Friday, February 25, 2011

guest

Mungkin karena ada rencana menerapkan e-audit, kantor ini sedikit demi sedikit mulai berbenah. Ya, e-audit, audit berbasis elektronik. Entah bagaimana detail konsepnya, yang jelas setahu saya, e-audit haruslah didukung oleh jaringan  -entah berbasis internet atau apa- yang kuat. Awalnya saya juga agak meragukannya. Koneksi internet di kantor saja lemot dan terkadang malah -sering- error, bagaimana mau menerapkan e-audit [?].

Sudah tiga hari ini, di laptop -pinjaman kantor- saya, muncul wireless network berjudul Guest -dan yang penting bisa diakses-, entah karena saya baru sadar, atau mungkin memang baru saja ada. Walhasil, saya pun jadi tak perlu beranjak dari tempat duduk menghampiri komputer kantor jadoel berdebu di sudut ruang kerja saya untuk sekadar meng-akses internet.

Modem? *Hhe.* Saya tidak punya modem. Bukannya tidak mampu beli *jiah*, bukan pula tidak mampu bayar tagihannya, tetapi karena saya tidak ingin kejadiannya seperti ini -seperti beberapa hari ini. Kerjaan saya -kalau ada- jadi terganggu gara-gara bisa akses internet dari laptop. Sedikit-sedikit buka internet, sedikit-sedikit buka internet. Saya tidak mau dan khawatir modem akan membuat saya autis, hanya berteman dekat dengan komputer jinjing, membuang-buang waktu untuk urusan yang tidak terlalu penting -agar kuota tidak terbuang sia-sia misalnya-, dan lain sebagainya.

Walaupun facebook dan twitter diblokir -dan sekarang pun saya juga tak terlalu suka buka facebook, twitter apalagi-, masih ada kompas.com untuk baca-baca atau blogger.com untuk tulis-tulis. Makanya juga saya jadi rajin menulis. Biasanya saya tulis di laptop, kemudian di waktu sela -atau setelah berebut 'komputer kantor jadoel berdebu tapi bisa akses internet' dengan teman sekantor-, saya copy paste ke blogger untuk di-posting, tapi beberapa hari ini saya langsung tulis dan posting dari blogger.com. *Hhe*

Hmm. Intinya, -sedikit banyak- "Guest" telah mengganggu pekerjaan saya beberapa hari ini, entah untuk seterusnya atau hanya sementara. Semoga saja, saya segera bisa beradaptasi -menerima kehadiran internet di laptop saya *memang kedengaran sangat ndeso*, hingga bisa bekerja seperti biasanya dan menggunakan internet -gratisan- seperlunya.


signal kuat gratisan

Thursday, February 24, 2011

pajak

Hari ini, ada sosialisasi pengisian SPT Tahun 2010 di kantor saya. Saya tidak ikut, nitip aja. Masa bodoh salah atau bener ngisinya. *Hhe.

Salah satu yang bikin malas hidup di negeri ini adalah pajak. Hampir-hampir tidak ada yang luput dari pajak, PPN [?] Negeri ini kaya! Seandainya sedikit pintar saja mengelolanya, tak perlu ada pajak segala. Menyusahkan rakyat jelata. Sudah begitu, sepertinya pajak juga kurang -atau bahkan tidak sama sekali- berhasil menyelesaikan masalah negeri ini, memeratakan pendapatan, menyejahterakan yang belum sejahtera. Mana [?]

Lihatlah Arab Saudi, tidak ada pajak  di sana, tetapi sekolah gratis bahkan beasiswa diberikan kepada warga negara asing untuk menimba ilmu di sana secara cuma-cuma, dapat uang saku pula. Kekayaan alam Arab bisa dikatakan hanya minyak, bandingkan dengan negeri ini yang juga punya minyak, masih punya emas, batu bara, tanah subur, laut melimpah, dan beragam kekayaan alam lainnya. dan Indonesia masih butuh pajak untuk sekadar 'hidup'[?] Hampir-hampir tidak ada hal yang lepas dari pajak di negeri ini. Dan anehnya lagi, pajak-pajak tersebut masih belum mampu membuat Indonesia bangkit dari 'sekarat ekonomi', jauh dari kemakmuran Arab Saudi yang bebas pajak.

*Ups* Sebelum saya kebablasan -menjilat ludah sendiri- mengkritik penguasa tidak pada tempatnya. Cukup. Sebenarnya fokus saya bukan ke pemerintah/penguasa, tetapi ke 'pajak' nya. Itu tadi baru dari logika saja, belum lagi ditinjau dari segi hukum Islam tentang pajak. 

Ya, semoga semuanya bisa segera berubah lebih baik. Amin.

Karena teman -yang saya titipi- lupa -atau tidak tahu SPT harus diamplopi- tidak bawa amplop, terpaksa lah saya turun menyusulkan amplop. Melihat petugas penerima SPT, sepertinya kasihan juga. Jari-jarinya mungkin sudah hampir keriting rasanya menulis sejak pagi tadi. Sampai tulisannya, yang mungkin sebenarnya bagus, jadi -maaf- jelek begini.

tanda terima SPT tahunan

Wednesday, February 23, 2011

catatan untuk demonstran

Sedih melihat keadaan Mesir dan negara-negara Timur Tengah saat ini. Gelombang syubhat Demokrasi  tengah melanda. Demonstrasi terjadi dimana-mana. Darah tumpah ruah. Di negeri kita pun, hampir-hampir tiada hari tanpa demonstrasi. Berbagai macam alasan menjadi pembenar untuk turun ke jalan. Seandainya saja mereka bersabar dan berpikir ulang.

Allahu Ta`ala berfirman: “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” [QS. Thaahaa: 43-44].

Di dalam ayat yang mulia ini terdapat pelajaran yang sangat besar dalam berda’wah/menyampaikan nasihat kepada penguasa yang zhalim. Fir’aun ketika itu adalah seorang yang sangat melampaui batas, sombong bahkan mengaku dirinya sebagai tuhan! Sedangkan Musa adalah seorang Nabi yang besar dan mulia di sisi Allah bersama saudaranya Harun. Meskipun demikian Allah tetap memerintahkan kepada Musa dan Harun untuk berbicara kepada Fir’aun dengan kata-kata yang lemah lembut.

