Tuesday, August 23, 2011

serba 1000 bulan

terlelap 1000 bulan..

ngorok 1000 bulan..

nongkrong 1000 bulan..

ngobrol 1000 bulan..

ngerumpi 1000 bulan..

ngegosip 1000 bulan..

nonton bola 1000 bulan..

malam minggu-an 1000 bulan..

pacaran 1000 bulan..

maksiat 1000 bulan..

nge-game 1000 bulan..

online 1000 bulan..

facebook-an 1000 bulan..

twitter-an 1000 bulan..

apa lagi?

Tuesday, August 16, 2011

pedantis

Pernahkah kita jumpai penggunaan Bahasa Indonesia yang tidak kurang tepat?

Ketika duduk di kursi pesawat, tepat di hadapan saya ada tulisan "PELAMPUNG ADA DIBAWAH KURSI ANDA". Ironi, sebuah perusahaan penerbangan -yang notabene perusahaan besar- tidak bisa membedakan penulisan "di" sebagai kata depan dengan "di-" sebagai imbuhan. Nyaris tidak ada bedanya dengan ruko jelek di pinggir jalan dengan tulisan besar-besar "DI KONTRAKAN". *yang ini lebih nggak jelas lagi.

Yang tepat?
Pada kalimat "PELAMPUNG ADA DIBAWAH KURSI ANDA", "di" adalah kata depan karena diikuti dengan kata keterangan. Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada. Sehingga seharusnya kalimat tersebut ditulis "PELAMPUNG ADA DI BAWAH KURSI ANDA".

Pada kalimat "DI KONTRAKAN", ada dua kesalahan. Pertama, "di-" adalah imbuhan karena diikuti dengan kata kerja. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya. Kedua, akhiran yang tepat adalah "-kan", atau dengan kata lain, kata "kontrak" mendapat imbuhan "di-kan", bukan "di-an". Sehingga kalimat tersebut seharusnya ditulis "DIKONTRAKKAN", dengan dua huruf "K". Kata "DI KONTRAKAN" tepat jika digunakan misalnya pada kalimat, "SAYA SEDANG TIDUR DI KONTRAKAN", tetapi tidak tepat ditulis di depan toko.

Mungkin perusahaan penerbangan itu keterlaluan. Tidak punyakah mereka, seorang pun ahli bahasa sehingga kesalahan sesederhana itu muncul tepat di depan mata para pelanggannya? Atau mungkin saya yang terlalu peduli?

Tempo hari, saya mendapati blog bagus dari Indonesia17 yang mengulas penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ternyata ada istilah untuk sifat terlalu peduli, pedantis.

Saya pun masih sering salah dalam berbahasa Indonesia, baik dalam ragam lisan maupun tulisan. Namun, setidaknya saya sadar dan ingin belajar.

DI JUAL(?)

Thursday, August 11, 2011

27 kali lipat

Seorang pegawai bekerja di sebuah kantor tak jauh dari rumahnya dengan gaji 2 juta perbulan. Suatu saat, perusahaan menawarinya untuk pindah ke kantor cabang yang lain dengan pekerjaan yang sama persis, tetapi dengan gaji 10 juta perbulan. Jarak antara kantor pertama dengan kantor kedua hanya 1 km.

Ironi, si pegawai tidak mau menerima tawaran tersebut dengan alasan yang tidak jelas. Apa yang Anda katakan tentang pegawai ini? Simpan dulu jawaban Anda.

Mari kita bandingkan dengan yang satu ini..

Sungguh, Allah telah menyediakan pahala yang besar dalam shalat berjamaah. Rasululullah telah menyebutkannya dalam hadits-haditsnya. Di antaranya adalah,

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Sholat berjamaah melebihi keutamaan sholat sendirian dengan selisih 27 derajad.”

[Shohih Fiqhus Sunnah karya Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim dengan ta’liq dari Syaikh al-Albani, Syaikh Bin Baz, dan Syaikh Ibnu Utsaimin]

Seorang muslim yang lebih suka shalat sendirian di rumah ditawari untuk shalat berjamaah di masjid dengan shalat yang sama, tetapi dengan pahala 27 -atau 28- kali lipat. Ingat, pada ilustrasi di atas, gaji yang ditawarkan hanya 5 kali lipat, jauh lebih kecil dari 27 kali lipat. Jarak antara rumah dengan masjid pun tak sampai 1 km.

Ironi, dia tetap saja tidak mau menerima tawaran tersebut, shalat berjama'ah di masjid dekat rumahnya.

