Saturday, October 17, 2009

I am

Saya agak lemah dalam hafalan tapi kuat dalam logika. Sangat dewasa tapi terkadang childish. Kadang jenius tapi kadang bertindak bodoh/konyol(-_-‘). Serius tapi sangat suka bercanda. Care tapi cuek dalam hal-hal tertentu. Pendiam tapi tidak kepada teman akrab/orang dekat. Lebih menikmati menangis daripada tertawa, tapi masih lebih banyak tertawa daripada menangis. Astaghfirullah.

Lemah dalam hafalan. Ya, makanya sampai saat ini saya belum hafal Juz 30. Hhe, jadi malu.. (tapi tinggal dikit lagi kok, insyaAllah..). Dan tolong jangan tanya saya tentang jalan karena jenis hafalan yang saya paling tidak bisa adalah menghafal jalan. Maka dari itu, saya selalu berharap mendapati sopir taxy yang jujur, baik hati, tidak sombong, dan rajin mencuci muka.

Kuat dalam logika. Karena lemah dalam hafalan, saya jadi kurang bisa mendatangkan dalil –secara otentik, persis- ketika bicara masalah agama. Saya akui itu sebuah kelemahan besar. Tapi logika saya sedikit banyak dapat menutupinya, at least bagi diri saya sendiri. Misalnya seperti ini, dalam matematika, semua bilangan jika dibagi ~ (tak terhingga) akan sama dengan nol. Jika dikaitkan dengan kehidupan di dunia dan kehidupan di akherat, berapa pun usia kita sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan lamanya hidup di akherat. Contoh 65 tahun : ~ = 0, tak ada artinya. Atau mau dikalikan 365 hari? Oke. (65x365 hari)* : ~ = 0, sama saja, tak ada artinya. Mau dikali lagi dengan 24 jam? Dikali 60 menit? Dikali lagi 60 detik? Sama saja, Gembel! Atau umurnya diganti 1 abad? Pufh.. Jadi, hanya orang yang tidak tahu matematika saja yang lebih mementingkan dunianya daripada akherat. Logika tersebut [semua bilangan jika dibagi ~ (tak terhingga) akan sama dengan nol] juga dapat digunakan dalam melihat perbandingan makhluk dengan Sang Pencipta, kita dengan Allahu Ta`ala. Berapa pun hebatmu, Saudara, misalkan ada ukuran angka untuk kehebatan, kekuatan, dll jika dibandingkan dengan Maha Besar Allah yang ~, akan sama dengan 0, tak ada apa-apanya.

Sangat dewasa, tapi kadang kekanak-kanakan. Hmm, sangat dewasa, tapi kadang kekanak-kanakan. Ya seperti itu saja. Sangat dewasa, tapi kadang kekanak-kanakan. Maaf, tidak ada penjelasan lebih lanjut. v^^

Kadang jenius. Percaya atau tidak? Saya ini malas belajar (terutama terkait masalah akademik), tapi kok –bukan bermaksud sombong, hanya sedikit narsis, alah- saya termasuk “anak pintar” =). Sejak SD sampai SMA kelas 1, tidak pernah keluar dari rangking 3 besar kelas. Mulai kelas 2 SMA, gara-gara minder saja di tengah orang-orang Tionghoa di sebuah kelas unggulan di SMA unggulan di Solo. Hhe. Tapi masih masuk 10 besar, Alhamdulillah. IP saat kuliah berkisar 3,53; 3,57; dst.. Tapi, IPK terakhir di STAN 3,48. Lumayan lah yaw? Yah, karena IPK 3,5 ke atas harus ke departemen Keuangan, makanya saya segitu saja biar bisa mangkir ke BPK. Kick3x. -ngeles- Yang terakhir kemaren pas diklat, mendapat nilai paling tinggi pula, padahal saya belajarnya biasa-biasa saja.

Kadang bodoh. Pelupa atau lebih tepatnya pikun, telmi –telat mikir-, lugu –lucu-lucu guoblog-, plin-plan, dan sejumlah sifat bodoh lainnya telah lama mengeram di tubuh saya dan mungkin sudah beranak pinak. Salah satu hobi saya pada tahun pertama kuliah di STAN adalah “meledakkan teko pemanas air milik teman-teman kos saya”, pernah karena colokannya lupa dicabut, pernah karena keliru mencolokkan colokan teko pemanas air tsb padahal hendak menghidupkan kipas angin, dsb. Hobi yang lain adalah menghilangkan kunci kamar. Entah sudah berapa kunci kamar yang telah saya hilangkan dengan sukses. Dan orang yang paling berjasa bagi perkembangan hobi saya yang satu ini, adalah Babe (bapak kos), yang dengan sukarela dan pasrah menghancurkan gembok-gembok yang kuncinya menjadi tumbal kegemaran saya ini.

Serius. Beneran. Saya anaknya serius lho. Susah jelasinnya yang ini.

Suka bercanda. Yang ini juga susah dijelaskan. Jadilah teman dekat saya, dan lihatlah betapa saya sangat suka bercanda. =D

Care. Ya, saya peduli pada hidup saya. Saya peduli pada orang-orang terdekat saya, keluarga saya. Saya peduli pada Saudara seiman. Saya peduli pada kelangsungan hidup di planet ini –halah-. Dan banyak hal yang saya pedulikan, saya pikirkan. Tapi tak perlu memilih saya menjadi presiden.

Tapi saya tidak terlalu peduli terhadap penampilan saya. Mungkin ini buruk ya? Hhe. Saya tidak peduli terhadap pandangan orang lain kepada saya. Saya tidak peduli terhadap orang yang tidak peduli pada dirinya sendiri. Menghabiskan tenaga saja memikirkan orang-orang seperti itu.

Pendiam. Ssst…

Lebih menikmati menangis daripada tertawa. Terdengar melankolis sekali ya? Tapi itulah yang saya rasakan.
Tapi masih lebih banyak tertawa daripada menangis. Huahahaha.. Astaghfirullah. Astaghfirullah.

No comments:

Post a Comment