Tuesday, October 8, 2013

VBAC, Persalinan Normal Setelah Caesar untuk Ibrahim (4): Alhamdulillah, Akhirnya Lahir Juga



Setelah ‘USG gagal’ itu, saya sebenarnya masih penasaran untuk mengulanginya, di dr. Aniek, RS PKU. Dan ternyata, istri saya pun punya pikiran yang sama. Hanya saja, ia khawatir. Pertama, takut ‘dimarahi’ dr. Aniek karena seharusnya sesuai jadwal, saat HPL, kami memeriksakan kandungan ke sana. Sepekan sebelum HPL (10 September), istri saya memeriksakan kandungannya ke dr. Aniek. Waktu itu, dr. Aniek bilang bahwa insyaAllah bisa untuk persalinan normal dan ini tinggal menunggu tanda-tanda persalinan. Kembali ke sini saat tanda-tanda itu datang atau periksa kembali sepekan kemudian, pas HPL. Kekhawatiran kedua, takut kejadian Maryam terulang lagi, niatnya sekadar periksa kandungan, malah berakhir dengan operasi Caesar.

23 September. Pagi hari. Setelah kemarin mendapati tanda-tanda flek dan bercak darah, hari ini istri saya mendapati tanda-tanda cairan bening. Khawatir itu adalah air ketuban yang pecah dini, Bu Bidan Umroh di-SMS. Pasalnya, ciri-ciri air ketuban masih samar bagi kami, banyak artikel yang memuat cirri-ciri yang berlainan, bahkan bertentangan satu dengan yang lain; ada yang bilang bening, ada yang bilang keruh, ada tidak berwarna dan tidak berbau, ada yang bilang berbau tidak enak. Via SMS, Bidan Umroh pun menyarankan untuk kembali periksa.

09.00. Masih dengan motor!, saya membawa istri saya ke RB ‘Aisyah, pagi itu juga. Sampai di sana, ternyata ada bayi yang baru lahir tadi pagi, sekitar pukul 05.30. Beberapa saat setelah istri saya diperiksa oleh Bidan Umroh, beliau memberitahu saya di ruang depan, sudah buka dua, dan sudah mulai ada kontraksi berarti yang teratur, sekira 15 menit sekali. Maka, sebaiknya ditunggu saja di sini. Jika dalam enam jam tidak ada tanda-tanda lanjutan, diperbolehkan pulang. Saya pun dipersilakan masuk ke kamar pasien tempat istri saya.

Setelah beberapa saat berbincang dengan istri saya, saya minta izin untuk pulang dulu, mengambil pakaian yang nyaman untuk istri, makanan dan minuman, serta memberi tahu ibu di rumah, agar tidak menunggu dengan bertanya-tanya. Kemudian segera kembali.

13.30. Istri saya diperiksa lagi oleh Bidan Ibis. Kali ini sudah pembukaan tiga. Namun, istri saya justru ingin pulang dan menunggu di rumah. Saya, sebaliknya, ingin istri tetap menunggu saja di sini. Dari sisi psikologi, saya kira menunggu di sini lebih menguntungkan, karena akan ada pikiran positif bahwa insyaAllah bayi akan segera lahir, alih-alih menunggu di rumah, yang kemungkinan malah kembali menjadikannya tidak tenang dan kurang sabar. Seperti biasa, saya hanya memendamnya di hati saja, tetapi saya memberitahukannya kemudian. Nanti, setelah ‘ini’.

Bu Ibis memberi tahu Bu Umroh via telepon bahwa istri saya ingin pulang dulu, termasuk member tahu bahwa sudah bukaan tiga. Bu Umroh menjawab kompromis, diperiksa satu kali lagi saja, setelah itu jika memang belum ada tanda-tanda lebih lanjut lagi, boleh pulang. Jarak antar pemeriksaan (VT) sekitar empat jam. Jadi, sekitar 17.30 diperiksa lagi.

19.30. Karena satu dan lain hal, pemeriksaan baru kembali dilakukan selepas Isya’. Ketika balik dari masjid dekat RB, saya sudah tidak mendapati istri di kamarnya. Ternyata, ia sedang diperiksa Bu Umroh di ruang lain.

