Monday, October 7, 2013

VBAC untuk Ibrahim (3): Hari-Hari Penantian



Pengajuan cuti yang minimal tiga hari sebelum tanggal cuti menimbulkan sedikit masalah dalam menentukan tanggal yang tepat untuk pulang ke Solo, menjadi suami siaga. Berdasarkan masukan dari beberapa pihak, termasuk atasan langsung dan teman di SDM, diambillah tujuh hari cuti (dari sepuluh hari yang tersisa), ditambah dengan tiga hari izin atasan (satu hari sebelum dan dua hari setelah cuti), serta (rencana tersembunyi) bolos sehari. Total saya siaga di Solo sejak 13 sampai dengan 29 September. HPL (Hari Perkiraan Lahir) tanggal 17 September. Perjuangan suami siaga dimulai.

Beberapa hari sebelum saya pulang, istri saya merasakan sebagian tanda-tanda persalinan, kontraksi yang terus menerus seharian. Tetapi kemudian tanda itu hilang, tanpa ada apa-apa. Saya tidak jadi kehilangan momen spesial, menemani istri melahirkan.

13 September. Setiba saya di Solo, istri saya masih seperti biasa, melakukan aktivitas sehari-hari  sambil menunggu ‘tanda-tanda cinta’. Tidak lupa jalan-jalan pagi, atau sore hari, minimal 60 menit sehari. Hanya saja, sejak beberapa hari yang lalu, bagian perineumnya memang terasa sakit, mungkin, mungkin karena dorongan kepala si bayi. Saya bahkan menduga, mungkin, mungkin sudah ada pembukaan. Tak jarang rasa sakit itu membuat istri saya menangis, saking sakitnya. Dan jika Maryam tahu Ummi-nya menangis, dia akan ikut menangis, tentu dengan lebih ‘heboh’.

**

Sampai dengan HPL, kami terus membaca-baca artikel, baik dari buku maupun di internet, tentang tanda-tanda dan proses persalinan, mulai dari kontraksi palsu, keluarnya darah, kontraksi terus menerus dan berkala, nyeri di perut dan punggung seperti saat menstruasi, pecahnya ketuban (termasuk ciri-ciri air ketuban), fase pertama persalinan (mulai pembukaan awal sampai sepuluh), fase kedua, dan ketiga. Khatam.

Kami juga membaca tentang tips-tips mempercepat/menyegerakan dan memperlancar persalinan, mulai dari memperbanyak jalan kaki sampai dengan (maaf) seks, termasuk juga tips yang sedikit lucu: sering-sering naik motor (untuk merangsang kontraksi). Walaupun begitu, tetap saja, sejatinya tidak ada yang bisa menyegerakannya, hari persalinan memang sebuah misteri, hanya Allah yang tahu, yang menentukan. Selain itu, istri juga menyarankan saya untuk membaca-baca tentang kiat sukses mendampingi persalinan[]

**

Hari demi hari kami lalui, malam demi malam silih berganti, istri saya pun mulai resah menanti. Saya, sebenarnya juga resah. Namun, sedapat mungkin saya sembunyikan perasaan itu agar tak membuatnya semakin resah. Sampai HPL pun tiba.

17 September. Pagi hari, tepat pada HPL, hanya dengan naik motor, ‘kami’ memeriksakan kandungan ke Bidan Umroh. Setelah di-VT, diketahui memang telah terjadi pembukaan satu. Namun, itu belum dianggap masuk proses persalinan. Persalinan baru dihitung dari pembukaan tiga. Kami pulang kembali, kembali sepekan lagi atau bila terjadi tanda-tanda persalinan. Dan rasa sakit di perineum itu memang disebabkan oleh tekanan dari kepala bayi yang posisinya sudah sangat di bawah.

19 September. Malam hari. Rasa sakit yang sangat di perineum itu kembali membuat istri saya menangis. Dan siang harinya, telah keluar tanda flek kuning. Karena (seolah) tidak tahan dan setelah berkonsultasi via SMS dengan Bidan Umroh (dan istri saya memang sangat intens ber-SMS dengan Bidan), malam itu juga kami kembali ke RB ‘Aisyah. Masih dengan naik motor, atas permintaan istri saya sendiri. Mungkin ia termakan tips lucu itu, sering-sering naik motor untuk memicu kontraksi.

Setelah diperiksa (termasuk di-VT), masih saja, buka satu, tapi sudah agak longgar. “Hampir buka dua”, kata Si Bidan. Sama seperti kemarin-kemarin, termasuk dalam SMS-nya ke istri saya, beliau berpesan agar istri saya untuk tetap tenang, sabar, memperbanyak doa dan bertawakal kepada Allah. Kami kembali pulang, kembali 24 September atau bila terjadi tanda-tanda persalinan.

**

Pesan Bidan Umroh untuk tetap tenang memang tidak mudah dijalani. Istri saya masih saja terus resah. Maklum, menurut teori kedokteran, usia kandungan adalah sampai HPL + 2 minggu. Jika sudah lewat batas itu, mau tidak mau harus segera dilahirkan, tentu dengan jalan terakhir, Operasi Caesar, yang kami coba hindari dari awal. Tidak hanya soal waktu, keresahan itu juga karena sambil menunggu waktu kelahiran yang tak pasti, ia juga harus menanggung sakit yang semakin di perineum itu. Saya menasehatinya dengan memperbandingkan dengan kesabaran ibunya, yang mengandung kakaknya sampai dengan 10 bulan! Dan alhamdulillah lahir normal, karena zaman dahulu memang Caesar memang belum nge-trend, apalagi di desa.

21 September. Malam hari. Saya berinisiatif untuk memeriksakan kandungan istri saya, dengan USG. Berjaga-jaga kalau-kalau kejadiannya bakal serupa Maryam dulu, plasenta sudah mulai rusak dan harus segera dilahirkan. Sekadar untuk mengetahui keadaan si bayi di dalam.

Di desa dekat desa kami, ada RB milik bidan juga, yang sudah menggunakan USG sebagai salah satu alat pemeriksaannya. Kami pun ke sana, masih dengan naik motor. Sebenarnya, saya ragu, “Hebat sekali, selevel bidan bisa mengoperasikan USG.”, pikir saya. Benar saja, sampai di sana, saya kecewa, apalagi bidan utamanya tidak berada di tempat. Terlihat sekali si bidan yang satu ini tidak benar-benar bisa mengoperasikan USG dengan baik. Terbukti ketika saya tanya, tentang keadaan plasentanya, dia kebingungan mencari gambarnya, atau ketika istri saya bertanya tentang berat si bayi, yang bias diperkirakan dengan USG, dia menjawab sekenanya saja. Tapi, katanya, keadaan si bayi masih baik-baik saja.

1 comment:

  1. InsyaAllah istri saya juga ingin VBAC setelah kelahiran cesar sebelumnya, semoga dengan adanya artikel ini membuat semangatnya bertambah setelah dokter menyatakan harus cesar lagi, mohon doanya ya pak trimakasih.

    ReplyDelete