Skip to main content

Posts

Showing posts with the label jakarta

loooong weekend: stan

melanjutkan yang kemarin___ Sabtu. Kami berkunjung ke kampus STAN, kampus tempat saya menuntut 'ilmu dunia', dulu. Ada setidaknya tiga alasan saya mengajak anak istri ke sini. Pertama, kebetulan (qodarullah, red) pas ada kajian di sana; Zakat Maal & Kontroversi Zakat Profesi oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, seorang doktor fakultas syari'ah jebolan Universitas Islam Al Imam Muhammad bin Sa'ud, Madinah. Kali ini, saya ke kampus untuk menuntut 'ilmu akhirat'. O ya, baru kali pertama ini --setahu saya--, kajian seperti ini diadakan di gedung kampus. Dulu di zaman saya, paling banter diadakan di masjid sekitar kampus. Kajian direncanakan dimulai pukul 08.00, tetapi perkiraan saya pukul 08.30 s.d. 09.00 paling baru benar-benar dimulai. Untuk mengejar acara itu --plus kami berencana mampir dulu ke rumah mantan ibu kos, maka kami 'terpaksa' membayar mahal taksi untuk merngantar kami ke sana. Etapi tak apa, tak ada kata mahal untuk keluarga. Alasa...

loooong weekend: ragunan

Kamis-Jumat-Sabtu-Ahad, empat hari kemarin sangat cukup untuk berlibur bersama anak istri tercinta. Kamis kami jalan-jalan ke Kebun Binatang Ragunan, Jumat istirahat, Sabtu berkunjung ke Kampus STAN, sekaligus menghadiri kajian dan ziarah --bukan silaturahim, apalagi silaturahmi-- ke rumah eks ibu kos, Ahad memulihkan diri untuk bekerja hari ini. Kamis. Pukul tujuh lebih sedikit, kami bertolak dari kontrakan. Naik Transjakarta --bukan busway-- dari Halte Sunan Giri, ganti bus di Halte Dukuh Atas, kami sampai di Halte Ragunan --tepat di depan pintu barat kebun binatang-- pukul delapan lebih agak banyak. Tanpa pikir panjang, kami segera ke loket, membeli tiket, lalu masuk ke kebun lokasi --setelah sempat membeli tikar semipermanen lima ribu perak. Ragunan memang tempat yang sangat nyaman untuk liburan bersama keluarga. Di sana, kita tidak hanya bisa melihat langsung aneka ragam satwa, tetapi juga bisa bersantai-santai di taman --atau bahkan di tepi danau, naik rakit kelili...

cerita biasa

Tinggalkan Jayapura dan Surakarta (Solo, red), sekarang saya sudah kembali ke Jakarta, kota tersibuk se-Indonesia Raya; tentu saja kembali bersama keluarga tercinta. Setelah dua pekan me-reviu Konsep LK di BPK Perwakilan Provinsi Papua dan satu pekan 'membayar hutang rindu' kepada keluarga di Surakarta, tiga hari kerja pertama di Jakarta dilalui dengan melanjutkan reviu tempo hari dengan Rapat Koordinasi Teknis. Satu malam di antaranya sampai pukul 23.15 WIB. Hari ke-empat, barulah ngantor seperti biasa. Kalaupun ada yang berbeda, itu adalah sekarang saya berangkat ke kantor dengan bersepeda motor. Lumayan menghemat waktu, hanya perlu 30 menit-an perjalanan rumah-kantor naik sepeda motor. Bandingkan dengan waktu rumah-kantor menggunakan angkutan umum yang mencapai 45 s.d. 60 menit-an, bahkan terkadang lebih. Setidaknya waktu bersama keluarga bisa dihemat beberapa menit setiap harinya. 15 menit x 2 pp (pulang pergi) x 20 hari kerja = 10 jam; minimal waktu yang dapat d...

balapan mikrolet

Beginilah kondisi persaingan angkutan umum di Ibu Kota. Hanya beberapa meter di belakang dan di depan satu angkutan, sudah ada angkutan lain dengan nomor seri dan trayek yang sama persis. Mereka saling bersaing memperebutkan penumpang, tak jarang sampai kebut-kebutan laiknya balapan F1. balapan mikrolet; gambar diambil saat perjalanan pulang dari kantor

I'm not smarter than a kenek metromini

Sore itu, hari kedua puasa. Seturun dari mobil tumpangan rekan kerja di perempatan Utan Kayu, saya melanjutkan perjalanan pulang naik Metromini ke arah Rawamangun. Si kenek menyodorkan tangan kanannya tanda meminta ongkos. Saya pun memberikan selembar uang Rp5.000-an. Si kenek mencari-cari kembalian, Rp3.000. Namun, di genggamannya hanya banyak lembaran uang Rp2.000-an, tak ada satu pun Rp1.000-an. "Ada uang pas aja, Mas?", tanyanya sambil mengembalikan uang lima ribu yang sudah saya berikan tadi. "Nggak ada i.", jawab saya sembari memperlihatkan isi dompet yang hanya ada dua lembar Rp10.000-an. *miskin ya? "....", si kenek mengatakan sesuatu yang tidak terlalu terdengar jelas oleh telinga saya. "Apa???", saya memasang telinga baik-baik. "Sepuluh ribuannya aja.", ulang si kenek. "Oo..", saya baru tersadar dari ke- telmi -an. Kemudian saya memberikan Rp10.000-an, dan si kenek memberi kembalian empat lembar Rp2.000-an. ...