Skip to main content

Posts

dan, semester ini pun berlalu..

Kemarin, saya bolos ke kantor untuk sekadar menuntaskan perkuliahan semester genap di STEI tahun ini (wajar -dengan pengecualian-, jikalau sebagian dari anda tidak mengenal kampus ini, salah satu dosen kami, menyebutnya Sekolah Tinggi Elmu Ikonomi). Sepakat atau tidak, saya menyebut semester ini semester yang cukup melelahkan. Hampir mirip dengan semester ketiga di STAN, di mana di sana ada Trio Macan (begitu temanteman di STAN menyebutnya dulu untuk tiga mata kuliah “terkutuk”, Intermediete Accounting, Financial Management, dan Cost Accounting ) plus beberapa mata kuliah hafalan –dan saya paling tidak bisa menghafal, apalagi menghafal pelajaran-. Ya. Semester ini senin sampai sabtu saya kuliah. Melelahkan sekali, bukan? Siang bekerja mencari uang, malam kuliah mencari ilmu -halah-. Ahad, mencari istri -Haha, nggak lah-. Yang saya “sukai” dari semester ini adalah ada 4 mata kuliah akuntansi sekaligus (wow), akuntansi keuangan 2, akuntansi keuangan lanjutan 1, akuntansi manajemen, dan...

engkau dipercaya, akankah engkau berkhianat?

Sungguh, sepasang bola mata yang dengannya engkau dapat melihat indahnya warna-warni dunia ini seharusnya cukup untuk membuatmu senantiasa bersyukur kepada Allah.. Betapa banyak saudara kita yang tidak dapat melihat.. Tapi apa yang kau lakukan wahai Kawan? Kau gunakan mata itu untuk melihat apa-apa yang diharamkan Allah? Bukannya bersyukur, kau justru bermaksiat dengannya? La haula wa la quwwata illa billah.. Sungguh, sepasang telinga yang dengannya engkau dapat mendengar suara dunia ini seharusnya cukup untuk membuatmu senantiasa bersyukur kepada Allah.. Betapa banyak saudara kita yang tidak dapat mendengar.. Tapi apa yang kau lakukan wahai Kawan? Kau gunakan telinga itu untuk mendengar apa-apa yang diharamkan Allah? Bukannya bersyukur, kau justru bermaksiat dengannya? La haula wa la quwwata illa billah.. Sungguh, lisan yang dengannya engkau dapat menyampaikan pesan seharusnya cukup untuk membuatmu senantiasa bersyukur kepada Allah.. Betapa banyak saudara kita yang tidak dapat beruc...

mati rasa

ada apa dengan diri ini? inikah yang namanya pemberontakan? ataukah pelarian? sakit hati atau sakit jiwa? mati rasa atau mati rasa? gundah ini adakah obatnya? gelisah ini adakah penawarnya? hati ini terbolak-balik begitu cepat. secepat daun rapuh diterpa angin kencang jatuh ke bumi. lalu bangkit lagi dan terpuruk lagi. bangkit lagi dan terpuruk lagi. diinjak-injak kehinaan. silkus tidakkah bisa diputus? benar-benar rakyat jelata saya. rakyat jelata yang kadang merasa laiknya dewa. adakah obat penawarnya? karena saya mungkin memang sedang keracunan.

Allah kadang menakdirkan kelucuan

Apa jadinya dunia ini tanpa senyum dan tawa. Walaupun senyum dan tawa yang berlebihan atau tidak pada tempatnya juga tidak baik. Percaya atau tidak, kadang saya merasa Allah “mengajak bercanda” melalui takdir-takdirnya yang lucu, aneh, unik, atau apa lah istilah yang lebih tepat saya tidak paham juga. Seperti tempo hari ketika saya mengunjungi sebuah minimarket. Setelah memilih beberapa makanan ringan dan minuman, saya beranjak ke kasir. Di situ saya baru melihat isi dompet saya yang ternyata hanya ada selembar uang sepuluh ribuan dan selembar lagi lima ribuan. “Semoga saja tidak sampai lima belas ribu perak”, bilang saya dalam hati. Tapi ternyata, “enam belas ribu dua ratus rupiah, Mas”, kata si Kasir. “Hehe. Maaf, Mbak, baru liat dompet. Uang saya tinggal lima belas ribu. Bisa di-cancel aja, yang ini, yogurtnya.” Dan karena itu juga, rencana saya makan malam di sebuah warteg setelah itu pun pupus sudah. ATM agak jauh.

