punya saran untuk masalah saya di atas, silakan kirim ke: PO BOX ESTEH1987 JKS, dan kalau surat Anda kembali (dan pasti kembali karena ga ada PO BOX seperti itu..), kirim via email saja ke: weensmailbox@yahoo.co.id. Atau dari pada repot-repot langsung comment aja di bawah tulisan ini.poof..
 

NB: (sampai saat ini saya belum tahu NB itu kepanjangan dari apa..) Saya kira tulisan saya yang satu ini kurang bagus (iya2, jelek maksutnya..) ga seperti tulisan2 saya sebelumnya (jelek banget,red) coz saya emang lagi ga pengin nulis, tapi saya paksain juga buat nulis, ya seperti ini lah jadinya, maaf ya..(emangnya siyapa yang baca, kampret)

Monday, May 11, 2009

Be Myself!

Judulnya sama dengan tulisan sebelumnya?? Memangnya kenapa? Tidak boleh? Ada pasal UU yang melarangnya? So, what`s the problem?
 
Hehe. Peace. Just kidding. Saya pan suka becanda. Sebenernya mau dibikin “Be Urself”, tapi karena saya nggak yakin blog ini bakal ada yang baca selain saya sendiri, jadi saya ubah menjadi “Be Myself” saja.
 
Untuk menjadi diri sendiri, menurut saya, hal yang paling pertama *pertama kan udah paling ya? Ah, bodok.* diketahui adalah tujuan! Tujuan hidup. Apa sebenarnya tujuan hidup saya? Dan untuk pertanyaan ini, sepertinya saya sudah mempunyai jawabannya. Mati. Yah, tujuan hidup saya adalah mati. Seratus orang mungkin mempunyai seratus tujuan hidup yang berbeda. Tapi toh mereka akan mati jua. Jadi, tujuan hidup saya mati saja. Simple is better.
Tapi bukan mati begitu saja yang saya maksud di sini. Saya ingin mati dalam keadaan yang baik. Mati untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Lebih indah. Surga. Surga adalah tujuan saya. Dan karena I am a moslem, maka tidak ada jalan lain untuk menggapai tujuan saya tersebut kecuali mati dalam keadaan beriman. Mati dalam keadaan bertauhid kepada Allahu Ta`ala.
 
Tenang saja, ini bukan blog agama kok -setidaknya untuk saat ini.- Ini adalah blog pencarian jati diri seorang anak manusia bernama … *ah, jadi malu menyebutkan nama sendiri..*
Tapi bagi yang sudah tidak tertarik, mau pergi juga silakan saja, tidak ada pasal UU di Negara ini yang melarang berhenti membaca blog bagus.
 
Oya, satu lagi, maaf kalau terselip kata-kata asing karena memang saya sedang berusaha belajar bahasa inggris. I am attempting to learn English. And I am sorry if there’s any false.
 
*Lanjut..* Menjadi diri sendiri bukan berarti tidak punya panutan, tidak sama dengan bertindak seenak perut sendiri, apalagi seenak perut orang lain *maksute opoo…*. Ya, lagi-lagi sebagai seorang muslim, panutan saya adalah Muhammad Alayhis Sholaatu Wassalaam. Beliau saya yakini -dan seharusnya juga diyakini oleh setiap muslim- adalah manusia terbaik yang pernah terlahir ke dunia ini. Tidak ada dan tidak akan ada manusia sebelumnya dan setelahnya yang lebih baik dari beliau. Maka, bodoh sekali jika ada seorang muslim yang tidak menomorsatukan Muhammad Alayhis Sholaatu Wassalaam sebagai panutan dalam menjalani hidup di dunia ini.
 
Tenang saja, ini bukan blog agama kok -setidaknya untuk saat ini- Ini adalah blog pencarian jati diri seorang anak manusia bernama … *ah, jadi malu menyebutkan nama sendiri..*
Tapi bagi yang sudah tidak tertarik, mau pergi juga silakan saja, tidak ada pasal UU di Negara ini yang melarang berhenti membaca blog bagus.
Memang sengaja saya copy paste kok, memangnya tidak boleh? Ada pasal UU yang melarangnya? Hehe..
 
Back to the topic. Tapi sayangnya, tapi masalahnya saya sama sekali belum bisa mengikuti jejaknya. terkadang saya malas pergi ke mesjid *walaupun akhirnya pergi juga, tapi males gituh*. Berjamaah di mesjid wajib, Bos!*. Terkadang saya masih berlama-lama memandangi wanita cantik. Yah, ada saja setan yang menggoda saya *sebuah pembelaan*. Jadi ingat, kata-kata seorang teman “Selalu berjalanlah di bawah sayap malaikat, karena setan selalu nongkrong di otakmu”. Tapi sayangnya, tapi masalahnya saya nggak bisa liat malaikat.
 
