Skip to main content

Bagaimana (Saya) Mereviu Audit Keuangan

Pemeriksaan, atau kita gunakan saja istilah: Audit, setidaknya terdiri dari tiga tahap: perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan; tidak terkecuali Audit Keuangan. Salah satu tugas di unit kerja saya (Internal Audit, red) adalah mereviu (hasil dan kertas kerja) audit, tidak terkecuali Audit Keuangan #redundan #biarin. Well, walaupun saya merasa nggak kompeten di bidang ini, karena ngaudit aja baru sekali, gitu, saya merasa perlu mendokumentasikan, setidaknya apa yang saya lakukan ketika mereviu audit keuangan rekan-rekan auditor *siapa tahu berguna bagi nusa dan bangsa. Makanya, di judulnya ada kata "saya dalam kurung". Itu bukan berarti saya lagi dikurung, itu berarti bahwa yang akan saya tulis di sini bukan best practice, sama sekali, obviously not. So, #cmiiw.

Perlu diketahui bahwa reviu di sini adalah jenis cold review, reviu yang dilakukan ketika audit telah selesai, bukan hot review yang dilakukan sepanjang proses audit berlangsung. Atau dengan kata lain, ini merupakan bentuk Quality Assurance (QA) yang berfokus ke proses, bukan Quality Control (QC) yang berfokus ke hasil. QA memastikan QC berjalan baik. Kembali, karena di Audit Keuangan ada tiga tahap, maka reviu dilakukan juga atas tiga tahap tersebut: Perencanaan Audit, Pelaksanaan Audit, dan Pelaporan Audit.

Pada Perencanaan Audit, ada sub tahap Pemahaman Tujuan Pemeriksaan dan Harapan Penugasan. Di Audit Keuangan, dokumentasinya seringkali diabaikan atau hanya dianggap formalitas biasa. Padahal, ini justru awal dari semua *haiyah. Ini semacam 'kontrak kerja' antara Pemberi Tugas kepada Tim Audit secara keseluruhan, mulai Penanggung Jawab (PJ) sampai Anggota Tim (AT). Nantinya, juga akan ada kontrak kerja yang lebih rinci, antara PJ dengan Ketua Tim (KT), berupa Program Pemeriksaan (P2), dan juga kontrak kerja antara KT dengan AT, berupa Program Kerja Perorangan (PKP). But wait, antara KT dan AT, kan ada Pengendali Teknis (PT). Trus, kontrak kerja dia sama siapa ya? Ada yang tahu?? #ngambang #biarin

Sebab yang seringkali membuat Tim tidak mendokumentasikan dengan baik, Kertas Kerja/Lembar Tujuan Pemeriksaan dan Harapan Penugasan ini, adalah karena dirasa, pada Audit Keuangan, Tujuan Pemeriksaan jelas: memberikan Opini atas Kewajaran Laporan Keuangan (LK). Padahal selain tujuan, kertas kerja ini juga berisi harapan-harapan, arahan-arahan dan sasaran pemeriksaan yang lebih fokus/detil. Di sinilah tempat Tim Audit menyamakan persepsinya dengan Pemberi Tugas. Kita kan nggak tahu harapan Pemberi Tugas apa, kan? Bisa jadi Pemberi Tugas berharap Tim memberi Opini Dibayar Di Muka. *ups. Pokoknya, cek, dokumentasi Tujuan Pemeriksaan dan Harapan Penugasan ini harus ada, kecuali kalau Pemberi Tugas behenti berharap. 'Tindak lanjut' dari Tujuan Pemeriksaan: P2, dan penjabaran dari P2: PKP, juga harus terdokumentasi dengan baik.

Di tahap Perencanaan Audit Keuangan, terutama untuk Risk Based Audit, ada beberapa langkah yang krusial. Salah satunya, Penilaian Risiko. Risiko yang dinilai meliputi Risiko Inheren (Inheren Risk/IR) dan Risiko Pengendalian (Control Risk/CR). Pastikan bahwa IR telah ditetapkan (High/Medium/Low) berdasarkan identifikasi risiko pada Pemahaman Entitas, yang merupakan langkah/kertas kerja tersendiri. Pastikan juga CR ditetapkan (H/M/L) berdasarkan identifikasi risiko pada Pemahaman Sistem Pengendalian Intern (SPI), yang merupakan langkah/kertas kerja tersendiri #redundan #biarin #biarpanjang. Kombinasi IR dengan CR akan menghasilkan RR (Residual Risk) atau Risiko Sisa, yang juga disebut Risiko Gabungan. Setelah itu, DR (Detection Risk) ditetapkan berdasarkan Risiko Gabungan, dengan hubungan berbanding terbalik. DR akan digunakan dalam penentuan uji petik (sampling). Risiko-risiko tersebut dinilai per akun --yang diaudit. Penilaian risiko juga dapat mempertimbangkan Penyelesaian Tindak Lanjut Hasil Audit sebelumnya yang berpengaruh ke akun-akun yang akan diaudit. Pastikan bahwa logika sampai penetapan DR telah benar.

Langkah yang tidak kalah penting dalam tahap perencanaan adalah Penetapan Materialitas. Materialitas adalah batas nilai salah saji atau pembatasan lingkup dianggap signifikan dan berpengaruh terhadap kewajaran LK. Penetapan Materialitas terdiri dari Planning Materiality (PM), yang merupakan materialitas tingkat laporan keuangan, dan Tolerable Misstatement (TM), yang merupakan materialitas tingkat akun. TM merupakan pembagian proporsional dari PM ke masing-masing akun, plus petimbangan profesional. PM dan TM ini akan berguna dalam pertimbangan penetapan opini di tahap Pelaporan. Sedang di tahap perencanaan, PM/TM digunakan dalam penentuan luas cakupan pemeriksaan/uji petik. PM/TM pada tahap perencanaan ditetapkan berdasarkan nilai-nilai akun pada LK Unaudited dan akan direvisi berdasarkan LK Audited pada tahap Pelaporan. Pastikan penghitungan PM/TE telah benar dan berdasarkan pertimbangan profesionalnya yang memadai.

