Monday, April 11, 2011

sabtu ahad

-hampir- Satu pekan berjalan sejak saya "memulangkan" istri yang ingin lahiran di kampung. Alhamdulillah, tak lagi seperti dulu. Kali ini, saya telah dengan mudah dan segera beradaptasi. Kali ini, saya lebih tegar. Tidak cengeng. Tidak lagi seperti anak ayam kehilangan induknya. Laa haula wa la quwwata ila billah. 
"Jika engkau mencintai makhluk, ketahuilah tak selamanya engkau mendapatinya di sisimu. Namun, jika engkau mencintai Allah, sesungguhnya Dia selalu ada."
Menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat, dan tetap bergaul dengan orang-orang baik adalah penawar yang mujarab, obat yang ampuh untuk mengusir kesendirian yang menghancurkan. Banyak hal positif yang dapat dilakukan, dan banyak teman yang baik di luar sana, insyaAllahu Ta`ala.

Seperti sabtu ahad ini, bahkan list rencana yang hendak saya lakukan tak sepenuhnya terlaksana. 1. Cukur rambut, 2. Bekam, 3. Bersih-bersih kontrakan, 4. Beli kado untuk teman yang hendak menikah, 5. Beli 'isi lemari es'. Dari lima rencana itu, yang dapat dilakukan dengan sukses hanya (yang dicoret) : 1. Cukur rambut, 2. Bekam, 3. Bersih-bersih kontrakan, 4. Beli kado untuk teman yang hendak menikah, 5. Beli 'isi lemari es'. Berarti akhir pekan berikutnya setidaknya masih ada tiga hal yang harus dibereskan.

Cukur rambut. Rambut saya telah gondrong. Tapi, karena kemarin belum sempat, dan mungkin juga karena masih ingin berambut gondrong, maka saya belum jadi cukur sampai hari ini.

Bekam. Mungkin sudah dua bulanan saya tidak berbekam. Waktu istri masih di Jakarta kemarin, agak enggan berbekam di akhir pekan, karena terkadang harus antri lama. Kasihan istri jika waktu untuk bersama harus terpotong juga di hari libur. Ahad pagi kemarin, saya sempatkan berbekam. Sembilan titik bekam di punggung, darah kotor yang keluar lumayan banyak. Semoga kita diberi kesehatan.

Bersih-bersih kontrakan. Entah. Mungkin karena terlalu lama saya tidak melakukannya, agak malas rasanya. Rencana hendak menggosok kamar mandi dan membersihkan jendela pun tinggal rencana. paling hanya menyapu lantai yang berhasil saya lakukan, itupun sekadarnya saja. *Hhe.

Beli kado untuk teman yang hendak menikah. Saya biasa menghadiahi teman yang menikah, buku. Kali ini saya membeli buku Panduan Keluarga Sakinah. Buku buah karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas itu saya beli di TB. Ahlussunnah, Pasar Senen -yang sempat pernah saya ceritakan di sabtu minggu-. InsyaAllahu Ta`ala, buku tersebut sangat bagus dan bermanfaat untuk pasangan yang hendak membangun sebuah rumah tangga Islami.

Panduan Keluarga Sakinah
Entah. Saya memiliki kegemaran 'bersegera membeli buku sebanyak-banyaknya dan terkadang menunda membacanya setelah buku-buku tersebut terbeli'. Kali ini pun begitu. Niat awal membeli sebuah buku sebagai hadiah untuk teman, saya membeli satu untuk teman dan malah membeli dua untuk saya sendiri. *Hhe* Maklum, toko buku itu memberikan diskon rata-rata 40% hampir untuk semua buku.

Dua buku untuk saya sendiri itu adalah Sepenggal Catatan Perjalanan dari Madinah hingga ke Radio Rodja dan Deadly Mist. Buku Sepenggal Catatan Perjalanan dari Madinah hingga ke Radio Rodja merupakan buku yang ditulis oleh Ustadz Firanda tentang kebersamaannnya dengan Syaikh Abdurrazzaq, tentang pelajaran akhlaq dari seorang ulama. Bagi Anda yang suka mendengarkan siaran Radio Rodja, insyaAllah dua nama tersebut tidaklah asing. Syaikh Abdurrazzaq adalah seorang pengajar di Universitas Islam Madinah yang mengisi kajian dua kali dalam sepekan di Radio Rodja, tiap Ahad dan Senin malam, live dari Madinah, sedangkan Ustadz Firanda adalah pelajar Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Universitas yang sama, yang menjadi penerjemah dalam kajian Syaikh di Radio Rodja tersebut. Pertama kali saya tahu tentang buku tersebut di website Radio Rodja, saya tertarik untuk suatu saat membelinya. Alhamdulillah, kesampaian

Sepenggal Catatan Perjalanan dari Madinah hingga ke Radio Rodja

Buku kedua, Deadly Mist bercerita tentang Usaha Amerika untuk Merusak kesehatan Manusia. Ditulis oleh Jerry D. Gray, seorang mantan serdadu Amerika, buku ini mengungkapkan hal-hal disertai data dan fakta yang tak terbayangkan oleh kita selama ini. Misalnya tentang flouride yang terkandung hampir di semua produk pasta gigi yang berredar di pasaran, yang sebenarnya merupakan bahan berbahaya.
"Flouride dalam satu tube pasta gigi ukuran keluarga cukup untuk membunuh anak seberat 12 kg."
Informasi tentang buku ini pertama kali saya temui ketika membaca majalah tentang bahaya imunisasi.

Deadly Mist


InsyaAllah, di lain kesempatan, saya akan sedikit ceritakan tantang buku-buku tersebut, dan mungkin tentang buku-buku lain yang pernah saya baca. Semacam resensi, insyaAllahu Ta`ala.

Beli isi lemari es. Entah kenapa juga, semangat belanja saya tidak setinggi semangat berbelanja bersama istri tercinta. Awalnya, saya hendak membeli lampu -karena lampu kamar tengah meleduk kemarin-, anti bocor untuk galon, odol yang tidak ber-flouride, buah untuk di-juice -blender menganggur sejak istri pulang kampung-, makanan ringan -yang gurih dan yang manis-, es krim, dan lain sebagainya. Saya hanya mendapatkan sebagian kecil dari itu semua, akhirnya. *Huhuhu..

Well, itulah catatan akhir pekan saya kali ini. Kalau ada yang bertanya, kemana waktu sisanya? Mungkin habis untuk istirahat, makan, tidur, sholat, mendengarkan radio, bersepeda, berkumpul dengan teman, dan membaca buku.

No comments:

Post a Comment