Thursday, August 5, 2010

setelah menikah

(tulisan pertama, setelah menikah)

Kami tinggal di Cipinang Baru Bunder No. 34, RT07 RW 18, Pulogadung, Jakarta Timur. Saya dan istri saya, Siti Munawaroh namanya. Sebelumnya, rumah kontrakan ini sempat saya tinggali sendiri satu bulan lamanya. Setelah kemudian saya pulang kampung untuk menjemput istri saya ke sini (baca: menikah).


Ya, kami baru saja atau belum lama menikah. 4 Juli 2010 kemarin. Pernikahan yang sangat sederhana. Ijab Qobul, ceramah, makanmakan, sudah, silakan pulang sambil memberi selamat kepada saya atau istri bagi yang wanita. Pernikahan yang lumayan berjalan lancar, selain sedikit kesalahan teknis bahwa si Penghulu lebih dulu datang sebelum saya datang, bukan karena terlalu bersemangat menikahkan saya, tetapi karena salah mendapat informasi tentang rencana waktu pelaksanaan Ijab Qobul. Ijab Qobul pun berjalan sangat lancar, selain saya hampirhampir salah mengucapkan mahar 4 gram emas menjadi 4 kilogram emas. Sekitar 14 miliar hanya untuk mahar luar biasa, bisa jadi pernikahan termahal.


Istri saya orang Solo juga, atau lebih tepatnya Sukoharjo. Saya yang sering mengaku orang Solo pun, tinggal di Karanganyar sebenarnya, meski dibesarkan di Solo. Percaya atau tidak percaya, dia, sistri saya, telah mengambil keputusan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai guru TK, meninggalkan rekanrekannya sesama guru TK, dan meninggalkan anakanak didiknya hanya untuk ikut saya. Tentu saja juga keluarga dan saudarasaudaranya, bapak, ibu, dan kakakkakaknya, dua orang. Maka, semoga dan insyaAllah, saya tidak akan mengecewakannya.

Tetapi mungkin sampai hari ini, saya belum sepenuhnya menyadari bahwa saya telah menjadi seorang suami. Saya baru sedang akan sadar, bahwa saya harus bisa mendidiknya, sebagaimana bapak ibunya dahulu telah mendidiknya. Menjadi temannya sebagaimana kakakkakaknya menemaninya selama ini. Bahkan mungkin juga menjadi layaknya anakanak muridnya, sesekali.

Kembali ke rumah –atau tepatnya kontrakan- kami. Rumah kami hanyalah beberapa petak ruangan tapi cukup nyaman. Bercat merah muda, disekat oleh tembok dari sebagian rumah pemiliknya. Memang sengaja dibuat seperti itu untuk dikontrakkan. Ada empat atau lima ruang. Paling depan adalah ruang tamu yang sekarang benarbenar telah kami sulap menjadi dapur. Terlanjur beli kompor gas lengkap dengan tabung gas 3 kg yang telah terbukti memakan banyak korban di negeri ini –semoga Allah melindungi kami- karena sering bocor, sedangkan ruang yang seharusnya dapur tidak ada ventilasi sama sekali. Terpaksalah kami sedikit berkreasi. Lalu di belakang ruang tamu atau dapur itu, ada ruang tengah, sekarang lebih mirip gudang karena kami meletakkan apa pun di situ. Sebelah ruang tengah ada kamar tidur. Belakang ruang tengah ada dapur yang tidak jelas lagi sekarang jadi apa dan mau dijadikan apa, mungkinkah jadi ruang tamu? Paling belakang ada kamar mandi.

Pemilik kontrakan adalah sepasang kakek nenek, Pak Tholib dan Bu Tholib. Mereka orang Jawa juga, asli Jogjakarta. Bisa dibilang, tetangga kami satusatunya sekarang adalah hanya mereka. Rumah kami agak menjorok ke dalam gang tersendiri, tersembunyi. Ditambah lagi, istri jarang keluar rumah sendiri. Jadi, palingpaling, kami hanya sekadar tahu namanama tetangga terdekat dan Pak RT.

Satu pekan pertama, saya belum masuk kerja. Cuti, menemani istri sembari beradaptasi. Maklum, kami berdua adalah orang kampung yang tersesat di kota metropolitan bernama Jakarta. Lebihlebih Istri baru tiga kali ini ke sini (baca: Jakarta).

Setidaknya beberapa bulan ke depan, kami masih akan tinggal di Cipinang. Rumah ini dengan sukarela ataupun terpaksa akan jadi layaknya saksi awalawal masa pernikahan kami. Yang selama sebulan ini berjalan relatif aman, nyaman, dan tenteram, semoga saja senantiasa seperti itu. Setelah menyelesaikan studi S1 saya di STEI, mungkin kami baru bisa pindah ke tempat yang lebih dekat kantor atau mungkin juga “pulang kampung” ke Jurangmangu, tempat saya “dibesarkan”.

-kota metropolitan, 05 Agustus 2010-

5 comments:

  1. Baituka.. jannatuka..
    Barakaallah..

    menerima tamu ga win? harus bikin janji dulu ya? hehe..

    ReplyDelete
  2. wa fiikum barokAllohu.
    sikusiku sdiapa ya? afwan.

    ReplyDelete
  3. Selamat yah win atas pernikahannya...
    semoga menjadi keluarga Sakinah, Mawadah, wa Rohmah...

    Doakan pula agar diriku bisa segera menyusul membina bahtera rumah tangga, mendengar cerita kawan-kawan dalam membina keluarga, keinginankuu pun semakin kuat..

    ReplyDelete