Monday, May 25, 2009

berani ambil keputusan, dan berani terima konsekuensinya..

Life is so simple..
 

Suatu hari saya mendapat nasihat sangat bagus dari seorang teman. Dan tidak ada yang lebih bagus dari sebuah pertemanan selain saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
 

Beliau bilang seperti ini (kurang lebih):
 

“Mereka berani berbuat salah terang-terangan, kenapa antum tidak berani berbuat benar terang-terang-terangan? (dan kalimat tanya yang tidak membtutuhkan jawaban ini menyadarkan saya bahwa kiamat sudah sangat dekat -kebalik-balik gitu- ..)
 

Solusinya ya keluar, insyaAllah ada pekerjaan yg lebih baik di luar. Kembali ke Tauhid (dan semua permasalahan, intinya adalah Tauhid!), seberapa besar tawakkal antum kepada Allah?
 

Orang besar itu, kata Mario Teguh, berani ambil keputusan, dan berani terima konsekuensinya. Kebanyakan orang saat menghadapi masalah, tahu solusinya, tapi tidak berani mengambilnya atau berani mengambilnya tapi tidak siap dengan konsekuensinya.
 

Tapi kalau memang belum sanggup ada kaidah memilih keburukan yang lebih kecil dari beberapa keburukan, ya terima keadaan seperti itu, bertobat kepada Allah, kembalikan yang bukan hak kita. Tolak kalau berani, atau kalau tidak berani kembalikan ke kas Negara. Yang jelas, jangan membenarkan yang salah, tapi akui itu salah, lalu mohon ampun kepada Allah.
 

Hadits tentang seorang safar, dengan baju lusuh berdoa kepada Allah, berkumpul tiga keutamaan pada dirinya, tapi doanya tertolak karena makanan yg ia makan dari yg haram, pakaian yg ia kenakan dari yg haram. Maka, jaga betul-betul harta kita..
 

Yang jelas, jangan lepas ngaji. Pelihara hubungan dengan teman semanhaj, saling menasehati. Antum mau pindah kos deket kantor, ga ngaji lagi, hancur antum! Karena kebanyakan jam kita habiskan di kantor, otomatis kita lebih terwarnai kantor, kalau ga ngaji. Hancur. Lalu, cari istri akhwat salaf, jangan sembarangan.
 

Baca kisah-kisah orang sholih, para sahabat yang kita jauuuh sekali dengan mereka. Umar, menjadi khalifah (pejabat) hanya dua setengah tahun dan mati terbunuh. Siap ga kita seperti mereka?”
 

Saya sudah tidak peduli lagi, blog ini mau jadi blog apa..
 

Oya, bagi Bapak-papak Ibu-ibu yang mungkin membaca tulisan ini (tetep optimis kalau suatu saat blog ini ada yang baca selain saya sendiri) dan tersinggung, saya sama sekali bukan mau minta maaf. Terserah mau dibilang apa saya.
 

Catatan saya:
 

Yang paling saya notice dari nasihat tsb adalah bahwa hidup ini sebenarnya sangat sederhana sekali. Kita hanya perlu mengambil keputusan yang sesuai dengan hati nurani kita, sesuai dengan kebenaran yang datang dari Allah dan RosulNya. Lalu, kita terima akibat apa pun dari keputusan tersebut. Tanpa perlu khawatir. Tanpa perlu takut. Tanpa ragu-ragu. Masa iya, kita Allah menyia-nyiakan umatNya karena menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya? Pemberi Rizki nya siapa, Bos? Masa iya kita takut miskin, takut kelaparan sebentar sedang surga terbentang (insyaAllah) menanti di hadapan kita?
 

Yes. Life is so simple..
 

Menjadi diri sendiri adalah mengambil keputusan sesuai nurani kita dan menerma konsekuensi dari keputusan itu. Membuka topeng dan berjalan tegak..
 

Tapi, sekali lagi realita tak semudah teori, Jenderal.
 

Dan tahukah kamu? Ada fitnah (godaan) yang lebih dahsyat dari fitnah harta? padahal fitnah harta saja saya masih kurang yakin mampu menghadapinya..
 

Dan perjalanan ini masih akan berlanjut..

Tuesday, May 19, 2009

Love what you do, do what you love.

Love what you do, do what you love.
 

