Wednesday, April 27, 2011

kisah si gigi bungsu

Ternyata tak hanya anak bungsu yang terkadang bandel, gigi bungsu pun terkadang seperti itu.

Cerita berawal sekitar satu setengah tahun yang lalu. Ketika itu, -kalau tidak salah ingat- bagian 'kanan belakang' gigi saya sakit, ngilu. Beberapa hari berlalu, saya biarkan saja begitu. Sampai pada saat saya hampir tidak tahan, saya putuskan untuk pertama kali pergi ke dokter gigi. Kebetulan (Qodarullah, red), di kantor saya ada poliklinik gigi, fasilitas cuma-cuma dari instansi.

Pergilah saya ke poliklinik gigi. Setelah gigi saya diperiksa -atau lebih tepatnya cuma dilihatlihat sebentar-, si dokter gigi menyarankan untuk mencabut gigi paling belakang, yang tumbuh tidak wajar, menyilang. Selain itu, tidak lupa resep ponstan -mefenamic acid atau asam mefenamat. Dasar saya, ponstan hanya beberapa kali ditelan, rekomendasi cabut gigi pun tak dihiraukan, lantaran sakit itu sudah hilang. Padahal si dokter juga sudah bilang, -kurang lebih- "mungkin nanti setelah minum obat sakitnya untuk sementara hilang, tapi nanti, sekitar setahunan bakalan sakit lagi kalau gigi itu tidak dicabut" -waktu itu poliklinik gigi di kantor belum dapat menfasilitasi pencabutan gigi.

Hari berganti, malam berlalu *hwalah. Sekitar beberapa bulan -atau mungikn hampir setahun setelah itu, giliran bagian 'kiri belakang' gigi saya sakit, ngilu. Beberapa hari berlalu, saya biarkan saja begitu. Sampai pada saat saya hampir tidak tahan, saya putuskan untuk kali kedua pergi ke dokter gigi. *maap, emang copy paste paragraf atas, hhe* Sebenarnya agak kurang enak juga, karena rekomendasi cabut gigi tempo hari belum pula ditindaklanjuti. Tapi pikir saya, ciri khas pemikiran lugu, "ini kan yang kiri, dulu kan yang kanan, beda dong." *hhe.

Kembali, pergilah saya ke poliklinik gigi. Setelah gigi saya dilihat-lihat sebentar, si dokter gigi lagi-lagi merekomendasikan untuk mencabut gigi paling belakang kiri ini, yang juga tumbuh tidak wajar, menyilang. Ditambah yang kemarin, berarti -setahu saya waktu itu- sudah ada dua gigi yang divonis 'mati'. Ponstan pun kembali diresepkan. Dasar saya -yang tidak suka obat-obatan farmasi-, ponstan hanya diminum beberapa kali, setelah ngilu hilang, tidak lagi. Rekomendasi cabut gigi pun tak jua ditindaklanjuti -waktu itu poliklinik gigi di kantor belum ada juga fasilitas pencabutan gigi.

Hari berganti, malam berlalu *silakan bosan, hhe*. Kali ini giliran setiap kali meludah, -terkadang- keluar darah bercampur air ludah. Waktu itu, saya tidak berfikir bahwa gigi yang bermasalah. Maka, saya pergi ke dokter umum, juga di poliklinik kantor.

Sang dokter mungkin salah diagnosa. Katanya, ada semacam sariawan di kerongkongan. Saya hanya diberi vitamin C dan diminta banyak minum air putih.

Setelah itu, waktu itu, saya ditugaskan ke Manado, hampir sebulan. Di 'perantauan', masalah ludah bercampur darah masih berlanjut. Saya pergi ke poliklinik kantor perwakilan. Waktu itu dokter jaga tidak ada, hanya ada perawat saja. Sama, saya hanya diberi vitamin C. Sambil saya diminta untuk ke dokter di kantor pusat setelah kembali ke Jakarta nanti.

Sesampainya di Jakarta, kembali saya pergi ke dokter. Kali ini, dokter meminta untuk mengecek darah, untuk melihat kalau-kalau ada masalah 'di dalam' -organ dalam, mungkin maksudnya-, kronis maupun akut. Dari hasil cek darah, tidak ditemukan adanya kelainan. Baru, dokter menyarankan untuk merujuk, pergi -lagilagi- ke dokter gigi.

Siang itu, dari dokter umum, langsung saya ke dokter gigi. Kebetulan (Qodarullah, red), hari itu ada jadwal dokter spesialis gigi. Ya, kali ini, sudah ada dokter spesialis gigi, bukan dokter gigi biasa yang hanya lihat-lihat saja. Tidak banyak bicara, sang dokter -bersama dua asistennya- langsung membersihkan gigi saya -membersihkan karang gigi. Agak kaget, sesekali saya meronta. Dokter sesekali juga 'meminta maaf'. Darah bersimbah, keluar bersama kkotoran-kotoran gigi dan karang-karang yang terkelupas. Ternyata penyebab darah bercampur ludah selama ini adalah penumpukan karang gigi, yang melukai gusi. Selain itu, lagi-lagi -seolah mengorek luka lama- dokter menyarankan untuk cabut gigi bungsu, gigi nomer delapan yang mengganggu kawan-kawan_nya. Bukan dua, tetapi empat. Kanan kiri atas bawah. "Tinggal bikin janji, siapnya kapan.", begitu kata dokter.

Sampai di sini, niatan mencabut gigi mulai muncul. Apalagi, dengan adanya dokter spesialis gigi, sekarang sudah bisa cabut gigi di kantor. Tetapi karena masih disibukkan dengan 'tugas', saya berencana menindaklanjutinya setelah tugas selesai, sekitar satu bulan.

Belum ada satu bulan, darah kembali muncul kadang-kadang saat meludah. Selain itu, gigi-gigi di depan si gigi bungsu sering terasa ngilu. Bukan itu saja, susunannya juga sepertinya mulai tampak beda, seperti ada beberapa gigi yang posisinya berubah, seperti rebah. Sepertinya, kakak-kakak si gigi bungsu sudah mulai benar-benar terganggu. Darah yang muncul juga seringkali agak banyak. Seperti yang lalu, saya kembali ke dokter gigi.

Seperti yang lalu pula, karang gigi yang masih ada dibersihkan kembali. Lalu, setelah itu benar-benar dibuat janji untuk mencabut gigi. Pekan depan, pekan depan katanya, gigi saya akan dioperasi -kalau sudah siap. Operasi, satu kata yang terdengar ngeri. Hal pertama yang harus dilakukan, panoramic, semacam rontgent khusus gigi untuk mengetahui peta gigi beserta akar-akarnya.

Sekarang, si gigi bungsu tengah menunggu eksekusi. Saya pun mencoba menegarkan -dan mempersiapkan- diri. Semoga segala urusan dimudahkan. Amin.

gigi bungsu yang tumbuh menyilang -ilustrasi-

3 comments:

  1. dasar males...mesti jarang gosok gigi

    visit my blog:
    http://alianci-myadventure.blogspot.com/

    ReplyDelete
  2. sama dengan sy, sy baru selesai operasi minor....
    Tapi alhamdulillah, bengkaknya cepat kempes pakai GAMAT & KLOROFIL PALAPA

    ReplyDelete
  3. @abah: fitnah lebih kejam daripada fitnes!!
    *yee, saya dong udah jadi abah bneran..

    ReplyDelete