Perhatikan! Pertama, apakah para penguasa hari ini lebih dzalim dari Fir`aun? Kedua, apakah Anda -para demonstran- lebih mulia dari Musa dan Harun? Jika kedua jawabannya adalah "Ya", maka silakan berbuat sesuka Anda -karena saya menyangsikan kewarasan Anda. Dan jika salah satu atau kedua jawabannya "Tidak" -dengan kata lain 'jarak ketaqwaan' antara penguasa dengan Anda, tidak lebih jauh dari pada  'jarak ketaqwaan' antara Fir`aun dengan Musa dan Harun, maka berarti para penguasa itu lebih berhak mendapatkan kelemahlembutan dari pada Fir'aun, dan Anda lebih wajib berlemahlembut dari pada Musa dan Harun dalam menasihati para penguasa.

Selengkapnya baca di sini, dan di sini, dan di sini.

Tuesday, February 22, 2011

sedang agak sibuk

Ceritanya berawal dari tulisan finally, non skripsi tempo hari. Seminar akuntansi keuangan, mata kuliah yang harus saya ambil sebagai ganti skripsi, mengharuskan saya menyusun sebuah paper minimal 25 halaman untuk kemudian dipresentasikan di depan kelas. Setelah membaca-baca beberapa buku Teori Akuntansi, saya tertarik –atau sangat tertarik- untuk mengambil rekayasa laba sebagai topik untuk paper saya, rencananya.
Lalu, bergerilya lah saya mencari bahan untuk topik tersebut. Facebook saya yang sudah lama tak saya kunjungi *sampai penuh sarang laba-laba* ternyata masih berguna –selain untuk menge-link kan blog ini ke “pasar”-. Saya posting status saja di facebook, kurang lebih “ada yang punya artikel tentang rekayasa laba?”. Efektif! Walaupun hanya satu teman yang comment *hiks*, tetapi cukup berguna -atau sangat berguna-. Dia –Toufan Sougi Saputra- merekomendasikan kepada saya sebuah judul buku yang sesuai dengan topik tersebut, The Financial Numbers Game, buku keren katanya.
Awalnya, saya berniat mencari dan membeli buku dimaksud di Gramedia Matraman. Namun, qodarullah, ketika melihat-lihat hendak meminjam buku-buku lain yang mungkin berhubungan dengan rekayasa laba di perpustakaan kantor, saya justru menemukan buku rekomendasi teman saya itu di rak lemari buku-buku baru, Deteksi Kecurangan Akuntansi, The Financial Numbers Game yang telah dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia. Alhamdulillah. *ngirit, hhe*
Buku ber-cover hitam setebal 449 halaman itu kelihatannya cukup menarik. Entah mengapa saya juga suka gaya bahasa orang barat yang bahkan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, mungkin salah satunya karena kalimat-kalimatnya sangat efisien, walaupun terkadang sedikit membingungkan. Sampai saya menulis ini, saya baru menyelesaikan 42 halaman, kurang dari 10% nya.
Hari-hari saya beberapa hari ke depan mungkin akan sedikit disibukkan dengan membaca buku tersebut, mempersiapkan reviu kertas kerja pemeriksaan, dan menulis paper tugas kuliah. Dan mungkin saja itu -sedikit atau banyak-, mengurangi waktu saya untuk menulis dan mem-posting tulisan di blog ini. Jadi, saya terlebih dulu di awal, mohon maaf kepada pembaca sekalian. *lebbay tidak ya?*
Semangat!





//cerita tentang rekayasa laba menyusul, insyaAllah.

Friday, February 18, 2011

fitnah

Salah satu teknik pengembangan kosakata dalam sebuah bahasa adalah dengan menyerap kosakata dari bahasa asing. Salah satu bahasa yang kosakatanya paling banyak diserap dalam bahasa Indonesia adalah Bahasa Arab. Iman, ilmu, ibadah, amal, malaikat, nabi, taat, kitab, sedekah, masjid, nasihat, dewan, majelis, wakil, musyawarah, rakyat, adil, hukum, hakim, senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu, ahad, kursi, hewan, mati, kubur, akhirat, dan fitnah hanyalah sebagian kecil kata dalam bahasa Indonesia hasil serapan dari bahasa Arab yang saya ketahui.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, fitnah didefinisikan sebagai perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang. Entah dari mana datangnya definisi tersebut. Yang jelas kata “fitnah” termasuk kata dalam bahasa Indonesia ini diserap dari Bahasa Arab yang mengalami pergeseran makna dari bahasa aslinya.

Secara bahasa (Arab), fitnah yang berasal dari kata dasar fatana berarti ujian. Secara istilah, banyak sekali didapatkan kata fitnah dalam Al-Qur`an. Pada surat Al Baqarah 217, “.. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh..”, dalam surat Al Baqarah ayat 191 dan 193, serta dalam An Nisaa’ ayat 91, fitnah bermakna kekafiran/kesyirikan. Pada surat Al An`amm ayat 23, “Kemudian tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan: "Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah.", dimana fitnah berarti alasan dusta. Dalam surat Yunus ayat 85, “Lalu mereka berkata: "Kepada Allahlah kami bertawakkal! Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang'zalim,“, dalam surat Al Anfaal ayat 39, dan dalam surat Al Mumtahanah ayat 5, fitnah berarti gangguan. Dan masih ada beberapa ayat yang lain yang terdapat kata fitnah di dalamnya.

Beberapa kata dalam bahasa Arab memang diserap ke dalam bahasa kita tidak dengan tepat, sehingga jika digunakan dalam makna sebenarnya justru dapat membuat orang yang kurang mengerti menjadi salah paham, salah satunya adalah kata “fitnah” ini. Di dalam bahasa kita fitnah diartikan sebagai perkataan bohong yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang, sedangkan dalam bahasa asalnya (Arab), fitnah bermakna ujian/gangguan.

artikel terkait:

sebuah catatan seorang budak Allah

Ya, saya memilih menjadi budak Allah, tidak ingin menjadi budak hawa nafsu, tidak ingin pula menjadi budak akal!

Sesungguhnya, setan memiliki dua jalan untuk menyesatkan manusia. Fitnah syahwat dan fitnah syubhat.

Membunuh, berzina, minum khamr adalah fitnah syahwat. Syiah, Khawarij, Murjiah, Jahmiyah, Qodariyah, Jabariyah, Sufi, Tasawuf, Filsafat, Demokrasi, HAM, Emansipasi Wanita, Persamaan Gender, Kebebasan Pers, Liberalisme, Komunisme adalah fitnah syubhat.

Fitnah syahwat tentang baik-buruk, fitnah syubhat tentang benar-salah.

Kebanyakan penderita fitnah syahwat sadar bahwa dirinya berada dalam keburukan, kebanyakan penderita fitnah syubhat tidak sadar bahwa dirinya berada dalam kesalahan. Dan ini jauh lebih berbahaya.

