Thursday, September 29, 2011

plegmatis

Hasil ikut kuis temperamen:

Merupakan seseorang yang memiliki sifat alamiah pendamai, tidak suka kekerasan *peace. Merupakan orang yang mudah diajak bergaul, ramah, dan menyenangkan *jadi malu. Ia adalah tipe orang yang bisa membuat sekelompok orang tertawa terbahak-bahak oleh humor-humor keringnya *garing kali, maksudnya ya* meski ia sendiri tidak tertawa. Merupakan pribadi yang konsisten, tenang, dan jarang sekali terpengaruh dengan lingkungannya, tidak pernah terlihat gelisah *no comment. Di balik pribadinya yang dingin dan malu-malu, sesungguhnya ia memiliki kemampuan untuk dapat lebih merasakan emosi yang terkandung pada sesuatu *no comment lagi. Karena sifatnya yang menyukai kedamaian dan tidak menyukai pertikaian, ia cenderung menarik diri dari segala macam keterlibatan *hmm, betul3. Hal inilah yang seringkali menghambatnya untuk menunjukkan kemampuannya secara total dan cenderung pasif dan pemalas *wadoh, ending-nya kok gini.

Tuesday, September 27, 2011

pilu

Langit pagi ini mendung sekali, semendung hati ini; bergemuruh seperti hampir runtuh..

Pernahkah kita mengalami, sebuah rencana 'besar' yang telah tersusun rapi dan kita tinggal menghitung hari untuk bergembira menyambut rencana tersebut terrealisasi, tiba-tiba hancur berantakan karena suatu hal yang sebelumnya tak pernah terprediksi[?]

Angan-angan pun melayang. Haru, pilu, sampai sesak di dada seperti asma yang mendadak kambuh datang bertubi-tubi menggelayuti tubuh ini yang mulai lunglai..

Apalagi jika rencana tersebut melibatkan orang yang kita cintai; terkhusus kita persiapkan untuk orang yang kita sayangi. Berlipat gandalah kegundahan ini, lengkap sudah episode pilu.

Tapi justru inilah --menariknya-- hidup, Jenderal! Kita tak pernah tahu apa yang menanti di depan kita. Mengutip kata-kata dalam Forrest Gump, "Life was like a box of chocolates. You never know what you're gonna get." Tidak ada yang tahu masa depan kecuali Allah! Bayangkan bila manusia mengetahui masa depan, hidup ini justru akan lebih berantakan..

Setiap kejadian, pastilah ada hikmah/pelajaran/ibrah di baliknya. Manusia yang bijak adalah yang mampu mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi, pada dirinya sendiri bahkan peristiwa yang menimpa orang lain. Hikmah yang dapat kita petik dari kejadian semacam ini antara lain..

“Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.” 
(QS. Al-Hadiid: 22)

“Yang pertama kali Allah ciptakan adalah al-qalam (pena), lalu Allah berfirman, ‘Tulislah!’ Ia bertanya, ‘Wahai Rabb-ku apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah takdir segala sesuatu sampai terjadinya Kiamat.’”
(Shahih, riwayat Abu Dawud (no. 4700), dalam Shahiih Abu Dawud (no. 3933), Tirmidzi (no. 2155, 3319), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no. 102), al-Ajurry dalam ­asy-Syari’ah (no.180), Ahmad (V/317), dari Shahabat ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu)

“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia beriman kepada qadar baik dan buruknya dari Allah, dan hingga yakin bahwa apa yang menimpanya tidak akan luput darinya, serta apa yang luput darinya tidak akan menimpanya.”
(Shahih, riwayat Tirmidzi dalam Sunan-nya (IV/451) dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dan diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 6985) dari ‘Abdullah bin ‘Amr. Syaikh Ahmad Syakir berkata: ‘Sanad hadits ini shahih.’ Lihat juga Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah (no. 2439), karya Syaikh Albani rahimahullah)

“Berusahalah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan Allah dan janganlah sampai kamu lemah (semangat). Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau berkata ’seandainya aku melakukan ini dan itu, niscaya akan begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah ‘Qodarullah wa maa-syaa-a fa’ala (Allah telah mentakdirkan segalanya dan apa yang dikehendaki-Nya pasti dilakukan-Nya).’ Karena sesungguhnya (kata) ’seandainya’ itu akan membuka pintu syaithan.”
(Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya (no. 2664))

Dengan beriman kepada takdir Allah, niscaya akan lapang hati kita, insyaAllah. Apabila hati kita telah yakin dengan setiap ketentuan Allah, maka segala urusan akan menjadi lebih ringan, tidak akan ada kegundahan maupun kegelisahan, sehingga kita akan lebih bersemangat dalam melakukan segala urusan tanpa merasa khawatir mengenai apa yang akan terjadi kemudian. Karena kita akan menggenggam tawakkal sebagai perbekalan ketika menjalani urusan dan kita akan menghunus kesabaran kala ujian datang menghadang.

