Skip to main content

Posts

Showing posts with the label kritis

Antara Al Qur'an dan Nyanyian (Musik)

Lihat diri kita. Lebih suka mendengar nyanyian (musik) daripada Al Qur'an? Lebih banyak hafal lagu daripada hafal Al Qur'an? Lebih mahir bernyanyi daripada membaca Al Qur'an? Tahukah kita hukum-hukum tajwid ? Tahukah sifat-sifat huruf? Tahu makhraj-makhraj huruf? Yang lebih sederhana, jangan2 kita pun tak tahu sekadar jumlah huruf hijaiyah. Jika keadaannya seperti ini, bagaimana bacaan Al Qur'an kita? Jika kita bacaan Al Qur'an kita tidak karuan, bagaimana kita akan suka membacanya? Jika tidak suka membacanya, apatah lagi menghafalnya? Apalagi mentadaburinya? Apalagi mengamalkan apa yang Rabb kita sampaikan dalam ayat-ayat-Nya yang mulia. Sungguh keterpurukan umat ini adalah karena jauhnya kita dari Al Qur'an. Jauhnya kita dari Al Qur'an adalah karena dekatnya kita dengan nyanyian yang melalaikan kita darinya. ** "Sungguh tidak akan berkumpul pada hati seseorang, (kecintaan kepada) Al Qur'an dan (kecintaan kepada) nyanyian selama-lamanya."...

Efek Buruk Uang Tips

Mungkin sebagian orang menganggap tidak ada yang salah dengan pemberian uang tips. Sebagian yang lain bahkan mengganggap hanya orang yang pelit yang tidak memberi tips. Pertanyaannya adalah: (1) Apakah memberi uang tips itu wajib? Saya kira kita akan sepakat pada jawaban 'tidak'. Bahkan yang menganggap pelit orang yang tidak memberi tips pun sepakat bahwa memberi uang tips memang tidak wajib. (2) Berdosa/bersalahkah orang yang tidak mengerjakan sesuatu yang tidak wajib? Lagi-lagi saya yakin kita akan sepakat pada jawaban 'tidak'. Maka, orang yang tidak memberikan uang tips tidak berdosa/bersalah. (3) Layakkah orang yang tidak bersalah kehilangan sebagian haknya? Kenyataannya adalah orang yang tidak memberikan uang tips seperti yang kebanyakan orang lain berikan seringkali mendapat pelayanan yang lebih rendah dari yang lain, bahkan di bawah standar minumum pelayanan. Seandainya semua orang tidak memberikan uang tips, maka si pemberi jasa akan memberikan pelayan...

#disintegritas

gratifikasi suap intimidasi fiktif inefisiensi inkonsistensi kolusi conflict of interest manipulasi korupsi intervensi mark up nepotisme inkompeten pemborosan inefektif ketidakjelasan demotivasi

strategi setan

Pertama, setan akan mencoba mengajak manusia berbuat syirik (menyekutukan Allah); Jika belum bisa, dia akan mengajak manusia berbuat bid'ah (menyelisihi sunnah* Rasulullah) terlebih dulu ; Jika belum bisa, dia akan mengajak manusia melakukan dosa besar terlebih dulu ; Jika belum bisa, dia akan mengajak manusia melakukan dosa kecil terlebih dulu ; Jika belum bisa, dia akan mengajak manusia mendahulukan yang makruh (tidak disukai Allah) dari yang mubah (boleh) terlebih dulu ; Jika belum bisa, dia akan mengajak manusia mendahulukan yang mubah dari yang sunnah* * (disukai Allah) terlebih dulu ; Jika belum bisa, dia akan mengajak manusia mendahulukan yang sunnah** dari yang wajib terlebih dulu ; Jika berhasil mengajak manusia melakukan salah satu darinya, setan akan kembali meningkatkan ajakannya ke 'level' yang lebih tinggi sampai kepada yang tertinggi; syirik. [Ibnul Qayyim al Jauziyah] *) sunnah menurut 'ulama ahli hadits; segala perkataan, perb...