Ini juga salah satu cara paling ampuh menjadi diri sendiri, especially frasa kedua tuh. Do what you love. Enak sekali bukan mengerjakan apa pun yang kita suka, melakukan apa pun yang kita mau. Enak sekali David Beckham terkenal dan menjadi kaya raya berkat hobinya bermain bola. Enak sekali Valentino Rossi kebut-kebutan tanpa takut ditilang atau dikejar-kejar polisi, malah dapet trofi lagi. Enak sekali orang kaya (atau orang yang bapaknya kaya), hobinya tersalurkan tanpa perlu memikirkan uang. Tapi kenyataan tidak selalu semanis itu, Jenderal. Kadang kita harus menerima bahwa sesuatu yang kita dapat tidak sama dengan yang kita inginkan. Pekerjaan yang kita tekuni saat ini bukan yang kita cita2kan sejak kecil. Berapa banyak anak yang bercita2 menjadi Dokter, akhirnya jadi Guru (dan lebih banyak lagi yang jadi buruh pabrik). Berapa banyak anak dengan cita2 wartawan, akhirnya jadi loper Koran. (niru2 iklan. Yo ben.) Berapa banyak anak dengan cita2 pilot, akhirnya menjadi sopir angkot. Dan berapa banyak anak dengan cita2 astronot, akhirnya menjadi robot. (maksute opoo?)

Ya, dan pada dasarnya saya pengin curhat (at least kepada diri saya sendiri di masa depan yang baca tulisan ini, coz sampai saat ini kayaknya ga ada yg buka blog ini kecuali saya sendiri. Huhuhu. Ya iyalah, orang ga pernah diumumin, mana nama blognya super duper aneh lagi).


Percaya nggak percaya, sampai sekarang saya masih bingung, apakah saya ini jenius atau idiot ya? Dan believe or not (hwalah..) sampai sekarang saya juga masih bingung, apakah saya ini orang yang beruntung atau silakan coba lagi (belum beruntung maksutnya..). Tapi kalau dari segi akherat, Alhamdulillah saya merasa beruntung sekali menjadi seorang muslim.
 

Percaya nggak percaya lagi cita2 pertama saya adalah menjadi seorang pelukis. Tapi itu kayaknya Cuma cita2 monyet sih (mengadopsi dari cinta monyet gituh). Pernah ingin jadi polisi. Pernah ingin jadi detektif. Pernah juga ingin jadi arsitek. (wah, pengalaman saya banyak sekali ya… apa sih itu pan Cuma cita-cita.goblog). Dan yang terakhir dan masih menjadi cita2 saya sampai hari ini adalah ingin menjadi entrepreneur. Pengusaha sukses. Muda terkenal. Tua kaya raya. Mati masuk surga. Hahaha… Namun, Anda belum beruntung. Silakan coba lagi.. Kenyataannya sekarang adalah saya seorang CPNS. Whuaaa… nggak nyambung pan??

Namun, di sisi lain. Saya juga merasa beruntung bahwa saya bisa seperti ini hari ini. Dan perjalanan menuju hari ini bagi saya penuh dengan keberuntungan. Seolah dimudahkan, walaupun kadang ada kerikil, bahkan yang cukup tajam, kadang ada beling (pecahan kaca), kadang ada kotoran sapi juga, ada juga ranjau darat, ada uang 5 ribuan juga jatuh di jalan, diambil ngak ya?? Liat kiri kanan.. (opooo seeh…). Ya, benar dimudahkan. Saya ingin sekolah di SMP 6, Alhamdulillah keterima. Di SMA 3, juga keterima. Pengin masuk IPA (walopun Cuma ikut2an), juga keterima. Ingin kuliah di STAn, keterima juga (padahal yang mboncengin saya pas USM STAN dan saya juga nginep di tempat sodaranya, malah ga keterima). Di Spes Akuntansi, keterima juga. Bikin TA Sistem Akuntansi (yang gampang.hehe..), kesampean juga. Milih BPK, masuk juga. Pengin penempatan pusat, dipenuhi juga. (walopun ga di unit kerja permintaan saya). Subhanallah, ternyata banyak sekali..(nggak nyadar, asal nulis, ternyata banyak juga ya..). Tapi kalau ditarik ke awal lagi, ini jauh dari cita2 saya dari cita2 kelas 1 SD sampe cita2 hari ini. Kok bisa ya? Sejak dimana distorsinya? (alaah..)
 

Dan yang harus dilakukan di saat seperti ini adalah napas buatan, eh salah.. adalah mengimplementasikan frasa kedua dari judul di atas. Love what you do. Mencintai pekerjaan saya. Ya, yang saya lakukan adalah bekerja sebaik mungkin dan sesantai mungkin, se enjoy mungkin, sambil jualan pulsa di kantor dan merencanakan untuk membuat sebuah atau dua buah usaha sampingan untuk mewujudkan impian saya menjadi entrepreneur dan mencoba menguasai dunia. Hahaha… (teteup)
 

Ya intinya saya belum mengerti betul bagaimana agar saya bisa benar2 mencintai pekerjaan saya sebagaimana saya mencintai istri saya kelak. Hwalah..
 