Beberapa saat kemudian, Bu Umroh memberi tahu saya bahwa istri saya pindah kamar, sambil menunjukkan kamar dimaksud. Saya menyusul masuk. Kamar ini sepertinya kamar bersalin, lengkap dengan peralatannya. Selain itu, memang lebih nyaman di sini, mungkin karena ber-AC. Dan ternyata memang istri saya yang memilih pindah ke sini, tentu karena ditawari Bu Umroh. O ya, kali ini bukaan sudah ‘merangkak’ naik lagi ke level empat. Kontraksi semakin kuat dan intens. Jadi, sudah positif tidak boleh pulang lagi. InsyaAllah malam nanti atau dini hari lahir.

20.00. Sekira mulai pukul ini, istri saya tidak berhenti merintih kesakitan. Bidan mengintruksikannya untuk berbaring ke kiri. Istri saya mengeluh, justru ketika berbaring ke kiri, rasa sakitnya semakin menjadi. Rasa sakit dari kontraksi si jabang bayi.

Kontraksi semakin menit semakin bertambah kuat. Istri saya semakin tak karuan tingkah polahnya. Saya, yang menungguinya, sendirian, terus memberinya semangat dan tak henti memintanya bersabar. Sesekali darah keluar dari jalan lahir, semakin menit semakin banyak.

Beberapa kali saya memanggil bidan atau perawat. Kadang karena permintaan istri saya, kadang atas inisiatif saya. Karena rasa sakit istri saya semakin tidak tertahankan, juga karena saya melihat darah sangat kental bahkan hampir memadat keluar. Mbak Perawat hanya menjawab, memang seperti itu, sambil sesekali menengok ke kamar. Dan ternyata tentang darah itu, istri saya bilang, kalau mens, sudah biasa keluar seperti itu, hanya saja memang tidak sebanyak itu.

21.30. Kali ini istri saya bilang seperti ingin mengejan. Berdasarkan referensi yang saya baca, tidak boleh mengejan kecuali setelah pembukaan lengkap sepuluh. Saya memanggil Bidan. Bidan Umroh kembali memeriksa pembukaannya. Buka lima. Memang kalau lahiran (normal) pertama, agak lama pembukaannya, satu jam naik satu, kata Bu Bidan, kurang lebih.

22.30. Sekitar pukul setengah sebelas malam (kalau saya tidak salah ingat), terdengar suara tangis bayi baru lahir di ruangan depan. Ternyata memang ada ibu hamil yang baru saja masuk, beberapa saat kemudian melahirkan. Enak sekali, batin kami. Tetapi mungkin, memang dari rumah ia sudah membawa modal pembukaan yang banyak.

Sementara, istri saya masih belum berhenti dari rintihan kesakitannya. Saya yang melihatnya pun, seolah ikut merasakan penderitaannya. Dan sama, berharap ini segera berakhir baik. Saya bilang, berasabarlah, semakin sakit rasanya, semakin dekat dengan persalinan, insyaAllah sebentar lagi kita menyusul (persalinan di ruang sebelah itu).

23.00. Istri saya kembali meminta dipanggilkan bidan karena kembali ingin sekali mengejan. Sensasi ingin mengejan ini sebenarnya dikarenakan pergerakan/kontraksi si bayi yang juga ingin keluar, tetapi harus dituruti dalam momen yang tepat, ketika pembukaan lengkap, sepuluh. Bidan Umroh kembali memeriksa, kali ini naik dengan lumayan cepat, buka tujuh. Istri saya masih mengerang tak karuan.

23.30. Lagi-lagi, istri saya ingin mengejan. Untuk kesekian kalinya, Bu Umroh dengan sabar memeriksa jalan lahirnya, buka delapan! Sedikit lagi. Setelah ini, Bu Umroh terus menunggui kami di kamar bersalin itu, memantau.

23.45. Istri saya semakin ingin mengejan. Bidan Umroh memintanya menahan. Istri saya bilang sangat susah untuk ditahan. Bu Umroh bilang pasrahkanlah rasa sakit dan rasa ingin mengejan itu, insyaAllah bisa. Bu Umroh terus menyemangati istri saya, sebagaimana saya. 

