Thursday, April 28, 2011

hasil panoramic

si gigi bungsu; sepertinya memang harus dicabut

Wednesday, April 27, 2011

kisah si gigi bungsu

Ternyata tak hanya anak bungsu yang terkadang bandel, gigi bungsu pun terkadang seperti itu.

Cerita berawal sekitar satu setengah tahun yang lalu. Ketika itu, -kalau tidak salah ingat- bagian 'kanan belakang' gigi saya sakit, ngilu. Beberapa hari berlalu, saya biarkan saja begitu. Sampai pada saat saya hampir tidak tahan, saya putuskan untuk pertama kali pergi ke dokter gigi. Kebetulan (Qodarullah, red), di kantor saya ada poliklinik gigi, fasilitas cuma-cuma dari instansi.

Pergilah saya ke poliklinik gigi. Setelah gigi saya diperiksa -atau lebih tepatnya cuma dilihatlihat sebentar-, si dokter gigi menyarankan untuk mencabut gigi paling belakang, yang tumbuh tidak wajar, menyilang. Selain itu, tidak lupa resep ponstan -mefenamic acid atau asam mefenamat. Dasar saya, ponstan hanya beberapa kali ditelan, rekomendasi cabut gigi pun tak dihiraukan, lantaran sakit itu sudah hilang. Padahal si dokter juga sudah bilang, -kurang lebih- "mungkin nanti setelah minum obat sakitnya untuk sementara hilang, tapi nanti, sekitar setahunan bakalan sakit lagi kalau gigi itu tidak dicabut" -waktu itu poliklinik gigi di kantor belum dapat menfasilitasi pencabutan gigi.

Hari berganti, malam berlalu *hwalah. Sekitar beberapa bulan -atau mungikn hampir setahun setelah itu, giliran bagian 'kiri belakang' gigi saya sakit, ngilu. Beberapa hari berlalu, saya biarkan saja begitu. Sampai pada saat saya hampir tidak tahan, saya putuskan untuk kali kedua pergi ke dokter gigi. *maap, emang copy paste paragraf atas, hhe* Sebenarnya agak kurang enak juga, karena rekomendasi cabut gigi tempo hari belum pula ditindaklanjuti. Tapi pikir saya, ciri khas pemikiran lugu, "ini kan yang kiri, dulu kan yang kanan, beda dong." *hhe.

Kembali, pergilah saya ke poliklinik gigi. Setelah gigi saya dilihat-lihat sebentar, si dokter gigi lagi-lagi merekomendasikan untuk mencabut gigi paling belakang kiri ini, yang juga tumbuh tidak wajar, menyilang. Ditambah yang kemarin, berarti -setahu saya waktu itu- sudah ada dua gigi yang divonis 'mati'. Ponstan pun kembali diresepkan. Dasar saya -yang tidak suka obat-obatan farmasi-, ponstan hanya diminum beberapa kali, setelah ngilu hilang, tidak lagi. Rekomendasi cabut gigi pun tak jua ditindaklanjuti -waktu itu poliklinik gigi di kantor belum ada juga fasilitas pencabutan gigi.

Hari berganti, malam berlalu *silakan bosan, hhe*. Kali ini giliran setiap kali meludah, -terkadang- keluar darah bercampur air ludah. Waktu itu, saya tidak berfikir bahwa gigi yang bermasalah. Maka, saya pergi ke dokter umum, juga di poliklinik kantor.

Sang dokter mungkin salah diagnosa. Katanya, ada semacam sariawan di kerongkongan. Saya hanya diberi vitamin C dan diminta banyak minum air putih.

Setelah itu, waktu itu, saya ditugaskan ke Manado, hampir sebulan. Di 'perantauan', masalah ludah bercampur darah masih berlanjut. Saya pergi ke poliklinik kantor perwakilan. Waktu itu dokter jaga tidak ada, hanya ada perawat saja. Sama, saya hanya diberi vitamin C. Sambil saya diminta untuk ke dokter di kantor pusat setelah kembali ke Jakarta nanti.

Sesampainya di Jakarta, kembali saya pergi ke dokter. Kali ini, dokter meminta untuk mengecek darah, untuk melihat kalau-kalau ada masalah 'di dalam' -organ dalam, mungkin maksudnya-, kronis maupun akut. Dari hasil cek darah, tidak ditemukan adanya kelainan. Baru, dokter menyarankan untuk merujuk, pergi -lagilagi- ke dokter gigi.

Siang itu, dari dokter umum, langsung saya ke dokter gigi. Kebetulan (Qodarullah, red), hari itu ada jadwal dokter spesialis gigi. Ya, kali ini, sudah ada dokter spesialis gigi, bukan dokter gigi biasa yang hanya lihat-lihat saja. Tidak banyak bicara, sang dokter -bersama dua asistennya- langsung membersihkan gigi saya -membersihkan karang gigi. Agak kaget, sesekali saya meronta. Dokter sesekali juga 'meminta maaf'. Darah bersimbah, keluar bersama kkotoran-kotoran gigi dan karang-karang yang terkelupas. Ternyata penyebab darah bercampur ludah selama ini adalah penumpukan karang gigi, yang melukai gusi. Selain itu, lagi-lagi -seolah mengorek luka lama- dokter menyarankan untuk cabut gigi bungsu, gigi nomer delapan yang mengganggu kawan-kawan_nya. Bukan dua, tetapi empat. Kanan kiri atas bawah. "Tinggal bikin janji, siapnya kapan.", begitu kata dokter.

