Saturday, April 13, 2013

BukuBiru#01: Mukadimah

dan layar pun terkembang

layar bahtera rumah tangga

dua anak manusia coba arungi samudera kehidupan,

bersama

air mata

gelak tawa

menjadi satu,

padu

haru biru

meronta dan merona

mewarnai perjalanan ini

perjalanan ke taman bernama surga

tempat berlabuh orang-orang bertakwa

lalu,

sampai jumpa di sana

insyaAllahu ta'ala

buku ini menjadi saksi

bahtera rumah tangga
















Memenuhi janji saya beberapa waktu lalu, puisi ini --kalau bisa disebut puisi, dikutip dari buku biru yang ditulis di Solo pada 8 Juli 2010 --empat hari setelah saya menikah, dengan sedikit perubahan. Memang tidak (terlalu) bagus, sih, tapi lumayan untuk awal, lah.

Rumah tangga itu memang ibarat sebuah bahtera dengan suami sebagai nahkodanya,  anak dan istri sebagai penumpangnya. Gelombang ringan sampai badai besar bukan tidak mungkin menimpa bahtera itu. Di sini lah, kelihaian sang nahkoda diuji untuk membawa bahtera bersama para penumpang selamat sampai tujuan.

Cukup ya syarah-nya, sampai jumpa.

No comments:

Post a Comment