Teknik yang dipelajari istri saya di kelas senam hamil pun berguna di sini, dan sedari tadi. Mengatur nafas, menarik nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya, serta bernafas pendek-pendek, semuanya digunakan istri saya untuk menahan rasa sakit dan menahan rasa ingin mengejan itu, sementara. Pembukaan masuk Sembilan. Bidan mengintruksikan perawat/asistennya untuk mempersiapkan peralatan.

24.00. Sebenarnya mengejan baru boleh dilakukan ketika pembukaan sepuluh. Namun, dalam kasus kepala bayi sudah melewati jalan lahir seperti bayi kami ini, pembukaan sembilan is oke. Dimulailah fase ke-dua persalinan (fase pertama adalah pembukaan).

Istri saya mengambil posisi seperti yang telah ia pelajari di kelas senam hamil. Kedua tangan menggenggam mata kaki. Paha dibuka selebar-lebarnya. Dan ketika rasa ingin mengejan datang, mengejanlah ia sekuat tenaga. Saya terus mendukung di sampingnya. Sambil sesekali mengusap keringatnya, dan memberinya minum di sela-sela mengejan, mirip adegan di pojokan ring tinju. Terkadang air zam-zam, terkadang teh manis, tergantung permintaan si ‘petarung’.

24 September. 00.40. Setelah berkali-kali mengejan, diiringi dengan intruksi Bidan untuk tetap membuka mata dan mengangkat kepala, dibantu saya. Kepala sudah terlihat, saya memberitahu istri. Semakin bersemangatlah ia untuk ejanan terakhir. Setelah hampir lima jam kelimpungan. Setelah tujuh hari menanti (sejak HPL). Setelah cuti saya habis hari ini (tinggal tersisa izin atasan dan bolos). Setelah dua minggu menahan sakit di perineum. Setelah sembilan bulan empat belas hari mengandung. Setelah penantian ulang, dua tahun empat bulan untuk melahirkan normal (sejak Maryam lahir Caesar). Alhamdulillah, akhirnya lahir juga ke dunia, anak kami yang kedua.

Ya, laki-laki. Setelah dilap dan dipotong tali pusatnya, dia lalu diletakkan dalam dekapan Ummi-nya untuk Inisiasi Menyusui Dini (IMD). MasyaAllah, besar sekali kamu, Nak. Begitu kurang lebih komentar pertama istri saya.

Saya melihat kebahagiaan, kelegaan yang luar biasa terpancar di wajahnya. Lalu kami berdua pun saling berpandangan, dan saling melempar senyum.

Istri saya menanyakan namanya.

Ibrahim As Salafi telah lahir.

Alhamdulillah.

Monday, October 7, 2013

VBAC untuk Ibrahim (3): Hari-Hari Penantian



Pengajuan cuti yang minimal tiga hari sebelum tanggal cuti menimbulkan sedikit masalah dalam menentukan tanggal yang tepat untuk pulang ke Solo, menjadi suami siaga. Berdasarkan masukan dari beberapa pihak, termasuk atasan langsung dan teman di SDM, diambillah tujuh hari cuti (dari sepuluh hari yang tersisa), ditambah dengan tiga hari izin atasan (satu hari sebelum dan dua hari setelah cuti), serta (rencana tersembunyi) bolos sehari. Total saya siaga di Solo sejak 13 sampai dengan 29 September. HPL (Hari Perkiraan Lahir) tanggal 17 September. Perjuangan suami siaga dimulai.

Beberapa hari sebelum saya pulang, istri saya merasakan sebagian tanda-tanda persalinan, kontraksi yang terus menerus seharian. Tetapi kemudian tanda itu hilang, tanpa ada apa-apa. Saya tidak jadi kehilangan momen spesial, menemani istri melahirkan.

