Friday, May 25, 2012

anak belajar ...

Jika anak hidup dalam kritik, ia belajar mengutuk.

Jika anak hidup dalam kekerasan, ia belajar berkelahi.

Jika anak hidup dalam pembodohan, ia belajar terus merasa bersalah.

Jika anak hidup dalam rasa dipermalukan, ia belajar jadi pemalu.

Jika anak hidup dalam toleransi, ia belajar menjadi sabar.

Jika anak hidup dalam dorongan, ia belajar menjadi percaya diri.

Jika anak hidup dalam penghargaan, ia belajar mengapresiasi.

Jika anak hidup dalam rasa adil, ia belajar keadilan.

Jika anak hidup dalam rasa aman, ia belajar yakin.

Jika anak hidup dalam persetujuan, ia belajar menghargai diri sendiri.

Jika anak hidup dalam rasa diterima dan persahabatan, ia belajar mencari cinta di seluruh dunia.

sumber: @kajianislam

mendidik anak

Thursday, May 24, 2012

strategi setan

Pertama, setan akan mencoba mengajak manusia berbuat syirik (menyekutukan Allah);

Jika belum bisa, dia akan mengajak manusia berbuat bid'ah (menyelisihi sunnah* Rasulullah) terlebih dulu;

Jika belum bisa, dia akan mengajak manusia melakukan dosa besar terlebih dulu;


Jika belum bisa, dia akan mengajak manusia melakukan dosa kecil terlebih dulu;


Jika belum bisa, dia akan mengajak manusia mendahulukan yang makruh (tidak disukai Allah) dari yang mubah (boleh) terlebih dulu;


Jika belum bisa, dia akan mengajak manusia mendahulukan yang mubah dari yang sunnah** (disukai Allah) terlebih dulu;


Jika belum bisa, dia akan mengajak manusia mendahulukan yang sunnah** dari yang wajib terlebih dulu;

Jika berhasil mengajak manusia melakukan salah satu darinya, setan akan kembali meningkatkan ajakannya ke 'level' yang lebih tinggi sampai kepada yang tertinggi; syirik.


[Ibnul Qayyim al Jauziyah]



*) sunnah menurut 'ulama ahli hadits; segala perkataan, perbuatan, dan ketetapan Rasulullah
**) sunnah menurut 'ulama fiqh; afdhol, dikerjakan mendapat pahala, tidak dikerjakan tidak berdosa



satans strategy

Tuesday, May 22, 2012

loooong weekend: stan

melanjutkan yang kemarin___

Sabtu. Kami berkunjung ke kampus STAN, kampus tempat saya menuntut 'ilmu dunia', dulu. Ada setidaknya tiga alasan saya mengajak anak istri ke sini. Pertama, kebetulan (qodarullah, red) pas ada kajian di sana; Zakat Maal & Kontroversi Zakat Profesi oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, seorang doktor fakultas syari'ah jebolan Universitas Islam Al Imam Muhammad bin Sa'ud, Madinah. Kali ini, saya ke kampus untuk menuntut 'ilmu akhirat'. O ya, baru kali pertama ini --setahu saya--, kajian seperti ini diadakan di gedung kampus. Dulu di zaman saya, paling banter diadakan di masjid sekitar kampus. Kajian direncanakan dimulai pukul 08.00, tetapi perkiraan saya pukul 08.30 s.d. 09.00 paling baru benar-benar dimulai. Untuk mengejar acara itu --plus kami berencana mampir dulu ke rumah mantan ibu kos, maka kami 'terpaksa' membayar mahal taksi untuk merngantar kami ke sana. Etapi tak apa, tak ada kata mahal untuk keluarga.

Alasan kedua, seperti yang telah disinggung di atas --juga di tulisan sebelumnya, kami ingin berziarah ke rumah mantan ibu kos *bukan silaturahim, karena istilah silaturahim itu sebenarnya khusus kepada yang ada hubungan kerabat dengan kita. yang tepat: ziarah, bukan berarti/bedakan dengan ziarah kubur ya*. Maklum, sejak menikah --sampai punya anak usia satu tahun, istri saya belum pernah bertemu dengan Nyak O'om, 'ibu tiga tahun' saya dan keluarga besarnya *kurang lebih tiga tahun saya merumah di kos-annya*. Pasti senang --bagi kedua belah pihak-- untuk saling bertemu dan mengenal. Dan benar saja. Mampir sebentar sebelum pergi ngaji, kami kembali ke rumah ibu kos, makan siang, mengobrol, cerita tentang masa lalu, hari ini, dan masa depan, dsb. Maryam pun senang betul karena di sana ia bertemu banyak teman, cucu-cucu Nyak O'om.