“Adapun manusia, apabila Rabbnya menimpakan ujian kepadanya dengan memuliakan dan mencurahkan nikmat kepadanya maka dia mengatakan, ‘Rabbku telah memuliakanku’. Dan apabila Dia mengujinya dengan membatasi rezkinya niscaya dia akan mengatakan, ‘Rabbku telah menghinakanku’. Sekali-kali bukan demikian…”
(QS. Al Fajr: 15-17)

“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” 
(QS. Al-Baqarah: 216)

Allah Maha Tahu, Dia lebih tahu yang terbaik untuk kita lebih dari diri kita sendiri. Betapa banyak karunia dan nikmat yang terkandung pada hal-hal yang tidak disukai dari diri kita. Tak ada yang perlu dirisaukan. Kita hanya perlu berbaik sangka kepada-Nya. Bertambah lapanglah hati kita, insyaAllahu Ta'ala.

"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginya dan kebaikan itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apa bila ia mendapat kesenangan ia bersyukur dan itulah  yang terbaik untuknya. Dan apabila mendapat musibah ia bersabar dan itulah yang terbaik untuknya." 
(Shahih Muslim no. 7500 hal. 1295)

" Empat perkara, barang sipa diberi keempatnya berarti ia telah mendapatkan kebaikan dunia akhirat: hati yang selalu bersyukur, lisan yang selalu berzikir, diri yang selalu bersabar  menghadapi bala' dan istri yang tidak berkhianat pada dirinya dan pada harta suaminya."
(‘Ash-Shabru wats Tsawabu'alaihi, tilisan Ibnu Abi Dunya hal. 36)

Masih banyak hikmah lain yang mungkin bisa diambil, belum lagi dari spesifik peristiwa yang menimpa kita tersebut. Semoga kita menjadi pribadi muslim yang kokoh iman, bertawakkal, pandai bersyukur dan mampu bersabar. Amin.

|teruntuk: seseorang tercinta di kampung sana|

Wednesday, September 21, 2011

transjakarta, angkutan umum, dan wanita

Sejak unit kerja saya bedol desa ke kantor perwakilan yang di MTH *entah kenapa saya agak sulit menuliskan instansi saya bekerja*, saya tidak lagi bisa naik bus jemputan kantor untuk berangkat dan pulang --karena bus jemputan hanya tersedia untuk perjalanan dari dan ke kantor pusat yang di Gatot Subroto. Sejak saat itu, saya 'terpaksa' naik Transjakarta ke kantor, setiap pagi.

halte busway


Transjakarta, sebuah model transportasi yang hanya --baru-- ada di satu kota di negeri ini ternyata memang tak senyaman yang dibayangkan. Mulai dari halte keberangkatan, bus yang dinanti kadang tak kunjung datang. Butuh waktu kira-kira rata-rata sepuluh menit dari mulai beli karcis sampai naik bis bus; mungkin karena jumlah armada Transjakarta masih kalah dengan jumlah armada Metromini ataupun armada Kopaja. Di dalam bus, penumpang pun --terlihat-- sudah penuh berjejalan, pria dan wanita. Sebenarnya bus belum penuh-penuh amat, tetapi mereka suka berkumpul di dekat pintu keluar agar mudah dan cepat nanti turunnya; sehingga bus terlihat sudah penuh. Namun, memang kadang benar-benar penuh, benar-benar berjejalan --pria dan wanita-- apalagi pada jam-jam sibuk, seperti jam berangkat dan pulang kantor. Makanya, biasanya, saya memilih berangkat lebih pagi.


Di halte transit pun, keadaannya tidak lebih nyaman. Justru di sini, bisa dibilang lebih runyam. Terjawab sudah mengapa penumpang suka berkumpul di dekat pintu keluar. Ternyata mereka ingin cepat-cepat turun dan cepat-cepat antri lagi untuk naik bus berikutnya --sesuai jurusan/tujuan masing-masing. Di halte transit yang terbilang sempit ini, penumpang sering menumpuk dan benar-benar memenuhi setiap sudut halte, berdesakan --pria dan wanita. Kedaaan bertambah runyam manakala penumpang yang antri di depan tak kunjung naik bus karena jurusan bus yang lewat memang tidak sesuai dengan tujuannya, sementara pintu naik bus hanya ada dua untuk empat atau lima jurusan yang berbeda. Tak jarang beberapa penumpang --terutama yang masih antri di belakang-- berteriak karena tak kunjung maju apalagi naik bus; berdebat dengan petugas sampai berdebat dengan sesama penumpang. Dan saya biasanya hanya tersenyum geli saja, sempat-sempatnya mereka saling umpat saat situasi kondisi seperti ini, sama-sama susah. Untuk naik bus pun, sering kali penumpang terlibat aksi saling dorong, berbahaya. Kaki terinjak sudah hal biasa, asal jangan saja; terinjak oleh sepau hak tinggi, bisa-bisa berdarah-darah.

Di halte penurunan, ujian terakhir menghadang. Kebetulan --Qodarullah, red-- halte tempat saya turun berdekatan dengan stasiun. Pada saat-saat tertentu, para penumpang kereta yang baru saja turun dari kereta menyerbu halte Transjakarta tersebut untuk melanjutkan perjalanan mereka. Halte pun penuh --pria dan wanita, bahkan terkadang sampai mengular sampai ke sepanjang tangga. Praktis, terkadang saya harus berjibaku untuk sekadar turun dari bus, melawan antusiasme arus penumpang yang hendak naik bus. Sejak unit kerja saya bedol desa, perlu sebuah perjuangan untuk sekadar berangkat ke kantor.

