Thursday, July 26, 2012

segelas air dan tiga butir kurma

Alhamdulillah, kami dipertemukan lagi dengan Ramadhan, bulan penuh berkah. Ramadhan selalu menghadirkan nuansa spesial, yang patut dinantikan, dan sangat pantas. Setiap tahun, Ramadhan kami lalui dengan situasi dan kondisi yang berbeda.

Tahun ini, alhamdulillah, saya bisa ber-ramadhan dengan istri dan putri tercinta, di Jakarta. Walaupun sempat ada 'isu tak sedap' bahwa saya akan ditugaskan ke luar Jawa bulan ini. Bahkan, 'ancaman' itu sudah sempat nampak di depan mata ketika surat tugas terbit. Alhamdulillah, akhirnya dibatalkan. Tahun lalu, karena usia Maryam baru tiga bulanan, kami terpisah saat bulan ramadhan; saya di Jakarta, anak dan istri di Solo. Dua tahun sebelumnya, sama seperti tahun ini, kami ber-ramadhan bersama di Jakarta, hanya saja Maryam belum 'hadir'. Ramadhan tiga tahun yang lalu, saya belum menikah, bahkan saya belum mengenal istri saya. Baru selepas Idul Adha pada tahun yang sama, kami memulai ta'aruf. Ramadhan waktu itu terasa sangat 'menyesakkan', saya harus menjalaninya di Manokwari bersama rekan-rekan kerja saya; satu ketua tim dan empat angota tim yang lain.

Ber-ramadhan bersama istri dan anak yang masih balita bagai memiliki dua sisi mata uang. Sisi pertama, tentu kita berbahagia bisa menjalani bulan ini bersama orang-orang terkasih. Sisi yang lain, kita harus pandai-pandai membagi waktu, sebagian untuk keluarga, sebagian lagi untuk beribadah; memaksimalkan Ramadhan.

Sore itu, alhamdulillah, kami bertiga berkumpul di ruang depan rumah kontrakan kami, menanti waktu berbuka puasa. Maryam memang tak kalah antusias ketika berbuka puasa. Bahkan ketika makan sahur pun, terkadang ia bangun. Adzan berkumandang, kami menyegerakan berbuka puasa,

“Orang-orang (umat Islam) senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” [Muttafaqun ‘alaih]

dengan segelas air dan tiga butir kurma,

”Apabila salah seorang di antara kalian berbuka, hendaklah berbuka dengan kurma, karena dia adalah berkah, apabila tidak mendapatkan kurma maka berbukalah dengan air karena dia adalah bersih.” [HR. at-Tirmidzi dan Abu Dawud rahimahumallah]


kurma buka puasa

kemudian berdoa.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Dahulu apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berbuka puasa, beliau biasa berdoa dengan, “Dzahaba zh- zhama-u wabtallatil ‘uruuqu, wa tsabatal ajru insyaa Allah.”

Artinya: “Telah hilang rasa haus dahaga, dan urat-urat telah basah, dan pahala akan kita peroleh, insyaa Allah.” (HR. Abu Daud (II/306) [no.2357] dan yang lainnya. Lihat Shahihul Jami’ (IV/209) [no.4678])


Alhamdulillah, nikmat. Benarlah sabda Rasulullah Shalallahu 'Alayhi Wassalam,

“Orang yang berbuka puasa mempunyai dua kebahagiaan yang bisa ia rasakan; kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika ia bertemu dengan Rabb-nya karena puasa yang dilakukannya.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Alhamdulillah, nikmat yang pertama telah kami rasakan. Semoga nikmat kedua akan menyusul. Amiin.

No comments:

Post a Comment