Sunday, March 7, 2010

Papua

Inilah enaknya jadi pegawai BPK RI, bisa “jalan-jalan” gratis (atau lebih tepatnya pakai uang rakyat-jadi harus hati-hati, jangan sampai benar-benar hanya jalan-jalan saja-). Dan lebih enak lagi, jika Anda ditempatkan di Unit Kerja ini, Inspektorat (auditor internal BPK, salah satu tupoksi nya mengawasi Perwakilan BPK RI). Ya, karena sangat memungkinkan untuk berkunjung ke setiap Provinsi (perwakilan BPK ada di setiap Provinsi), darisabangsampaimerauke. Dan asyiknya lagi, hanya di Ibu Kota Provinsi, tidak terlalu ke “dalam-dalam”. Dan Juni 2009, tugas luar paling awal (pertama, red) saya adalah menyambangi kantor perwakilan BPK RI paling timur: Jayapura, Papua.

Yang pertama kali saya notice saat menginjakkan kaki di tanah Papua adalah Airport yang lebih mirip terminal. Tapi tak apa, setidaknya kami tidak mendarat di hutan atau menabrak gunung, Alhamdulillah. Jayapura adalah kota yang eksotis. Jayapura adalah hutan yang berbukit-bukit. Itu intinya. Sepanjang jalan dari Bandara ke kota, kanan kiri jalan adalah bukit-bukit hijau, yang memang sesekali sudah ada yang botak, dikeruk pasirnya atau apa saya kurang paham juga. Terletak di tepi pantai, menambah keunikan kota ini. Belum lagi Danau Sentani nya yang indah (dan mungkin sebenarnya lebih luas dari Danau Toba –yang dikatakan terluas seIndonesia-, Allohu A`lam). Anda dapat menikmati keindahannya dengan singgah di warung tepi Danau sambil minum Es Kelapa Muda. Jadi, bagi Anda yang mengaku traveler sejati, wajib hukumnya singgah di tanah Papua ini.


Karena keindahan Papua adalah bukit-bukitnya yang menghijau, di tepi pantai pula. Rasanya ‘penempatan’ lokasi Kantor Perwakilan Papua di Jayapura ini. Di atas bukit, pemandangan di depannya adalah pantai, pantai boi.

O ya di Jayapura ada tulisan besar JAYAPURA di atas bukit, mirip dengan tulisan HOLLYWOOD di Hollywood. Dari situ, kita bisa melihat hampir seluruh Jayapura tampak atas.

Secara umum, penduduk di kota ini memang –maaf- berkulit gelap. Saya jadi kelihatan putih di sini, hhe. Walaupun tampang mereka mungkin terlihat –maaf lagi- menyeramkan, tapi hati mereka baik, lembut (kecuali yang tidak). O ya, mereka suka sekali mengunyah pinang, tidak tua tidak muda. Ya, para pemuda pemudi nya juga suka megunyah pinang. Jadi, kalau pemuda pemudi di Jakarta nge-drugs, pemuda pemudi di Papua cukup mengunyah pinang saja. Saya ingat, waktu kami pertama kali jalan di malam hari di kota itu cari makan, di sepanjang jalan terlihat banyak bercak-bercak merah seperti darah, seperti habis ada tawuran begitu. Dan ternyata itu adalah ludah dari para pengunyah pinang. Bahkan di Bandara, bukannya tanda dilarang merokok, yang ada adalah tanda dilarang mengunyah pinang.

Babi. Babi merupakan hewan yang terhormat di sini. Babi berkeliaran di jalan-jalan layaknya kambing atau bahkan ayam kalau di pulau Jawa. Parahnya, menabraknya lebih berbahaya daripada menabrak mannusia. Dendanya gila-gilaan. Ada yang bilang sampai puluhan juta, bahkan lebih. Aturan penduduk setempat, bukan Perda. Kata mereka, denda menabrak di sini dihitung berdasarkan jumlah –maaf- puting susunya. Lalu ketika saya bertanya, “Memangnya jumlahnya pada babi berbeda-beda ya?”, mereka hanya tertawa lebar. Di kantor kami, hampir setiap sore berkeliaran sejumlah babi, entah sedang bermain apa mereka, atau sekadar mengajak keluarganya jalan-jalan sore. Pernah ada yang hilang, dan penduduk yang memilikinya meng-klaimnya (meminta ganti) kepada kantor kami. Yah, daripada kantor kami dibakar atau sekadar malu didemo penduduk dengan membawa spanduk bertuliskan “KEMBALIKAN BABI KAMI!”, ya sudah diganti saja, tapi tidak banyak sepertinya, hanya beberapa juta setelah tawar-menawar.