13 September. Setiba saya di Solo, istri saya masih seperti biasa, melakukan aktivitas sehari-hari  sambil menunggu ‘tanda-tanda cinta’. Tidak lupa jalan-jalan pagi, atau sore hari, minimal 60 menit sehari. Hanya saja, sejak beberapa hari yang lalu, bagian perineumnya memang terasa sakit, mungkin, mungkin karena dorongan kepala si bayi. Saya bahkan menduga, mungkin, mungkin sudah ada pembukaan. Tak jarang rasa sakit itu membuat istri saya menangis, saking sakitnya. Dan jika Maryam tahu Ummi-nya menangis, dia akan ikut menangis, tentu dengan lebih ‘heboh’.

**

Sampai dengan HPL, kami terus membaca-baca artikel, baik dari buku maupun di internet, tentang tanda-tanda dan proses persalinan, mulai dari kontraksi palsu, keluarnya darah, kontraksi terus menerus dan berkala, nyeri di perut dan punggung seperti saat menstruasi, pecahnya ketuban (termasuk ciri-ciri air ketuban), fase pertama persalinan (mulai pembukaan awal sampai sepuluh), fase kedua, dan ketiga. Khatam.

Kami juga membaca tentang tips-tips mempercepat/menyegerakan dan memperlancar persalinan, mulai dari memperbanyak jalan kaki sampai dengan (maaf) seks, termasuk juga tips yang sedikit lucu: sering-sering naik motor (untuk merangsang kontraksi). Walaupun begitu, tetap saja, sejatinya tidak ada yang bisa menyegerakannya, hari persalinan memang sebuah misteri, hanya Allah yang tahu, yang menentukan. Selain itu, istri juga menyarankan saya untuk membaca-baca tentang kiat sukses mendampingi persalinan[]

**

Hari demi hari kami lalui, malam demi malam silih berganti, istri saya pun mulai resah menanti. Saya, sebenarnya juga resah. Namun, sedapat mungkin saya sembunyikan perasaan itu agar tak membuatnya semakin resah. Sampai HPL pun tiba.

17 September. Pagi hari, tepat pada HPL, hanya dengan naik motor, ‘kami’ memeriksakan kandungan ke Bidan Umroh. Setelah di-VT, diketahui memang telah terjadi pembukaan satu. Namun, itu belum dianggap masuk proses persalinan. Persalinan baru dihitung dari pembukaan tiga. Kami pulang kembali, kembali sepekan lagi atau bila terjadi tanda-tanda persalinan. Dan rasa sakit di perineum itu memang disebabkan oleh tekanan dari kepala bayi yang posisinya sudah sangat di bawah.

19 September. Malam hari. Rasa sakit yang sangat di perineum itu kembali membuat istri saya menangis. Dan siang harinya, telah keluar tanda flek kuning. Karena (seolah) tidak tahan dan setelah berkonsultasi via SMS dengan Bidan Umroh (dan istri saya memang sangat intens ber-SMS dengan Bidan), malam itu juga kami kembali ke RB ‘Aisyah. Masih dengan naik motor, atas permintaan istri saya sendiri. Mungkin ia termakan tips lucu itu, sering-sering naik motor untuk memicu kontraksi.

Setelah diperiksa (termasuk di-VT), masih saja, buka satu, tapi sudah agak longgar. “Hampir buka dua”, kata Si Bidan. Sama seperti kemarin-kemarin, termasuk dalam SMS-nya ke istri saya, beliau berpesan agar istri saya untuk tetap tenang, sabar, memperbanyak doa dan bertawakal kepada Allah. Kami kembali pulang, kembali 24 September atau bila terjadi tanda-tanda persalinan.

**

Pesan Bidan Umroh untuk tetap tenang memang tidak mudah dijalani. Istri saya masih saja terus resah. Maklum, menurut teori kedokteran, usia kandungan adalah sampai HPL + 2 minggu. Jika sudah lewat batas itu, mau tidak mau harus segera dilahirkan, tentu dengan jalan terakhir, Operasi Caesar, yang kami coba hindari dari awal. Tidak hanya soal waktu, keresahan itu juga karena sambil menunggu waktu kelahiran yang tak pasti, ia juga harus menanggung sakit yang semakin di perineum itu. Saya menasehatinya dengan memperbandingkan dengan kesabaran ibunya, yang mengandung kakaknya sampai dengan 10 bulan! Dan alhamdulillah lahir normal, karena zaman dahulu memang Caesar memang belum nge-trend, apalagi di desa.

