Monday, June 20, 2011

mama minta pulsa


Percaya tak percaya, niat banget nih penipu yak?? Sms tengah malem..

"Entar pagi kekonter dulu belikan mama pulsa XL 25rb atau 50rb di nomor baru mama ini nomornya,081998384200 soalnya mama lagi ada masalah PENTING,jangan lupa yaa”

From +6285396407105 12:08 AM 19-06-11

Balas! –kurang lebih-

“Analisa:
  1. Beberapa waktu yang lalu, baca berita komplotan penipu “mama minta pulsa” udah ketangkep, berarti mungkin ini sindikat baru;
  2. 081998384200, nomor HPnya lumayan cantik, mungkin dipakai terus, jadi bisa dilacak;
  3. Penipu ini tidak melek bahasa, masak kekonter nulisnya gitu, digandeng lagi, titik koma-nya juga berantakan banget;
  4. Tipe: penjahat kere -masak nipunipu cuma 25rb, 50rb-  yang tidak kreatif –modusnya udah populer seantero negeri-.”

Monday, June 13, 2011

takdir terkadang menggemaskan..

Ketika penjual nasi goreng -sambil menyerahkan bungkusan nasi gorengnya- berkata, "Mas, nanti kalau rasanya kurang sedap, nggakpapa ya.." *shock.


nasi goreng "jujur"

Atau ketika Mbak-mbak di laboratorium klinik Pramit* berkata, "Tuan Erwin, ini hasil -panoramic/rontgent gigi-nya udah jadi.". "Hah?! Saya kan belum di-rontgent, Mbak.", kata saya terbingungbingung. Ajaib..

Atau ketika saya hendak mengambil uang 100.000 saja, menekan tombol JUMLAH LAINNYA pada mesin ATM, tetapi setelah itu tak ada opsi selanjutnya dan mesin ATM langsung saja menghitung dan mengeluarkan uang, 1.200.000. #salahpencet.

Atau ketika ibunda tercinta bercerita di telepon tentang persiapan pernikahan adik tanggal 25 Juni, "Hah, tanggal 25?!", kata saya terkejut karena dua hari yang lalu berhasil mendapatkan tiket promo Batavi* Air tanggal 25, take off pukul 13.50 dari Cengkareng, fixed date, fixed flight. Akibat terlalu percaya bahwa nikahan biasanya diadakan hari minggu -tanggal 26 hari minggu, saya kira hari itu acara nikahannya.

Friday, June 10, 2011

Maryam Ummu Faza (2)

Kemaksiatan demi kemaksiatan kita tak henti-hentinya naik kepada Allah; tak membuat nikmat-nikmat-Nya berhenti turun kepada kita, makhluk-makhluk tak tahu diri ini –astaghfirullah-. Allahu Akbar. Subhanallah walhamdulillah. Sekali lagi, untuk kesekian kali yang tak terhitung, nikmat itu datang kembali. Sesosok bayi mungil dengan selamat dan sehat lahir memberikan rasa gembira yang tak terkira; bagi orang kedua tuanya, sanak saudara, dan sahabat-sahabat yang mencintai kami karena Allahu Ta`ala.

Ini bagai sebuah keajaiban. Oh, tidak. Ini benar-benar sebuah keajaiban –bagi orang yang mau berpikir, bahkan sedikit saja berpikir-. Laa ilaha illallah. Siapa lagi Pencipta yang mampu menjadikan makhluk di dalam makhluk? Katakan kepada saya, Siapa?! Maka, nikmat Tuhan yang mana yang kamu dustakan.. Maka, dari arah yang mana kalian dipalingkan.. wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkan hati-hati kami dalam agama (Islam) kami.

Menanti sang buah hati; mungkin bagi sebagian orang adalah sebuah perjalanan panjang yang melelahkan –semoga Allah memberi kesabaran-. Alhamdulillah, Dia menganugerahkannya kepada kami pada tahun pertama. Anugerah sekaligus amanah. Amanah yang sungguh tak akan mudah. Mengandung, melahirkan, merawat, menjaga, memelihara, mendidik seorang anak di zaman -yang penuh fitnah, kejahilan, kedzaliman, kekufuran, kesyirikan- ini sungguh memerlukan perjuangan. Semoga Allah memudahkan segala urusan. Betapa banyak anak yang justru menjadi fitnah bagi kedua orang tuanya. Betapa banyak anak yang membalas air susu dengan air tuba. Betapa banyak anak yang alih-alih memperlebar jalan ke surga bagi orang tuanya, malah justru menyeret mereka ke dalam api neraka. Naudzubillah. Semoga Allah melindungi kita dan anak keturunan kita dari yang demikian.