Fitnah syahwat menyerang hawa nafsu, fitnah syubhat menyerang akal.

Fitnah syahwat melahirkan maksiat, fitnah syubhat melahirkan bid`ah (baik amal atau aqidah-keyakinan/pemahaman-).

Fitnah syahwat dilawan dengan sabar, fitnah syubhat dilawan dengan ilmu!

Dan ilmu adalah apa-apa yang berasal dari Allah dan RosulNya. Bukan dari professor, doktor, reformis, atau orientalis.

Sebagaimana syahwat yang harus tunduk dengan dalil, maka akal pun harus tunduk dengan dalil. Dan akal sehat tidak akan pernah bertentangan dengan dalil shohih!

Sebagaimana perilaku hawa nafsu, ada yang halal dan ada yang haram, begitupula perilaku akal, ada yang halal dan ada yang haram.

Abu Huroiroh pernah berkata, “Aku hafal dua karung hadits, satu karung aku ajarkan, satu karung tidak aku ajarkan.”

Ada ilmu yang diajarkan, dan ada ilmu yang disimpan.

Ada pertanyaan yang terjawab, ada pertanyaan yang jawabannya tersimpan di akherat. Di mana Allah akan menjawab semua pertanyaan manusia. Semuanya.

Itulah, surga, tidak hanya kenikmatan syahwat –sebagai balasan atas penundukan hawa nafsu dengan dalil-, tapi juga kenikmatan ilmu –sebagai ganjaran atas penundukan akal dengan dalil-.

Abu Bakar ketika dikabarkan oleh musuh Allah bahwa Nabi telah gila tentang Isro` Mi`roj, Beliau justru mengatakan, “Jika benar Rosulullah mengatakannya, saya percaya.” Mendahulukan dalil di atas akal!

Dan tahukah Anda kesesatan pertama? Adalah ketika Iblis membantah perintah Allah untuk sujud kepada Adam dengan akalnya! aku (Iblis) Engkau ciptakan dari api, sedangkan Adam Engkau ciptakan dari tanah, bagaimana Api yang lebih mulia harus sujud kepada tanah? Mendahulukan akal di atas dalil!

Sebuah kisah tentang dalil dan akal

Nabi pernah bersabda, “Dunia ini bagaikan penjara bagi orang mukmin, dan bagaikan surga bagi orang kafir.” (H.R. Muslim)

Seorang Yahudi miskin mencoba membantah hadits yang mulia ini dengan akalnya yang dangkal. Dia bertanya kepada Ibnu Hajar Al Astqolani –seorang Ulama yang hidup dalam kemewahan-, “Saya seorang Yahudi hidup seperti ini, dan engkau seorang muslim hidup seperti itu. Mana yang lebih layak disebut bagai hidup di penjara, dan mana yang lebih layak disebut bagai hidup di surga?”

Ibnu Hajar menjawabnya dengan sangat bagus.

“Kehidupan saya di dunia seperti ini bagaikan penjara jika dibandingkan dengan kenikmatan yang (insyaAllah) saya dapatkan di surga kelak, dan kehidupanmu di dunia yang seperti itu bagaikan surga jika dibandingkan dengan siksaan yang (insyaAllah) kamu akan dapatkan di neraka kelak.”

Demi Allah, akal yang sehat tidak akan bertentangan dengan dalil yang shohih dengan pemahaman yang benar. Namun, sekali lagi, tidak semua pertanyaan akal boleh ditanyakan sebagaimana tidak semua hawa nafsu boleh diperturutkan dan tidak semua pertanyaan terjawab di dunia sebagaimana tidak semua nikmat Allah turunkan di dunia (hanya 1 bagian nikmat yang Allah turunkan di dunia, 99 bagian disimpan untuk akherat).

Memperturutkan hawa nafsu tanpa melihat rambu-rambu dari Allah adalah perbudakan kepada hawa nafsu, memperturutkan akal tanpa melihat rambu-rambu dari Allah adalah perbudakan kepada akal. Menyelaraskan hawa nafsu dan akal dengan dalil dari Allah adalah perbudakan kepada Allah.

Dan Allah membiarkan budak-budak hawa nafsu dan membiarkan budak-budak akal itu bukan karena Dia tidak mampu menghentikan nafas mereka detik ini juga, tapi agar mereka bertaubat, atau agar mereka lebih jauh tersesat. Sampai-sampai Yahudi mengatakan “Tangan Allah terbelenggu”? Allahu Akbar, entah apa yang akan mereka terima di akherat kelak.

Ya. Dan Saya adalah budak Allah, bukan budak hawa nafsu, bukan pula budak akal. InsyaAllahu Ta`ala. Allahu Ta`ala a`lam.




Monday, February 14, 2011

valentine-an atau maulid-an?

Sesungguhnya fitnah itu ada dua, fitnah syahwat -yang kebanyakan orang mengetahui dengan jelas keburukannya- dan fitnah syubhat -yang samar bagi sebagian orang bahwa itu adalah keburukan.

Setan menyerang orang yang cenderung kepada kemaksiatan dengan fitnah syahwat, dan setan -tidak kurang akal- menyerang pula orang yang cenderung kepada ibadah -namun tidak dengan berdasarkan ilmu- dengan fitnah syubhat.

Hari ini, fitnah syahwat dan fitnah syubhat telah menyebar bak jamur di musim penghujan. Hampir-hampir tidak ada yang selamat kecuali orang-orang yang dirahmati Allah -semoga kita termasuk di dalamnya.

Seperti yang akan kita lihat beberapa hari ke depan, antara valentine-an dan maulid-an. Dua hal -yang menurut saya- mewakili dua fitnah tersebut.

Semoga Allah menjaga kita dari dua fitnah. Amin.

