Sunday, October 6, 2013

VBAC untuk Ibrahim (2): Memupuk Asa

SOLO-- Pada usia kehamilan memasuki pertengahan bulan ke enam, kurang dari sebulan menjelang Ramadhan 1434 H, karena saya hendak bertugas ke luar kota dan 'kami' ingin melahirkan anak kedua di kampung, saya mengantar istri, Maryam, dan tentu saja calon adiknya Maryam pulang ke Solo. Salah satu agenda pertama di Solo adalah periksa ke dokter Solo. Beliau adalah dr. Aniek, salah seorang Dokter Spesialis Kandungan di Rumah Sakit Islam PKU Muhammadiyah, Solo. Maklum, setelah kejadian periksa ke dokter Jakarta itu, istri saya tidak berkenan memeriksakan kandungannya lagi di Jakarta, walaupun ke dokter lain, walaupun ke sekadar bidan. Walhasil, hampir dua bulan penuh, istri saya tidak memeriksakan kandungannya.

Kepada dr. Aniek, kami mengonsultasikan vonis dokter Jakarta itu, lengkap dengan dokumen pendukung berupa print-out hasil USG yang sudah diberi catatan-keterangan si dokter Jakarta. Ternyata, dr. Aniek kurang sependapat dengan dokter Jakarta itu. Satu, beliau tidak menganggap bekas luka Caesar terdahulu tidak sembuh/menutup dengan sempurna. Dua, ketebalan bekas jahitan Caesar sebagai syarat VBAC itu baru diukur nanti di bulan ke sembilan. Tiga, dan ini poin yang dipegang erat-erat istri saya, asalkan bekas jahitan tersebut tidak terasa sakit sepanjang kehamilan, terutama menjelang persalinan, insyaAllah tidak masalah untuk persalinan normal, VBAC. Sumringah lah istri saya.

Namun, hal itu tidak menyurutkan niat istri saya untuk melahirkan di bidan! Saya, masih tetap menginginkan VBAC diusahakan di rumah sakit. Namun, saya hanya menyimpannya di hati. Selebihnya, saya menyerahkan keputusan terakhir kepada istri saya yang akan menjalaninya. Entah, mungkin saya memang kurang 'diktator', terlalu 'demokratis' sebagai seorang suami, tetapi hati kecil saya memang berkata istri saya tetap lebih berhak atas keputusan terakhir tentang persalinan ini, kecuali dalam keadaan darurat yang saya harus mengambil keputusan.

**

Bidan pun dicari. Bertemulah kami dengan Bidan Umroh, bidan di RB 'Aisyah, Ngruki, Sukoharjo. Bidan Umroh lah yang dulu menyunat Maryam. Beliau (juga RB 'Aisyah) telah berpengalaman menangani persalinan normal setelah kelahiran sebelumnya dilakukan dengan operasi Caesar, VBAC. Bahkan, RB 'Aisyah pernah berhasil menangani VBA2C, persalinan normal setelah dua kali operasi Caesar. Lain lagi cerita Bidan Ibis, juga bidan di RB 'Aisyah. Beliau berhasil melahirkan normal anaknya dalam kondisi kehamilan plasenta-previa, kondisi dimana plasenta menempel di area bawah rahim dan menyebabkan leher rahim terhalang.

**

Istri saya bergantian memeriksakan kandungannya ke Bidan Umroh di RB 'Aisyah dan ke dr. Aniek di RSUI PKU Muhammadiyah. Ke Bidan Umroh agar dapat dipantau oleh bidan yang akan menangani persalinannya nanti, karena berencana akan melahirkan di sana. Ke dr. Aniek untuk memantau kondisi janinnya dengan USG, juga untuk mendapatkan resep vitamin yang lebih baik.

Selain periksa rutin, istri saya juga mengikuti kelas senam hamil di rumah sakit yang lebih dekat, RS Dr. Oen, Solo Baru, sepekan sekali. Di samping itu, istri saya juga sangat-sangat rajin berjalan kaki, bertahap mulai dari 30 menit sehari sampai 60 menit sehari, bahkan 90 menit sehari menjelang persalinan.

Saya pun rajin pulang ke Solo, di sela-sela kesibukan di Jakarta, sekira sebulan sekali, sekadar mengantar periksa kandungan ke dokter atau ke bidan. Maryam pun sudah mulai mengerti akan punya 'saingan', adik. Pernah pada waktu diajak periksa ke Bidan Umroh, berkali-kali Maryam bertanya, "Adiknya udah lahir, Mi?"

**

Sementara itu, melalui USG di dr. Aniek, jenis kelamin bayi pun terprediksi laki-laki, insyaAllah. Sebenarnya, jenis kelamin laki-laki ini sudah diprediksi juga oleh dokter Jakarta. Namun, prediksi 'Caesar lagi'-nya pada waktu itu telah menjadikan prediksi 'laki-laki' seolah tak lagi berarti.

*bersambung..


VBAC untuk Ibrahim (3): Hari-Hari Penantian

No comments:

Post a Comment