Sampai di sini, niatan mencabut gigi mulai muncul. Apalagi, dengan adanya dokter spesialis gigi, sekarang sudah bisa cabut gigi di kantor. Tetapi karena masih disibukkan dengan 'tugas', saya berencana menindaklanjutinya setelah tugas selesai, sekitar satu bulan.

Belum ada satu bulan, darah kembali muncul kadang-kadang saat meludah. Selain itu, gigi-gigi di depan si gigi bungsu sering terasa ngilu. Bukan itu saja, susunannya juga sepertinya mulai tampak beda, seperti ada beberapa gigi yang posisinya berubah, seperti rebah. Sepertinya, kakak-kakak si gigi bungsu sudah mulai benar-benar terganggu. Darah yang muncul juga seringkali agak banyak. Seperti yang lalu, saya kembali ke dokter gigi.

Seperti yang lalu pula, karang gigi yang masih ada dibersihkan kembali. Lalu, setelah itu benar-benar dibuat janji untuk mencabut gigi. Pekan depan, pekan depan katanya, gigi saya akan dioperasi -kalau sudah siap. Operasi, satu kata yang terdengar ngeri. Hal pertama yang harus dilakukan, panoramic, semacam rontgent khusus gigi untuk mengetahui peta gigi beserta akar-akarnya.

Sekarang, si gigi bungsu tengah menunggu eksekusi. Saya pun mencoba menegarkan -dan mempersiapkan- diri. Semoga segala urusan dimudahkan. Amin.

gigi bungsu yang tumbuh menyilang -ilustrasi-

Wednesday, April 20, 2011

luruskan shaf

Setidaknya ada dua hal yang hampir selalu saya notice di kebanyakan masjid dari para jamaahnya; rapat dan lurusnya shaf (barisan sholat) dan sutrah (pembatas). Betapa kaum muslimin kurang perhatian kepada, minim pengetahuan, atau bahkan sama sekali mengabaikan/meremehkan -setidaknya- dua masalah seputar shalat di masjid ini.

rapat dan lurus
 
Rapat dan lurusnya shaf; saya kira -atau mungkin karena kebodohan dan keterbatasan pengetahuan saya- tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hal ini, tentang pentingnya merapatkan dan meluruskan shaf. Tetapi, entah apa yang terjadi sampai kebanyakan kaum muslimin meremehkannya. Hampir di setiap masjid, ada saja shaf yang tidak rapat, tidak lurus, atau tidak rapat dan tidak lurus sekaligus.

Sepengetahuan saya, ada beberapa sebab shaf yang tidak rapat dan/atau tidak lurus ini. Pertama, karena sang imam yang mempunyai kewajiban -atau setidaknya memperingatkan- merapatkan dan meluruskan shaf jamaahnya, hanya menjadikannya formalitas atau bahkan sama sekali tidak melakukannya. Kedua, jamaah yang memang susah diatur dan masa bodoh dengan urusan ini. Padahal, anak SD pun akan sangat paham ketika sang imam mengatakan "rapat dan luruskan shaf". Sebuah kalimat sederhana yang sangat mudah dimengerti dan ironinya sangat mudah diabaikan pula. Ketiga, dasar dari sebab pertama dan kedua, karena sang imam ataupun para jamaah, belum memahami betapa pentingnya meluruskan dan merapatkan shaf.
“Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak), maka sungguh Allah akan memalingkan antar wajah-wajah kalian (menjadikan wajah-wajah kalian berselisih).” [HR. Al-Bukhariy no.717 dan Muslim 436]
Baca lebih lengkap  di sini dan di sini tentang shaf.

Sutrah; yang satu ini mungkin masih asing di telinga para jamaah di Indonesia. Secara logika, hal ini sama mudahnya dicerna dengan rapat dan lurusnya shaf. Bayangkan ketika Anda sholat, orang lalu lalang persis di depan Anda; bohong jika Anda berkata hal itu tidak mengganggu Anda. Maka, di sini diperlukan pembatas antara wilayah tempat sholat Anda dengan tempat berjalannya orang yang sekaligus menghalangi Anda dari pandangan yang mengganggu sholat Anda. Pembatas tersebut dalam istilah syar'i dinamakan sutrah.

Sutrah adalah sesuatu yang dijadikan sebagai penghalang, apa pun bentuk/jenisnya. Sutrah orang yang shalat adalah apa yang ditancapkan dan dipancangkan di hadapannya berupa tongkat atau yang lainnya ketika hendak mendirikan shalat atau sesuatu yang sudah tegak dengan sendirinya yang sudah ada di hadapannya, seperti dinding atau tiang, guna mencegah orang yang hendak berlalu-lalang di depannya saat ia sedang shalat. Sutrah harus ada di hadapan orang yang sedang shalat karena dengan shalatnya berarti ia sedang bermunajat kepada Allahl. Sehingga, bila ada sesuatu yang lewat di hadapannya akan memutus munajat tersebut serta mengganggu hubungan ia dengan Allah l dalam shalatnya. Oleh sebab itu, siapa yang sengaja lewat di depan orang shalat, ia telah melakukan dosa yang besar. [Al-Mausu’atul Fiqhiyah, 24/178, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, 2/939, Taudhihul Ahkam, 2/58]

Kebanyakan terjadi pada saat jama'ah melaksanakan sholat sunnah; orang-orang seenaknya mengambil tempat untuk sholat sunnah; bahkan tak jarang tepat di tengah-tengah masjid, tempat orang berlalu lalang. MasyaAlllah. Secara logika juga sulit diterima, 'maksud' mereka. Hal ini, menyebabkan -setidaknya- dua hal. Pertama, terganggunya sholat mereka karena orang yang berlalu lalang. Kedua, terganggunya orang -yang mengerti tentang ini- yang hendak sekadar lewat.