Makanan khas. Salah satu yang paling populer adalah lem. Eh, maksud saya Papeda, mirip dengan lem, tapi makanan kok, aman insyaAllah. Tapi di Jayapura, saya belum sempat mencicipinya.

Satu lagi yang melegenda di sini adalah: Malaria! Ya, awal kedatangan kami di sini disuguhi dengan cerita-cerita mengerikan tentang wabah penyakit ini. Malaria Tertiana –yang menyerang perut- yang sampai membuat Anda hanya bisa merangkak. Atau Malaria Tropicana –yang menyerang otak- yang pada tingkat atau level tertentu bisa membuat Anda gila, bukan tergila-gila, gila beneran. Dan penyakit ini, sekali masuk ke tubuh Anda, tidak bisa keluar, paling keluarnya nanti bersamaaan dengan keluarnya jiwa dari raga. Hha. Iya, benar, yang bisa sembuh tidak benar-benar semnbuh, kumatan. Dan katanya, hampir semua orang di sini pernah terkena atau mengidap penyaklit legendaris itu. Tidak ada yang selamat. Sampai saya pernah mendengar salah seorang penduduk dengan lugunya berujar “kalau mau tinggal di sini, harus kena malaria dulu”. O ya, bahkan ada satu kota yang bernama Entrop. Tahukah Anda kepanjangannya? Endemik Tropicana! Benar-benar legendaris. Tapi tak perlu takut, asal banyak makan, katanya lagi. Agar stamina selalu terjaga, tubuh selalu fit. Jadi, penyakit tidak mudah masuk, termasuk Malaria. Jadi, jangan heran kalau sebulan di sana, berat badan Anda naik beberapa kilo.

***

Entah ada apa dengan Saya. Atau, entah ada apa dengan atasan-atasan saya. Dua kali mereka menugaskan saya ke Papua. Berturut-turut. Tugas kali pertama dan tugas kali kedua. Apa karena saya belum nikah? *ga. ga nyambung* Atau karena saya terlalu penurut? Ah, apapun alasannya. Yang jelas takdirnya seperti ini. Mungkin penjelajahan saya keliling nusantara memang harus urut dari ujung timur negeri ini.

Ya, ini untuk kali keduanya saya “terpaksa” atau “dipaksa” ke tanah Papua. Tempo hari waktu pulang dari Jayapura, pesawat yang hendak kami tumpangi mengalami kendala teknis, hingga harus ditunda sampai esok harinya. Kami terpaksa menginap satu malam lagi di Jayapura di hotel abal-abal sedikit menyeramkan. Dan kali ini, saya mengalaminya kembali. Kali ini kami harus menginap di Sorong. Ya, pesawat kami mengalami hard landing di Bandara Dominique Eduard Osok. Setelah itu, perjalanan mau tak mau harus dilanjutkan keesokan harinya. Ya, setidaknya saya jadi pernah menginap di tiga kota di Papua, Jayapura, Manokwari, dan Sorong. Tidak hanya itu, saya juga jadi pernah naik pesawat kecil (hanya berkapasitas 32 penumpang, kalau saya tidak salah ingat) karena perjalanan lanjutan pagi itu menggunakan pesawat Dornier, bukan Boeing yang kemarin.

Karena sudah mampir ke Sorong, tidak ada salahnya kalau saya cerita sedikt tentang kota ini. Ternyata kota markas PT Freeport ini sebenarnya lebih ramai dan lebih maju daripada Manokwari, ibu kota Papua Barat. Bahkan, dulu ada wacana Kota Sorong lah yang akan dijadikan Ibu Kota Papua Barat sebelum akhirnya Manokwari ditetapkan sebagai Ibu Kota, katanya karena sejarah. Kota Sorong lebih banyak dihuni para pendatang, lebih dari 50%, mayoritas. Jadi seperti tidak sedang di Papua. Mungkin itu juga yang menyebabkan kota ini lebih maju dari Manokwari. Tidak banyak yang saya ketahui tentang kota ini. Mungkin hanya itu, selebihnya adalah tidur semalaman.