Ketiga, saya ingin 'memperlihatkan' kepada istri tempat perjuangan saya dulu; kampus STAN, medan perang berjibaku melawan akuntansi dkk, rumah kedua dimana saya kali pertama hidup terpisah dengan keluarga. Sekaligus, saya ingin melihat perubahan kampus saya dulu itu. Karena setelah saya lulus, justru gedung-gedung dan fasilitas kampus dibangun besar-besaran.


kampus STAN, sekarang


Dan iya. Kampus memang sudah banyak berubah. Mulai dari gerbang depan, masuk ke dalam ada kolam dengan tulisan STAN besar di tengahnya. Hmm.. bagus. Di kanan kiri gedung P --pusat administrasi kampus, dulu--, yang di zaman saya hanya lahan kosong tak terawat, sudah ada dua gedung baru kembar bagus. Di salah satu gedung itu lah, Gedung I, kami mengaji tempo hari. Di bagian belakang, lapangan besar tempat kami dulu bermain bola telah disulap menjadi semacam pusat kegiatan mahasiswa --entah dimana lagi para mahasiswa bermain bola (bukan futsal) sekarang. Taman CD, salah satu tempat favorit mahasiswa dulu, sayang sekali, kami tak sempat menengok tempat itu.

Kira-kira satu jam sebelum waktu Ashar, kami pulang. Maryam senang betul hari itu. Ummi-nya, apalagi.

Monday, May 21, 2012

loooong weekend: ragunan


Kamis-Jumat-Sabtu-Ahad, empat hari kemarin sangat cukup untuk berlibur bersama anak istri tercinta.

Kamis kami jalan-jalan ke Kebun Binatang Ragunan, Jumat istirahat, Sabtu berkunjung ke Kampus STAN, sekaligus menghadiri kajian dan ziarah --bukan silaturahim, apalagi silaturahmi-- ke rumah eks ibu kos, Ahad memulihkan diri untuk bekerja hari ini.

Kamis. Pukul tujuh lebih sedikit, kami bertolak dari kontrakan. Naik Transjakarta --bukan busway-- dari Halte Sunan Giri, ganti bus di Halte Dukuh Atas, kami sampai di Halte Ragunan --tepat di depan pintu barat kebun binatang-- pukul delapan lebih agak banyak. Tanpa pikir panjang, kami segera ke loket, membeli tiket, lalu masuk ke kebun lokasi --setelah sempat membeli tikar semipermanen lima ribu perak.

Ragunan memang tempat yang sangat nyaman untuk liburan bersama keluarga. Di sana, kita tidak hanya bisa melihat langsung aneka ragam satwa, tetapi juga bisa bersantai-santai di taman --atau bahkan di tepi danau, naik rakit keliling danau, naik andong keliling kebun binatang, foto ekskusif bersama jerapah, sampai naik onta.

Pusat Primata Schmutzer, Ragunan

Di Ragunan juga ada satu tempat khusus bernama Pusat Primata Schmutzer dimana kita bisa melihat koleksi lebih lengkap keluarga besar primata, termasuk salah satu primata terbesar; Gorila. Namun, untuk masuk ke tempat ini, kita perlu membeli tiket lagi. Yang menarik adalah desain khusus Pusat Primata Schmutzer yang dibuat sedemikian rupa sehingga kita seolah sedang benar-benar berjalan-jalan di hutan dan melihat kehidupan asli para primata di habitat mereka. Penasaran? Buktikan saja sendiri ya___

O ya, di dalam Pusat Primata Schmutzer ini, kita dilarang membawa segala jenis makanan. Kita hanya boleh membawa barang berharga seperti dompet, handphone, kamera, dsb serta minuman dengan wadah permanen, selain itu, silakan dititipkan ke petugas. Jadi, jangan lupa siapkan minuman dengan wadah permanen dari rumah. Satu lagi, siapkan lotion atau minyak antinyamuk karena seperti hutan, akan banyak nyamuk di dalam sana.

Setelah puas melihat-lihat aneka ragam binatang dan sempat beristirahat sambil makan siang di salah satu taman, kami pun pulang melalui pintu utara. Kali ini kami menumpang Kopaja 612 sampai Terminal Kampung Melayu, kemudian oper ke Mikrolet 02 sampai Rawamangun.

Maryam terlihat senang hari itu. Ummi-nya, apalagi.

bersambung...

