Friday, March 19, 2010

Allah kadang menakdirkan kelucuan

Apa jadinya dunia ini tanpa senyum dan tawa. Walaupun senyum dan tawa yang berlebihan atau tidak pada tempatnya juga tidak baik.

Percaya atau tidak, kadang saya merasa Allah “mengajak bercanda” melalui takdir-takdirnya yang lucu, aneh, unik, atau apa lah istilah yang lebih tepat saya tidak paham juga. Seperti tempo hari ketika saya mengunjungi sebuah minimarket. Setelah memilih beberapa makanan ringan dan minuman, saya beranjak ke kasir. Di situ saya baru melihat isi dompet saya yang ternyata hanya ada selembar uang sepuluh ribuan dan selembar lagi lima ribuan. “Semoga saja tidak sampai lima belas ribu perak”, bilang saya dalam hati. Tapi ternyata, “enam belas ribu dua ratus rupiah, Mas”, kata si Kasir. “Hehe. Maaf, Mbak, baru liat dompet. Uang saya tinggal lima belas ribu. Bisa di-cancel aja, yang ini, yogurtnya.”

Dan karena itu juga, rencana saya makan malam di sebuah warteg setelah itu pun pupus sudah. ATM agak jauh.

Monday, March 15, 2010

saya, beberapa waktu yang lalu

saya, sekarang..
sedang duduk manis di depan komputer jinjing, mengetik tulisan sederhana ini.

saya, satu jam yang lalu..
menjama` makan pagi dan makan siang di sebuah warung pinggir jalan dekat kampus.

saya, sehari yang lalu..
terbingungbingung oleh mata kuliah advanced accounting yang –menurut saya- ada yang
salah dengan metode mengajar sang dosen.

saya, sepekan yang lalu..
menyimak taushiyah dari lisan mulia seorang ustadz, dengan sesekali terkantukkantuk.

saya, sebulan yang lalu..
melepas rindu kepada ibu tercinta, keluarga, dan kampung halaman.

saya, setahun yang lalu..
berpisah dengan teman-teman dari Kalibata yang kini menyebar di seluruh penjuru nusantara.

saya, satu dasawarsa yang lalu..
berdaptasi dengan teman dan lingkungan baru di sebuah SMP belakang rumah sakit dan sungai jorok.

saya, satu abad yang lalu..
bahkan ibu bapak saya pun belum lahir!

saya, dua puluh tiga tahun yang lalu..
keluar dari rahim seorang ibu, telanjang dan tanpa dosa.

saya, sekarang..
berpakaian dan (sepertinya) banyak dosa.
merindukan bapak –rohiimahulloh-
merindukan TK, SD, SMP, SMA, STAN.
merindukan teman-teman Kalibata dan suasananya.
merindukan ibu tercinta, keluarga, dan kampung halaman.
merindukan surga.
(tidak) merindukan advanced accounting.
merindukan makan malam.
selesai menulis tulisan sederhana ini.

[Jakarta, 14 Maret 2010, 11.07 WIB]

Sunday, March 7, 2010

Paling Enak Anak-anak

Kadang terpikir ingin kembali menjadi anak-anak. Tanpa beban. Bebas saja. Bermain, bersenang-senang setiap waktu. Mau apa-apa tinggal minta orang tua. Tidak diberi tinggal menangis. Hha, enak sekali sepertinya. Tidak seperti orang dewasa. Banyak pikiran. Banyak masalah.

Jadi ingat, masa-masa kecil yang indah. Pulang sekolah. Ganti baju, bermain bersama teman-teman. Main bola, main petak umpet, sampai main lompat tali. Menunggu Bapak Ibu pulang dari pasar membawa oleh-oleh. Atau kembali menjadi bayi sekalian. Makan, tidur, -maaf- eek, makan, tidur, -maaf lagi- eek, dst. Hhe. Sudah berlalu semua itu. Tidak bisa diulang kembali ya. Tidak ada mesin waktu. Mesin waktu hanya bualan.

Tapi sepertinya ketika anak-anak dulu, kita malah berpikir sebaliknya. Sampai-sampai ada mainan rumah-rumahan, ada yang jadi suami, ada yang jadi istri, anak, anjing penjaga rumah, dsb. Anak-anak kecil yang ingin cepat dewasa. Kerja. Dapat uang banyak. Bebas. Tidak lagi disuruh tidur siang oleh nenek (karena sekarang tidak disuruh tidur pun, justru ingin tidur selama mungkin). Menikah. Punya anak. “Balas dendam” ke anak kita. Hha.

Jadi, sebenarnya apa yang diinginkan manusia-manusia ini? Masih kecil, ingin cepat dewasa. Sudah dewasa, ingin kembali ke masa kecil.

O my God. Yaa Allah, Yaa Rabb. Ampunilah dosa-dosa kami. Ampunilah kekurangsyukuran kami terhadap setiap pemberianMu. Ampuni kami yang terlalu sering berkeluh kesah, tapi setidaknya kami berkeluh kesah kepadaMu Yaa Allah. Berikanlah solusi dari setiap masalah yang kami hadapi. Ya Rabb, pengenggam langit dan bumi, hanya kepadaMu kami berserah diri.

Papua

Inilah enaknya jadi pegawai BPK RI, bisa “jalan-jalan” gratis (atau lebih tepatnya pakai uang rakyat-jadi harus hati-hati, jangan sampai benar-benar hanya jalan-jalan saja-). Dan lebih enak lagi, jika Anda ditempatkan di Unit Kerja ini, Inspektorat (auditor internal BPK, salah satu tupoksi nya mengawasi Perwakilan BPK RI). Ya, karena sangat memungkinkan untuk berkunjung ke setiap Provinsi (perwakilan BPK ada di setiap Provinsi), darisabangsampaimerauke. Dan asyiknya lagi, hanya di Ibu Kota Provinsi, tidak terlalu ke “dalam-dalam”. Dan Juni 2009, tugas luar paling awal (pertama, red) saya adalah menyambangi kantor perwakilan BPK RI paling timur: Jayapura, Papua.