Secara umum -dalam pandangan saya-, sebab 'ditinggalkannya' syariat sutrah ini ada dua. Pertama, tidak tahunya mereka tentang syariat sutrah ini. Kedua, kurang dipakainya logika mereka. Karena sekalipun mereka belum mengetahui tentang sutrah, sudah sepatutnya mereka berpikir untuk mencari -atau mengkondisikan- tempat sholat yang representatif untuk kekhusyu'an sholat mereka, yang salah satunya menghindari pemandangan yang mengganggu di depannya.
"Janganlah kamu shalat kecuali menghadap sutrah (batas tempat sholat) dan jangan biarkan seorang pun lewat di depanmu, jika ia enggan maka perangilah karena bersamanya ada qarin (teman)." [HR. Muslim dalam As-Shahih no. 260, Ibnu Khuzaimah dalam As-Shahih 800, Al- Hakim dalam Al-Mustadrak 1/251 dan Baihaqi dalam As-Sunan Al- Kubra 2/268]

Baca lebih lengkap di sini dan di sini tentang sutrah.

Setidaknya dua itu dulu saja tentang -keadaan di- masjid kita. Semoga bermanfaat.

NB: Sholat berjama'ah di masjid bagi laki-laki: WAJIB!

Monday, April 18, 2011

senin

Hari Senin, bagi sebagian besar orang mungkin merupakan hari yang menyebalkan, terutama bagi pekerja dan pelajar. Setelah dua hari -atau mungin hanya satu hari-, sabtu dan minggu -atau hanya minggu saja-, 'menikmati indahnya dunia', 'menghirup udara segar', kita harus kembali bergelut dengan monitor komputer, tumpukan kertas, buku-buku tebal, dan seabrek hal yang tidak -atau kurang begitu- kita sukai.

Wallahi, saya tidak hendak mencela hari. Karena kita sebagai seorang muslim, tidak diperbolehkan melakukannya. Pelajaran sebenarnya yang dapat diambil yang mungkin tersembunyi bagi kebanyakan orang adalah: hal itu menunjukkan bahwa kita tidak mencintai pekerjaan kita! -atau apa pun itu yang dimulai hari Senin. Right? Jadi, sama sekali bukan hari Senin yang salah, camkan itu! *saya jadi ingat postingan saya di masa-masa awal di blog ini: love what you do, do what you love.*

Logika sederhananya, apa yang terjadi adalah kebalikan dari apa yang saya alami saat ini. Kamis ini, insyaAllah saya pulang ke Solo, sekadar untuk bersua dengan keluarga tercinta saya di kampung halaman sana. Ingin rasanya besok sudah hari Kamis, tapi tidak seperti itu. Dan masalahnya bukan pada hari Kamis, tapi apa yang akan ada -setidaknya dalam benak dan angan-angan kita- di hari Kamis itu, biidznillah.

Kebalikannya, di hari Senin, semua orang mengatakan "I Hate Monday" dan seolah tidak ingin besok -atau hari ini- hari Senin. Sebenarnya, sadar atau tidak sadar, mereka ingin mengatakan "I Hate My Job", "I Hate Study", dan yang lainnya. Agaknya, sebagian besar Anda -dan terus terang saya sendiri- belum bisa mempraktikkan love what you do, do what you love dengan benar.

Lalu, apa yang salah? Ketika kita tidak menyukai sesuatu, ada dua kemungkinan. Pertama, kita yang tidak bijak sampai-sampai menganggap sesuatu yang baik seperti keburukan yang harus dibenci -dan tidak disukai-. Kedua, sesuatu itu memang buruk -dan tidak pantas kita sukai-. Kemungkinan mana yang sesuai? Tugas Anda mencari tahu -dengan bijak dan jujur-, karena anda lebih tahu tentang Anda sendiri daripada saya -dan tergantung kasus masing-masing.

Solusinya, jika kemungkinan pertama yang sebenarnya terjadi, yang harus Anda lakukan adalah mengubah diri -atau cara pandang atau pola pikir atau apa- Anda sendiri untuk menyukai sesuatu itu. Butuh tekad yang kuat. Jika kemungkinan kedua yang terjadi, yang harus Anda lakukan adalah mengubah -atau mengganti- sesuatu itu. Pun, butuh tekad yang kuat.

So, berhentilah berkata, "I Hate Monday". Karena kata-kata itu -setidaknya di telinga saya- terdengar sesat dan menyesatkan.

senin

Friday, April 15, 2011

jumat

Siapa tak suka hari Jumat tunjuk tangan? Rasa-rasanya tak ada yang tak suka hari Jumat. Kenapa? Karena besok dan besoknya lagi hari libur! Salah satunya.. Saya sendiri, tentu sangat menyukai hari Jumat. Selain karena besok libur, bagi seorang muslim hari Jumat sangat lah istimewa. Ada yang belum tahu keistimewaan hari Jumat dalam Islam? Klik di sini ya.