Sekarang apa yang akan Anda katakan tentang orang ini? Jawaban Anda seharusnya lebih parah dari jawaban Anda pada kasus yang pertama.

Jika kita jadi pegawai tersebut, tentu kita akan menerima -bahkan dengan sangat antusias- tawaran tersebut. Gaji 5 kali lipat, dengan pekerjaan yang sama persis dan kantor baru yang tidak terlalu jauh dari kantor pertama. Alangkah bodohnya jika kita tidak menerima tawaran tersebut.

Sebagai seorang muslim, seharusnya kita lebih antusias, bersemangat untuk menerima tawaran pahala shalat berjamaah. Pertama, karena pahala 27 kali lipat jauh lebih besar dari gaji 5 kali lipat. Kedua, karena jarak rumah kita ke masjid tidak lebih jauh dari jarak kantor baru dengan kantor pertama. Dan ketiga, sebenarnya tidak akan bisa dibandingkan pahala di akhirat yang kekal dengan gaji di dunia yang hanya sementara.

Maka, sungguh keterlaluan jika kita tetap bergeming, tidak mau beranjak untuk shalat berjamaah di masjid. Satu, mungkin karena keraguan akan sabda Rasulullah di atas; dan ini dapat menjatuhkan seseorang ke dalam lembah kekufuran -naudzubillah. Dua, mungkin karena kita malas. Malas? Laa haula wa la quwwata illa billah. Apa yang akan Anda katakan jika alasan si pegawai menolak tawaran gaji 5 kali lipat tadi hanya karena malas? Sebaliknya, kita justru akan sangat bersemangat jika menjadi pegawai tersebut. Lalu, kemana semangat kita ketika Allah menawari pahala 27 kali lipat? Apakah cinta kita kepada dunia melebihi cinta kepada akhirat? Apakah keyakinan kita kepada dunia yang sudah pasti akan hancur ini melebihi keyakinan kita terhadap akhirat yang kekal? Dimana keiamanan?

Satu hal lagi, pembahasan di atas sama sekali belum menyinggung bahwa hukum shalat berjamaah bagi laki-laki adalah WAJIB. Jika ditambah dengan pembahasan tentang kewajiban ini, tentu lebih tidak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak shalat berjamaah di masjid.

Maka Saudaraku, mari kita langkahkan kaki kita ke masjid..

mari shalat berjamaah di masjid


*disadur dari penggalan kajian Ustadz Muhammad Nuzul di Radio Rodja.

Friday, August 5, 2011

balapan mikrolet

Beginilah kondisi persaingan angkutan umum di Ibu Kota. Hanya beberapa meter di belakang dan di depan satu angkutan, sudah ada angkutan lain dengan nomor seri dan trayek yang sama persis. Mereka saling bersaing memperebutkan penumpang, tak jarang sampai kebut-kebutan laiknya balapan F1.

balapan mikrolet; gambar diambil saat perjalanan pulang dari kantor

Wednesday, August 3, 2011

I'm not smarter than a kenek metromini

Sore itu, hari kedua puasa. Seturun dari mobil tumpangan rekan kerja di perempatan Utan Kayu, saya melanjutkan perjalanan pulang naik Metromini ke arah Rawamangun.

Si kenek menyodorkan tangan kanannya tanda meminta ongkos. Saya pun memberikan selembar uang Rp5.000-an. Si kenek mencari-cari kembalian, Rp3.000. Namun, di genggamannya hanya banyak lembaran uang Rp2.000-an, tak ada satu pun Rp1.000-an.

"Ada uang pas aja, Mas?", tanyanya sambil mengembalikan uang lima ribu yang sudah saya berikan tadi.

"Nggak ada i.", jawab saya sembari memperlihatkan isi dompet yang hanya ada dua lembar Rp10.000-an. *miskin ya?

"....", si kenek mengatakan sesuatu yang tidak terlalu terdengar jelas oleh telinga saya.

"Apa???", saya memasang telinga baik-baik.

"Sepuluh ribuannya aja.", ulang si kenek.

"Oo..", saya baru tersadar dari ke-telmi-an.

Kemudian saya memberikan Rp10.000-an, dan si kenek memberi kembalian empat lembar Rp2.000-an.

Metromini

Mungkin memang saya tidak lebih pintar dari si kenek Metromini itu, atau mungkin perut kosong dan angan-angan berbuka puasa sebentar lagi membuat otak saya jadi lambat berpikir.