21 September. Malam hari. Saya berinisiatif untuk memeriksakan kandungan istri saya, dengan USG. Berjaga-jaga kalau-kalau kejadiannya bakal serupa Maryam dulu, plasenta sudah mulai rusak dan harus segera dilahirkan. Sekadar untuk mengetahui keadaan si bayi di dalam.

Di desa dekat desa kami, ada RB milik bidan juga, yang sudah menggunakan USG sebagai salah satu alat pemeriksaannya. Kami pun ke sana, masih dengan naik motor. Sebenarnya, saya ragu, “Hebat sekali, selevel bidan bisa mengoperasikan USG.”, pikir saya. Benar saja, sampai di sana, saya kecewa, apalagi bidan utamanya tidak berada di tempat. Terlihat sekali si bidan yang satu ini tidak benar-benar bisa mengoperasikan USG dengan baik. Terbukti ketika saya tanya, tentang keadaan plasentanya, dia kebingungan mencari gambarnya, atau ketika istri saya bertanya tentang berat si bayi, yang bias diperkirakan dengan USG, dia menjawab sekenanya saja. Tapi, katanya, keadaan si bayi masih baik-baik saja.

Sunday, October 6, 2013

VBAC untuk Ibrahim (2): Memupuk Asa

SOLO-- Pada usia kehamilan memasuki pertengahan bulan ke enam, kurang dari sebulan menjelang Ramadhan 1434 H, karena saya hendak bertugas ke luar kota dan 'kami' ingin melahirkan anak kedua di kampung, saya mengantar istri, Maryam, dan tentu saja calon adiknya Maryam pulang ke Solo. Salah satu agenda pertama di Solo adalah periksa ke dokter Solo. Beliau adalah dr. Aniek, salah seorang Dokter Spesialis Kandungan di Rumah Sakit Islam PKU Muhammadiyah, Solo. Maklum, setelah kejadian periksa ke dokter Jakarta itu, istri saya tidak berkenan memeriksakan kandungannya lagi di Jakarta, walaupun ke dokter lain, walaupun ke sekadar bidan. Walhasil, hampir dua bulan penuh, istri saya tidak memeriksakan kandungannya.

Kepada dr. Aniek, kami mengonsultasikan vonis dokter Jakarta itu, lengkap dengan dokumen pendukung berupa print-out hasil USG yang sudah diberi catatan-keterangan si dokter Jakarta. Ternyata, dr. Aniek kurang sependapat dengan dokter Jakarta itu. Satu, beliau tidak menganggap bekas luka Caesar terdahulu tidak sembuh/menutup dengan sempurna. Dua, ketebalan bekas jahitan Caesar sebagai syarat VBAC itu baru diukur nanti di bulan ke sembilan. Tiga, dan ini poin yang dipegang erat-erat istri saya, asalkan bekas jahitan tersebut tidak terasa sakit sepanjang kehamilan, terutama menjelang persalinan, insyaAllah tidak masalah untuk persalinan normal, VBAC. Sumringah lah istri saya.

Namun, hal itu tidak menyurutkan niat istri saya untuk melahirkan di bidan! Saya, masih tetap menginginkan VBAC diusahakan di rumah sakit. Namun, saya hanya menyimpannya di hati. Selebihnya, saya menyerahkan keputusan terakhir kepada istri saya yang akan menjalaninya. Entah, mungkin saya memang kurang 'diktator', terlalu 'demokratis' sebagai seorang suami, tetapi hati kecil saya memang berkata istri saya tetap lebih berhak atas keputusan terakhir tentang persalinan ini, kecuali dalam keadaan darurat yang saya harus mengambil keputusan.

**

Bidan pun dicari. Bertemulah kami dengan Bidan Umroh, bidan di RB 'Aisyah, Ngruki, Sukoharjo. Bidan Umroh lah yang dulu menyunat Maryam. Beliau (juga RB 'Aisyah) telah berpengalaman menangani persalinan normal setelah kelahiran sebelumnya dilakukan dengan operasi Caesar, VBAC. Bahkan, RB 'Aisyah pernah berhasil menangani VBA2C, persalinan normal setelah dua kali operasi Caesar. Lain lagi cerita Bidan Ibis, juga bidan di RB 'Aisyah. Beliau berhasil melahirkan normal anaknya dalam kondisi kehamilan plasenta-previa, kondisi dimana plasenta menempel di area bawah rahim dan menyebabkan leher rahim terhalang.

