Saturday, March 16, 2013

Nasi Bakar

Lain halnya kalau sedang ada istri, tinggal duduk manis menanti matangnya masakan istri, aktivitas sabtu pagi seorang 'bujang-lokal' tidak akan jauh-jauh dari hunting sarapan.

Seperti pagi ini, setelah me-mandor-i mesin cuci sampai selesai menjemur pakaian, saya bersepeda sekalian hunting sarapan. Iya, naik sepeda. Selain karena motor saya agak ngadat (double strarter-nya tidak berfungsi), mulai dua minggu lalu, saya coba membangkitkan kembali semangat bersepeda. Bagi yang belum tahu sejarahnya, dulu sebelum beli motor, saya kemana-mana bersepeda, lho. *kecuali kalo agak jauh, ya naik angkot lah* Termasuk setelah menikah, tidak jarang saya membonceng istri dengan sepeda mini itu. Romantis, kan? Romantis, lah. Diakui atau tidak, pokoknya romantis! Titik.

Karena saya jarang berolahraga, bersepeda inilah alternatif terbaik, insyaAllah.

Kembali ke hunting sarapan. Kalau sedang ada istri, istri saya lah yang bingung mau masak apa lagi, saya mah tinggal nunggu mateng, tinggal makan aja, haha. Kalau sedang LDR seperti ini, giliran saya yang bingung mau beli makan apa lagi?! Tapi pagi ini, saya punya ide brilian *halah*. Sabtu pagi lalu, juga ketika bersepeda, saya melihat ada yang jual nasi bakar di pinggir jalan. *yaeyalah, masak di tengah jalan?* Sebenernya ingin beli waktu itu, tapi saya sudah terlanjur membulatkan tekad untuk maem bubur ayam pagi itu. Jadi, pikir saya, lain kali saja, insyaAllah.

Dan, akhirnya, kesempatan kedua datang pagi ini. Ini sekaligus membuktikan bahwa pepatah yang berbunyi 'Kesempatan tidak datang dua kali' tidak sepenuhnya benar!! *iki opo?* Sesampainya di TKP, seperti biasa, pertama kali yang saya perhatikan adalah harga *cia, jujur banget* "Nasi Bakar Bagus Rp10.000", begitu bunyi tulisan di spanduk sederhana itu. Nasinya aja Rp10.000, pake sayur dan lauknya jadi berapa ya?, pikir saya. Maklum, saya hanya membawa selembar 20.000-an. Biar nyaman, saya memang sengaja membawa barang seperlunya saja waktu bersepeda. Dompet, handphone, laptop, sampai kipas angin saya tinggal di rumah.

Kembali ke nasi bakar. Ternyata konsep saya tentang nasi bakar salah. Jadi, nasi bakar Rp10.000 itu sudah meliputi nasi, sayur, dan lauk yang terbungkus daun pisang jadi satu. Mungkin mirip dengan konsep 'arem-arem' (bahasa Jawa). Bedanya, kalau arem-arem direbus, bukan dibakar, dan ukurannya lebih kecil. Pilihan lauknya (nasi bakar, red) ada beberapa; pedak, ayam pedak, ayam jamur, dan ikan teri. Tanpa pikir panjang dan alasan yang jelas, saya pilih ayam jamur. --daripada ayam jamuran?

Sampai rumah, saya segera menyantap nasi bakar "Bagus" itu. Saya bukan seorang pakar kuliner, lidah saya juga tidak terlalu sensitif untuk dapat membedakan gradasi rasa masakan; tidak enak, kurang enak, cukup enak, sangat enak, ataupun sangat enak sekali. Kesan saya atas pengalaman pertama makan nasi bakar hanya: 'Sepertinya rasanya mirip-mirip nasi liwet Solo ya.'

Sekian.

NB: sebenernya saya sudah mengambil gambar nasi bakar before and after dibuka, dan before and after dimakan, tetapi lagi-lagi ada kendala, bluetooth hp-laptop saya nggak mau connect. harap maklum. tapi ini ada gambar hasil googling yg cukup mewkili:

nasi bakar

No comments:

Post a Comment