Tuesday, September 27, 2011

pilu

Langit pagi ini mendung sekali, semendung hati ini; bergemuruh seperti hampir runtuh..

Pernahkah kita mengalami, sebuah rencana 'besar' yang telah tersusun rapi dan kita tinggal menghitung hari untuk bergembira menyambut rencana tersebut terrealisasi, tiba-tiba hancur berantakan karena suatu hal yang sebelumnya tak pernah terprediksi[?]

Angan-angan pun melayang. Haru, pilu, sampai sesak di dada seperti asma yang mendadak kambuh datang bertubi-tubi menggelayuti tubuh ini yang mulai lunglai..

Apalagi jika rencana tersebut melibatkan orang yang kita cintai; terkhusus kita persiapkan untuk orang yang kita sayangi. Berlipat gandalah kegundahan ini, lengkap sudah episode pilu.

Tapi justru inilah --menariknya-- hidup, Jenderal! Kita tak pernah tahu apa yang menanti di depan kita. Mengutip kata-kata dalam Forrest Gump, "Life was like a box of chocolates. You never know what you're gonna get." Tidak ada yang tahu masa depan kecuali Allah! Bayangkan bila manusia mengetahui masa depan, hidup ini justru akan lebih berantakan..

Setiap kejadian, pastilah ada hikmah/pelajaran/ibrah di baliknya. Manusia yang bijak adalah yang mampu mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi, pada dirinya sendiri bahkan peristiwa yang menimpa orang lain. Hikmah yang dapat kita petik dari kejadian semacam ini antara lain..

“Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.” 
(QS. Al-Hadiid: 22)

“Yang pertama kali Allah ciptakan adalah al-qalam (pena), lalu Allah berfirman, ‘Tulislah!’ Ia bertanya, ‘Wahai Rabb-ku apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah takdir segala sesuatu sampai terjadinya Kiamat.’”
(Shahih, riwayat Abu Dawud (no. 4700), dalam Shahiih Abu Dawud (no. 3933), Tirmidzi (no. 2155, 3319), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no. 102), al-Ajurry dalam ­asy-Syari’ah (no.180), Ahmad (V/317), dari Shahabat ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu)

“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia beriman kepada qadar baik dan buruknya dari Allah, dan hingga yakin bahwa apa yang menimpanya tidak akan luput darinya, serta apa yang luput darinya tidak akan menimpanya.”
(Shahih, riwayat Tirmidzi dalam Sunan-nya (IV/451) dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dan diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 6985) dari ‘Abdullah bin ‘Amr. Syaikh Ahmad Syakir berkata: ‘Sanad hadits ini shahih.’ Lihat juga Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah (no. 2439), karya Syaikh Albani rahimahullah)

“Berusahalah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan Allah dan janganlah sampai kamu lemah (semangat). Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau berkata ’seandainya aku melakukan ini dan itu, niscaya akan begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah ‘Qodarullah wa maa-syaa-a fa’ala (Allah telah mentakdirkan segalanya dan apa yang dikehendaki-Nya pasti dilakukan-Nya).’ Karena sesungguhnya (kata) ’seandainya’ itu akan membuka pintu syaithan.”
(Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya (no. 2664))

Dengan beriman kepada takdir Allah, niscaya akan lapang hati kita, insyaAllah. Apabila hati kita telah yakin dengan setiap ketentuan Allah, maka segala urusan akan menjadi lebih ringan, tidak akan ada kegundahan maupun kegelisahan, sehingga kita akan lebih bersemangat dalam melakukan segala urusan tanpa merasa khawatir mengenai apa yang akan terjadi kemudian. Karena kita akan menggenggam tawakkal sebagai perbekalan ketika menjalani urusan dan kita akan menghunus kesabaran kala ujian datang menghadang.

“Adapun manusia, apabila Rabbnya menimpakan ujian kepadanya dengan memuliakan dan mencurahkan nikmat kepadanya maka dia mengatakan, ‘Rabbku telah memuliakanku’. Dan apabila Dia mengujinya dengan membatasi rezkinya niscaya dia akan mengatakan, ‘Rabbku telah menghinakanku’. Sekali-kali bukan demikian…”
(QS. Al Fajr: 15-17)

“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” 
(QS. Al-Baqarah: 216)

Allah Maha Tahu, Dia lebih tahu yang terbaik untuk kita lebih dari diri kita sendiri. Betapa banyak karunia dan nikmat yang terkandung pada hal-hal yang tidak disukai dari diri kita. Tak ada yang perlu dirisaukan. Kita hanya perlu berbaik sangka kepada-Nya. Bertambah lapanglah hati kita, insyaAllahu Ta'ala.

"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginya dan kebaikan itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apa bila ia mendapat kesenangan ia bersyukur dan itulah  yang terbaik untuknya. Dan apabila mendapat musibah ia bersabar dan itulah yang terbaik untuknya." 
(Shahih Muslim no. 7500 hal. 1295)

" Empat perkara, barang sipa diberi keempatnya berarti ia telah mendapatkan kebaikan dunia akhirat: hati yang selalu bersyukur, lisan yang selalu berzikir, diri yang selalu bersabar  menghadapi bala' dan istri yang tidak berkhianat pada dirinya dan pada harta suaminya."
(‘Ash-Shabru wats Tsawabu'alaihi, tilisan Ibnu Abi Dunya hal. 36)

Masih banyak hikmah lain yang mungkin bisa diambil, belum lagi dari spesifik peristiwa yang menimpa kita tersebut. Semoga kita menjadi pribadi muslim yang kokoh iman, bertawakkal, pandai bersyukur dan mampu bersabar. Amin.

|teruntuk: seseorang tercinta di kampung sana|

No comments:

Post a Comment