19 Mei 2011, pukul 12.50 telah lahir seorang anak perempuan dengan berat 2,5 kg dan panjang 48 cm. Anak kami. Bercampur air mata kebahagian, haru, kesakitan, bahkan air mata kesedihan. Harapan demi harapkan dari kami tertanam pada anak ini. Ketakutan demi ketakutan akan zaman yang semakin rusak; semoga tak ikut merusak anak ini kelak- pun terbayang-bayang. Alih-alih imunisasi-vaksinasi; jauh lebih penting imunisasi syariat.

Namanya, Maryam. Nama klasik. Nama yang tak lekang dimakan zaman. Nama salah seorang dari empat wanita terbaik sepanjang masa. Nama seorang gadis shalihah; yang menjaga kesucian diri. Harapan yang paling tinggi; semoga kelak anak ini dapat terinspirasi. Di tengah dunia yang sedang goncang. di antara muda-mudi yang kesulitan setengah mati mencari jati diri mereka, semoga anak ini kelak tak ikut goncang, semoga ia menjadi yang terasing karena kebenaran, menggenggam teguh keimanan, meski bagai bara api.

Maryam Ummu Faza. Maryam, Ibu Kemenangan. Semoga dari rahimnya kelak lahir pemuda-pemudi shalih dan shalihah. Pejuang-pejuang Islam yang akan membawa agama ini pada kejayaan. Kemenangan sejati, kemenangan dunia dan akhirat.

Maryam Ummu Faza, doa kami menyertainya.

menanam harapan

Thursday, June 9, 2011

Maryam Ummu Faza

Rabu, 18 Mei 2011. Awalnya, saya hanya berniat menemani istri memeriksakan kandungannya ke salah satu rumah sakit di Solo, periksa rutin. HPL -hari perkiraan lahir- nya pun masih 26 Mei. Masih seminggu lagi, lebih. Sepulang dari periksa kandungan, saya kembali ke Jakarta sore harinya, kembali bekerja –rencana.

Rencana tinggal rencana. Qodarullah, saya memang telah ditakdirkan untuk menemani istri melahirkan –sesuatu yang sangat diimpikan istri saya. Sesuatu yang justru sulit direncanakan –dan belum terencanakan dengan baik waktu itu. Tentang HPL, saya juga tidak pernah tidak ragu.

Seperti biasa, dokter langsung meminta istri saya berbaring kemudian mulai memeriksa bayi kami di dalam kandungan dengan alat/teknologi yang konon bernama USG (ultrasonografi). Dari situ, dapat terlihat kondisi bayi; ukuran, berat, dsb –termasuk plasenta dan cairan ketubannya.

Ada pemandangan tidak biasa terlihat di monitor; seperti lubang-lubang terang. Ternyata plasenta –alias ariari, atau yang sering dikatakan orang, “saudara kembar bayi”- sudah mulai rusak; bolong-bolong. Keadaan seperti ini biasanya terjadi setelah tanggal HPL, kata sang dokter.

“Saran saya, ya.. segera dilahirkan.”

Kalimat itu terdengar mengejutkan sangat bagi saya. Satu, sama sekali belum ada tanda-tanda istri saya mau melahirkan.

“Kalau belum ada tanda-tanda, ya.. dipacu.”, seolah dokter itu mampu membaca pikiran saya.

Dua, istri saya berkali-kali bilang –dan memang dari dia saya tahu, dipacu alias diinduksi itu dua kali lipat sakitnya dibandingkan melahirkan normal spontan -entah bagaimana perhitungannya. Tiga, ini akan bertentangan dengan ‘ideologi’ kami yang ingin menerapkan gaya hidup alami (back to nature, red) , terutama untuk anak ini, dari awal, sedini mungkin. Empat, jika tidak berhasil diinduksi, tentu saja jalan berikutnya –yang mungkin terakhir- adalah operasi Caesar, yang saya tahu sangatsangat tidak diingini istri saya. Lima, saya tidak jadi balik ke Jakarta hari ini?!? –tidak penting!

Saya pun bingung..

“Ya sudah Dok, sekarang saja, langsung.”, di tengah kebingungan saya, istri saya justru menyambar jawaban. Terus terang saya kembali terkejut.