Friday, February 11, 2011

belajar dari sakit

Alhamdulillah, influenza saya sudah agak mereda. –semacam- Kutil di pergelangan tangan kiri juga sudah hampir sembuh. Jerawat –atau bisul- di jidat juga udah kempes. Larutan darah bercampur ludah juga sudah jarang keluar sekarang. *penyakitan banget ya, saya?*
O ya, hikmah ketiga yang bisa diambil dari sakit yang belum tersebutkan kemarin adalah –seharusnya- kita jadi lebih dapat mensyukuri nikmat kesehatan, satu dari dua nikmat –selain nikmat kesempatan- yang sering terlupakan.
-biasanya- Kita baru menyadari betapa berharganya sesuatu justru ketika kita kehilangan sesuatu tersebut –entah untuk sementara ataupun untuk selamanya. Sama seperti kesehatan, -biasanya- ketika sehat, kita melakukan hal-hal yang kurang bahkan tidak berguna –bahkan bermaksiat. Baru ketika sakit, -biasanya- kita berangan-angan akan memulai ini, melakukan ini, membereskan itu, dsb setelah nanti sehat kembali. Padahal ini, itu, dsb nya tsb seharusnya sudah bisa kita lakukan dan kita bereskan jauh-jauh hari sebelum kita sakit, ketika sehat kemarin-kemarin. Anehnya, -biasanya- ketika kembali sehat, kembali pula kita ke kehidupan lama kita yang berantakan kita melakukan hal-hal yang kurang bahkan tidak berguna –bahkan bermaksiat.
Sudah seharusnya, kita bisa belajar dari sakit. Allah menguji hamba-hambaNya dengan dua hal, takdir baik dan takdir buruk. Terkadang seseorang diuji dengan kemiskinan, sedangkan yang lain diuji dengan kekayaan. Terkadang seseorang diuji dengan sakit, terkadang dijui pula dengan kesehatan. Dan sebagainya. Hanya saja kesalahan pola pikir yang telah mengakar dan mendarah daging bahwa ujian itu hanya berupa takdir buruk saja, membuat kita terlena dengan ujian-ujian berupa takdir baik. Berapa banyak orang yang justru kembali ke jalan yang benar setelah mereka ditimpa musibah, sakit, atau pun jatuh miskin. Dan betapa banyak pula orang sehat dan kaya justru menggunakan kesehatan dan kekayaannya untuk melakukan segala hal yang tidak baik.
Maka, sebenarnya ujian berupa takdir baik –kesehatan, kekayaan, kekuasaan, ketampanan, kecantikan- lebih berbahaya dan menjerumuskan lebih banyak orang. Orang yang lulus dari ujian berupa takdir baik –karena mereka mungkin tidak sadar bahwa mereka sedang diuji- lebih sedikit dari pada orang yang lulus dari ujian berupa takdir buruk –karena mereka sadar bahwa mereka sedang diuji.
So, sebenarnya setiap saat kita sedang diuji, baik dengan takdir buruk maupun dengan takdir baik. Hanya kita sadar atau tidak, dan sabar atau tidak.
Mari tingkatkan kesadaran dan kesabaran kita!

Wednesday, February 9, 2011

erwin belajar Bahasa Inggris

Tempo hari saya sampaikan bahwa salah satu keinginan duniawi saya saat ini adalah pandai berbahasa Inggris. Saya harus akui, saya memang tidak –atau kurang, atau belum- pandai berbahasa Inggris. Masih jauh dari menguasai. Baik dalam reading, writing, speaking, atau pun listening. Terlebih dua –atau tiga- yang disebut terakhir. *jangan tertawa, apalagi dalam Bahasa Inggris*. Entah, padahal nilai pelajaran Bahasa Inggris saya sejak kelas 1 SMP sampai terakhir waktu kuliah di STAN lumayan bagus. Mungkin karena jarang dipraktekkan, apalagi saya tidak suka menonton film, apalagi mendengarkan musik. Mungkin juga karena metode pengajaran terutama dalam mata pelajaran bahasa kita yang perlu diperbaiki, harus lebih mengedepankan praktek –terutama speaking dan listening- daripada teori, karena bahasa untuk dipraktekkan, bukan sekadar dipahami.

Kenapa saya pengen pandai berbahasa Inggris? Sebenarnya kata yang lebih tepat mungkin terpaksa pengen. Saya jadi ingat kata salah satu guru saya *tapi lupa siapa dan guru dimana*. “Kalau ingin bisa bersaing –atau bahkan sekadar bertahan- di dunia kerja, Anda harus menguasai dua hal: Komputer dan Bahasa Inggris!”, begitu kira-kira katanya.

Kalau dipikir-pikir *cuma kadang sayanya aja yang males mikir, makanya males juga belajar Bahasa Inggris, hhe*, ada benarnya juga nasihat tersebut. Yang pertama, komputer –atau Teknologi secara umum- mau tidak mau harus diikuti perkembangannya kalau tidak mau ketinggalan zaman, apalagi perkembangan Teknologi sekarang ini sangat pesat dan cepat. Ibarat kata, hari ini beli gadget paling canggih, seminggu kemudian buisa jadi sudah basi. Teknologi dapat membuat pekerjaan kita lebih ekonomis, efisien, dan efektif. Maka, jika tidak mampu menguasai dan mengimbangi perkembangan teknologi, kita akan dengan mudah dikalahkan –atau bahkan kalah dengan sendirinya-.

Yang kedua, Bahasa Inggris, harus diakui telah menjadi “bahasa dunia”, bahasa Internasional yang paling banyak digunakan, selain bahasa Jawa *ngaco*. Maka, buku-buku dan referensi-referensi IPTEK pun lebih banyak tertulis dalam Bahasa Inggris. Sementara untuk tahu dan memahami banyak hal, kita harus banyak membaca dan mendengar Lalu bagaimana bisa membaca dan mendengar dengan baik kalau bahasa yang digunakan tidak kita kuasai [?]. Maka, kalo mau maju, kuasailah Bahasa Inggris, begitu mungkin logikanya.

Logika tersebut juga berlaku dalam agama Islam! Islam diturunkan di tanah Arab, diturunkan kepada Nabi Muhammad Sholallohu `alayhi wassalam yang juga orang Arab, kitab suci Al Qur`an pun diturunkan dalam Bahasa Arab, Hadits-hadits Nabi tentu juga berbahasa Arab, kitab-kitab para ulama` ditulis dalam Bahasa Arab. Maka, hampirhampir mustahil seorang muslim dapat mendalami agama Islam dengan baik dan benar tanpa menguasai Bahasa Arab –dan hanya mengandalkan terjemahan-. Maka, sebenarnya –seharusnya- saya -dan kita- lebih tertarik dan lebih ingin pandai berbahasa Arab daripada Bahasa Inggris *makanya, saya sebut sebagai keinginan duniawi*, seperti perbandingan akhirat dengan dunia. Anehnya banyak orang (muslim, red) sama sekali tidak tertarik dengan Bahasa Arab –dan lebih tertarik berbahasa Inggris-. Sama halnya seperti lebih tertariknya mereka kepada dunia daripada Surga, lebih takutnya mereka kepada kemiskinan daripada api neraka.

Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata, “Pelajarilah Bahasa Arab, sesungguhnya ia bagian dari agama kalian.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bahasa Arab itu termasuk bagian dari agama, sedangkan mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Quran dan As-Sunnah itu wajib. Tidaklah seseorang bisa memahami keduanya kecuali dengan Bahasa Arab. Dan tidaklah kewajiban itu sempurna kecuali dengannya, maka ia menjadi wajib. Mempelajari Bahasa Arab, di antaranya ada yang fardhu ‘ain, dan adakalanya fardhu kifayah.” (Iqtidho, Ibnu Taimiyah 1/527 dikutip dari majalah Al-Furqon).

So, saran saya –terutama untuk diri saya sendiri-, utamakan Bahasa Arab di atas Bahasa Inggris sebagaimana kita mengutamakan akhirat di atas dunia.

*maaf, kalo jadi meleceng dari judul*

Tuesday, February 8, 2011

finally, nonskripsi

Susah ditebak. Begitulah saya, mungkin. Makanya waktu kecil saya jago maen petak umpet. *Hhe* Tapi ini ga ada hubungnnya dengan petak umpet. Tapi tentang kuliah saya.
Akhirnya, setelah perjuangan panjang nan melelahkan selama beberapa semester ini, sampailah saya di ujung perkuliahan di STIE Indonesia, the last semester, insyaAllah. Melelahkan karena saya melaluinya sambil bekerja; kerja sambil kuliah. Bahkan mulai semester ketiga, saya musti melaluinya sambil bekerja dan berumah-tangga; kerja kuliah nikah *KKN, begitu saya menyebutnya*. Alhamdulillah saya dapat melaluinya dengan cukup baik –at least tidak ada satu pun mata kuliah yang harus diulang-. Dan alhamdulilah, hari ini semester terakhir saya akan dimulai, insyaAllah.
Semester terakhir ini sebenarnya saya tidak perlu repot-repot tiap pekan dua kali mengunjungi kampus, cukup bertemu beberapa kali dengan dosen pembimbing dan ke kampus untuk sidang skripsi, seandainya saya memilih jalur skripsi. Tapi saya telah memutuskan dan memilih jalur nonskripsi. Saya tidak menyusun skripsi, sebagai gantinya saya harus mengambil dua mata kuliah lagi; seminar akuntansi keuangan dan seminar akuntansi manajemen. Dengar-dengar dari kakak kelas, kuliah seminar itu bikin paper dan presentasi. Memutuskan untuk mengambil jalur nonskripsi bukan hal mudah bagi saya. Saya sempat benar-benar bingung, ambil jalur skripsi atau nonskripsi. Bahkan sempat berkeinginan kuat untuk mengambil jalur skripsi. “gimana gitu kalo ntar lulus S1 kagak punya skripsi.” begitu kata saya waktu itu. Tapi ternyata takdir berkata lain. *menjilat ludah sendiri*
Banyak juga teman yang bertanya, “kok ga ambil skripsi? kenapa?”. Jangankan mereka, saya sendiri pun tak tahu persis jawabannya. *Hhe* Saya pun menjawab sekenanya. Dan saya pun bertanya kepada diri sendiri, “iya ya. kenapa ya?” Beberapa jawaban pun melintas di kepala. 1) ga bakat bikin skripsi, 2) ga ada ide buat skripsi, 3) ga ada kemauan bikin skripsi a.k.a males, 4) ga mau disidang, kayak penjahat aja. 5) ikut-ikutan kakak-kakak kelas, biar gampang dan cepet lulusnya katanya.
Mari kita analisis jawaban-jawaban di atas satu per satu. Jawaban pertama dan kedua, may be yes may be no. Tapi kalau dilihat dari mata kuliah pengantar menyusun skripsi, metode penelitian dimana saya dapat melaluinya dengan selamat, sepertinya jawaban ini kurang tepat. Jawaban ketiga, may be yes. *Hhe* Ini mungkin karena KKN itu tadi, saya menjadi manusia supersibuk, sampai buang angin saja tidak bisa konsen. Alangkah sibuknya lagi jika harus mikir proposal, skripsi, ketemu dosen pembimbing, sidang, dsb di samping urusan lainnya seperti dinas keluar kota dan pulang kampung mengantar istri, pulang kampung menemani istri melahirkan, dan pulang kampung memantau perkembangan dedek baby kalau sudah lahir nanti, insyaAllah. Jadi, jawaban ketiga, mungkin benar. Jawaban keempat? Lebih benar lagi! *Hhe* Jawaban kelima, sempurna. Dibanding jalur skripsi yang penuh ketidakpastian dan subyektivitas, jalur nonskripsi lebih menjanjikan. Dan akhirnya, saya jadi tahu bahwa saya bukan orang bertipe risk taker.
Eits, tapi tak sepenuhnya benar juga dink. Karena nonskripsi sebenarnya bukan tanpa risiko. Dalam dunia pekerjaan, mungkin tak jadi soal, sarjana jalur skripsi dan jalur nonskripsi tak dibedakan. Tapi dalam dunia akademik -sekali lagi, dengar-dengar- ada beberapa perguruan tinggi yang meminta judul skripsi yang pernah ditulis kepada calon mahasiswa program magister. Jadi, jalur skripsi memperkecil peluang untuk kuliah S2 apalagi via beasiswa. Tapi untuk hal satu ini, saya tak terlalu ambil pusing. Dipikir nanti saja. Toh saat ini, saya juga sama sekali belum berpikir untuk melanjutkan studi ke jenjang  pasca sarjana.
Harapan saya saat ini, semester terakhir ini kembali terlalui dengan baik. Dan saya pun berhenti KKN, tinggal bekerja dan berumah-tangga dengan baik. Amin.

Monday, February 7, 2011

flu dan paspampres

Hari ketiga, masih flu. Qodarullah, padahal hari jumat sore kemarin hanya kehujanan sedikit saja, langsung flu, dan masih –sedikit- sampai hari ini. Saya memang kurang suka periksa ke dokter. Kalaupun ke dokter, biasanya saya akan geletakkan saja obat yang diberikan, tidak saya minum. Saya lebih suka minum madu dan habbatussauda’.

Alhamdulillah. Di balik setiap takdirNya, pasti lah ada hikmah. Terkadang kita saja yang terlalu picik sampai tidak bisa menemuukan hikmah-hikmah tersebut. Jika dipikirkan betul-betul dengan bijak, seharusnya orang yang sedang sakit itu justru bersyukur. Pertama, kita seharusnya menjadi ingat bahwa manusia itu makhluk yang lemah. Demi Allah, benar-benar lemah. Bayangkan saja, hanya karena makhluk sekecil nyamuk saja, jutaan manusia bisa binasa. Ah, nyamuk masih terlalu besar. Bahkan dengan sebab yang lebih kecil dari nyamuk; virus, bakteri, manusia dibuat tak berdaya. Masih adakah celah untuk kita berbangga-bangga?