Wednesday, May 9, 2012

kebenaran tak berbilang

bagi kami, kebenaran tak berbilang

kebenaran hanya satu; yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya

dan kami senantiasa mencoba menapaki jalan kebenaran itu

jalan yang telah ditempuh oleh manusia terbaik dan generasi terbaik; Rasulullah dan para sahabatnya

sebagian orang mengatakan, "jangan merasa paling benar"

maka, kami katakan, "justru harus"

jika Anda belum merasa benar, maka carilah kebenaran itu sampai Anda yakin Anda di atas kebenaran atau Allah mematikan Anda di tengah jalan mencari kebenaran

jika Anda tidak yakin Anda di atas kebenaran dan Anda nyaman dengan keraguan itu, sungguh aneh, bukan?

mirip dengan sebelumnya, sebagian orang yang lain --yang katanya cerdas, cendekia-- berkata, "tidak ada kebenaran mutlak, tidak ada kebenaran absolut, kebenaran itu relatif" --> maka, jangan merasa paling benar

maka, kami katakan, tujukan kata-kata kalian itu kepada kalian sendiri, wahai --yang katanya-- orang-orang cerdas

kalianlah yang paling berhak dihukumi dengan teori kalian, bukan?

maka, berarti kalian harus menerima bahwa teori kalian itu juga tidak mutlak benar! sangat mungkin salah! --bahkan pasti salah!

tidak ada agama tanpa fanatisme. setiap agama mengajarkan kepada penganutnya, agama mereka lah yang paling benar, kecuali kalian, JIL (Jaringan Islam Liberal)! maka, seharusnya kalian adalah musuh semua agama

aneh, bukan? lalu, kenapa kalian menisbatkan diri ke Islam kalau begitu? kenapa tidak Jaringan Kristen Liberal atau Jaringan Yahudi Liberal? bukankah kalian anggap semua agama benar?

JIL, hanya ada tiga kemungkinan tentang orang-orang yang ada di dalamnya

pertama, mereka adalah orang-orang yang memang punya niat jahat ingin merusak Islam

kedua, mereka adalah orang-orang bodoh yang diperalat musuh-musuh Islam

atau ketiga, gabungan dari keduanya

dan sesungguhnya, yang membuat mereka bodoh adalah 'ilmu' filsafat

semakin orang belajar 'ilmu' filsafat, bukan semakin ia cerdas, justru semakin ia bodoh

mereka adalah orang-orang paling bingung sejagad

[terinspirasi dari artikel ini]

anti JIL

Tuesday, May 8, 2012

adverse vs disclaimer

What is the difference?

Opini auditor mana yang lebih baik, atau lebih tepatnya mana yang lebih buruk: adverse (tidak wajar) atau disclaimer (tidak menyatakan pendapat).

Terkadang --atau bahkan selalu-- ada perbedaan pendapat dalam sebuah disiplin ilmu; tetapi tidak selalu didapatkan kata sepakat. Tidak berbeda juga dalam akuntansi dan audit, para 'ahli' berbeda pendapat tentang apakah opini adverse lebih 'baik' dari opini disclaimer atau sebaliknya. Sebelum 'menentukan' jawabannya, ada baiknya kita baca kembali penjelasan masing-masing opini.

Pendapat Tidak Wajar/TW (adverse opinion) adalah opini yang menyatakan bahwa Laporan Keuangan (LK) tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan sesuai dengan standar akuntansi. Opini ini diberikan karena auditor meyakini, berdasar bukti-bukti yang dikumpulkannya, bahwa laporan keuangan mengandung banyak sekali kesalahan atau kekeliruan yang material. Artinya, laporan keuangan tidak menggambarkan kondisi keuangan secara 'benar'. 

Kondisi yang menyebabkan auditor menyatakan opini adverse adalah ketika auditor, setelah memperoleh bukti pemeriksaan yang cukup memadai, menyimpulkan bahwa penyimpangan dari prinsip akuntansi (salah saji) yang ditemukan, baik secara individual maupun agregat, adalah material dan pervasive pada laporan keuangan. Sifat pervasive (berpengaruh secara keseluruhan) di antaranya dapat dilihat dari kompleksitas, proporsinya terhadap laporan keuangan secara keseluruhan, dan persyaratan pengungkapan yang bersifat fundamental.

Pernyataan Tidak Memberikan Pendapat/TMP (disclaimer opinion) adalah opini yang menyatakan bahwa laporan keuangan tidak dapat diyakini wajar atau tidak, dalam semua hal yang material sesuai dengan standar akuntansi. Ketidakyakinan tersebut dapat disebabkan oleh pembatasan lingkup pemeriksaan dan/atau terdapat keraguan atas kelangsungan hidup entitas. Alasan yang menyebabkan menolak atau tidak dapat menyatakan pendapat harus diungkapkan dalam laporan audit. Disclaimer opinion tidak bisa diartikan bahwa laporan keuangan sudah 'benar' atau 'salah'. Justru, opini ini diberikan karena auditor tidak bisa meyakini apakah laporan keuangan 'benar' atau 'salah'. Ini terjadi karena auditor tidak bisa memperoleh bukti-bukti yang dibutuhkan untuk bisa menyimpulkan dan menyatakan apakah laporan sudah disajikan dengan 'benar' atau 'salah'.