Hari Jumat di kantor saya juga terlihat berbeda dengan hari-hari yang lain. Pertama, setiba di kantor, di depan gerbang samping, terlihat begitu banyak pedagang yang berjualan bermacam-macam barang. Pager mall, pegawai-pegawai di sini menyebutnya. Semacam pasar kaget di pusat kota yang hanya ada hari minggu, meski tak seramai itu. Ada penjual pakaian anak-anak, pakaian dewasa *bukan majalah dewasa ya*, pakaian olahraga, jam tangan, ikat pinggang, alat-alat sulap, alat-alat pijat, obat-obatan herbal, perabotan sepuluh ribu tiga, koran, lontong sayur, bubur kacang ijo, bubur ayam, sampai gorengan -yang sangat renyah sampai seperti plastik digoreng*jadi curiga*-

"Kelainan" yang kedua, agak berjalan sedikit ke dalam kantor, akan terlihat pemandangan -tidak syar'i- ibu-ibu senam. Bapak-bapak juga ada, anak muda juga ada, walau tak sebanyak ibu-ibu. Semua berkumpul, bercampur baur, senam pagi full musik. Saya tak pernah ikut. *lihat juga tidak!*

"Kelainan" berikutnya, masih berhubungan dengan senam pagi. Hari Jumat di kantor kami memang diprogramkan sebagai hari olahraga. Maka, jangan heran kalau sebagian pegawai berada di tempat kerja mereka masing-masing lebih agak siang dari biasanya. Ada yang bermain ping-pong di depan salah satu gedung kantor, ada pula yang bermain futsal di luar. Saya suka futsal, tetapi sayang, unit kerja saya tak kebagian jadwal di studio futsal paling dekat kantor ini. Jadi, saya tak pernah olahraga di kantor pada hari Jumat seperti yang diprogramkan. Semoga tetap sehat. Amin.

"Kelainan" yang lain, ada ibu-ibu dari Dharma Wanita *sekarang sudah ganti orang catering* bagi-bagi snack gratis di depan salah satu gedung kantor. Terkadang ada bubur kacasng ijo, telur rebus, ketela rebus, lumpia, combro, atau makanan ringan lainnya. Terrkadang saya ambil, terkadang tidak.

Siang harinya, tentu saja ada sholat Jumat berjamaah di masjid kantor. Dua lantai masjid biasanya penuh, bahkan jamaah sampai ke pelataran-pelataran masjid karena di dalam tak cukup muat.

Sore harinya, kalau biasanya para pegawai pulang dengan wajah lesu setelah seharian bekerja keras, memeras keringat, membanting tulang, memutar otak *lebbay*, pada hari Jumat, wajah-wajah itu terlihat lebih ceria dari biasanya. Tentu saja karena besok hari sabtu, kemudian minggu! *horee* Bahkan ada yang menyempatkan pulang kampung di hampir setiap akhir pekan untuk sekadar bersua dengan keluarga tercinta mereka.

jumat

Thursday, April 14, 2011

mempersiapkan nama anak

menanti sang buah hati
Alhamdulillah, memasuki bulan ke delapan kehamilan istri, insyaAlllah bulan depan saya akan menjadi seorang ayah. SubhanAllah, rasanya mungkin tak akan kalah menakjubkan dengan saat-saat pertama berumah tangga. Tak sabar rasanya hati ini menantikan kehadiran sang buah hati.

Segala sesuatunya harus dipersiapkan sebaik-baiknya. Dan satu hal yang -setidaknya dalam anggapan saya- begitu penting adalah: mempersiapkan sebuah -atau dua buah- nama terbaik untuk ananda. Terlepas laki-laki atau perempuan anak saya nanti, saya telah mempersiapkan dua nama, nama laki-laki dan nama perempuan.

Saya bukan ingin memberi bocoran nama yang saya persiapkan tersebut di sini. Saya hanya ingin sedikit berbagi, bagi Anda yang mungkin juga sedang bersiap menerima sebuah anugerah indah dari Allahu Ta`ala. Diambil dari rumaysho.com, berikut hasil kutipan saya:

Nama-nama Terbaik

1. Abdullah atau Abdurrahman. 

"Sesungguhnya nama kalian yang paling dicintai di sisi Allah adalah ‘Abdullah dan ‘Abdurrahman.
[HR. Muslim no. 2132]

Seorang laki-laki di antara kami ada yang memiliki anak, kemudian dia memberi nama "Al Qasim”. Maka kami berkata, "Kami tidak akan menjuluki kamu dengan Abu Al Qasim dan kami tidak akan memuliakannya. Lalu orang tersebut memberitahukan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Maka beliau bersabda, "Berilah anakmu nama Abdurrahman."
[HR. Bukhari no. 6186]

Mungkin ada sebagian orang yang berkata, "Sudah banyak sekali orang yang memakai nama tersebut[?]". Jawabnya adalah hal tersebut sama sekali jangan dijadikan alasan untuk tidak memberi nama anak Anda dengan nama terbaik ini sebagaimana hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi para sahabat untuk menamai anak mereka dengan nama terbaik. Sekitar 300 sahabat Nabi memiliki nama Abdullah.

2. Nama bentuk penghambaan pada Asmaul Husna lainnya.

Anda dapat juga mengambil sebuah nama dari Asmaul Husna, lalu menambahkan kata Abdul di depannya, seperti Abdul ‘Aziz, ‘Abdul Malik, Abdur Rozaq, Abdul Halim, dan Abdul Muhsin.

3. Nama para nabi dan rasul.

Dulu mereka memberi nama dengan nama-nama para Nabi mereka dan orang-orang shaleh dari kaum sebelum mereka.”
[HR. Muslim no. 2135]

“Berilah nama dengan namaku (Muhammad) dan janganlah kalian berkunyah dengan kunyahku (Abul Qosim)”.
[HR. Bukhari no. 6187 dan Muslim no. 2134]

Anda bisa memilih salah satu dari nama-nama Nabi yang telah disebutkan dalam Al Qur`an untuk nama anak Anda.