**

Istri saya bergantian memeriksakan kandungannya ke Bidan Umroh di RB 'Aisyah dan ke dr. Aniek di RSUI PKU Muhammadiyah. Ke Bidan Umroh agar dapat dipantau oleh bidan yang akan menangani persalinannya nanti, karena berencana akan melahirkan di sana. Ke dr. Aniek untuk memantau kondisi janinnya dengan USG, juga untuk mendapatkan resep vitamin yang lebih baik.

Selain periksa rutin, istri saya juga mengikuti kelas senam hamil di rumah sakit yang lebih dekat, RS Dr. Oen, Solo Baru, sepekan sekali. Di samping itu, istri saya juga sangat-sangat rajin berjalan kaki, bertahap mulai dari 30 menit sehari sampai 60 menit sehari, bahkan 90 menit sehari menjelang persalinan.

Saya pun rajin pulang ke Solo, di sela-sela kesibukan di Jakarta, sekira sebulan sekali, sekadar mengantar periksa kandungan ke dokter atau ke bidan. Maryam pun sudah mulai mengerti akan punya 'saingan', adik. Pernah pada waktu diajak periksa ke Bidan Umroh, berkali-kali Maryam bertanya, "Adiknya udah lahir, Mi?"

**

Sementara itu, melalui USG di dr. Aniek, jenis kelamin bayi pun terprediksi laki-laki, insyaAllah. Sebenarnya, jenis kelamin laki-laki ini sudah diprediksi juga oleh dokter Jakarta. Namun, prediksi 'Caesar lagi'-nya pada waktu itu telah menjadikan prediksi 'laki-laki' seolah tak lagi berarti.

*bersambung..


VBAC untuk Ibrahim (3): Hari-Hari Penantian

Saturday, October 5, 2013

VBAC untuk Ibrahim

JAKARTA-- Ketika itu, usia kehamilan anak kedua kami memasuki bulan keempat. Saya tahu kesedihan itu; kesedihan seorang ibu muda ketika dokter memvonisnya, Caesar lagi untuk kehamilan kali kedua ini. Kesedihan itu justru semakin tergambar ketika ia mencoba mengalihkan perhatiannya (juga perhatian suaminya) kepada binatang kecil yang dianggapnya aneh di lapangan parkir rumah sakit, seekor uler gagak *begitu kami menyebutnya di kampung* dengan ukuran yang ia anggap tidak biasa.

Dokter Spesialis Kandungan tersebut berkesimpulan seperti itu setelah memeriksa (dengan USG) kandungan istri saya. Katanya, bekas jahitan Caesar pada kelahiran pertama dulu tidak sembuh dengan sempurna, ada celah yang tidak tertutup, tidak menyambung sempurna, yang sekaligus membuat tebal lapisan rahim bekas jahitan tersebut kurang memenuhi syarat untuk VBAC (Vaginal Birth After Caesar), Persalinan Normal Setelah --persalinan sebelumnya-- Caesar.

Hancurlah hati istri saya, yang saya tahu ia sangat ingin melahirkan normal, bahkan sejak kehamilan pertama dulu --yang qadarullah-- berakhir di meja operasi. Lebih hancur lagi ketika sikap sang dokter seolah sama sekali tidak menunjukkan empati, atau mungkin juga memang ia tidak tahu, betapa inginnya kami. Mungkin juga, dokter ini memang tidak pro-VBAC.

Inilah perbedaan laki-laki dengan wanita. Ketika saya mulai berpikir-pikir 'realistis' menerima dengan lapang dada saran dokter tersebut, untuk kembali operasi, untuk tidak mengambil risiko, karena ini terkait dengan dua nyawa sekaligus; istri saya justru sebaliknya, berpikir 'emosional', menolak mentah-mentah dan mencoba berontak. Yang saya lakukan kemudian sementara hanyalah menenangkan ia.