Bagi yang punya saran untuk masalah saya di atas, silakan kirim ke: PO BOX ESTEH1987 JKS, dan kalau surat Anda kembali (dan pasti kembali karena ga ada PO BOX seperti itu..), kirim via email saja ke: weensmailbox@yahoo.co.id. Atau dari pada repot-repot langsung comment aja di bawah tulisan ini.poof..
 

NB: (sampai saat ini saya belum tahu NB itu kepanjangan dari apa..) Saya kira tulisan saya yang satu ini kurang bagus (iya2, jelek maksutnya..) ga seperti tulisan2 saya sebelumnya (jelek banget,red) coz saya emang lagi ga pengin nulis, tapi saya paksain juga buat nulis, ya seperti ini lah jadinya, maaf ya..(emangnya siyapa yang baca, kampret)

Monday, May 11, 2009

Be Myself!

Judulnya sama dengan tulisan sebelumnya?? Memangnya kenapa? Tidak boleh? Ada pasal UU yang melarangnya? So, what`s the problem?
 
Hehe. Peace. Just kidding. Saya pan suka becanda. Sebenernya mau dibikin “Be Urself”, tapi karena saya nggak yakin blog ini bakal ada yang baca selain saya sendiri, jadi saya ubah menjadi “Be Myself” saja.
 
Untuk menjadi diri sendiri, menurut saya, hal yang paling pertama *pertama kan udah paling ya? Ah, bodok.* diketahui adalah tujuan! Tujuan hidup. Apa sebenarnya tujuan hidup saya? Dan untuk pertanyaan ini, sepertinya saya sudah mempunyai jawabannya. Mati. Yah, tujuan hidup saya adalah mati. Seratus orang mungkin mempunyai seratus tujuan hidup yang berbeda. Tapi toh mereka akan mati jua. Jadi, tujuan hidup saya mati saja. Simple is better.
Tapi bukan mati begitu saja yang saya maksud di sini. Saya ingin mati dalam keadaan yang baik. Mati untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Lebih indah. Surga. Surga adalah tujuan saya. Dan karena I am a moslem, maka tidak ada jalan lain untuk menggapai tujuan saya tersebut kecuali mati dalam keadaan beriman. Mati dalam keadaan bertauhid kepada Allahu Ta`ala.
 
Tenang saja, ini bukan blog agama kok -setidaknya untuk saat ini.- Ini adalah blog pencarian jati diri seorang anak manusia bernama … *ah, jadi malu menyebutkan nama sendiri..*
Tapi bagi yang sudah tidak tertarik, mau pergi juga silakan saja, tidak ada pasal UU di Negara ini yang melarang berhenti membaca blog bagus.
 
Oya, satu lagi, maaf kalau terselip kata-kata asing karena memang saya sedang berusaha belajar bahasa inggris. I am attempting to learn English. And I am sorry if there’s any false.
 
*Lanjut..* Menjadi diri sendiri bukan berarti tidak punya panutan, tidak sama dengan bertindak seenak perut sendiri, apalagi seenak perut orang lain *maksute opoo…*. Ya, lagi-lagi sebagai seorang muslim, panutan saya adalah Muhammad Alayhis Sholaatu Wassalaam. Beliau saya yakini -dan seharusnya juga diyakini oleh setiap muslim- adalah manusia terbaik yang pernah terlahir ke dunia ini. Tidak ada dan tidak akan ada manusia sebelumnya dan setelahnya yang lebih baik dari beliau. Maka, bodoh sekali jika ada seorang muslim yang tidak menomorsatukan Muhammad Alayhis Sholaatu Wassalaam sebagai panutan dalam menjalani hidup di dunia ini.
 
Tenang saja, ini bukan blog agama kok -setidaknya untuk saat ini- Ini adalah blog pencarian jati diri seorang anak manusia bernama … *ah, jadi malu menyebutkan nama sendiri..*
Tapi bagi yang sudah tidak tertarik, mau pergi juga silakan saja, tidak ada pasal UU di Negara ini yang melarang berhenti membaca blog bagus.
Memang sengaja saya copy paste kok, memangnya tidak boleh? Ada pasal UU yang melarangnya? Hehe..
 
