Monday, March 21, 2011

Manajemen Laba, Baik atau Buruk ? (5)

Praktik-praktik Manajemen Laba
Fenomena adanya praktik manajemen laba pernah terjadi di pasar modal Indonesia, khususnya pada emiten manufaktur di Bursa Efek Jakarta. Contoh kasus terjadi pada PT Kimia Farma Tbk. Berdasarkan hasil pemeriksaan Bapepam (Badan Pengawas Pasar Modal, 2002), diperoleh bukti bahwa terdapat kesalahan penyajian dalam laporan keuangan PT Kimia Farma Tbk., berupa kesalahan dalam penilaian persediaan barang jadi dan kesalahan pencatatan penjualan, dimana dampak kesalahan tersebut mengakibatkan overstated laba pada laba bersih untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2001 sebesar Rp32,7 miliar.
Kasus yang sama juga pernah terjadi pada PT Indofarma Tbk. Berdasarkan hasil pemeriksaan Bapepam terhadap PT Indofarma Tbk. (Badan Pengawas Pasar Modal, 2004), ditemukan bukti bahwa nilai barang dalam proses diniliai lebih tinggi dari nilai yang seharusnya dalam penyajian nilai persediaan barang dalam proses pada tahun buku 2001 sebesar  Rp28,87 miliar. Akibatnya penyajian terlalu tinggi (overstated) persediaan sebesar Rp28,87 miliar, harga pokok penjualan disajikan terlalu rendah (understated) sebesar Rp28,8 miliar dan laba bersih disajikan terlalu tinggi overstated dengan nilai yang sama.
Praktik manajemen laba juga terjadi di luar negeri. AAER (Accounting and Auditing Enforcement Releases), suatu Divisi di The SEC (Security and Exchange Commision), pada tahun 2000 dalam Mulford dan Comiskey (2010), menerbitkan laporan tentang beberapa kasus manajemen laba, antara lain sebagai berikut:
Tabel 2.2 Praktik-praktik Manajemen Laba
No.
Perusahaan
Manajemen Laba
1.
Intile Design, Inc.
AAER No. 1259, May 23, 2000.
menilai terlalu rendah persediaan akhir agar pajak properti mengecil.
2.
System Software Associates, Inc.
AAER No. 1285, July 14, 2000.
mengakui pendapatan atas pendapatan yang tidak jelas apakah produk yang dikirim telah diterima pelanggan atau belum.
3.
ABS Industries, Inc.
AAER No. 1240, Mar 23, 2000.
membukukan penjualan tanpa adanya pesanan dari pelanggan, bahkan pada beberapa kasus produk belum selesai dibuat.
4.
Sirena Apparel, Inc.
AAER No. 1673, Sept 27, 2000.
tidak menutup pembukuan di kuartal Maret 1999 agar target penjualan periode tersebut tercapai dengan cara mengubah tanggal pada computer agar tanggal palsu tercetak di faktur.
5.
Guilford Mills, Inc.
AAER No. 1287, Mar 23, 2000.
Melakukan pembukuan palsu ke Buku Besar Hofman Laces (anak perusahaan) yang mengurangi utang dagang dan harga pokok penjualan dengan jumlah yang sama sehingga menaikkan laba.

Penelitian-penelitian Tentang Manajemen Laba
Penelitian-penelitian di Indonesia menghasilkan kesimpulan yang mendukung adanya praktik-praktik manajemen laba. Widyaningdyah (2001) dalam penelitiannya berkesimpulan bahwa perusahaan yang terancam melanggar perjanjian utang cenderung melakukan  manajemen laba dengan menaikkan laba dalam rangka memperbaiki posisi tawarnya saat negosiasi ulang atau sebagai upaya melakukan go public untuk mendapatkan dana segar karena kesulitan mencari dana pinjaman. Sedangkan manajemen laba untuk perusahaan yang go public dilakukan pada prospektus laporan keuangan perusahaan sebelum IPO agar investor tertarik menanamkan modalnya.
Mawarti (2007) dalam penelitian dengan objek perusahaan manufaktur di Bursa Efek Jakarta (BEJ), menemukan 32 perusahaan yang dikategorikan melakukan income smoothing (perataan laba) dari 58 perusahaan populasi sasaran.
Dumbi (2010) dalam penelitiannya dengan objek BMUN manufaktur yang di Indonesia menemukan kecenderungan manajemen BUMN manufaktur untuk menurunkan laba pada saat terdapat surplus arus kas keluar mencerminkan keengganan manajer untuk memenuhi kewajibannya dalam membayar hutang dan membayarkan deviden kepada pemegang saham dalam hal ini pemerintah.
Mulford dan Comiskey (2010) dalam bukunya merangkum bukti dari studi deskriptif bahwa pada laporan keuangan perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat, penyajian laba berdasarkan keumumannya adalah sebagai berikut:
Tabel 2.3 Bukti Manajemen Laba dari Studi Deskriptif
Rugi rendah
Jarang
Laba rendah
Umum
Penurunan sedikit pada laba
Jarang
Kenaikan sedikit pada laba
Umum
Memenuhi atau melebihi sedikit angka prediksi
Banyak
Meleset dari angka prediksi
Jarang

