Wednesday, August 3, 2011

I'm not smarter than a kenek metromini

Sore itu, hari kedua puasa. Seturun dari mobil tumpangan rekan kerja di perempatan Utan Kayu, saya melanjutkan perjalanan pulang naik Metromini ke arah Rawamangun.

Si kenek menyodorkan tangan kanannya tanda meminta ongkos. Saya pun memberikan selembar uang Rp5.000-an. Si kenek mencari-cari kembalian, Rp3.000. Namun, di genggamannya hanya banyak lembaran uang Rp2.000-an, tak ada satu pun Rp1.000-an.

"Ada uang pas aja, Mas?", tanyanya sambil mengembalikan uang lima ribu yang sudah saya berikan tadi.

"Nggak ada i.", jawab saya sembari memperlihatkan isi dompet yang hanya ada dua lembar Rp10.000-an. *miskin ya?

"....", si kenek mengatakan sesuatu yang tidak terlalu terdengar jelas oleh telinga saya.

"Apa???", saya memasang telinga baik-baik.

"Sepuluh ribuannya aja.", ulang si kenek.

"Oo..", saya baru tersadar dari ke-telmi-an.

Kemudian saya memberikan Rp10.000-an, dan si kenek memberi kembalian empat lembar Rp2.000-an.

Metromini

Mungkin memang saya tidak lebih pintar dari si kenek Metromini itu, atau mungkin perut kosong dan angan-angan berbuka puasa sebentar lagi membuat otak saya jadi lambat berpikir.

No comments:

Post a Comment