Kedua, bahwa Allah menjadikan sakit kita sebagai penebus dosa-dosa kita agar ketika di akhirat nanti dosa-dosa kita tinggal sedikit atau bahkan telah lunas “terbayar” di dunia! SubhanAllah. Nabi Muhammad bersabda, " Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).


***


Sabtu dan ahad kemarin, -jika biasanya jalan-jalan keluar menghabiskan waktu bersama-, kami jadi banyak berdiam diri di dalam rumah saja. Hanya sesekali keluar untuk beberapa keperluan. Termasuk memeriksakan kandungan istri saya. Usia kandungannya 23 minggu, kata dokter. Alhamdulillah, kondisinya normal dan sehat. Hanya saja, berat badannya masih sedikit kurang, yang seharusnya pada usia segitu 600 gram, berat badan si Dedek hanya 575 gram, kurang 25 gram.

Pada usia kandungan segitu, sebenarnya jenis kelamin janin sudah terlihat. Tapi, mungkin karena si Dedekkayak bapaknya, cukup lama di-USG, kakinya menutup terus, tidak mau membuka sedikit saja, jadi jenis kelaminnya tidak terlihat kemarin. Ah, lagi pula tidak masalah, laki-laki atau perempuan sama saja bagi kami –walaupun sebenarnya saya saat ini lebih pengen anak laki-laki-, dia akan menjadi buah hati yang istimewa bagi kami, insyaAllahu Ta`ala. pemalu


***

Hari ini, walaupun agak malas berangkat ke kantor, saya berangkat juga. Mungkin beraktivitas akan membuat kondisi saya lebih baik dan lebih cepat sehat kembali.

Seperti biasa, saya menunggu bus jemputan bersama Mbak Iwed di tepi jalan Persahabatan Timur. Jam tangan sudah menunjukkan pukul 06.45 –padahal normalnya pukul 06.15 s.d. 06.30 sudah datang-, bus jemputan yang kami tunggu tak datang-datang.

Akhirnya kami naik taxy burung biru ke kantor. Jalanan sudah agak macet. Untungnya, sampai di kantor masih pukul 07.37. Dengan modal “kepercayaan” pada toleransi absen 15 menit, maka kami belum terlambat. Alhamdulillah.

Ada pemandangan tidak biasa di depan dan di halaman kantor kami. Banyak mobil-mobil militer di parkir di depan dan samping kantor. Banyak polisi dan tentara di halaman kantor. Paspampres. Ya, Paspampres. Saya baru ingat, hari ini, rencananya Presiden serta para pimpinan lembaga-lembaga tinggi negara mengadakan pertemuan di kantor kami, pertemuan lanjutan dari tiga pertemuan sebelumnya di Istana Negara, Istana Bogor, dan MPR. Hmm, mungkin ini penyebab bus jemputan kami tak datang-datang. Mungkin ga bisaparkiran. Mungkin. keluar dari

Ya, semoga saja para penguasa negara hari ini berkumpul, berdiskusi, untuk dapat bersatu dan bersinergi demi kesejahteraan rakyatnya. Semoga saya lekas sembuh dan Allah mengampuni dosa-dosa saya. Amin.

lebih baik tidak tahu?

Sebagian orang –muslim- malas atau bahkan sama sekali tidak mau menuntut ilmu agama karena takut akan konsekuensinya –untuk mengamalkan ilmu yang telah didapatnya-. “Dari pada tahu, tapi tidak melaksanakannya, lebih baik tidak tahu sekalian.” Begitu kurang lebih kata mereka. “Bukankah orang yang berdosa tidak akan diadzab karena ketidaktahuan, karena kelupaan, atau karena keterpaksaan?” Begitu lanjutannya.

Di rumah kami –atau kontrakan kami-, tidak ada TV, yang ada adalah seperangkat radio kesayangan yang setiap hari kami gunakan untuk mendengarkan kajian-kajian Radio Rodja 756 AM. Dan kemarin, kami mendapatkan jawaban yang sangat memuaskan dari logika asal-asalan di atas pada sebuah kajian yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Nuzul. Bukan hanya satu jawaban, bahkan Ustadz memberikan jawaban berlapis tiga.

Jawaban pertama, bahwa setiap muslim atau muslimah yang tidak mau menuntut ilmu agama berdosa akibat ketidakmauaannya tersebut karena tidak menaati sabda Nabi, "Menuntut ilmu itu wjib atas setiap muslim." (HR Ibnu Majah). Jadi, sebelum berpikir bahwa orang yang bersalah tidak dihitung berdosa karena ketidaktahuannya, dari awal, keengganannya menuntut ilmu –yang meyebabkan dia tidak tahu- tersebut sudah terhitung dosa.

Jawaban kedua, bahwa berbeda antara orang yang tidak tahu dengan orang yang sengaja tidak mau tau! Adapun yang mendapat keringanan tidak diadzab adalah orang yang sudah berusaha mencari tahu –menuntut ilmu- tetapi tetap saja ada beberapa pengetahuan yang luput darinya atau dia salah memahami, atau dia mendapat pengetahuan yang salah dari usahanya tersebut. Sedangkan orang yang dari awal sengaja tidak mau tahu –tidak mau menuntut ilmu- maka kaidah “orang yang berdosa tidak akan diadzab karena ketidaktahuannya” tidak berlaku untuknya!

Jawaban ketiga, bahwa kalaupun orang yang bermaksiat tidak dihitung berdosa karena ketidaktahuannya, akibat di dunia dari maksiat tersebut tidak terhindarkan. Ustadz memberi contoh seorang muslimah yang tidak tahu bahwa nikah mut`ah (kawin kontrak) itu diharamkan oleh syariat mungkin tidak dicatat berdosa ketika dia berkali-kali nikah mut`ah, tetapi akibat duniawi berupa penyakit kelamin yang mungkin ia derita kemudian tidak akan terhindarkan. Dan yang perlu disadari bahwa sebenarnya syariat yang Allah telah tetapkan untuk manusia, bukan untuk kebaikan Allah tetapi untuk kebaikan manusia itu sendiri.

Jelaslah, yang terbaik adalah berilmu (tahu) dan beramal, menuntut ilmu dan beramal berdasarkan ilmu yang kita dapatkan tersebut. So, Masihkah berpikir, “lebih baik tidak tahu”?

radio kesayangan

Friday, February 4, 2011

pulang tepat waktu

Beberapa hari ini, di kantor saya beredar isu bahwa toleransi absensi 15 menit akan dihapus. *sepertinya saya harus jelaskan dulu*.