4. Nama orang-orang sholih/sholihah.

Nama para sahabat, sahabiyah -nama istri-istri Nabi misalnya-, tabi`in, tabi`ut tabi`in, ataupun nama para ulama' juga dapat dijadikan pertimbangan yang bagus untuk nama anak Anda, seperti Khadijah, Saudah, Aisyah, Hafshoh, Zainab, Ummu Salamah Hindun, Zainab, Juwairiyyah, Ummu Habibah Romlah, Shofiyah, dan Maimunah.


Sekali lagi, tidak perlu sungkan menamai anak Anda yang telah banyak dipakai orang. Justru hal itu menunjukkan bahwa nama-nama tersebut adalah nama yang bagus.


5. Nama lainnya yang sesuai dengan syarat dan adab.

Syarat-syarat pemberian nama yangb bagus antara lain:
  • Menggunakan bahasa Arab, tidak menggunakan nama-nama kaum kafir.
  • Memiliki susunan dan makna yang bagus.
Adab-adab pemberian nama yangb bagus antara lain:
  • Menggunakan nama sesuai urutan terbaik yang telahdijelaskan di awal.
  • Menggunakan nama yang terdiri dari huruf yang jumlahnya sedikit.
  • Menggunakan nama yang mudah diucapkan di lisan.
  • Memudahkan orang yang mendengar untuk mengingatnya.
  • Menggunakan nama yang cocok dengan orang yang diberi nama dan tidak keluar dari kebiasaan yang dipakai dalam agamanya atau masyarakat sekitarnya.

Demikian, semoga bermanfaat. Dan semoga anak-anak kita kelak menjadi generasi yang menegakkan agama ini, menegakkan Tauhid dan Sunnah di bumi Allah. Amin.

Tuesday, April 12, 2011

radio vs televisi

Waktu kecil -bahkan sampai SMA-, saya bisa dibilang sangat akrab dengan kotak elektronik bernama televisi. Waktu kecil saya memang agak kuper, sedikit teman -bahkan mungkin sampai sekarang ya[?]-, dan salah satu teman saya yang paling dekat justru makhluk tak bernyawa, televisi. Jika sedang di rumah dan tidak ada kegiatan apa-apa, pelarian saya adalah televisi, entah siang, sore, ataupun malam hari. Saya kira saya tidak sendirian dalam masalah ini, teman-teman mungkin juga seperti itu. Bahkan, anak-anak hari ini pun mungkin masih seperti itu, bahkan lebih parah. Belum lagi hari ini televisi telah mengajak teman-temannya bergabung; internet, game, dan lainnya.

Hari minggu, satu-satunya hari libur waktu itu, dua tontonan wajib saya adalah Doraemon dan Dragon Ball. Saya masih ingat, Doraemon diputar pukul 08.00 oleh RCTI, dan Dragon Ball menyusul pukul 08.30 di Indosiar. Baru belakangan ini saya tersadar, bahwa dua film tersebut bermuatan kesyirikan, disengaja ataupun tidak. Setiap kali mendapati masalah, Nobita mengadukannya kepada Doraemon. Dan Doraemon bak seorang Dewa, selalu mempunyai solusi yang ajaib untuk masalah Nobita. SubhanAllah. Film tentang robot kucing yang dituhankan yang mungkin telah -dan mungkin masih- meracuni akidah kita -dan anak-anak kecil saat ini-, sadar atau tidak sadar.

Dragon Ball tidak jauh beda. Film tentang seekor naga yang sanggup mengabulkan segala permintaan! Laa haula wa la quwwata ila billah. Ajaran-ajaran Budha juga kental dalam ilm tersebut; reinkarnasi misalnya. Dewa digambarkan dengan sangat konkret -yang bahkan kerepotan menghadapi ulah makhluknya[?]-. Apa-apaan ini[?] Pembodohan yang luar biasa; sejak kita kanak-kanak! dan mungkin mengancam anak-anak kita kelak!

Alhamdulillah, sejak kuliah di STAN Jakarta, hubungan saya dengan televisi mulai renggang. Saya tinggal di sebuah kos-kosan sederhana selama kuliah di STAN. Kos yang tidak menyediakan sebuah televisi pun untuk digunakan bersama. Kalaupun ada televisi, itu adalah milik pribadi teman kos saya yang diletakkan di kamar masing-masing. Jadi, jika ingin sesekali menonton televisi, saya harus main ke kamar sebelah. Kondisi seperti itu membuat intensitas menonton televisi berkurang drastis. Palingan saya hanya nonton pertandingan bola, sesekali. Awalnya memang terasa aneh, tapi lama kelamaan biasa saja. Bahkan ketika pulang kampung pun -yang televisi tersedia setiap saat-, saya jadi tak terlalu tertarik menonton televisi.