“Memangnya sedarurat itu, Dok?” ‘bela’ saya. Pembelaan terhadap cita-cita melahirkan normal spontan.

“Ya, intinya plasentanya sudah mulai rusak dan akan semakin rusak. Kalau ditunggu sampai ada tanda-tanda dulu, khawatir pasokan oksigen ke bayi akan kurang.”

Sebenarnya dari tadi sudah dijelaskan seperti itu, -hanya mungkin kebingungan saya mengaburkannya- dan itu juga mungkin yang membuat istri saya menjawab mantab. Dia mengkhawatirkan bayinya, lebih dari kekhawatiran akan dirinya sendiri –bagaimana mengalami sakit dua kali lipat, bagaimana jika nanti akhirnya harus dioperasi, dan seterusnya. Kelemahan saya terkadang memang tidak bisa mengambil keputusan dengan cepat. Istri saya menutupinya. Saya pun –akhirnya- menyetujuinya, sepakat. Bismillah.

**

Singkat cerita, setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan kondisi ibu dan bayi siap diinduksi, istri saya dibawa ke ruang bersalin. Induksi pun mulai dilakukan sekitar Ashar. Maghrib, istri saya mulai meraskan ‘dampak’nya. Perut bagian bawah sakit tak karuan. Sakit, dan –sepertinya- terus dan semakin bertambah sakit. Saya, ibu saya, dan ibu mertua yang bergantian menjaga istri saya pun, ditambah kakak ipar yang mondar-mandir rumah--rumah sakit seperti ikut merasakan kesakitannya.

Setelah sekitar enam jam dipacu, pembukaan diperiksa, baru buka satu. Jam demi jam berlalu, setiap kali suster –atau sesekali bu dokter langsung- memeriksa pembukaannya, tetap saja masih bertahan di angka satu –dari sepuluh pembukaan lengkap yang diperlukan untuk jalan lahir bayi.

Detak jantung dan kontraksi bayi pun berkali-kali diteliti, bagus dan bagus. Detak jantung bagus, kontraksi –yang membuat perut ibunya kesakitan bukan main- pun bagus. Masalahnya, pembukaannya tak mau beranjak dari angka satu.

Setiap kali istri saya meronta dan mengeluhkan sakitnya, saya hanya bisa memintanya bersabar, mengatakan bahwa setelah kesusahan, pasti ada kemudahan, dan kalimat-kalimat lain untuk memberi semangat dan membesarkan hatinya.

“InsyaAllah, sakit itu berarti pembukaannya sudah mulai bertambah.”, kata saya sok tahu. “Kata suster, nanti kalau sudah pembukaan tiga, pembukaan selanjutnya biasanya cepat.”

Namun, tiap kali suster kembali mengecek pembukaan, “Masih sama.”, katanya.

**

Kamis, 19 Mei 2011. Malam tadi kami lalui sambil tetap terjaga, hanya sesekali memejamkan mata. Beberapa kali kami justru menjadi saksi kelahiran bayi di samping kanan kiri kamar bersalin ini. Termasuk Shubuh tadi, pasien yang sama persis kasusnya dengan istri saya, plasenta mulai rusak sebelum HPL; masuk ruang bersalinnya pun bisa dibilang bersamaan. Mendengar tangisan bayi yang baru lahir; kelegaan ibu setelah berhasil melahirkan; kebahagian bagi mereka sekaligus –mungkin semacam- ‘keirian’ bagi kami.

Sementara kami, tetap saja masih bertahan di angka satu dan satu, dan istri saya tak jua berhenti meringis kesakitan.

“Tenang saja, insyaAllah hari ini lahir.”, bisik saya ke istri. “Entah lahir normal ataupun operasi Caesar.”, tambah saya, hanya dalam hati.

Benar saja, sekitar pukul sebelas, istri saya bilang bahwa suster menyampaikan pesan dari Bu Dokter yang menyarankan bayi ini dilahirkan lewat operasi; Caesar. Awalnya istri saya menangis. Tampak betul bahwa ia tak menginginkan ini. Singkat cerita, alhamdulillah, kami berhasil meyakinkan ia bahwa ini sudah suratan takdir, qodarullah, bahwa akhirnya jika memang harus seperti ini. Allah tentu lebih tahu yang terbaik, dan kita hanya berkewajiban menyerahkan segala sesuatu kepada ahlinya, dhi. sang dokter kandungan.