Sejak saya magang di kantor ini dua tahun yang lalu, keadaannya sudah seperti ini. Tiap pagi setiba di kantor dan sore hari ketika hendak pulang kantor, para pegawai harus mengunjungi kotak-kotak mesin absensi elektronik (finger print) yang terletak di lobby-lobby tiap gedung untuk mencolokkan jarinya ke mesin tersebut (absen, red). Jam kerja sesuai peraturan adalah mulai pukul 07.30 s.d. 17.00. Namun, *sekali lagi, keadaannya sudah seperti ini sejak saya datang* ada sebuah kebijakan tak tertulis bahwa para pegawai mendapat toleransi 15 menit untuk absensi pagi dan sore. Jadi, pegawai yang absen pagi pukul 07:44:59 masih terhitung hadir tepat waktu (tidak terlambat), dan pegawai yang absen sore pukul 16:45:01 masih terhitung pulang pada waktunya (tidak pulang lebih awal). *ini rahasia! ingat, rahasia!*

*copy paste* Nah, beberapa hari ini, di kantor saya beredar isu bahwa toleransi absensi 15 menit tersebut akan dihapus. Para pegawai yang telah terlanjur menikmati toleransi absensi 15 menit itu pun –termasuk saya *hhe*- gempar! *sebenernya kata gempar memang sedikit lebbay, cuma sedikit* Bayangkan saja, biasanya ketika absen pagi pukul 07.45, pegawai yang bertempat tinggal di Bogor, setelah sholat shubuh langsung mandi, langsung berangkat naik bus jemputan kantor karena jika tertinggal bus jemputan, terlambat dan potongan tunjangan pun mengancam -1% untuk terlambat absen pagi atau terlalu awal absen pulang dan 3% untuk terlambat absen pagi dan terlalu awal absen pulang a.k.a bolos-. Pulang jam 16.46, jalanan belum macet, pegawai bus jemputan Bogor tersebut mungkin bisa sampai Bogor selepas sholat Isya`. Apalagi sopir bus tersebut, tentu harus bangun lebih awal dan pulang lebih larut dari para penumpangnya. Bagaimana jadinya, jika toleransi tersebut dihapus. Ditambah dengan kemacetan Jakarta yang semakin parah, bisa jadi umur-umur pegawai kantor ini yang dihabiskan di jalan raya akan meningkat signifikan.

finger print

Jadi, beberapa hari terakhir ini, lagu gelang sepatu gelang, *eh, lagu hymne kantor ini maksudnya* yang biasanya diputar pada 16.30 mulai diputar pada 16.45. Jika biasanya antrian ibu-ibu *mirip-mirip antrian pembagian sembako gitu. kadang saya juga ikut ding. hhe* di depan mesin finger print yang menunggu waktu absen tiba mulai terlihat pukul 16.30, maka sekarang antrian tersebut baru terlihat pukul 16.45. Sesekali ada yang “nekat” tetap absen pukul 16.46, disambut dengan tepuk tangan para pengantri.

Sebenarnya isu itu pun masih simpang siur kebenarannya. Ada yang bilang masih tetap seperti biasa, toleransi 15 menit masih ada. Maka, saya pun mencari informasi langsung ke bagian absensi di SDM. Memang ada perubahan, tapi tidak seluruhnya seperti kabar burung yang beterbangan beberapa hari terakhir tersebut. Perubahannya adalah, bahwa pegawai yang absen lebih dari 07.45 dan atau kurang dari 16.45, keterlambatan atau keterawalan pulang akan dihitung –untuk kepentingan akumulasi keterlambatan per tahun sesuai PP No. 53 Tahun 2010, dimana akumulasi keterlambatan 7 jam sama dengan 1 hari tidak masuk- dari pukul 07.30 dan atau 17.00. Sebelumnya, pegawai yang absen lebih dari 07.45 dan atau kurang dari 16.45, keterlambatan atau keterawalan pulang dihitung dari 07.45 dan atau 16.45. Sedangkan pegawai yang absen pagi kurang dari 07.45 dan atau absen pulang lebih dari 16.45, tidak terpengaruh dengan sistem absensi baru ini.

*baiklah, biar jelas, saya kasih contoh* Misalkan Bunga *bukan nama sebenarnya* absen pagi pukul 07.46 dan absen pulang pukul 16.43. Menurut sistem absensi yang lama, Bunga terlambat absen 1 menit dan pulang lebih awal 2 menit, sedangkan menurut sistem absensi yang baru Bunga terlambat 16 menit dan pulang lebih awal 17 menit. Sedangkan saya yang absen pagi pukul 07:44:59 dan absen pulang pukul 16:45:01 dihitung datang dan pulang tepat waktu, menurut sistem absensi yang lama maupun sistem absensi yang baru. *teman-teman, harap jaga rahasia ini baik-baik atau blog ini terancam ditutup*lebbay dan ke-geer-an*

Begitulah. Untuk sementara biarlah ibu-ibu korban gosip itu tetap antri sampai 17.00 teng sampai mereka sadar dengan sendirinya. Dan saya –yang mungkin dianggap “nekat”- akan tetap absen pulang mulai pukul 16:45:01. *hore*

erwin belajar berenang

Memenuhi janji saya, SATU HARI SATU TULISAN. Tapi seandainya saya tidak membawa laptop pinjaman dari kantor ini ke rumah, mungkin saya tidak menulis dulu di sini. *iya, iya. betul, laptop pinjaman!* Mungkin saya akan menggantinya dengan menulis buku diary di rumah saja. Ya, saya atau kami –saya dan istri saya- memiliki sebuah buku yang kami gunakan untuk menuliskan kesan pesan dan uneg-uneg kami dalam berumah tangga. Karena terkadang sesuatu lebih mudah ditulis daripada diucapkan. Selain itu, ada dokumentasi, bukti otentik, dan kenangan yang mungkin bisa kami tertawai di lain hari ketika membacanya kembali.


Hari ini, saya mau bicara –atau menulis- tentang cita-cita duniawi yang saya kemukakan tempo hari: pandai berenang, atau paling tidak, bisa berenang *hhe, jadi malu*.


