Thursday, August 22, 2013

Bunga Rampai

Saya sedang membeli makan malam di sebuah warteg sepulang kantor ketika seorang ibu diboncengkan anak atau suaminya berteriak histeris "MALIIING.." sambil mengejar sepeda motor yang lain, si penjambret. Seketika, spontan, orang-orang yang sedang nongkrong di tepi jalan pun membantu mengejar.

Walaupun si ibu berkerudung itu berteriak maling, tetapi maklum (dapat dipahami) bahwa yang dimaksud adalah jambret. Jambret berbeda dengan maling, bukan hanya di inisialnya, J dan M. Jambret, preampok, garong, dan yang sejenisnya mengambil atau merampas barang orang lain secara terang-terangan/terbuka, sedangkan maling alias pencuri, juga pencopet melakukan hal yang sama secara tersembunyi. Hampir sejenis dengan maling adalah koruptor. Kenapa hampir? Karena ternyata para ulama' fiqh membedakannya. Kita bahas ini lain kali, insyaAllah

**

Terakhir kali saya benar-benar menulis di blog ini adalah tentang Nasi Bakar, sekitar lima bulan yang lalu. Ketika itu tulisan saya tidak jauh-jauh dari tema bujang lokal. Dan sekarang pun saya kembali membujang lokal, meskipun di antara lima bulan itu istri dan anak saya di Jakarta bersama, sekitar satu bulan sebelum dipulangkan ketika saya hendak berangkat tugas luar kurang lebih setengah bulan sebelum Ramadhan.

Ini adalah masalah klasik saya yang mungkin juga dialami oleh sebagian (atau banyak) orang, tidak pernah benar-benar stay bersama keluarga. Sejujurnya saya tidak menikmati keadaan ini. Saya selalu mencoba menghindari mengadukan Allah kepada makhluk, apalagi dalam hal bersifat duniawi. Mudah-mudahan ini bukan, tidak termasuk. InsyaAllah ini juga bukan melulu masalah keduniaan.

Mungkin untuk pertama kalinya di blog ini, saya katakan, saya tidak keberatan untuk keluar dari pekerjaan saya saat ini suatu saat nanti, untuk keadaan yang lebih baik. Kenapa tidak sekarang juga? Saya sendiri terus terang tidak tahu jawaban pasti dari pertanyaan ini. Mungkin salah satunya, karena kekurangtawakalan saya. Semoga Allah mengampuni atas ini dan menguatkan saya. Mungkin juga ini hanya masalah momen, saya hanya menunggu momen yang tepat. Ketika momen itu datang, entah karena ada kesempatan atau justru karena meningkatnya tekanan, siap tidak siap, kaki saya harus diangkat.

**

Istri saya di Solo menanti kelahiran anak kedua kami. Untuk kedua kalinya pula, saya tidak bisa berada di sampingnya dalam kebanyakan masa kehamilannya. Untuk kedua kalinya juga, saya harus memikirkan strategi untuk tepat waktu kembali ke Solo, menemani persalinannya nanti. Dan kali ini akan lebih sulit karena aturan baru di kantor kami saklek bahwa sekarang cuti harus diajukan minimal tiga hari sebelum hari-H, tidak terkecuali dalam kasus saya. Teman saya telah menjadi korban dengan kegagalannya mengajukan cuti lima hari setelah menemani istrinya melahirkan di kampung halaman. Kros-lah absennya dan terpotonglah tunjangan.

Sejujurnya lagi, saya tidak terlalu peduli dengan kros absen atau terpotongnya tunjangan. Mungkin karena keperfeksionisan dan kebiasaan saya taat aturanlah yang membuat saya kurang nyaman. Perfeksionisme adalah penderitaan dan cerita tersendiri, mungkin lain kali, insyaAllah.