Laba yang rendah seharusnya sama atau hampir sama kejadiannya dengan rugi rendah, begitu pula kenaikan sedikit pada laba dan penurunan sedikit pada laba. Tabel di atas menunjukkan tidak adanya distribusi normal atas laba sebagai dugaan kuat dilakukannya praktik-praktik manajemen laba laporan keuangan perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat.
Manajemen Laba, Baik atau Buruk?
Anggapan tentang baik atau buruknya manajemen laba masih menjadi perdebatan dan persoalan yang rumit. Menilai baik atau buruknya manajemen laba tergantung pada teknik yang digunakan dalam melakukan manajemen laba serta motivasi dan tujuan dilakukannya manajemen laba tersebut.
Mulford dan Comiskey (2010) mengatakan bahwa kalangan masyarakat akademisi, dengan asumsi bahwa laporan keuangan telah mengungkapkan seluruh manajemen laba yang dilakukan, menilai manajemen laba adalah baik atau tidak buruk. Sedangkan kalangan praktisi dan regulator meyakini bahwa manajemen laba akan menimbulkan persoalan yang dapat berdampak kemana-mana.
Seperti telah dijelaskan di muka, agar bermanfaat bagi para pemakai, maka kualitas laporan keuangan perlu dijaga. Dalam PSAK-Kerangka Dasar Penyusunan Penyajian Pelaporan Keuangan, telah disebutkan empat karakteristik kualitatif laporan keuangan yang berkualitas. Empat karakteristik kualitatif tersebut adalah dapat dipahami, relevan, andal, dan dapat diperbandingkan.
Lebih lanjut, dalam PSAK-Kerangka Dasar Penyusunan Penyajian Pelaporan Keuangan disebutkan bahwa informasi posisi keuangan dan kinerja di masa lalu seringkali digunakan sebagai dasar untuk memprediksi posisi keuangan dan kinerja masa. Informasi dikatakan relevan untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam proses pengambilan keputusan jika dapat memengaruhi keputusan ekonomi pemakai dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa depan, menegaskan, atau mengkoreksi hasil evaluasi mereka di masa lalu.
Informasi dikatakan andal jika bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material, dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang jujur dan apa adanya. Informasi yang relevan tetapi  tidak dapat diandalkan berpotensi menyesatkan para pengguna informasi tersebut. Agar dapat diandalkan, informasi harus menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya yang seharusnya. Selain itu, informasi harus diarahkan pada kepentingan umum pemakai, dan tidak bergantung pada kepentingan pihak tertentu. Tidak boleh ada usaha untuk menyajikan informasi yang menguntungkan beberapa pihak dan merugikan pihak lain yang mempunyai kepentingan berlawanan.
Penyusun laporan keuangan terkadang menghadapi ketidakpastian peristiwa dan keadaan tertentu, seperti ketertagihan piutang yang diragukan, perkiraan masa manfaat aset, dan tuntutan atas jaminan garansi yang mungkin timbul. Ketidakpastian semacam itu diakui dengan mengungkapkan hakekat serta tingkatnya dan dengan menggunakan pertimbangan sehat dalam penyusunan laporan keuangan. Pertimbangan sehat mengandung unsur kehati-hatian pada saat melakukan prakiraan dalam kondisi ketidakpastian, sehingga aset atau penghasilan tidak dinyatakan terlalu tinggi dan kewajiban atau beban tidak dinyatakan terlalu rendah.
Agar dapat diandalkan, informasi dalam laporan keuangan harus lengkap dalam batasan materialitas dan biaya. Kesengajaan untuk tidak mengungkapkan mengakibatkan informasi menjadi tidak benar atau menyesatkan dan karena itu tidak dapat diandalkan dan tidak sempurna ditinjau dari segi relevansi.
Praktik-praktik manajemen laba dapat memengaruhi relevansi penyajian laporan keuangan sehingga laporan keuangan tidak membantu bahkan dapat menyesatkan para pemakainya dalam mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa depan karena penyusun laporan keuangan, dalam hal ini manajer, tidak menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya.
Manajemen laba membuat laporan keuangan tidak dapat diandalkan, menyesatkan, mengandung kesalahan material, dan bukan merupakan penyajian yang jujur dan apa adanya. Selain itu, informasi yang disajikan pada laporan keuangan diarahkan pada kepentingan pihak tertentu yang menguntungkan beberapa pihak dan dapat merugikan pihak lain yang mempunyai kepentingan berlawanan.
Dalam menghadapi ketidakpastian peristiwa dan keadaan tertentu, penyusun laporan keuangan yang melakukan manajemen laba tidak menggunakan pertimbangan sehatnya dalam penyusunan laporan keuangan, tidak mengutamakan unsur kehati-hatian dalam melakukan pekiraan dalam kondisi ketidakpastian, melainkan bertindak berdasarkan pertimbangan kepentingannya, sehingga aset atau penghasilan dinyatakan terlalu tinggi dan kewajiban atau beban tidak dinyatakan rendah, atau sebaliknya.
Informasi dalam laporan keuangan yang telah terkontaminasi manajeman laba terkadang lengkap. Kesengajaan untuk tidak mengungkapkan secara lengkap mengakibatkan informasi menjadi tidak benar atau menyesatkan.

