Wednesday, March 3, 2010

Pelajaran dari Sang Pencopet

(berdasarkan kisah nyata seorang teman)
awas copet!

Sesaat sebelum turun dari Bus kota jelek itu, dia tersadar, handphonenya telah raib, handphone yang baru dibelinya dua bulan lalu itu telah berpindahtangan. Kesal, tentu saja. Beberapa menit yang lalu ia benar-benar berhati-hati menjaganya, sesekali dipeganginya handphone di kantong kiri celana panjangnya itu untuk memastikannya masih berada pada tempat yang benar. Sebelumnya, dia sengaja memindahkan handphone tersebut dari kantong kemejanya. Dia kira justru di tempat itu akan lebih aman ketika berdesakdesakkan di dalam bus seperti ini. Dan kini, ia kecolongan. Hanya beberapa menit saja, atau bahkan mungkin tidak sampai satu menit sebelum ia sadar handponenya telah dicuri orang. Beberapa menit fokusnya terbagi untuk turun dari bus berhasil dimanfaatkan dengan baik oleh kawanan pencopet di bus itu untuk menjarah handphone miliknya.

Dia hanya bisa kesal dan pasrah, diam. Berpikir. Tadi ada orang yang mengarah-arahkan dia untuk turun, padahal bukan kenek bus. Kemungkinan besar dialah pencurinya. Lalu, sekarang. Saat ia sedang berpikir seperti itu, ada orang yang sangat sibuk mengajaknya berbicara. Menyuruh ia segera turun dari bus. Yang ini pasti teman si pencopet. Tapi dia benar-benar tak bisa apa-apa. Walaupun dia bukan sarjana hukum, dia tahu, tak bisa begitu saja menuduh orang, walaupun dia sangat yakin. Tidak ada bukti, Kawan. Tidak ada. Dan dia tidak hanya sekali dua kali membaca artikel tentang pencopetan. Tidak mudah menangkapnya kalau tidak tertangkap basah. Sekarang sudah terlampau kering. Handphone itu pun pasti sudah dioper-oper ke teman-temannya untuk menghilangkan jejak. Jika dia tunjuk orang ini, sedangkan tak ada handphone itu di tangannya, kemungkinan justru dia yang akan tambah celaka. Dia hanya bisa menggerutu dalam hati, menahan diri tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Wanita muda di depannya malah tersenyum. Entah dia juga komplotan, atau menertawai sikapnya yang tampak aneh saja.

Akhirnya dia putuskan untuk turun bus saja.


Tentu dia masih sangat kesal. Beberapa kali dia lafazkan kalimat istighfar untuk menenangkan hatinya. Kemudian dia ingat akan ayat tentang apa yang harusnya diperbuat seorang mukmin ketika menghadapi musibah. Inna lillahi wa inna `ilaihi roji`un. Sesungguhnya semuanya milik Allah dan akan kembali kepadanya. Kalimat yang ia resapi maknanya dalam-dalam seketika membuat hatinya bagai tersiram air dingin di tengah teriknya Jakarta siang itu. Di saat hatinya panas oleh ulah beberapa tukang copet. Lagi, dia juga teringat oleh perkataan seorang ulama. Seorang mukmin sejati tidak akan mampu disedihkan atau digembirakan oleh dunia. Kehilangan sebagian dari dunia ini tidaklah mampu membuat ia sedih, begitu pula mendapatkan sesuatu dari dunia ini, tidaklah membuat ia bahagia. Yang ia inginkan hanya akherat, yang dapat menggembirakannya adalah surga. Semakin tenang lah dia.

Sekarang dia sudah sedikit tenang. Dia kembali bisa berfikir dengan kepala dingin. Dan tahukah, Kawan. Apa yang dia lakukan kemudian? Dia pergi ke salah satu counter operator langganannya, segera diurusnya kartu SIM nya yang hilang bersama handphonenya tersebut. Setelah itu, dia pergi ke sebuah Toko Handphone, dia beli handphone dengan sisa-sisa uangnya di kartu ATM nya, handphone sakadarnya. Lebih jelek dari handphone nya yang hilang tentu saja. Tahukah kau, untuk apa dia melakukan semua itu? Dia hanya tidak ingin keluarganya di kampung sana tahu kalau dia kecopetan barusan, terutama ibunya. Dia tidak ingin ibunya merasakan kesedihan yang dia rasakan beberapa waktu yang lalu. SubhanAlloh.

Di dalam perjalanannya, dia masih sempat memikirkan kawanan pencopet itu. Mungkin pencopet-pencopet itu orang susah. Tapi tidakkah mereka berpikir. Bagaimana jika korban mereka juga orang susah? Atau bagaimana keluarga mereka setiap hari diberi makan dari uang haram? Naudzubillah. Sekarang dia mendoakan agar para penjahat itu segera bertaubat. Berniat jadi pekerja sosial untuk menebus dosa-dosa mereka kepada masyarakat, mungkin. Padahal tadi sempat dia berkata dalam hati, celakalah tangan-tangan itu, di dunia mereka mungkin bisa lolos, tapi semoga Allah memotong tangan-tangan mereka di akherat.

Dipikirkannya juga, dia terdzolimi hari ini. Padahal setahunya, tak pernah dia mendzolimi orang. Berhenti di kalimat ini. Dia mencoba mengoreksi. Bertanya dalam hati, benarkah dia tidak pernah mendzolimi orang? Kalaupun secara sengaja dia tidak pernah mendzolimi orang –ini pun dia masih sangat meragukannya-, bagaimana dengan ketidaksengajaannya? Tahukah lagi, Kawan?? Keesokan harinya, dia meminta maaf kepada teman-temannya tanpa sebab yang jelas seperti orang yang sepertinya tahu besok mau mati saja.

Catatan saya:

Berbahagialah orang-orang yang pandai-pandai mengambil pelajaran dari setiap kejadian.
Pelajaran yang dapat kita ambil di antaranya adalah, waspadalah ketika Anda naik kendaraan umum atau di pasar, atau di tempat-tempat keramaian lainnya. Amankan seaman-amannya barang-barang berharga Anda, terutama dompet dan handphone. Kedua barang tersebut adalah barang-barang favorit para pencopet, kecil tapi material. Kalau saya, biasanya pakai jaket yang memiliki kantong di bagian dalam, lalu meletakkan barang-barang tersebut di situ. Selain itu, jangan kehilangan fokus saat naik dan turun dari kendaraan umum, karena biasanya pencopet memanfaatkan momen tersebut untuk menjalankan aksi busuknya. Ingat juga, bahwa kebanyakan pencopet melakukan kejahatannya secara kelompok, tidak sendirian. Hati-hati terhadap perkataan atau tindakan-tindakan tidak wajar dari orang yang tidak terkenal, orang yang tidak dikenal maksud saya.

Pelajaran penting berikutnya, jika memang akhirnya Anda kecopetan. Ingatlah cerita ini. SubhanAlloh. Bahwa, dunia itu bukan apa-apa. Bahwa semua ini milik Allah, terserah Dia bagaimana cara mengambilnya kembali. Ambillah pelajaran yang dapat diambil. Demi Allah, saya benar-benar menyangka, pencuri-pencuri itulah yang merugi, sedangkan teman saya sangat beruntung dari terjadinya kejadian ini. Allah Maha Adil.

No comments:

Post a Comment