kebenaran tak berbilang

bagi kami, kebenaran tak berbilang kebenaran hanya satu; yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya dan kami senantiasa mencoba menapaki jalan kebenaran itu jalan yang telah ditempuh oleh manusia terbaik dan generasi terbaik; Rasulullah dan para sahabatnya sebagian orang mengatakan, "jangan merasa paling benar" maka, kami katakan, "justru harus" jika Anda belum merasa benar, maka carilah kebenaran itu sampai Anda yakin Anda di atas kebenaran atau Allah mematikan Anda di tengah jalan mencari kebenaran jika Anda tidak yakin Anda di atas kebenaran dan Anda nyaman dengan keraguan itu, sungguh aneh, bukan? mirip dengan sebelumnya, sebagian orang yang lain --yang katanya cerdas, cendekia-- berkata, "tidak ada kebenaran mutlak, tidak ada kebenaran absolut, kebenaran itu relatif" --> maka, jangan merasa paling benar maka, kami katakan, tujukan kata-kata kalian itu kepada kalian sendiri, wahai --yang katanya-- orang-orang cerda...

transjakarta, angkutan umum, dan wanita

Sejak unit kerja saya bedol desa ke kantor perwakilan yang di MTH *entah kenapa saya agak sulit menuliskan instansi saya bekerja*, saya tidak lagi bisa naik bus jemputan kantor untuk berangkat dan pulang --karena bus jemputan hanya tersedia untuk perjalanan dari dan ke kantor pusat yang di Gatot Subroto. Sejak saat itu, saya 'terpaksa' naik Transjakarta ke kantor, setiap pagi. halte busway Transjakarta, sebuah model transportasi yang hanya --baru-- ada di satu kota di negeri ini ternyata memang tak senyaman yang dibayangkan. Mulai dari halte keberangkatan, bus yang dinanti kadang tak kunjung datang. Butuh waktu kira-kira rata-rata sepuluh menit dari mulai beli karcis sampai naik bis bus; mungkin karena jumlah armada Transjakarta masih kalah dengan jumlah armada Metromini ataupun armada Kopaja. Di dalam bus, penumpang pun --terlihat-- sudah penuh berjejalan, pria dan wanita. Sebenarnya bus belum penuh-penuh amat , tetapi mereka suka berkumpul di dekat pintu keluar...

pedantis

Pernahkah kita jumpai penggunaan Bahasa Indonesia yang tidak kurang tepat? Ketika duduk di kursi pesawat, tepat di hadapan saya ada tulisan "PELAMPUNG ADA DIBAWAH KURSI ANDA". Ironi, sebuah perusahaan penerbangan -yang notabene perusahaan besar- tidak bisa membedakan penulisan "di" sebagai kata depan dengan "di-" sebagai imbuhan. Nyaris tidak ada bedanya dengan ruko jelek di pinggir jalan dengan tulisan besar-besar "DI KONTRAKAN". *yang ini lebih nggak jelas lagi. Yang tepat? Pada kalimat "PELAMPUNG ADA DIBAWAH KURSI ANDA", "di" adalah kata depan karena diikuti dengan kata keterangan. Kata depan di , ke , dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada . Sehingga seharusnya kalimat tersebut ditulis "PELAMPUNG ADA DI BAWAH KURSI ANDA". Pada kalimat "DI KONTRAKAN", ada dua kesalahan. Perta...

luruskan shaf

Setidaknya ada dua hal yang hampir selalu saya notice di kebanyakan masjid dari para jamaahnya; rapat dan lurusnya shaf (barisan sholat) dan sutrah (pembatas). Betapa kaum muslimin kurang perhatian kepada, minim pengetahuan, atau bahkan sama sekali mengabaikan/meremehkan -setidaknya- dua masalah seputar shalat di masjid ini. rapat dan lurus   Rapat dan lurusnya shaf; saya kira -atau mungkin karena kebodohan dan keterbatasan pengetahuan saya- tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hal ini, tentang pentingnya merapatkan dan meluruskan shaf. Tetapi, entah apa yang terjadi sampai kebanyakan kaum muslimin meremehkannya. Hampir di setiap masjid, ada saja shaf yang tidak rapat, tidak lurus, atau tidak rapat dan tidak lurus sekaligus. Sepengetahuan saya, ada beberapa sebab shaf yang tidak rapat dan/atau tidak lurus ini. Pertama, karena sang imam yang mempunyai kewajiban -atau setidaknya memperingatkan- merapatkan dan meluruskan shaf jamaahnya, hanya menjadikannya f...