Saya pun sempat berpikir untuk lebih percaya dokter Jakarta ini dari dokter Solo, dokter yang dulu meng-Caesar istri saya di kehamilan pertama. Pasalnya, kenapa 'fakta' sebenderang ini tidak pernah disinggung sedikitpun oleh dokter Solo itu padahal setelah operasi, istri saya berkali-kali kontrol ke beliau, termasuk untuk kehamilan kedua ini.

**

Setelah kejadian itu, istri saya sedih berhari-hari. Saya, terus memberinya semangat untuk tidak berputus asa untuk terus berusaha jika kami memang menginginkan VBAC, sambil diam-diam menyembunyikan kekhawatiran juga, jika nantinya memang tetap harus operasi lagi. Kami pun mulai mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang VBAC, kebanyakan dari internet. Istri saya jadi sangat rajin browsing.

Dari hasil berburu informasi, mulailah harapan bersemi kembali. Peluang melahirkan normal memang turun drastis ketika seorang ibu telah di-Caesar pada persalinan sebelumnya. Namun, ternyata tidak sedikit, ibu-ibu yang berhasil melalui VBAC dengan baik. Bahkan ada yang VBA3C, bersalin normal setelah tiga kali Caesar! Subhanallah. Ada juga cerita ibu yang 'nekat' melahirkan mandiri karena tidak mendapatkan dokter maupun bidan yang mendukungnya VBACnya. Dan berhasil! Subhanallah

Yang juga berhubungan dan tidak kalah mencengangkan, adalah cerita seorang ustadz (dari dunia nyata, bukan dari dunia maya), dimana istrinya pada kehamilan kedua divonis dokter spesialis kandungan: Caesar. Pun begitu ketika beliau mencoba mencari second opinion di dokter spesialis kedua, Caesar. Alasannya sama, bayi terlilit tali pusat. Tidak mau menyerah begitu saja, Pak Ustadz justru membawa istrinya ke bidan, seorang bidan legendaris yang telah berpraktik puluhan tahun tanpa pernah mengakhiri persalinan yang ditanganinya dengan rekomendasi operasi. Sayangnya, ketika itu sang bidan berhalangan (karena sedang bepergian atau sakit, saya lupa), yang ada hanyalah asistennya yang baru lulus beberapa bulan dari akademi kebidanan! Pak Ustadz pasrah,  ber-tawwakal kepada Allah, dan Allah pun mentakdirkan bayinya lahir normal! Alhamdulillah.

**

Kekhawatiran istri saya tidak berhenti begitu saja. Sesekali ia teringat vonis dokter Jakarta itu dan kembali bersedih. Saya menasihatinya untuk tidak terlalu memikirkan hasilnya nanti, karena bagian kita, manusia, adalah 'usaha'. Sedangkan 'hasil' adalah bagian Allah. Manusia stres karena memikirkan yang bukan bagiannya, 'hasil'. Berdoa dan berusahalah semaksimal mungkin, kemudian serahkan hasilnya kepada Allah. Cukup.

Ketika optimisme istri saya telah terbangun, lagi, terlihatlah perbedaan lelaki--perempuan. Lelaki (saya, red) berpikir realistis untuk setidaknya tetap menyerahkan ke dokter, urusan VBAC ini, dokter yang pro-VBAC, karena (juga dari hasil browsing) VBAC mempunyai beberapa syarat yang salah satunya adalah dilakukan oleh dokter spesialis di Rumah Sakit dengan fasilitas yang memadai, agar jika terjadi keadaan darurat yang mengharuskan operasi, dapat dilakukan dengan segera. Syarat yang lain adalah --seperti yang dikatakan dokter Jakarta-- tentang tebal lapisan bekas jahitan Caesar sebelumnya (dilihat pada bulan kesembilan), juga jarak antara kelahiran Caesar sebelumnya dengan VBAC minimal dua tahun. Wanita (istri saya, red) berpikir 'emosional-frontal-radikal'; melahirkan di bidan!, yang nggak bisa men-Caesar!

**