Sunday, January 22, 2012

sabtu sore di Rawamangun

Sabtu, 21 Januari 2012, pukul 15.15 - Mendung menggantung di langit Rawamangun. Padahal sehari tadi lumayan terik matahari. Padahal malam ini jadwal Tim Reviu Konsep LK Perwakilan Provinsi Papua berangkat -kali keempat dan dua kali berturut-turut saya ditugaskan ke Papua, situasi yang jujur saya kurang suka karena toh ada tiga belas kantor perwakilan di wilayah pengawasan kami-; take off pukul 21.10. Seharusnya kami telah berangkat tiga hari yang lalu, Rabu 18 Januari 2012, bersamaan dengan tim-tim lain. Namun, karena Ketua Tim kami jatuh pingsan saat menjadi komandan kompi pada upacara peringatan HUT kantor kami *catat: saya berhasil tidak ikut upacara* sehari sebelum keberangkatan, Selasa, 17 Januari 2012, terpaksalah keberangkatan kami ke Papua ditunda. Kata Dokter, Sang Ketua Tim harus istirahat minimal tiga hari. Ternyata dia memang memiliki sejarah hipertensi; turunan dari keluarga, katanya.

Sebenarnya ada opsi bagi kami, dua anggota tim, saya –yang masih tergolong pegawai baru- dan satu anggota tim lain yang akan pensiun pada Agustus tahun ini untuk berangkat ke Papua lebih dahulu, tetapi saya tidak bersedia. Tiket pun di-reschedule; diundur sampai tiga hari.

Senin, 16 Januari 2012 - Saya baru tiba di Jakarta dari ‘memulangkan’ anak dan istri ke Solo, kampung tercinta, dua hari sebelumnya. Begitulah sementara ‘strategi’ kami setiap kali saya hendak bertugas ke luar negeri kota; istri dan anak terlebih dahulu ‘diamankan’ di kediaman mertua di desa. Dan momen-momen seperti ini selalu tidak mengenakkan bagi kami; ketika seorang suami harus berpisah dari anak dan istri. Semoga bukan karena kami kurang bersyukur, tetapi karena cinta kami tidak terukur.

Sabtu, 14 Januari 2012 – Hujan tak begitu deras mengantarkan kami -saya, istri, dan anak- berangkat ke Bandara Soekarno Hatta. Namun, karena kontrakan kami agak jauh dari jalan besar, maka kami harus berjalan dan berpayung untuk sampai ke tempat taksi. Dan dua hari kemudian ketika saya hendak berangkat ke Bandara Adi Sumarmo di Solo untuk terbang ke Jakarta, karena langit cerah, maka payung yang sudah agak rusak itu pun tidak kembali menemani saya ke Jakarta.

Sabtu, 21 Januari 2012, pukul 16.01 – Hujan telah turun sebagian. Dan saya tentu tidak tahu sebagian lagi jadi atau tidak Dia turunkan; dan di sini atau di tempat lain. Yang saya tahu adalah bahwa saya tak punya payung sekarang untuk berjalan ke tempat taksi. Sebenarnya,  pagi tadi saya telah pergi ke sebuah market hendak mencari payung lipat kecil. Namun, karena yang tersedia di situ hanya dua: payung besar yang biasa dipasang tukang bakso di gerobaknya dan payung lipat kecil jelek yang saya kira sekali saja tertiup angin kencang bakal kehilangan bentuknya, niat membeli saya pun urung. Sekarang, tinggal berharap saja semoga hujan tidak tepat turun ketika saya hendak berangkat ke bandara nanti. Amin.

No comments:

Post a Comment