Kondisi yang menyebabkan auditor menyatakan opini disclaimer adalah adanya pembatasan lingkup yang luar biasa sehingga auditor tidak dapat memperoleh bukti yang cukup memadai sebagai dasar menyatakan pendapat (opini). Dalam kondisi ekstrim yang melibatkan banyak ketidakpastian, auditor menyimpulkan bahwa, terlepas dari perolehan bukti pemeriksaan yang cukup memadai terkait setiap ketidakpastian, pemeriksa tidak mungkin merumuskan opini atas laporan keuangan karena adanya interaksi potensial dan dampak kumulatif yang mungkin terjadi pada laporan keuangan.

[dari berbagai sumber]
Bingung baca penjelasan panjang lebar di atas? *Hehe, sama.. Dalam bahasa mudahnya, bisa dikatakan dengan sederhana seperti ini: adverse = LK 'salah' sedangkan disclaimer = LK tidak diketahui; 'salah' atau 'benar', keduanya terkait hal yang sangat material atau pervasive (berpengaruh terhadap keseluruhan LK).

Untuk menilai mana opini yang lebih baik, sebenarnya kita tidak bisa lepas dari pembahasan alur penentuan opini serta dua jenis opini lainnya. Untuk dua jenis opini lainnya, Anda dapat membaca tulisan saya sebelumnya di sini, sedangkan untuk alur penentuan opini, kita bahas lain kali ya, insyaAllah.

Dalam bayangan saya, opini-opini ini jika ditempatkan dalam sebuah gedung tiga lantai -bukan empat-, maka opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) atau unqualified opinion menempati lantai teratas, dhi. maksudnya memiliki kedudukan tertinggi. Lantai kedua ditempati oleh opini WDP (Wajar Dengan Pengecualian) atau qualified opinion. WDP ini sebenarnya ada dua jenis, WDP karena penyimpangan dari standar akuntansi dan WDP karena pembatasan lingkup (ketidakcukupan bukti) audit. Hanya saja karena efeknya tidak pervasive, maka masih bisa diberikan opini Wajar Dengan Pengecualian. Maka, sebenarnya di lantai dua ini sudah ada dua penghuni; yang serupa tapi tak sama.

Di lantai dasar, benar-benar ada dua penghuni, opini Tidak Wajar (TW) atau adverse opinion dan opini Tidak Menyatakan Pendapat (TMP) atau disclaimer opinion. Sama dengan keadaaan di lantai dua, opini adverse dikarenakan penyimpangan dari standar akuntansi sedangkan opini disclaimer dikarenakan pembatasan lingkup audit. Berbeda dengan lantai dua, efek dari penyimpangan dari standar akuntansi atau pembatasan lingkup audit ini sangat material dan/atau pervasive. Di sinilah letak masalahnya, karena berada pada lantai atau tingkat yang sama, sulit untuk diklaim opini mana yang lebih tinggi (baik) dan mana yang lebih rendah (buruk). 

Yang berpendapat adverse lebih buruk pada intinya mengatakan bahwa pada opini disclaimer, LK masih mungkin 'benar' atau wajar sedangkan adverse sudah dipastikan bahwa LK 'salah' atau tidak wajar. Yang berpendapat adverse lebih buruk pada intinya mengatakan bahwa opini disclaimer terjadi karena Sistem Pengendalian Internal (SPI) yang buruk, berantakan, tidak memadai sehingga auditor tidak dapat berbuat banyak untuk mengumpulkan bukti audit sebagai dasar untuk menentukan kewajaran LK, sedangkan pada opini adverse, SPI entitas sudah cukup bagus, memadai sehingga auditor dapat mengumpulkan bukti audit sebagai dasar untuk menentukan kewajaran LK, walaupun hasilnya ternyata tidak wajar.

Simpulan 

Secara pribadi, saya lebih condong bahwa secara umum, adverse masih lebih baik dari pada disclaimer. Logika tambahannya, ketika auditee tahu kesalahan mereka, auditee akan dapat dengan mudah memperbaikinya --tentu saja jika ada niat baik. Lain halnya jika auditee tidak tahu mereka salah atau benar, mereka tidak akan bisa memperbaiki diri -jika ternyata salah. Apalagi bahwa hal itu disebabkan karena SPI yang kurang memadai sehingga dalam hal ini adverse masih selangkah lebih maju, sedangkan disclaimer masih harus memperbaiki SPI-nya --'sebelum diketahui kesalahannya'.