Televisi, sebenarnya bukan merupakan barang haram -setidaknya sepengetahuan saya sampai saat ini-. Yang bisa dibilang haram, adalah acara yang disiarkan. Tak perlu berdebat soal ini. Saya kira, orang baik-baik yang objektif akan sependapat, bahwa keburukan sangat mendominasi acara televisi saat ini. Mulai dari ghibahtainment, pengumbaran syahwat, judi, sampai acara-acara pendangkalan akidah -sampai syirik-, semua dapat kita dapati di televisi. Hal ini tentu saja karena media telah dikuasai  bangsa monyet (Yahudi). Dan sekarang mungkin telah memasuki masa panen mereka -dari proyek-proyek busuk mereka selama ini-. Mereka terkadang tidak perlu menggunakan kekerasan untuk menghancurkan musuh-musuhnya

***

Di rumah -atau konrtakan, tepatnya- saya, tentu saja tidak ada televisi. Alhamdulillah, saya seperti benar-benar tidak lagi tertarik menonton televisi. Bahkan siaran langsung sepakbola, bahkan siaran langsung final Piala AFF Indonesia vs Malaysia -yang bahkan diputar di layar tancep di jalan-jalan-, pun, saya tidak menonton. Di rumah saya, hanya ada sebuah radio monitor. Radio monitor merk Panasonic seharga Rp150.000,00 yang saya beli sekitar satu tahun yang lalu itu saya gunakan untuk mendengarkan -hanya- siaran Radio Rodja 756am.

radio

Radio Rodja adalah radio dakwah yang memutar materi kajian -baik siaran langsung maupun siaran ulang- dan tilawah Al Qur`an yang mengudara dari Cileungsi, Bogor. Alhamdulillah, bagi saya Radio Rodja memberi manfaat yang sangat banyak. Alih-alih menonton televisi, atau hanya bengong di rumah tanpa makna, kita dapat memanfaatkan waktu luang kita untuk mendengarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat dari para Ustadz yang mumpuni di bidangnya masing-masing. tidak hany mendengar, kita juga bisa bertanya tentang masalah umum ataupun terkait masalah pribadi yang sddang kita hadapi. Bahkan tidak hanya kajian mengenai akhirat, Radio Rodja juga menghadirkan Kajian Kesehatan Herbal plus dengan konsultasinya tentu saja.

Radio Rodja, jika dibandingkan dengan televisi -bahkan dibandingkan dengan kebanyakan radio lainnya- jelas sangat jauh berbeda, bahkan bertolakbelakang. Dimana saat kebanyakan televisi menyuguhkan hedonisme, kemaksiatan, syahwat dan syubhat, bahkan kesyirikan -sangat destruktif-; Radio Rodja tampil berupaya memerangi itu semua dengan menegakkan agama -konstruktif-, biidznillah. Menegakkan dan menebar Cahaya Sunnah.

Semoga Allah menjaga kita, dari dunia yang penuh fitnah ini. Amin.

Monday, April 11, 2011

sabtu ahad

-hampir- Satu pekan berjalan sejak saya "memulangkan" istri yang ingin lahiran di kampung. Alhamdulillah, tak lagi seperti dulu. Kali ini, saya telah dengan mudah dan segera beradaptasi. Kali ini, saya lebih tegar. Tidak cengeng. Tidak lagi seperti anak ayam kehilangan induknya. Laa haula wa la quwwata ila billah. 
"Jika engkau mencintai makhluk, ketahuilah tak selamanya engkau mendapatinya di sisimu. Namun, jika engkau mencintai Allah, sesungguhnya Dia selalu ada."
Menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat, dan tetap bergaul dengan orang-orang baik adalah penawar yang mujarab, obat yang ampuh untuk mengusir kesendirian yang menghancurkan. Banyak hal positif yang dapat dilakukan, dan banyak teman yang baik di luar sana, insyaAllahu Ta`ala.

Seperti sabtu ahad ini, bahkan list rencana yang hendak saya lakukan tak sepenuhnya terlaksana. 1. Cukur rambut, 2. Bekam, 3. Bersih-bersih kontrakan, 4. Beli kado untuk teman yang hendak menikah, 5. Beli 'isi lemari es'. Dari lima rencana itu, yang dapat dilakukan dengan sukses hanya (yang dicoret) : 1. Cukur rambut, 2. Bekam, 3. Bersih-bersih kontrakan, 4. Beli kado untuk teman yang hendak menikah, 5. Beli 'isi lemari es'. Berarti akhir pekan berikutnya setidaknya masih ada tiga hal yang harus dibereskan.

Cukur rambut. Rambut saya telah gondrong. Tapi, karena kemarin belum sempat, dan mungkin juga karena masih ingin berambut gondrong, maka saya belum jadi cukur sampai hari ini.

Bekam. Mungkin sudah dua bulanan saya tidak berbekam. Waktu istri masih di Jakarta kemarin, agak enggan berbekam di akhir pekan, karena terkadang harus antri lama. Kasihan istri jika waktu untuk bersama harus terpotong juga di hari libur. Ahad pagi kemarin, saya sempatkan berbekam. Sembilan titik bekam di punggung, darah kotor yang keluar lumayan banyak. Semoga kita diberi kesehatan.

Bersih-bersih kontrakan. Entah. Mungkin karena terlalu lama saya tidak melakukannya, agak malas rasanya. Rencana hendak menggosok kamar mandi dan membersihkan jendela pun tinggal rencana. paling hanya menyapu lantai yang berhasil saya lakukan, itupun sekadarnya saja. *Hhe.

Beli kado untuk teman yang hendak menikah. Saya biasa menghadiahi teman yang menikah, buku. Kali ini saya membeli buku Panduan Keluarga Sakinah. Buku buah karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas itu saya beli di TB. Ahlussunnah, Pasar Senen -yang sempat pernah saya ceritakan di sabtu minggu-. InsyaAllahu Ta`ala, buku tersebut sangat bagus dan bermanfaat untuk pasangan yang hendak membangun sebuah rumah tangga Islami.