Setelah menandatangani lembar persetujuan, kami diberitahu dan diminta bersiap-siap, operasi insyaAllah akan dimulai pukul 12.30.

Selepas Dzuhur, istri saya ‘diungsikan’ ke ruang operasi, lengkap dengan pembaringan dan jarum infuse yang masih melekat di lengan kirinya. Tidak ada satu pun yang boleh mendampinginya masuk, termasuk suaminya. Sejak itu, saya –dan keluarga yang lain- pun hanya bisa berdoa, tanpa tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Harap-harap cemas.

Di luar ruangan, selain kami ada beberapa keluarga yang juga menunggu saudara/inya dioperasi di dalam. Tidak semuanya, tetapi ada beberapa yang juga menjalani operasi yang sama; Caesar. Paling tidak masing-masing ada suami dan ibu –entah ibu kandung atau ibu mertua- yang menunggu. Mereka terlihat lebih relaks dari pada saya. Ternyata karena kebanyakan sudah pernah menjalani operasi serupa. Ya, itu kehamilan –ada yang- kedua atau bahkan ketiga. Saya semakin ‘yakin’, bahwa jika kehamilan sebelumnya dilahirkan melalui operasi, maka kemungkinan besar kehamilan berikutnya pun akan bernasib sama. Itu juga mungkin salah satu alasan yang membuat istri saya pada awalnya enggan dioperasi. Namun, ketika saya berbincang dengan salah satu suami –yang ternyata adalah senior saya dari kampus yang sama-, kembali operasi atau tidak, tergantung penyebab operasi itu sendiri, katanya. Jika penyebabnya permanen, misal karena pinggulnya terlalu sempit untuk melahirkan normal, maka mau tidak mau setiap kehamilannya harus dilahirkan melalui operasi. Tetapi jika penyebabnya non-permanen, seperti yang terjadi pada istri saya, sangat mungkin untuk melahirkan normal pada kehamilan berikutnya. Legalah saya. Satu, karena saya tahu istri saya setelah ini tetap ingin –bahkan lebih ingin- merasakan melahirkan normal, merasakan menjadi wanita sejati, katanya. Dua, lega karena saya merasa banyak pasangan yang senasib di sini; harus 'merelakan' istrinya dioperasi.

Cerita lainnya, pengalaman dia, biasanya suami dipanggil masuk untuk berdoa bersama istrinya sebelum benar-benar menjalani operasi. Mendengarnya, saya agak bagaimana begitu, karena sudah dua puluh menit-an berlalu, yang saya kira dan saya harap operasi telah dilakukan sedari tadi. Tapi, saya mencoba percaya saja.

Tak lama setelah itu, saya pun dipanggil masuk. Saya benar-benar mengira baru akan diminta berdoa bersama istri sebelum operasi. Namun, begitu saya masuk, betapa terkejutnya saya…

“Ini anak Bapak. Perempuan. Beratnya 2,5 kg, panjang 48 cm. Lahir pukul 12.50.”, kata suster sambil memegangi boks bayi.

MasyaAllah, ternyata bayi saya telah lahir dengan sehat dan selamat. Alhamdulillah. Perasaan saya pun bercampur aduk; takjub, bahagia, terkejut, lega, percaya tak percaya, bingung, dan khawatir. Mengkhawatirkan satu jiwa lagi, istri saya.

“Istri saya bagaimana, Sust?”, tanya saya.

“Masih di ruang operasi, belum selesai dijahit.”, jawabnya.

Setelah itu, bayi kami dibawa ke ruang observasi sebelum berkumpul dengan ibunya nanti. Ibunya, beberapa jam kemudian pun keluar dari ruang pemulihan. Alhamdulillah, semua selamat. Leganya.. Lelah dan letih ini terbayar lunas sudah rasanya.

Saya tak lupa sesuatu, satu dari dua sms yang saya kirim ke istri sekitar sebulan yang lalu..


[Kalau anak kita perempuan, insyaAllah kita beri nama, Maryam Ummu Faza.]
Malam harinya, kami telah berkumpul bersama dalam sebuah bangsal rumah sakit; saya, istri saya, dan anak kami. Bahagia..

19 Mei 2011, hari yang bersejarah, saya resmi menjadi seorang ayah. Maryam Ummu Faza, semoga menjadi anak yang shalihah. Amin.

*belum selesai.

amazing