Tuesday, April 12, 2011

radio vs televisi

Waktu kecil -bahkan sampai SMA-, saya bisa dibilang sangat akrab dengan kotak elektronik bernama televisi. Waktu kecil saya memang agak kuper, sedikit teman -bahkan mungkin sampai sekarang ya[?]-, dan salah satu teman saya yang paling dekat justru makhluk tak bernyawa, televisi. Jika sedang di rumah dan tidak ada kegiatan apa-apa, pelarian saya adalah televisi, entah siang, sore, ataupun malam hari. Saya kira saya tidak sendirian dalam masalah ini, teman-teman mungkin juga seperti itu. Bahkan, anak-anak hari ini pun mungkin masih seperti itu, bahkan lebih parah. Belum lagi hari ini televisi telah mengajak teman-temannya bergabung; internet, game, dan lainnya.

Hari minggu, satu-satunya hari libur waktu itu, dua tontonan wajib saya adalah Doraemon dan Dragon Ball. Saya masih ingat, Doraemon diputar pukul 08.00 oleh RCTI, dan Dragon Ball menyusul pukul 08.30 di Indosiar. Baru belakangan ini saya tersadar, bahwa dua film tersebut bermuatan kesyirikan, disengaja ataupun tidak. Setiap kali mendapati masalah, Nobita mengadukannya kepada Doraemon. Dan Doraemon bak seorang Dewa, selalu mempunyai solusi yang ajaib untuk masalah Nobita. SubhanAllah. Film tentang robot kucing yang dituhankan yang mungkin telah -dan mungkin masih- meracuni akidah kita -dan anak-anak kecil saat ini-, sadar atau tidak sadar.

Dragon Ball tidak jauh beda. Film tentang seekor naga yang sanggup mengabulkan segala permintaan! Laa haula wa la quwwata ila billah. Ajaran-ajaran Budha juga kental dalam ilm tersebut; reinkarnasi misalnya. Dewa digambarkan dengan sangat konkret -yang bahkan kerepotan menghadapi ulah makhluknya[?]-. Apa-apaan ini[?] Pembodohan yang luar biasa; sejak kita kanak-kanak! dan mungkin mengancam anak-anak kita kelak!

Alhamdulillah, sejak kuliah di STAN Jakarta, hubungan saya dengan televisi mulai renggang. Saya tinggal di sebuah kos-kosan sederhana selama kuliah di STAN. Kos yang tidak menyediakan sebuah televisi pun untuk digunakan bersama. Kalaupun ada televisi, itu adalah milik pribadi teman kos saya yang diletakkan di kamar masing-masing. Jadi, jika ingin sesekali menonton televisi, saya harus main ke kamar sebelah. Kondisi seperti itu membuat intensitas menonton televisi berkurang drastis. Palingan saya hanya nonton pertandingan bola, sesekali. Awalnya memang terasa aneh, tapi lama kelamaan biasa saja. Bahkan ketika pulang kampung pun -yang televisi tersedia setiap saat-, saya jadi tak terlalu tertarik menonton televisi.

Televisi, sebenarnya bukan merupakan barang haram -setidaknya sepengetahuan saya sampai saat ini-. Yang bisa dibilang haram, adalah acara yang disiarkan. Tak perlu berdebat soal ini. Saya kira, orang baik-baik yang objektif akan sependapat, bahwa keburukan sangat mendominasi acara televisi saat ini. Mulai dari ghibahtainment, pengumbaran syahwat, judi, sampai acara-acara pendangkalan akidah -sampai syirik-, semua dapat kita dapati di televisi. Hal ini tentu saja karena media telah dikuasai  bangsa monyet (Yahudi). Dan sekarang mungkin telah memasuki masa panen mereka -dari proyek-proyek busuk mereka selama ini-. Mereka terkadang tidak perlu menggunakan kekerasan untuk menghancurkan musuh-musuhnya

***

Di rumah -atau konrtakan, tepatnya- saya, tentu saja tidak ada televisi. Alhamdulillah, saya seperti benar-benar tidak lagi tertarik menonton televisi. Bahkan siaran langsung sepakbola, bahkan siaran langsung final Piala AFF Indonesia vs Malaysia -yang bahkan diputar di layar tancep di jalan-jalan-, pun, saya tidak menonton. Di rumah saya, hanya ada sebuah radio monitor. Radio monitor merk Panasonic seharga Rp150.000,00 yang saya beli sekitar satu tahun yang lalu itu saya gunakan untuk mendengarkan -hanya- siaran Radio Rodja 756am.

radio

Radio Rodja adalah radio dakwah yang memutar materi kajian -baik siaran langsung maupun siaran ulang- dan tilawah Al Qur`an yang mengudara dari Cileungsi, Bogor. Alhamdulillah, bagi saya Radio Rodja memberi manfaat yang sangat banyak. Alih-alih menonton televisi, atau hanya bengong di rumah tanpa makna, kita dapat memanfaatkan waktu luang kita untuk mendengarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat dari para Ustadz yang mumpuni di bidangnya masing-masing. tidak hany mendengar, kita juga bisa bertanya tentang masalah umum ataupun terkait masalah pribadi yang sddang kita hadapi. Bahkan tidak hanya kajian mengenai akhirat, Radio Rodja juga menghadirkan Kajian Kesehatan Herbal plus dengan konsultasinya tentu saja.

Radio Rodja, jika dibandingkan dengan televisi -bahkan dibandingkan dengan kebanyakan radio lainnya- jelas sangat jauh berbeda, bahkan bertolakbelakang. Dimana saat kebanyakan televisi menyuguhkan hedonisme, kemaksiatan, syahwat dan syubhat, bahkan kesyirikan -sangat destruktif-; Radio Rodja tampil berupaya memerangi itu semua dengan menegakkan agama -konstruktif-, biidznillah. Menegakkan dan menebar Cahaya Sunnah.

Semoga Allah menjaga kita, dari dunia yang penuh fitnah ini. Amin.

No comments:

Post a Comment