Yang pertama kali saya notice saat menginjakkan kaki di tanah Papua adalah Airport yang lebih mirip terminal. Tapi tak apa, setidaknya kami tidak mendarat di hutan atau menabrak gunung, Alhamdulillah. Jayapura adalah kota yang eksotis. Jayapura adalah hutan yang berbukit-bukit. Itu intinya. Sepanjang jalan dari Bandara ke kota, kanan kiri jalan adalah bukit-bukit hijau, yang memang sesekali sudah ada yang botak, dikeruk pasirnya atau apa saya kurang paham juga. Terletak di tepi pantai, menambah keunikan kota ini. Belum lagi Danau Sentani nya yang indah (dan mungkin sebenarnya lebih luas dari Danau Toba –yang dikatakan terluas seIndonesia-, Allohu A`lam). Anda dapat menikmati keindahannya dengan singgah di warung tepi Danau sambil minum Es Kelapa Muda. Jadi, bagi Anda yang mengaku traveler sejati, wajib hukumnya singgah di tanah Papua ini.

Friday, March 5, 2010

Kejutan Kecil

Terkejut. Sedikit terkejut saya ketika membaca sebuah notes teman saya di facebook. Sebuah notes berjudul Jeritan Hati Sang Pegawai Negeri. Dia (teman saya penulis notes tersebut) sebenarnya hanya menyalinnya dari rubrik Tanya jawab di majalah Nikah. saya terkejut bukan hanya karena pertanyaan-pertanyaan di situ mewakili pertanyaan-pertanyaan saya selama ini. Tapi, tapi itu pertanyaan-pertanyaan yang saya kirim beberapa bulan yang lalu ke redaksi majalah nikah via email! Dan sekarang saya mendapatkan jawabannya bukan langsung dari redaksi majalah Nikah ke alamat email saya, atau dari majalah Nikah yang saya hanya beli kadang-kadang, tapi dari notes teman saya, yang bahkan saya tidak di-tagnya. SubhanAllah.

Saya hanya merasa lucu (sebenarnya kata ‘lucu’ juga kurang tepat) saja. Sebenarnya saya sudah tidak terlalu mengharapkan jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut. Satu, karena saya agak kecewa dengan majlah Nikah, karena saya kirim pertanyaan-pertanyaan tersebut sampai tiga kali dan minta agar dijawab via email saja seandainya terlalu banyak pertanyaan dari ikhwan/akhwat yang lain yang masuk ke redaksi sehingga mungkin tidak bisa dimuat di majalah. Atau seandainya dimuat pun, saya tetap meminta jawaban dikirim via email ke saya juga. Dua, karena saya sepertinya sudah mendapatkan jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut sebelumnya dari sumber yang lain. Qodarulloh, tiba-tiba saya mendapatkan artikel tersebut lewat cara yang tidak terduga. Memang kadang seperti itu jika Dia sudah berkehendak. Lucu, aneh, romantis, mengejutkan. Sekali lagi, saya merasa Allah memperhatikan saya. Alhamdulillah.

Wednesday, March 3, 2010

Pelajaran dari Sang Pencopet

(berdasarkan kisah nyata seorang teman)
awas copet!

Sesaat sebelum turun dari Bus kota jelek itu, dia tersadar, handphonenya telah raib, handphone yang baru dibelinya dua bulan lalu itu telah berpindahtangan. Kesal, tentu saja. Beberapa menit yang lalu ia benar-benar berhati-hati menjaganya, sesekali dipeganginya handphone di kantong kiri celana panjangnya itu untuk memastikannya masih berada pada tempat yang benar. Sebelumnya, dia sengaja memindahkan handphone tersebut dari kantong kemejanya. Dia kira justru di tempat itu akan lebih aman ketika berdesakdesakkan di dalam bus seperti ini. Dan kini, ia kecolongan. Hanya beberapa menit saja, atau bahkan mungkin tidak sampai satu menit sebelum ia sadar handponenya telah dicuri orang. Beberapa menit fokusnya terbagi untuk turun dari bus berhasil dimanfaatkan dengan baik oleh kawanan pencopet di bus itu untuk menjarah handphone miliknya.

Dia hanya bisa kesal dan pasrah, diam. Berpikir. Tadi ada orang yang mengarah-arahkan dia untuk turun, padahal bukan kenek bus. Kemungkinan besar dialah pencurinya. Lalu, sekarang. Saat ia sedang berpikir seperti itu, ada orang yang sangat sibuk mengajaknya berbicara. Menyuruh ia segera turun dari bus. Yang ini pasti teman si pencopet. Tapi dia benar-benar tak bisa apa-apa. Walaupun dia bukan sarjana hukum, dia tahu, tak bisa begitu saja menuduh orang, walaupun dia sangat yakin. Tidak ada bukti, Kawan. Tidak ada. Dan dia tidak hanya sekali dua kali membaca artikel tentang pencopetan. Tidak mudah menangkapnya kalau tidak tertangkap basah. Sekarang sudah terlampau kering. Handphone itu pun pasti sudah dioper-oper ke teman-temannya untuk menghilangkan jejak. Jika dia tunjuk orang ini, sedangkan tak ada handphone itu di tangannya, kemungkinan justru dia yang akan tambah celaka. Dia hanya bisa menggerutu dalam hati, menahan diri tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Wanita muda di depannya malah tersenyum. Entah dia juga komplotan, atau menertawai sikapnya yang tampak aneh saja.

Akhirnya dia putuskan untuk turun bus saja.