Skip to main content

Posts

Belajar (2)

Syahadat. Syahadatain bermakna dua syahadat (persaksian). Laa ilaaha illallah (syahadat Tauhid) adalah persaksian bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang haq (benar) selain Allah, sementara Muhammadarasulullah (syahadat Rasul) merupakan persaksian bahwa Muhammad ('alayhishalatu wassalam) adalah utusan Allah.
Syahadatain ini merupakan hal terpenting dalam agama Islam, bahkan intinya. Artinya, siapa yang tidak merealisasikan keduanya, maka tidak ada bagiannya dalam Islam, sedikit pun. Syahadat Tauhid titik beratnya adalah aqidah (keyakinan), terutama tentang Allah, sedangkan syahadat Rasul tentang manhaj (metode dalam beragama).
Laa ilaaha illallah adalah tentang Tauhid, maka dari itu disebut syahadat Tauhid. Tauhid yakni mengesakan Allah dalam hal-hal yang merupakan kekhususannya, yaitu Rububiyyah, 'Uluhiyyah, 'Asma wa Shifat. Sedangkan Muhammadarasulullah adalah tentang Sunnah, yakni segala perkataan, perbuatan, dan ketetapan, bahkan perjalanan hidup Rasul terkait dengan ag…
Recent posts

Bagaimana (Saya) Mereviu Audit Keuangan

Pemeriksaan, atau kita gunakan saja istilah: Audit, setidaknya terdiri dari tiga tahap: perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan; tidak terkecuali Audit Keuangan. Salah satu tugas di unit kerja saya (Internal Audit, red) adalah mereviu (hasil dan kertas kerja) audit, tidak terkecuali Audit Keuangan #redundan #biarin. Well, walaupun saya merasa nggak kompeten di bidang ini, karena ngaudit aja baru sekali, gitu, saya merasa perlu mendokumentasikan, setidaknya apa yang saya lakukan ketika mereviu audit keuangan rekan-rekan auditor *siapa tahu berguna bagi nusa dan bangsa. Makanya, di judulnya ada kata "saya dalam kurung". Itu bukan berarti saya lagi dikurung, itu berarti bahwa yang akan saya tulis di sini bukan best practice, sama sekali, obviously not. So, #cmiiw.
Perlu diketahui bahwa reviu di sini adalah jenis cold review, reviu yang dilakukan ketika audit telah selesai, bukan hot review yang dilakukan sepanjang proses audit berlangsung. Atau dengan kata lain, ini merupakan…

Dua Milyar Seribu Rupiah

Alkisah, ada seorang kaya memiliki dua orang pekerja, sebut saja si Amir dan si Budi. Suatu hari, orang kaya tersebut memberi uang senilai dua milyar rupiah (Rp2.000.000.000,-) kepada di Amir dan memberi uang pula kepada si Budi sebesar dua milyar seribu rupiah (Rp2.000.001.000,-). Si Amir merasa iri terhadap si Budi dan tidak terima atas pemberian tersebut. Bagaimana pendapat Anda tentang sikap Amir tersebut? Pantaskah ia berlaku demikian, iri atas selisih seribu rupiah, yang bahkan untuk membayar parkir motor saja sekarang tidak cukup? Padahal ia pun telah diberi dua milyar rupiah!

Cerita tersebut hanyalah pengibaratan. Alhamdulillah, kita telah diberi nikmat yang sangat besar oleh Allah, bahkan nikmat yang paling besar, tidak ada lagi nikmat yang melebihinya, karena hanya dengannya, seseorang dapat masuk surga, yakni nikmat Iman/Islam. Ibaratkan nikmat Iman/Islam ini adalah satu milyar rupiah (meskipun tidak sebanding, hanya sebuah pengiibaratan). Kita pun telah diberi nikmat Sunn…

Satu Semester, Semester Satu

Lebih sudah, dari satu semester, satu artikelpun tidak diunggah. "Mungkin 'dia' lelah." Haha. Mungkin saja benar. "Mungkin dia lelah", entah berasal darimana, kalimat ini, dari sudut pandang Ilmu Komunikasi, bisa dikatakan telah menjadi fantasy theme (tema fantasi) dewasa ini, terutama di kalangan anak muda.
Ilmu Komunikasi. Iya, sudah satu semester ini saya belajar ilmu komunikasi di Pascasarjana UI, Salemba, Jakarta, dengan Beasiswa dari Kementerian Kominfo. Semester satu berlalu, setelah berjibaku dengan buku. Alhamdulillah, nilai lumayan melimpah. Sebulan ini praktis, saya libur, full. Menghabiskan -tepatnya, memanfaatkan- waktu bersama anak-istri-keluarga di Solo pun menjadi pilihan terbaik. Sekarang, hari ini, sejak awal Januari, sampai awal Feberari, nanti, insyaAllah, saya di Solo. Suatu 'kemewahan' yang hampir mustahil didapatkan ketika saya aktif bekerja.
Iya. Saya masih PNS. Berstatus tugas balajar, saya hanya diwajibkan belajar (kuliah, …

Antara Al Qur'an dan Nyanyian (Musik)

Lihat diri kita.
Lebih suka mendengar nyanyian (musik) daripada Al Qur'an?
Lebih banyak hafal lagu daripada hafal Al Qur'an?
Lebih mahir bernyanyi daripada membaca Al Qur'an?

Tahukah kita hukum-hukum tajwid?
Tahukah sifat-sifat huruf?
Tahu makhraj-makhraj huruf?
Yang lebih sederhana, jangan2 kita pun tak tahu sekadar jumlah huruf hijaiyah.

Jika keadaannya seperti ini, bagaimana bacaan Al Qur'an kita?
Jika kita bacaan Al Qur'an kita tidak karuan, bagaimana kita akan suka membacanya?
Jika tidak suka membacanya, apatah lagi menghafalnya?
Apalagi mentadaburinya?
Apalagi mengamalkan apa yang Rabb kita sampaikan dalam ayat-ayat-Nya yang mulia.

Sungguh keterpurukan umat ini adalah karena jauhnya kita dari Al Qur'an.
Jauhnya kita dari Al Qur'an adalah karena dekatnya kita dengan nyanyian yang melalaikan kita darinya.

**

"Sungguh tidak akan berkumpul pada hati seseorang, (kecintaan kepada) Al Qur'an dan (kecintaan kepada) nyanyian selama-lamanya." Ibnul Qayyim al …