Pengadaan tiket pulang-pergi juga muncul sebagai masalah tersendiri. Hari-hari ini harga tiket semakin tak terkendali, entah itu pesawat ataupun kereta api. Itu pun cepat sekali ludes. Dengan tanggal yang tidak pasti, akan lumayan sulit bagi saya untuk mendapat tiket yang tepat. Saya tidak lagi melirik bus sejak terakhir kali (kalau tidak salah ingat) balik dari mudik tiga tahun yang lalu bersama istri yang memakan waktu sekira hampir 20 jam-an. Ketika itu pula istri saya sedang terindikasi hamil si Maryam. Sepanjang jalan mungkin rasa perutnya tidak karuan.

**

Saat ini, saya sedang mereviu pekerjaan auditor di salah satu auditorat di kantor pusat. Terus terang, saya belum benar-benar paham tentang teknis pekerjaan saya yang satu ini. Secara saya belum pernah meng-audit, saya harus mereviu pekerjaan auditor. Ini luar biasa. Pertanyaan ini sering bergelayut di benak saya, dan bahwa di benak auditor mungkin juga bergelayut pertanyaan serupa "Anda belum pernah meng-audit, lalu mau mereviu kertas kerja audit saya?" Meskipun segera dibantah oleh bagian benak saya yang lain, "Memangnya auditor juga sebelumnya pernah menjadi Bendahara Pengeluaran, Bendahara Penerimaan, PPK, atau bahkan Kontraktor sebelum meng-audit pekerjaan mereka?" Nah lho. Meskipun demikian, jawaban ini masih kurang memuaskan batin saya. Terasa tidak pas, tidak apple to apple, istilah kerennya.

Bekerja di kantor pusat juga kurang saya suka. Rumah kontrakan saya, di Rawamangun, dua kali lebih jauuh dari kantor pusat ketimbang dari kantor perwakilan DKI Jakarta. Itu mungkin salah satu sebab saya sempat tidak enak badan ketika bulan puasa bermotor Rawamangun--Gatot Subroto, beberapa waktu yang lalu. Kali ini, alhamdulillah saya sudah menemukan jalan yang lebih ringkas dan longgar ke kantor pusat.

Meskipun demikian, hal ini tidak menyurutkan langkah saya untuk segera mencari kontrakan baru yang lebih dekat dari kantor. Sukur-sukur di tengah-tengah antara kantor pusat dan perwakilan. Secara terkadang bekerja di kantor pusat, terkdang di kantor perwakilan. Inilah yang saya istilahkan "dilema berkantor dua", walaupun sejatinya justru tidak berkantor. Aneh tapi nyata memang, unit kerja sekelas Eselon I, tidak berkantor di pusat, hanya terima ditumpangkan di kantor perwakilan terdekat. Ini luar biasa yang kedua.

**

Rumah kontrakan saya yang sekarang, satu ruangan sekitar seperempat bagiannya diminta oleh pemiliknya --tentu dengan mengurangi harga sewanya (walaupun hanya seperdelapan). Katanya, mau dibikin kontrakan lagi, satu ruangan itu, ditambah ruangan di depan dan belakangnya, mungkin. Katanya lagi, nanti uangnya biar bisa buat tambah-tambah uang untuk biaya operasi 'syaraf kejepit' si empunya, kalau saya tidak salah dengar.

Saya sebenarnya sudah lama ingin pindah dari situ. Salah satunya karena hal yang sudah tersebut di atas, jaurak yang cukup jauh dari kantor. Ditambah lagi, Maryam sudah mau punya adik, tentu kami membutuhkan ruangan yang lebih luas. Sermentara Ruangan yang diminta tadi justru mempersempit tempat tinggal kami. Meskipun begitu, kami sebenarnya sudah cukup kerasan di sini, karena lumayan dekat dengan aneka fasilitas.

Sampai hari ini, saya belum mendapatkan ganti kontrakan yang sesuai harapan. Semoga Allah memudahkan.

**

Walaupun saya tidak ikut mengejar si jambret itu --karena sudah banyak yang mengejar, dan saya lapar-- saya yakin dan berharap dia atau mereka tertangkap, secara waktu itu adalah jam-jam pulang kerja yang notabene jalan-jalan tidak longgar, alias macet. #beg*bangetsihjadijambret

No comments:

Post a Comment