Penentuan Uji Petik. Pastikan Penentuan Uji Petik Pemeriksaan sinkron/relevan dengan PM/TE dan risiko-risiko yang telah ditetapkan, terutama DR. Hubungan besar sample dengan PM/TE berbanding terbalik. Semakin kecil PM/TE, semakin besar sample yang harus diambil, begitu pula sebaliknya. Hubungan besar sample dengan DR pun berbanding terbalik. DR dapat dihitung dari AAR (Accepteble Audit Risk) dibagi hasil kali IR dan CR.

Penyusunan Program Audit/Program Pemeriksaan (P2). Program Audit merupakan produk utama dari Tahap Perencanaan, berisi rangkuman dari langkah-langkah yang telah dilakukan pada tahap perencanaan serta langkah-langkah dan prosedur yang direncanakan akan dijalankan pada tahap pelaksanaan. Pastikan bahwa P2 telah mencakup prosedur-prosedur signifikan yang diperlukan berdasarkan hasil analisis pada langkah-langkah perencanaan sebelumnya, terutama penilaian risiko serta penetapan uji petik.

bersambung.

Comments

Popular posts from this blog

Cara Bikin Daftar Isi Otomatis di Ms Word

Capek dong, yah? Tiap kali atasan ngerevisi konsep laporan, kamu harus neliti lagi halaman demi halaman buat nyocokin nomor halaman ke daftar isi? Mending-mending kalau atasan kamu (yang ngrevisi) cuma satu, kalau ada lima belas?! Sebenernya kalau kamu pinter dikit , suruh aja junior kamu yang ngerjain bikin aja daftar isinya belakangan pas laporan udah final. Tapi karena kamu maunya pinter banyak , bikin aja daftar isi otomatis! Kayak gimana tuh, yuk kita bahas. Bagi yang belum tahu, semoga berguna. Bagi yang udah tahu, ngapain kamu masih di sini? Pergi sana! Aku tidak mau melihat mukamu lagi! Enyahlah!! #becanda, *sinetron banget ya* Sebelumnya, karena saya memakai Ms Office 2010, maka saya akan jelaskan berdasarkan versi tersebut. Apa? Kamu pakai Ms Office 2007? Ga masalah, mirip-mirip kok. Apa? Kamu masih pakai Ms Office 2003? Plis deh, itu udah sewindu lebih. Apa? Ms Office kamu bajakan? Itu urusan kamu! Apa? Ms Office kamu versi 2003 dan bajakan? Wuargh!! Apa? kamu belum...

Manajemen Laba, Baik atau Buruk ? (5)

Praktik-praktik Manajemen Laba Fenomena adanya praktik manajemen laba pernah terjadi di pasar modal Indonesia, khususnya pada emiten manufaktur di Bursa Efek Jakarta. Contoh kasus terjadi pada PT Kimia Farma Tbk. Berdasarkan hasil pemeriksaan Bapepam (Badan Pengawas Pasar Modal, 2002), diperoleh bukti bahwa terdapat kesalahan penyajian dalam laporan keuangan PT Kimia Farma Tbk., berupa kesalahan dalam penilaian persediaan barang jadi dan kesalahan pencatatan penjualan, dimana dampak kesalahan tersebut mengakibatkan overstated laba pada laba bersih untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2001 sebesar Rp32,7 miliar. Kasus yang sama juga pernah terjadi pada PT Indofarma Tbk. Berdasarkan hasil pemeriksaan Bapepam terhadap PT Indofarma Tbk. (Badan Pengawas Pasar Modal, 2004), ditemukan bukti bahwa nilai barang dalam proses diniliai lebih tinggi dari nilai yang seharusnya dalam penyajian nilai persediaan barang dalam proses pada tahun buku 2001 sebesar  Rp28,87 miliar. Akibatnya penyajia...

Imunisasi, Satu Lagi Siasat Keji Yahudi

imunisasi dalam timbangan Alhamdulillah , istri saya saat ini telah memasuki bulan keempat kehamilannya. Persiapan demi persiapan menjadi sepasang ayah dan ibu yang baik pun mulai kami usahakan. Masalah kesehatan menjadi prioritas utama bagi kami –tentu saja setelah masalah agama-. Salah satu yang menjadi topik pembicaraan kami dalam penantian sang buah hati adalah imunisasi atau vaksinasi. Qodarulloh , setelah mencari-cari informasi, bukan hanya ilmu tentang baik atau buruk sebenarnya vaksinasi tersebut, saya justru mendapatkan lebih, tentang indikasi kuat adanya konspirasi Yahudi –lagi-lagi Yahudi Laknatulloh - di balik program vaksinasi ini. Berikut saya ringkaskan artikel “Imunisasi, Siasat Yahudi Lumpuhkan Generasi” dalam Tabloid Bekam pada edisi yang mengangkat Imunisasi sebagai topik utamanya. Semoga bermanfaat. Apa itu Imunisasi/Vaksinasi? Bila bibit penyakit penderita TBC, Hepatitis, Meningitis, HIV, Campak, Polio atau penyakit lai...