13 comments:

  1. Makasih banget datanya. Kalau boleh minta sumber-sumber datanya dong.

    ReplyDelete
  2. Assalamualaikum...terimakasih sudah sangat membantu saya dalam skripsi...sumber datanya mohon dicantumkan... :)

    ReplyDelete
  3. Wa'alaykumussalam. Silakan lihat bagian terakhir tulisan ini. Terima kasih.

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. maaf mau nanya mas erwin itu sumber di bagian terakhir itu aninomous itu mmg sebuah karya yang nama orangnya aninomous apa gimana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu istilah untuk yg pengarangnya bukan perorangan, misalnya lembaga, gtu. aturanny gtu. terima kasih.

      Delete
    2. Jadi begini mas erwin,saya lagi nyusun skripsi, saya mau nyantumin sumber nya jadi yg saya cantumin di daftar pustaka proposal saya anonimous juga apa gimana? Mohon bimbingan nya :)

      Delete
    3. jadi begini, Mas Starga, ya tinggal lihat aturan penulisan daftar pustaka di kampus Mas seperti apa, ikuti aja, yg jelas sbg contoh kyk daftar isi paling atas itu, yg nerbitin Bapepam, pengarangnya Bapepam jg secara kelembagaan, bukan perorangan, gtu. coba dikonsultasikan saja sama dosen pembimbingnya, nulisnya gmn, atw biasany kan ada buku aturan penulisan skripsi dr kampus.

      Delete
    4. oohh saya udah mengerti mas maksudnya, segera saya konsultasikan cara penulisan lembaga nya kepada dosen pembimbing saya,sperti yg saya lihat2 sbelumnya daftar pustaka lembaga diletakkan di bagian akhir. oya kalau aturan yang memakai "aninomous" seperti yg mas buat itu aturan nya dipakai umum mas? aturan nya saya bs baca dimana? makasih banyak mas sebelumnya atas responsenya.

      Delete
    5. em, sy agak lupa, mas coz sdh agak lama. tp itu cuma kyk sekadar paper/makalah kok, jd aturannya pun ga begitu strict. seinget sy, waktu itu sy dpt bahan dr tesis teman kantor sy, nah itu bbrp sy ambil dr daftar pustaka d tesis itu, termasuk yg anonim2 itu. atw kl ga, itu emg aturan dr kampus sy utk penulisan karya ilmiah apapun. lupa.

      Delete
  6. mas erwin, maaf, saya boleh minta sumbernya dumbi (2010) dan mawarti (2007) mas?. mohon bantuan nya ya mas, saya buat menambha referensi skripsi saya, terima kasih mas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh. Tapi saya bahkan nggak tahu siapa Anda.

      Delete
  7. Mas, boleh minta sumber yang ini?
    Dumbi, Zolha. 2010. Pengaruh Arus Kas Bebas dan Financial Leverage terhadap Manajemen Laba. Universitas Padjadjaran. Bandung.
    Halim, Julia, Carmel Meiden, dan Rudolf Rumban Tobing. Pengaruh Manajemen Laba pada Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan pada Perusahaan Manufaktur yang Termasuk dalam Indeks LQ-45. SNA Solo 15 – 16 September 2005.Jaryanto. 2008. Manajemen Laba: Mengapa Banyak Mengundang Kontroversi. Fokus Ekonomi Vol. 3 No. 1 Juni 2008: 24 – 34.
    Gumanti, Tatang Ary. 2000. Earnings Management: Suatu Telaah Pustaka. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Vol. 2 No. 2, Nopember 2000: 104 – 115. Universitas Kristen Petra. Surabaya.

    ReplyDelete