Thursday, August 11, 2011

27 kali lipat

Seorang pegawai bekerja di sebuah kantor tak jauh dari rumahnya dengan gaji 2 juta perbulan. Suatu saat, perusahaan menawarinya untuk pindah ke kantor cabang yang lain dengan pekerjaan yang sama persis, tetapi dengan gaji 10 juta perbulan. Jarak antara kantor pertama dengan kantor kedua hanya 1 km.

Ironi, si pegawai tidak mau menerima tawaran tersebut dengan alasan yang tidak jelas. Apa yang Anda katakan tentang pegawai ini? Simpan dulu jawaban Anda.

Mari kita bandingkan dengan yang satu ini..

Sungguh, Allah telah menyediakan pahala yang besar dalam shalat berjamaah. Rasululullah telah menyebutkannya dalam hadits-haditsnya. Di antaranya adalah,

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Sholat berjamaah melebihi keutamaan sholat sendirian dengan selisih 27 derajad.”

[Shohih Fiqhus Sunnah karya Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim dengan ta’liq dari Syaikh al-Albani, Syaikh Bin Baz, dan Syaikh Ibnu Utsaimin]

Seorang muslim yang lebih suka shalat sendirian di rumah ditawari untuk shalat berjamaah di masjid dengan shalat yang sama, tetapi dengan pahala 27 -atau 28- kali lipat. Ingat, pada ilustrasi di atas, gaji yang ditawarkan hanya 5 kali lipat, jauh lebih kecil dari 27 kali lipat. Jarak antara rumah dengan masjid pun tak sampai 1 km.

Ironi, dia tetap saja tidak mau menerima tawaran tersebut, shalat berjama'ah di masjid dekat rumahnya.

Sekarang apa yang akan Anda katakan tentang orang ini? Jawaban Anda seharusnya lebih parah dari jawaban Anda pada kasus yang pertama.

Jika kita jadi pegawai tersebut, tentu kita akan menerima -bahkan dengan sangat antusias- tawaran tersebut. Gaji 5 kali lipat, dengan pekerjaan yang sama persis dan kantor baru yang tidak terlalu jauh dari kantor pertama. Alangkah bodohnya jika kita tidak menerima tawaran tersebut.

Sebagai seorang muslim, seharusnya kita lebih antusias, bersemangat untuk menerima tawaran pahala shalat berjamaah. Pertama, karena pahala 27 kali lipat jauh lebih besar dari gaji 5 kali lipat. Kedua, karena jarak rumah kita ke masjid tidak lebih jauh dari jarak kantor baru dengan kantor pertama. Dan ketiga, sebenarnya tidak akan bisa dibandingkan pahala di akhirat yang kekal dengan gaji di dunia yang hanya sementara.

Maka, sungguh keterlaluan jika kita tetap bergeming, tidak mau beranjak untuk shalat berjamaah di masjid. Satu, mungkin karena keraguan akan sabda Rasulullah di atas; dan ini dapat menjatuhkan seseorang ke dalam lembah kekufuran -naudzubillah. Dua, mungkin karena kita malas. Malas? Laa haula wa la quwwata illa billah. Apa yang akan Anda katakan jika alasan si pegawai menolak tawaran gaji 5 kali lipat tadi hanya karena malas? Sebaliknya, kita justru akan sangat bersemangat jika menjadi pegawai tersebut. Lalu, kemana semangat kita ketika Allah menawari pahala 27 kali lipat? Apakah cinta kita kepada dunia melebihi cinta kepada akhirat? Apakah keyakinan kita kepada dunia yang sudah pasti akan hancur ini melebihi keyakinan kita terhadap akhirat yang kekal? Dimana keiamanan?

Satu hal lagi, pembahasan di atas sama sekali belum menyinggung bahwa hukum shalat berjamaah bagi laki-laki adalah WAJIB. Jika ditambah dengan pembahasan tentang kewajiban ini, tentu lebih tidak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak shalat berjamaah di masjid.

Maka Saudaraku, mari kita langkahkan kaki kita ke masjid..

mari shalat berjamaah di masjid


*disadur dari penggalan kajian Ustadz Muhammad Nuzul di Radio Rodja.

No comments:

Post a Comment