Manokwari, akhirnya kami sampai di sini. Jangan Tanya bandaranya, saya pernah transit di sini ketika pergi ke Jayapura kemarin. Yah, masih begitu-begitu saja. Beda bandara di sini dengan bandara di Jayapura adalah bandara di sini sangat dekat dengan kantor kami. Paling-paling sepuluh sampai lima belas menit. Dari kantor kami bahkan terlihat pesawat-pesawat yang sedang take-off dan landing. Jadi, ketika sedang ada tamu dating seperti ini, mereka tak perlu menunggu di Bandara, perhatikan saja sampai ada pesawat yang lewat di depan kantor, baru berangkat menjemput. Begitu.

Manokwari, tak kalah dengan Jayapura. Tak kalah panasnya. Tapi kalau soal kemajuan, sepertinya sedikit lebih maju Jayapura, walaupun sama-sama belum ada bioskop. Kota ini sedang berkembang. Yang pertama kali saya notice ternyata adalah Manokwari basis partai Golkar. Eh, bukan. Ternyata para pengendara sepeda motor yang memakai helm kuning itu adalah para tukang ojek. Ya, di sini tukang ojek sangat banyak, dan berseragam (helm-nya), ada nomornya pula. Jadi, sangat bisa dibedakan antara tukang ojek, bukan tukang ojek, dengan tukang bakso.

Cerita-cerita di sini tidak jauh berbeda dengan cerita-cerita di Jayapura, masih sekitar Malaria yang melegenda itu, juga kanibalisme! Ya, di seberang utara kota Manokwari terdapat sebuah pulau yang di situ katanya pertama kali Injil mendarat di Papua. Di pulau itu, masih ada kanibalisme katanya. Tapi, itu tahun 70-an, sekarang (mungkin) sudah tidak ada. Oleh-oleh di sini juga tidak berbeda dengan oleh-oleh dari Jayapura, paling-paling Buah Merah, Sarang Semut, Batik Papua (yang paling-paling juga dibuat di Jawa, motifnya saja yang Papua), dan Koteka. Anda dapat memerolehnya dengan mudah di Pasar Tradisional. Dan di sini, juga banyak babi, bukan bayi, tapi babi. Ya, seperti di Jayapura, babi layaknya kambing saja, berkeliaran sembarangan di jalan-jalan.

Kantor kami di Manokwari, hampir mirip dengan kantor di Jayapura. Juga terletak di atas bukit, pemandangan di depannya juga laut, dan landasan bandara. Ya, sama seperti Jayapura, Manokwari juga berbukit-bukit, juga terrletak di tepi pantai. Agak jauh ke dalam, terdapat beberapa buah SP (Satuan Pemukiman), tempat tinggal penduduk pendatang (transmigran) dari pulau Jawa.
O ya, kami di sana saat bulan puasa. Jadi, tidak terlalu banyak makan. Tapi malah sempat mencicipi lem, eh papeda yang belum sempat saya cicipi di Jayapura tempo hari. Ternyata tidak selengket lem juga. Manokwari juga terkenal dengan durennya yang “mantap”, kalau di barat duren Medan, di Timur, duren Manokwari, katanya, karena saya juga bukan “pecandu” duren

O ya, lagi, sepertinya kota ini juga memiliki masalah yang banyak ditemui di kota-kota lain di Indonesia Timur. Sering mati lampu. Kurang pasokan listrik. Dalam sehari, rata-rata hampir lima kali mati lampu, sudah seperti shalat fardhu saja.
Ya, mungkin itu saja sekelumit cerita dari tanah Papua. Bagi Anda yang ingin ke sana, disarankan (oleh Dokter) minum obat Malaria. Tapi, disarankan juga untuk tidak minum obat Malaria itu, karena lebih banyak bikin budek daripada bikin kebal Malaria. Disarankan makan yang banyak saja, kalau begitu.

1 comment:

  1. mantap jaya...helm kuning tukang ojek bernomor di manokwari kayak di ui depok

    ReplyDelete