radio vs televisi

Waktu kecil -bahkan sampai SMA-, saya bisa dibilang sangat akrab dengan kotak elektronik bernama televisi. Waktu kecil saya memang agak kuper, sedikit teman -bahkan mungkin sampai sekarang ya[?]-, dan salah satu teman saya yang paling dekat justru makhluk tak bernyawa, televisi. Jika sedang di rumah dan tidak ada kegiatan apa-apa, pelarian saya adalah televisi, entah siang, sore, ataupun malam hari. Saya kira saya tidak sendirian dalam masalah ini, teman-teman mungkin juga seperti itu. Bahkan, anak-anak hari ini pun mungkin masih seperti itu, bahkan lebih parah. Belum lagi hari ini televisi telah mengajak teman-temannya bergabung; internet, game, dan lainnya. Hari minggu, satu-satunya hari libur waktu itu, dua tontonan wajib saya adalah Doraemon dan Dragon Ball. Saya masih ingat, Doraemon diputar pukul 08.00 oleh RCTI, dan Dragon Ball menyusul pukul 08.30 di Indosiar. Baru belakangan ini saya tersadar, bahwa dua film tersebut bermuatan kesyirikan, disengaja ataupun tidak. Setiap kali ...

askes dalam timbangan

asuransi? Semoga Allah melapangkan hati kita untuk menerima kebenaran dan memudahkan kita untuk mengamalkannya. Saya tidak ingin berdebat tentang hukum asuransi. Barangsiapa bersungguh-sungguh mencari kebenaran, dengan mendahulukan dalil daripada akal dan hawa nafsunya akan mengetahui keburukan dan haramnya kebanyakan praktik asuransi, terutama di negeri ini, setidaknya dalam beberapa hal berikut: Perjanjian asuransi merupakan perjanjian penggantian harta yang mengandung ketidakpastian dan memuat bahaya yang sangat banyak; Asuransi termasuk jenis perjudian; Perjanjian asuransi mengandung riba; Perjanjian asuransi, di dalamnya mengandung pengambilan harta orang lain dengan tanpa imbalan. Selengkapnya, baca di sini dan di sini. Kemudian, sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), muncul pertanyaan, bagaimana dengan hukum ASKES? Asuransi Kesehatan yang diwajibkan kepada setiap PNS seperti saya, dimana setiap PNS akan otomatis terdaftar sebagai anggota ASKES yan...

filosofi narkoba

Narkoba, setidaknya dalam pandangan saya, satu filosofi dengan maksiat. Narkoba dan maksiat sama-sama menjanjikan kenikmatan semu dan sesaat pada awalnya, kemudian menghadirkan penyesalan tak terhingga pada akhirnya -kalaupun tidak di dunia, setidaknya nanti di akhirat-. Narkoba dan maksiat sama-sama membuat orang kecanduan. Narkoba dan maksiat sama-sama dengan mudah dan jelas terlihat buruk bagi orang yang sedikit saja mau berpikir dengan jernih, dengan akal sehat. Narkoba dan maksiat sama-sama merusak -masa depan, dunia dan akhirat-, berdampak buruk -bagi raga, terutama jiwa, juga orang lain-, disadari atau tidak disadari. Narkoba dan maksiat sama-sama sebagai pelarian yang salah dari orang-orang yang kalah.  Narkoba dan maksiat sama-sama memiliki budak-budak setia. Narkoba dan maksiat sama-sama 'penipu', serigala berbulu domba. Narkoba dan maksiat, sama-sama memerlukan tekad yang kuat untuk lepas dari jeratan keduanya. Narkoba -dalam pandangan saya- adalah konkritisasi dar...