Ya, dengan terpaksa harus saya sampaikan kenyataan pahit ini. Bahwa sampai hari ini saya ga bisa berenang *diam!*. Pertama kali saya menceburkan diri ke kolam renang adalah ketika berumur sekitar lima tahun, kalau saya tidak salah ingat. Di sebuah kolam renang di Tawangmangu, objek wisata pegunungan di daerah Kabupaten Karanganyar. Waktu itu, baru masuk ke dalam air, saya langsung terpeleset dan kelelep *saya tidak tahu padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia*. Padahal kedalaman kolam itu hanya sekitar setengah meter! *diaam!* Mungkin kejadian pengalaman pertama yang sangat berkesan itu yang membuat saya sampai sekarang tidak bisa berenang. Trauma.


Terakhir kali mencoba kembali adalah ketika kemarin saya bertugas ke Palu, Sulawesi Tengah. Ada kolam renang di hotel tempat kami menginap. Pada hari minggu pun saya hasut dan saya paksa Ketua Tim untuk mengajari saya berenang. Tapi dasar Ketua Tim yang hanya belajar berenang ala anak kampung pinggir kali, Pak Dedi hanya asal praktek, tidak tahu teori, bukan pelatih professional! -ditambah saya yang masih takut air dan trauma kelelep-. Walhasil, saya pun hanya maen aer saja dan sedikit saja belajar menggerakkan kaki di air. Dan di samping saya, anak kecil tujuh tahunan sedang berenang *diaaam!*. Tapi, satu hal yang sedikit menggembirakan adalah, saya sudah berani berjalan di dalam air dengan kedalaman setinggi dada orang dewasa. *hore*


Sebelum yang terakhir, waktu saya berugas di Manado, Sulawesi Utara, kami satu tim –minus Ketua Tim yang malah ketinggalan di hotel, agak sakit *memang dasar anggota-anggota tim durhaka*- menyempatkan ber-snorkeling di Taman Laut Bunaken. Saya –awalnya- mungkin orang yang paling senang dan bersemangat waktu itu. Setelah perjalanan sekitar satu jam menyeberang dengan perahu kecil, sampailah kami di Bunaken. Snorkel, pelampung, dan sepatu katak sewaaan telah siap *sok banget lah pokoknya*. Perahu –lengkap dengan pelatih/instruktur snorkeling- pun telah sampai di tempat snorkeling paling bagus di Bunaken. Setelah beberapa teman –yang tentu saja sudah terbiasa berenang- terjun, dengan bersemangat –lebih tepatnya nekat- saya pun menyusul masuk ke laut. Ternyata dalam sekali. Saya pegang bahu instruktur dan meminta untuk diantar ke tempat yang lebih dangkal. Sampai di tempat yang dangkal pun saya tidak bisa berbuat banyak. Jalan biasa saja, kaki lecet-lecet karena banyak karang keras di bawah. Menengkurapkan diri saja saya kurang berani –padahal sudah pakai pelampung dan perlengkapan lengkap-. Melihat teman-teman yang lain –termasuk teman yang sebenarnya juga belum bisa berenang sebelumnya- yang seperti sangat menikmati snorkeling mereka, sesekali memberanikan –atau memaksakan- diri. Sesekali air masuk ke mulut, saya langsung panik. Asin. Sudahlah. Saya memutuskan untuk kembali naik ke perahu saja. minta tolong ke instruktur. Menunggu di atas perahu sampai teman-teman selesai dan puas menikmati indahnya pemandangan taman bawah laut Bunaken lalu kembali ke Manado. Memilukan –atau memalukan-.
snorkel

Begitulah, sampai sekarang saya belum –dan ingin sekali- bisa berenang. O ya, sebenarnya ini juga bukan melulu cita-cita duniawi. Rosulullah menganjurkan umatnya untuk bisa berenang. Entah apa, yang jelas pasti ada hikmah yang besar dalam setiap sunnah beliau.

Selesai.

Wednesday, February 2, 2011

erwin belajar menulis

Sejak pertama kali duduk di bangku TK, tentu saya sudah mulai belajar menulis. Tapi kenapa sampai segedhe gambreng gini saya masih harus belajar menulis? Jawabannya adalah, karena blog saya berantakan! Apa hubungannya? Ya, sejak pertama kali di-release *jiah, bahasanya* sekitar dua tahun yang lalu, blog saya, estehmanishangatnggakpakegula tidak menunjukkan perkembangan yang menggembirakan *nangis*. Begitu-begitu saja. Monoton. Konsep tidak jelas. Gaya bahasa tidak konsisten. Tema tidak menarik. Sepi pengunjung --walaupun memang tujuan awalnya bukan ini, tapi ini menunjukkan sejauh mana kualitas -terutama tulisan di dalamnya- sebuah blog--. Pokoknya kurang memuaskan.

Alasan kedua adalah karena saya telah terhasut artikel-artikel tentang tips-tips dan motivasi menulis di menulisonline.com. Semangat menulis saya kembali bergelora *jiah*. Pesan yang dapat saya tangkap dari artikel-artikel di website tersebut adalah JUST WRITE! Menulis saja! Ga usah banyak omong, ga usah banyak mikir. Tak perlu dulu berpikir hasilnya nanti bagus atau tidak. Tak perlu berpikir “saya berbakat menulis atau tidak” –bahkan ketidakberbakatan menulis bisa saja dijadikan bahan tulisan-.

Sebagaimana keterampilan lainnya, menulis juga membutuhkan latihan. Siapa yang rajin berlatih, insyaAllah akan terampil. Dan latihan menulis yang saya rencanakan adalah program menulis SATU HARI SATU TULISAN *tentu tidak akan semuanya diposting di blog ini*. Entah apa yang mau ditulis. Yang jelas, saya akan coba menyisihkan waktu beberapa menit setiap hari untuk menulis. Apa saja,yang penting menulis.

Alasan berikutnya bahwa beberapa cita-cita duniawi saya saat ini adalah: 1. pandai berenang, atau paling tidak, bisa berenang *hhe, jadi malu*, 2. pandai berbahasa Inggris *hhe, malu lagi*, 3. pintar berbicara di depan umum *hhe, lagi-lagi malu*, 4. menjadi penulis, atau paling tidak, pintar menulis, dan 5. pindah kerja ke Solo *sst, diam! diam!*

Cukup untuk hari ini. Saya sudah menggelapkan berpuluh-puluh menit jam kerja hari ini untuk sarapan dan menulis.

Semangat!

Tuesday, February 1, 2011

matikan rokok Anda atau Anda dimatikan rokok!


lebih pintar mana, perokok atau tikus?

peti mati untuk para perokok

matikan rokok atau Anda dimatikan rokok!

flush it!

dor!!


ranjang khusus perokok



paru-paru perokok