Panduan Keluarga Sakinah
Entah. Saya memiliki kegemaran 'bersegera membeli buku sebanyak-banyaknya dan terkadang menunda membacanya setelah buku-buku tersebut terbeli'. Kali ini pun begitu. Niat awal membeli sebuah buku sebagai hadiah untuk teman, saya membeli satu untuk teman dan malah membeli dua untuk saya sendiri. *Hhe* Maklum, toko buku itu memberikan diskon rata-rata 40% hampir untuk semua buku.

Dua buku untuk saya sendiri itu adalah Sepenggal Catatan Perjalanan dari Madinah hingga ke Radio Rodja dan Deadly Mist. Buku Sepenggal Catatan Perjalanan dari Madinah hingga ke Radio Rodja merupakan buku yang ditulis oleh Ustadz Firanda tentang kebersamaannnya dengan Syaikh Abdurrazzaq, tentang pelajaran akhlaq dari seorang ulama. Bagi Anda yang suka mendengarkan siaran Radio Rodja, insyaAllah dua nama tersebut tidaklah asing. Syaikh Abdurrazzaq adalah seorang pengajar di Universitas Islam Madinah yang mengisi kajian dua kali dalam sepekan di Radio Rodja, tiap Ahad dan Senin malam, live dari Madinah, sedangkan Ustadz Firanda adalah pelajar Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Universitas yang sama, yang menjadi penerjemah dalam kajian Syaikh di Radio Rodja tersebut. Pertama kali saya tahu tentang buku tersebut di website Radio Rodja, saya tertarik untuk suatu saat membelinya. Alhamdulillah, kesampaian

Sepenggal Catatan Perjalanan dari Madinah hingga ke Radio Rodja

Buku kedua, Deadly Mist bercerita tentang Usaha Amerika untuk Merusak kesehatan Manusia. Ditulis oleh Jerry D. Gray, seorang mantan serdadu Amerika, buku ini mengungkapkan hal-hal disertai data dan fakta yang tak terbayangkan oleh kita selama ini. Misalnya tentang flouride yang terkandung hampir di semua produk pasta gigi yang berredar di pasaran, yang sebenarnya merupakan bahan berbahaya.
"Flouride dalam satu tube pasta gigi ukuran keluarga cukup untuk membunuh anak seberat 12 kg."
Informasi tentang buku ini pertama kali saya temui ketika membaca majalah tentang bahaya imunisasi.

Deadly Mist


InsyaAllah, di lain kesempatan, saya akan sedikit ceritakan tantang buku-buku tersebut, dan mungkin tentang buku-buku lain yang pernah saya baca. Semacam resensi, insyaAllahu Ta`ala.

Beli isi lemari es. Entah kenapa juga, semangat belanja saya tidak setinggi semangat berbelanja bersama istri tercinta. Awalnya, saya hendak membeli lampu -karena lampu kamar tengah meleduk kemarin-, anti bocor untuk galon, odol yang tidak ber-flouride, buah untuk di-juice -blender menganggur sejak istri pulang kampung-, makanan ringan -yang gurih dan yang manis-, es krim, dan lain sebagainya. Saya hanya mendapatkan sebagian kecil dari itu semua, akhirnya. *Huhuhu..

Well, itulah catatan akhir pekan saya kali ini. Kalau ada yang bertanya, kemana waktu sisanya? Mungkin habis untuk istirahat, makan, tidur, sholat, mendengarkan radio, bersepeda, berkumpul dengan teman, dan membaca buku.

Tuesday, April 5, 2011

bujang lokal 2

Kali ini, karena istri sudah hamil besar, sudah lebih dari tujuh bulan; karena rencana mau lahiran di sana di Solo, saya antar dia pulang, sabtu pagi, 2 April 2011.

Pagi ini, saya telah kembali hadir di Jakarta, kembali bekerja. Hari ini saya akan mulai menjalani hari-hari di sini, sendiri, tanpa istri di sisi. Tapi, insyaAllah, saya akan balik ke Solo dua pekan sekali. Pernah, pernah seperti ini. Rasanya sepi sekali, makan tidak enak, tidur pun tidak nyenyak. Hanya harus tetap dijalani.

Pengalaman membujang lokal tempo hari harus lah dijadikan pelajaran. Satu hal yang mungkin harus saya lakukan: berhenti mendramatisasi -atau mendramatisir- masalah. Karena alih-alih menyelesaikan masalah, itu malah akan membuat masalah semakin tampak parah -hanya tampak. Membuat kesedihan bertambah, sepi menjadi-jadi.

Namun, bukan berarti kita lalu melupakan orang-orang yang kita cintai di sana. Tetap ingat, hanya saja jangan terlalu dipikirkan masalah keterpisahan jarak dan waktu ini. Toh setiap orang pasti lah kadang bertemu dan berpisah dengan orang lain, entah untuk sementara ataupun untuk selamanya. Tetap jaga komunikasi, untuk sekadar bertanya kabar, atau ngobrol di waktu senggang via telepon misalnya, untuk menunjukkan perhatian kita padanya dan mengurangi rasa rindu di hati.

Baiknya kita sibukkan diri kita dengan melakukan hal-hal positif dan produktif agar tidak terlalu kepikiran. Berkumpul dengan teman-teman agar tidak terlalu kesepian. Dua hal itu, insyaAllah mencukupi untuk menghilangkan kebiasaan melamun. Dan jangan lupa mendoakan orang-orang yang kita sayangi. Semoga semua baik-baik saja.