tidakpenting.com

biro umum bisa aja.. Himbauan seperti pada gambar di atas terpasang pada hampir semua toilet di kantor kami. Pertanyaan yang sering muncul di benak saya -dan mungkin juga di benak pegawai lain yang kebanyakan mikir dan kurang kerjaan- dari kalimat ambigu tersebut adalah : 1. "Tutup kloset agar selalu dibuka bila tidak digunakan!", berarti tutup kloset justru agar ditutup saat digunakan? Jika Biro Umum menjawab, "Tidak! Tutup kloset agar selalu dibuka, baik saat digunakan maupun saat tidak digunakan!", maka muncul pertanyaan berikutnya : 2. Kenapa tidak cukup ditulis, "Tutup kloset agar selalu dibuka!"?, dan kalau memang begitu 3. Apa gunanya ada tutup toliet jika tidak pernah ditutup? *serius, benar-benar tidak penting -baik tulisan itu, maupun tulisan saya ini. hhe..

pajak

Hari ini, ada sosialisasi pengisian SPT Tahun 2010 di kantor saya. Saya tidak ikut, nitip aja . Masa bodoh salah atau bener ngisinya. *Hhe. Salah satu yang bikin malas hidup di negeri ini adalah pajak. Hampir-hampir tidak ada yang luput dari pajak, PPN [?] Negeri ini kaya! Seandainya sedikit pintar saja mengelolanya, tak perlu ada pajak segala. Menyusahkan rakyat jelata. Sudah begitu, sepertinya pajak juga kurang -atau bahkan tidak sama sekali- berhasil menyelesaikan masalah negeri ini, memeratakan pendapatan, menyejahterakan yang belum sejahtera. Mana [?] Lihatlah Arab Saudi, tidak ada pajak  di sana, tetapi sekolah gratis bahkan beasiswa diberikan kepada warga negara asing untuk menimba ilmu di sana secara cuma-cuma, dapat uang saku pula. Kekayaan alam Arab bisa dikatakan hanya minyak, bandingkan dengan negeri ini yang juga punya minyak, masih punya emas, batu bara, tanah subur, laut melimpah, dan beragam kekayaan alam lainnya. dan Indonesia masih butuh pajak untuk sekadar 'hi...

catatan untuk demonstran

Sedih melihat keadaan Mesir dan negara-negara Timur Tengah saat ini. Gelombang syubhat Demokrasi  tengah melanda. Demonstrasi terjadi dimana-mana. Darah tumpah ruah. Di negeri kita pun, hampir-hampir tiada hari tanpa demonstrasi. Berbagai macam alasan menjadi pembenar untuk turun ke jalan. Seandainya saja mereka bersabar dan berpikir ulang. Allahu Ta`ala berfirman: “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” [QS. Thaahaa: 43-44]. Di dalam ayat yang mulia ini terdapat pelajaran yang sangat besar dalam berda’wah/menyampaikan nasihat kepada penguasa yang zhalim. Fir’aun ketika itu adalah seorang yang sangat melampaui batas, sombong bahkan mengaku dirinya sebagai tuhan! Sedangkan Musa adalah seorang Nabi yang besar dan mulia di sisi Allah bersama saudaranya Harun. Meskipun demikian Allah tetap memerintahkan kepada Musa dan Harun untuk ber...

fitnah

Salah satu teknik pengembangan kosakata dalam sebuah bahasa adalah dengan menyerap kosakata dari bahasa asing. Salah satu bahasa yang kosakatanya paling banyak diserap dalam bahasa Indonesia adalah Bahasa Arab. Iman, ilmu, ibadah, amal, malaikat, nabi, taat, kitab, sedekah, masjid, nasihat, dewan, majelis, wakil, musyawarah, rakyat, adil, hukum, hakim, senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu, ahad, kursi, hewan, mati, kubur, akhirat, dan fitnah hanyalah sebagian kecil kata dalam bahasa Indonesia hasil serapan dari bahasa Arab yang saya ketahui. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, fitnah didefinisikan sebagai perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang. Entah dari mana datangnya definisi tersebut. Yang jelas kata “fitnah” termasuk kata dalam bahasa Indonesia ini diserap dari Bahasa Arab yang mengalami pergeseran makna dari bahasa aslinya. Secara bahasa (Arab), fitnah yang berasal dari kata dasar fatana berarti ujian....