Kembali ke inti pembicaraan tadi, bahwa untuk menjadi diri sendiri, saya harus tahu tujuan saya. Dan alhamdulillah saya sudah tahu. Untuk mencapai tujuan saya tersebut, saya harus tahu caranya. Dan saya juga sudah tahu, insyaAllah. Dan mati dapat menjemput kapan saja. Malaikat maut dapat menyapa kapan saja. Namun, saya tidak bersiap setiap saat. Dan itu adalah masalahnya.

Menjadi Diri Sendiri

Di sini aku. Di tempat yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya beberapa tahun yang lalu. Mendapatkan tubuh ini menjadi salah satu penghuni kota terbesar di Indonesia Raya ini. Penghuni sebuah gedung tinggi di kota yang penuh sesak dengan asap kendaraan bermotor, pengamen, dan ibu-ibu pengajian.
 

Enam bulan yang lalu aku magang di gedung sebelah, tiga bulan yang lalu aku terkurung di sebuah penjara bernama Pusdiklat di daerah Kalibata bersama teman-teman sesama ‘nara pidana’ lainnya, satu bulan yang lalu aku masih di tanah kelahiranku bersama keluarga tercinta, satu minggu yang lalu aku masih di ruang pojok kanan lift lantai tujuh, dan hari ini aku telah berada di ruang baru lagi, di pojok kiri lift di lantai yang sama. Masih tanpa pekerjaan yang jelas.
 

Perjalanan panjang dua puluh tahun sembilan bulan telah mengantarkan diri ini menuju hidup yang lebih baik di mata orang-orang. Hidup yang terjamin aman sampai hari tua kata mereka. Tapi mereka tak tahu kan apa yang ada di benak anak yang sebenarnya bingung dirinya ini sangat pintar atau bodoh sejati, jenius atau justru hampir gila.
 

Yah. Aku dan mungkin ada banyak orang lain di luar sana sedang kebingungan memikirkan sejatinya dirinya sendiri. Mungkin tidak terlihat sama sekali, bahkan oleh orang-orang terdekat sekalipun. Tapi, itulah kenyataannya, Jenderal. Dan kalau boleh sedikit beropini, setiap orang setiap detik adalah perjalanan mencari jati dirinya. Hanya saja ada yang sadar dan ada yang tidak tahu apa-apa tentang ini.
 

Aku adalah pendiam di antara orang-orang pendiam, menjadi humoris di antara orang-orang humoris (walaupun tetap dianggap pendiam), adalah muslim yang taat di antara muslim-muslim yang taat, bermaksiat di antara orang-orang yang bermaksiat, sombong di antara orang-orang bodoh, dan minder di antara orang-orang hebat. Menulis bak Andrea Hirata sesudah membaca Laskar Pelangi, dan menulis sekonyol Raditya Dika setelah membaca Kambing Jantan.
Mungkin wajar bagi sebagian orang, tapi aku hanya ingin menjadi diriku sendiri kapan pun di mana pun, bukan seperti itu, bukan seperti bunglon yang ber-mimikri, mengubah warna kulitnya sesuai keadaan di sekitarnya. Walaupun tidak dinafikan bahwa adaptasi juga diperlukan, tapi kemunafikan tetap harus dijauhkan.
 

Blog ini hanya kumpulan tulisan yang ingin ditulis penulisnya. Apa pun yang ingin kutulis, akan kutulis. Tak masalah tak ada yang baca selain sang penulis sendiri. Tak masalah tak ada pengikut karena memang saya bukan Nabi baru. Dan tak masalah pula bila suatu saat terkenal dan menjadi blog nomer satu sedunia. *Huahehe…
 

Tuh kan, lihat sendiri betapa cepatnya saya berubah, dari “aku” menjadi “saya”, dari puitis menjadi “konyolis”. Dan akan didapatkan berbagai macam jenis tulisan di estehmanishangatnggakpakegula ini. Tak apa lah, setidaknya saya tidak membohongi diri sendiri. Karena memang seperti itu yang ingin saya tulis. Tapi juga seperti itu tadi saya pengin menjadi diri sendiri. Jadi mungkin moga-moga suatu saat, hanya akan ada satu jenis tulisan. Dan itu lah saatnya saya tahu siapa diri saya sebenarnya.