Back to the topic. Tapi sayangnya, tapi masalahnya saya sama sekali belum bisa mengikuti jejaknya. terkadang saya malas pergi ke mesjid *walaupun akhirnya pergi juga, tapi males gituh*. Berjamaah di mesjid wajib, Bos!*. Terkadang saya masih berlama-lama memandangi wanita cantik. Yah, ada saja setan yang menggoda saya *sebuah pembelaan*. Jadi ingat, kata-kata seorang teman “Selalu berjalanlah di bawah sayap malaikat, karena setan selalu nongkrong di otakmu”. Tapi sayangnya, tapi masalahnya saya nggak bisa liat malaikat.
 
Kembali ke inti pembicaraan tadi, bahwa untuk menjadi diri sendiri, saya harus tahu tujuan saya. Dan alhamdulillah saya sudah tahu. Untuk mencapai tujuan saya tersebut, saya harus tahu caranya. Dan saya juga sudah tahu, insyaAllah. Dan mati dapat menjemput kapan saja. Malaikat maut dapat menyapa kapan saja. Namun, saya tidak bersiap setiap saat. Dan itu adalah masalahnya.

Menjadi Diri Sendiri

Di sini aku. Di tempat yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya beberapa tahun yang lalu. Mendapatkan tubuh ini menjadi salah satu penghuni kota terbesar di Indonesia Raya ini. Penghuni sebuah gedung tinggi di kota yang penuh sesak dengan asap kendaraan bermotor, pengamen, dan ibu-ibu pengajian.
 

Enam bulan yang lalu aku magang di gedung sebelah, tiga bulan yang lalu aku terkurung di sebuah penjara bernama Pusdiklat di daerah Kalibata bersama teman-teman sesama ‘nara pidana’ lainnya, satu bulan yang lalu aku masih di tanah kelahiranku bersama keluarga tercinta, satu minggu yang lalu aku masih di ruang pojok kanan lift lantai tujuh, dan hari ini aku telah berada di ruang baru lagi, di pojok kiri lift di lantai yang sama. Masih tanpa pekerjaan yang jelas.
 

Perjalanan panjang dua puluh tahun sembilan bulan telah mengantarkan diri ini menuju hidup yang lebih baik di mata orang-orang. Hidup yang terjamin aman sampai hari tua kata mereka. Tapi mereka tak tahu kan apa yang ada di benak anak yang sebenarnya bingung dirinya ini sangat pintar atau bodoh sejati, jenius atau justru hampir gila.
 

Yah. Aku dan mungkin ada banyak orang lain di luar sana sedang kebingungan memikirkan sejatinya dirinya sendiri. Mungkin tidak terlihat sama sekali, bahkan oleh orang-orang terdekat sekalipun. Tapi, itulah kenyataannya, Jenderal. Dan kalau boleh sedikit beropini, setiap orang setiap detik adalah perjalanan mencari jati dirinya. Hanya saja ada yang sadar dan ada yang tidak tahu apa-apa tentang ini.
 

Aku adalah pendiam di antara orang-orang pendiam, menjadi humoris di antara orang-orang humoris (walaupun tetap dianggap pendiam), adalah muslim yang taat di antara muslim-muslim yang taat, bermaksiat di antara orang-orang yang bermaksiat, sombong di antara orang-orang bodoh, dan minder di antara orang-orang hebat. Menulis bak Andrea Hirata sesudah membaca Laskar Pelangi, dan menulis sekonyol Raditya Dika setelah membaca Kambing Jantan.
Mungkin wajar bagi sebagian orang, tapi aku hanya ingin menjadi diriku sendiri kapan pun di mana pun, bukan seperti itu, bukan seperti bunglon yang ber-mimikri, mengubah warna kulitnya sesuai keadaan di sekitarnya. Walaupun tidak dinafikan bahwa adaptasi juga diperlukan, tapi kemunafikan tetap harus dijauhkan.
 

Blog ini hanya kumpulan tulisan yang ingin ditulis penulisnya. Apa pun yang ingin kutulis, akan kutulis. Tak masalah tak ada yang baca selain sang penulis sendiri. Tak masalah tak ada pengikut karena memang saya bukan Nabi baru. Dan tak masalah pula bila suatu saat terkenal dan menjadi blog nomer satu sedunia. *Huahehe…
 

Tuh kan, lihat sendiri betapa cepatnya saya berubah, dari “aku” menjadi “saya”, dari puitis menjadi “konyolis”. Dan akan didapatkan berbagai macam jenis tulisan di estehmanishangatnggakpakegula ini. Tak apa lah, setidaknya saya tidak membohongi diri sendiri. Karena memang seperti itu yang ingin saya tulis. Tapi juga seperti itu tadi saya pengin menjadi diri sendiri. Jadi mungkin moga-moga suatu saat, hanya akan ada satu jenis tulisan. Dan itu lah saatnya saya tahu siapa diri saya sebenarnya.