erwin belajar Bahasa Inggris

Tempo hari saya sampaikan bahwa salah satu keinginan duniawi saya saat ini adalah pandai berbahasa Inggris. Saya harus akui, saya memang tidak –atau kurang, atau belum- pandai berbahasa Inggris. Masih jauh dari menguasai. Baik dalam reading, writing, speaking, atau pun listening . Terlebih dua –atau tiga- yang disebut terakhir. *jangan tertawa, apalagi dalam Bahasa Inggris*. Entah, padahal nilai pelajaran Bahasa Inggris saya sejak kelas 1 SMP sampai terakhir waktu kuliah di STAN lumayan bagus. Mungkin karena jarang dipraktekkan, apalagi saya tidak suka menonton film, apalagi mendengarkan musik . Mungkin juga karena metode pengajaran terutama dalam mata pelajaran bahasa kita yang perlu diperbaiki, harus lebih mengedepankan praktek –terutama speaking dan listening - daripada teori, karena bahasa untuk dipraktekkan, bukan sekadar dipahami. Kenapa saya pengen pandai berbahasa Inggris? Sebenarnya kata yang lebih tepat mungkin terpaksa pengen . Saya jadi ingat kata salah satu guru saya ...

lebih baik tidak tahu?

Sebagian orang –muslim- malas atau bahkan sama sekali tidak mau menuntut ilmu agama karena takut akan konsekuensinya –untuk mengamalkan ilmu yang telah didapatnya-. “Dari pada tahu, tapi tidak melaksanakannya, lebih baik tidak tahu sekalian.” Begitu kurang lebih kata mereka. “Bukankah orang yang berdosa tidak akan diadzab karena ketidaktahuan, karena kelupaan, atau karena keterpaksaan?” Begitu lanjutannya. Di rumah kami –atau kontrakan kami-, tidak ada TV, yang ada adalah seperangkat radio kesayangan yang setiap hari kami gunakan untuk mendengarkan kajian-kajian Radio Rodja 756 AM . Dan kemarin, kami mendapatkan jawaban yang sangat memuaskan dari logika asal-asalan di atas pada sebuah kajian yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Nuzul. Bukan hanya satu jawaban, bahkan Ustadz memberikan jawaban berlapis tiga. Jawaban pertama, bahwa setiap muslim atau muslimah yang tidak mau menuntut ilmu agama berdosa akibat ketidakmauaannya tersebut karena tidak m...

korbankorban propaganda

Sedih. Sedih, bukan karena beberapa kali ada teman -sesama muslim- yang berkata kepada saya, “kamu kayak teroris”, sedih lebih karena hal itu menandakan jauhnya umat Islam dari Islam itu sendiri, jauh dari ilmu. Terlepas dari apakah hal semacam itu adalah tuduhan, ejekan, atau sekadar gurauan. Setidaknya ada beberapa kesalahan konsep berfikir mereka. Kesalahan pertama, seperti penyaklit kebanyakan masyarakat Indonesia, PUKUL RATA . Ambil contoh sederhana, jika dikatakan, “Budi itu orangnya agak gendut, rambutnya keriting”, apakah berarti semua orang yang agak gendut dan berambut keriting bernama Budi? Jika ada yang menjawab “Ya”, sepertinya harus diikutkan test IQ dan dimintakan rekomendasi terkait hasilnya. Lalu kenapa, setiap ada orang bercelana cingkrang, berjenggot, wanita pakai cadar, atau orang bernama Abu Abdillah, mereka langsung serta merta menyebut, “teroris” hanya karena penampilan mereka serupa? Ayolah, lebih cerdas lah sedikit.