Maaf, kalau pagi-pagi sudah memaksa Anda ber-empati -curhat-. Semoga menjadi curhat bermanfaat. Siapa tahu Anda mengalaminya, suatu saat.

nanti mulai makan malam sendiri

Friday, April 1, 2011

auditornya auditor

audit

*Baiklah, akan saya jelaskan, -kenapa saya sedikit menulis beberapa pekan terakhir ini-, walaupun sebenarnya tidak perlu -dan tidak penting- penjelasan.

Sudah tiga pekan ini, kami -saya bersama enam rekan kerja lainnya yang tergabung dalam satu tim-, menjalankan tugas reviu sistem pengendalian mutu (SPM) kinerja pemeriksaan di auditorat -tepatnya di AKN VII-. Apa itu reviu, apa itu pemeriksaan, dan apa itu auditorat? Baiklah, kita bahas satu per satu.

Kita mulai dari 'pemeriksaan' saja. Entah apa yang terjadi dengan kantor saya. Atau, entah apa yang terjadi dengan Undang-undang di negara kita. Padahal kata 'audit' jelas-jelas ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang berarti telah diserap ke dalam Bahasa Indonesia, tetapi peraturan-peraturan itu sampai hari ini masih menggunakan kata 'pemeriksaan', bukan kata 'audit' yang lebih jelas dan spesifik. Menurut Undang-undang ybs:
Pemeriksaan adalah proses identifikasi masalah, analisis, dan evaluasi yang dilakukan secara independen, objektif, dan profesional berdasarkan standar pemeriksaan, untuk menilai kebenaran, kecermatan, kredibilitas, dan keandalan informasi mengenai pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.
 Mari kita bandingkan menurut KBBI:
Pemeriksaan n 1 proses, cara, perbuatan memeriksa; 2 hasil (pendapatan) memeriksa; periksaan; 3 penyelidikan; pengusutan (perkara dsb);~ buku 1 pemeriksaan yg dilakukan oleh akuntan publik untuk menyatakan apakah posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan atau badan telah disajikan dng wajar; 2 pemeriksaan akuntan publik atas laporan keuangan, sesuai dng norma pemeriksaan akuntan yg bertujuan memberikan pendapat akuntan mengenai laporan keuangan itu.
sedangkan:

Audit n 1 pemeriksaan pembukuan tt keuangan (perusahaan, bank, dsb) secara berkala; 2 pengujian efektivitas keluar masuknya uang dan penilaian kewajaran laporan yg dihasilkannya;
-- balas jasa tinjauan berkala oleh konsultan atas gaji, upah, dan tunjangan;
-- keuangan pengujian kebenaran pembukuan;
-- pemasaran penilaian strategi pemasaran, jasa, fungsi, dan hasilnya;
Dalam KBBI, kata pemeriksaan terlalu umum untuk menggambarkan pemeriksaan versi Undang-undang, sedangkan jika ~buku, maka kata pemeriksaan terlalu spesifik ke definisi pemeriksaan keuangan, padahal menurut Undang-undang :
Pemeriksaan BPK mencakup pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja, dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu.
Kata audit sebenarnya lebih tepat -setidaknya menurut saya- untuk menggambarkan core bussiness di tempat kerja saya tersebut. Dan walaupun berasal dari bahasa asing, toh KBBI telah menyerapnya ke dalam Bahasa Indonesia sehingga sangat layak digunakan, termasuk dalam peraturan-peraturan resmi.

Dari penjelasan yang panjang lebar dan tidak penting di atas, kita sudah tahu apa maksud 'pemeriksaan' di sini. Lalu, apa itu 'auditorat'? Di sini terlihat, confuse dan inkonsistensinya bahasa birokrasi kita. Secara mudah begini, Jika pemeriksaan = audit, maka pemeriksa atau orang yang melakukan pemeriksaan = auditor, dan wadah para pemeriksa = auditorat. Jelas kan? Yah, begitu lah. Di satu kesempatan mereka menggunakan kata 'periksa' dan turunan-turunannya, di kesempatan lain, mereka menggunakan kata 'audit' dan turunan-turunannya.

Sebelum ke kata 'reviu', saya sisipkan dulu kata 'inspektorat'. Jika auditorat adalah wadah para pemeriksa/auditor eksternal di lingkungan kerja kami, maka 'inspektorat' adalah wadah para auditor internal. Di inspektorat inilah, saya bernaung *jiah, bahasanya*. Bisa dibilang, inspektorat di sini adalah semacam auditornya auditor, bahkan ketika kami bertugas di salah satu perwakilan, ada surat kabar lokal yang menyebut kami "provost". Tugas pokok inspektorat antara lain melaksanakan Quality Control (QC) dan Quality Assurance (QA) kepada auditorat. Satu bentuk QA tersebut adalah reviu SPM kinerja pemeriksaan yang saat ini sedang kami lakukan. Reviu ini secara umum bisa digambarkan sebagai reviu atas hasil dan proses pekerjaan auditor yang telah mereka tuangkan ke dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dan Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP).

Ada yang aneh [?] Ya, ada yang aneh. Saya anak baru dan belum pernah sekalipun meng-audit harus mereviu pekerjaan auditor! Luar biasa. Mungkin itulah salah satu 'masalah' atau 'hal aneh' di kantor kami. Dan saya sebenarnya telah menyadari keanehan ini sejak pertama kali di tempatkan di sini. *curhat colongan.

Jadi, karena kesibukan itu lah saya agak tidak sempat menulis akhir-akhir ini. So, harap maklum. *Hhe. Peace. Saya memang orangnya suka ke-GR-an. Hanya kadang-kadang.