**

Sebenarnya, hal-hal seperti ini, tidak hanya di Transjakarta, tetapi juga di angkutan umum lainnya, termasuk kasus pemerkosaan di angkot yang beritanya booming beberapa hari yang lalu itu, dan permasalahan lainnya bisa dihindari atau setidaknya dikurangi andai para bapak dan para suami menjaga wanita-wanita (anak/istri/saudari) mereka (untuk tetap) di rumahnya. Lagi pula tidakkah mereka cemburu sedikit saja dengan keadaan seperti itu --anak/istri/saudari mereka berjejalan, berdesakan dengan pria asing?

“Ada tiga golongan manusia yang tidak akan dilihat oleh Allah (dengan pandangan kasih sayang) pada hari kiamat nanti, yaitu: orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki, dan ad-dayyuts…” (HR. An-Nasa-i, no. 2562, Ahmad, 2/134 dan lain-lain. Dishahihkan oleh Adz-Dzahabi dalam Kitabul Kaba-ir, hal. 55 dan dihasankan oleh syaikh al-Albani dalam Silsilatul Ahaaditsish Shahihah, no. 284. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/498 mengenai makna hadits ini)

Makna ad-dayyuts adalah seorang suami atau bapak yang membiarkan terjadinya perbuatan buruk dalam keluarganya (Lihat Fathul Baari, 10/406). Lawannya adalah al-gayur, yaitu orang yang memiliki kecemburuan besar terhadap keluarganya sehingga dia tidak membiarkan mereka berbuat maksiat. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 9/357)

Dan yang perlu diingat bahwa tanggung jawab mencari nafkah ada di tangan suami sehingga bila ia masih mampu menghidupi keluarganya, jangan ia biarkan istrinya bekerja di luar rumah. Sebaliknya ia lazimkan istrinya untuk tetap tinggal di rumah karena Allah berfirman:

Thursday, September 8, 2011

tidak butuh(?)

Seorang janin di dalam rahim ibunya -mungkin- hanya membutuhkan satu: tali pusat yang menghubungkan dia dengan ibunya, yang mencukupi kebutuhan nutrisinya. Ketika hendak diberi tangan, kaki, dan organ tubuh lainnya, ia merasa tidak membutuhkannya, "Untuk apa? Saya tidak butuh, saya hanya butuh tali pusat.", begitu kira-kira pikirnya. Ia benar-benar menolak.

Saat terlahir ke dunia dan beranjak dewasa, ia pun sadar bahwa tangan dan kaki yang dahulu ditolaknya ternyata sangat berguna, penting, sangat dibutuhkan di kehidupannya yang sekarang: dunia. Dan tali pusat yang ketika di alam rahim sangat ia agung-agungkan itu justru menjadi yang pertama dibuang, tak lagi dibutuhkan. Kini, ia harus hidup tanpa tangan dan kaki. Ia pun menyesal sejadi-jadinya, "Anda waktu dapat diputar kembali..", sesalnya.

Layaknya janin itu, begitupulalah yang kira-kira terjadi pada orang-orang yang menolak syari'at Islam ini. Mereka mengira hanya butuh satu: harta; atau dua: harta dan wanita; atau tiga: harta, wanita, dan (ke)kuasa(an). Cukup! Mereka merasa tidak butuh shalat, puasa, zakat, atau pun naik haji. "Untuk apa? Shalat, puasa, zakat, naik haji tidak membuat saya kaya, tidak membuat saya bahagia. Saya tidak butuh! Saya hanya butuh uang!", begitu kira-kira yang ada di benak mereka.

Barulah mereka sadar setelah berada di kehidupan berikutnya: akhirat. Ternyata ibadah yang mereka tolak di dunia dahulu akan bermanfaat di akhirat, sedangkan harta, wanita, dan tahta yang mereka elu-elukan ketika di dunia tak berarti apa-apa di kehidupan selanjutnya ini --bahkan menjadi beban. Sama seperti janin yang menolak tangan dan kaki itu, kesadaran mereka terlambat! Yang tersisa tinggallah penyesalan. Bedanya, penyesalan kali ini --lebih parah dari penyesalan si janin--, penyesalan di akhirat mereka, adalah penyesalan yang tidak berujung: abadi, kekal.

"Dan (alangkah mengerikannya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, (mereka berkata): "Ya Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin"'
 

"Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi)nya, akan tetapi telah tetaplah perkataan (ketetapan dari-Ku): "Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka Jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama. Maka rasakanlah olehmu (siksa ini) disebabkan kamu melupakan akan pertemuan dengan harimu ini (hari Kiamat); sesungguhnya Kami telah melupakan kamu (pula) dan rasakanlah siksa yang kekal, disebabkan apa yang selalu kamu kerjakan"'

[Q.S. As Sajdah: 12-14]



*disadur dari salah satu ceramah Ramadhan.