saya, beberapa waktu yang lalu

saya, sekarang.. sedang duduk manis di depan komputer jinjing, mengetik tulisan sederhana ini. saya, satu jam yang lalu.. menjama` makan pagi dan makan siang di sebuah warung pinggir jalan dekat kampus. saya, sehari yang lalu.. terbingungbingung oleh mata kuliah advanced accounting yang –menurut saya- ada yang salah dengan metode mengajar sang dosen. saya, sepekan yang lalu.. menyimak taushiyah dari lisan mulia seorang ustadz, dengan sesekali terkantukkantuk. saya, sebulan yang lalu.. melepas rindu kepada ibu tercinta, keluarga, dan kampung halaman. saya, setahun yang lalu.. berpisah dengan teman-teman dari Kalibata yang kini menyebar di seluruh penjuru nusantara. saya, satu dasawarsa yang lalu.. berdaptasi dengan teman dan lingkungan baru di sebuah SMP belakang rumah sakit dan sungai jorok. saya, satu abad yang lalu.. bahkan ibu bapak saya pun belum lahir! saya, dua puluh tiga tahun yang lalu.. keluar dari rahim seorang ibu, telanjang dan tanpa dosa. saya...

Paling Enak Anak-anak

Kadang terpikir ingin kembali menjadi anak-anak. Tanpa beban. Bebas saja. Bermain, bersenang-senang setiap waktu. Mau apa-apa tinggal minta orang tua. Tidak diberi tinggal menangis. Hha, enak sekali sepertinya. Tidak seperti orang dewasa. Banyak pikiran. Banyak masalah. Jadi ingat, masa-masa kecil yang indah. Pulang sekolah. Ganti baju, bermain bersama teman-teman. Main bola, main petak umpet, sampai main lompat tali. Menunggu Bapak Ibu pulang dari pasar membawa oleh-oleh. Atau kembali menjadi bayi sekalian. Makan, tidur, -maaf- eek, makan, tidur, -maaf lagi- eek, dst. Hhe. Sudah berlalu semua itu. Tidak bisa diulang kembali ya. Tidak ada mesin waktu. Mesin waktu hanya bualan. Tapi sepertinya ketika anak-anak dulu, kita malah berpikir sebaliknya. Sampai-sampai ada mainan rumah-rumahan, ada yang jadi suami, ada yang jadi istri, anak, anjing penjaga rumah, dsb. Anak-anak kecil yang ingin cepat dewasa. Kerja. Dapat uang banyak. Bebas. Tidak lagi disuruh tidur siang oleh nenek (karena ...

Papua

Inilah enaknya jadi pegawai BPK RI, bisa “jalan-jalan” gratis (atau lebih tepatnya pakai uang rakyat-jadi harus hati-hati, jangan sampai benar-benar hanya jalan-jalan saja-). Dan lebih enak lagi, jika Anda ditempatkan di Unit Kerja ini, Inspektorat (auditor internal BPK, salah satu tupoksi nya mengawasi Perwakilan BPK RI). Ya, karena sangat memungkinkan untuk berkunjung ke setiap Provinsi (perwakilan BPK ada di setiap Provinsi), darisabangsampaimerauke. Dan asyiknya lagi, hanya di Ibu Kota Provinsi, tidak terlalu ke “dalam-dalam”. Dan Juni 2009, tugas luar paling awal (pertama, red) saya adalah menyambangi kantor perwakilan BPK RI paling timur: Jayapura, Papua. Yang pertama kali saya notice saat menginjakkan kaki di tanah Papua adalah Airport yang lebih mirip terminal. Tapi tak apa, setidaknya kami tidak mendarat di hutan atau menabrak gunung, Alhamdulillah. Jayapura adalah kota yang eksotis. Jayapura adalah hutan yang berbukit-bukit. Itu intinya. Sepanjang jalan dari Bandara ke kota...