Skip to main content

Posts

Pak Tholib dan Bu Tholib

Adalah Pak Tholib dan Bu Tholib, sepasang suami istri –atau lebih tepatnya, sepasang kekek nenek- yang telah berkepala lima*. Di Jakarta, merekalah tetangga kami satusatunya –bisa dibilang begitu- sekaligus Bapak Ibu kontrakan kami . Pak Tholib adalah seorang pensiunan PNS –seperti kemungkinan besar masa depan saya, itupun andai masih hidup di usia segitu- Pemda DKI Jakarta. Bu Tholib konon kabarnya adalah ibu rumah tangga semenjak kali pertama menikah, tak pernah merasakan yang namanya menjadi wanita karir dan sebagainya. Dari sisi ini, beliau sedikit “lebih baik” dari istri saya. Sedikit yang saya tahu dari mereka yang bisa saya ceritakan di sini, secara siang hari saya harus bekerja di kantor sedangkan malam harinya saya harus istirahat dan atau “istrirahat”. Toh Pak Tholib dan Bu Tholib juga seringnya menutup pintu rumah mereka sebelum malam. Praktis saya hanya mungkin berbincang dengan mereka di hari sabtu dan minggu, itu pun hanya waktu sisa dari yang lebih banyak saya habis...

setelah menikah

(tulisan pertama, setelah menikah) Kami tinggal di Cipinang Baru Bunder No. 34, RT07 RW 18, Pulogadung, Jakarta Timur. Saya dan istri saya, Siti Munawaroh namanya. Sebelumnya, rumah kontrakan ini sempat saya tinggali sendiri satu bulan lamanya. Setelah kemudian saya pulang kampung untuk menjemput istri saya ke sini (baca: menikah). Ya, kami baru saja atau belum lama menikah. 4 Juli 2010 kemarin. Pernikahan yang sangat sederhana. Ijab Qobul, ceramah, makanmakan, sudah, silakan pulang sambil memberi selamat kepada saya atau istri bagi yang wanita. Pernikahan yang lumayan berjalan lancar, selain sedikit kesalahan teknis bahwa si Penghulu lebih dulu datang sebelum saya datang, bukan karena terlalu bersemangat menikahkan saya, tetapi karena salah mendapat informasi tentang rencana waktu pelaksanaan Ijab Qobul. Ijab Qobul pun berjalan sangat lancar, selain saya hampirhampir salah mengucapkan mahar 4 gram emas menjadi 4 kilogram emas. Sekitar 14 miliar hanya untuk mahar luar biasa, bisa ja...

korbankorban propaganda

Sedih. Sedih, bukan karena beberapa kali ada teman -sesama muslim- yang berkata kepada saya, “kamu kayak teroris”, sedih lebih karena hal itu menandakan jauhnya umat Islam dari Islam itu sendiri, jauh dari ilmu. Terlepas dari apakah hal semacam itu adalah tuduhan, ejekan, atau sekadar gurauan. Setidaknya ada beberapa kesalahan konsep berfikir mereka. Kesalahan pertama, seperti penyaklit kebanyakan masyarakat Indonesia, PUKUL RATA . Ambil contoh sederhana, jika dikatakan, “Budi itu orangnya agak gendut, rambutnya keriting”, apakah berarti semua orang yang agak gendut dan berambut keriting bernama Budi? Jika ada yang menjawab “Ya”, sepertinya harus diikutkan test IQ dan dimintakan rekomendasi terkait hasilnya. Lalu kenapa, setiap ada orang bercelana cingkrang, berjenggot, wanita pakai cadar, atau orang bernama Abu Abdillah, mereka langsung serta merta menyebut, “teroris” hanya karena penampilan mereka serupa? Ayolah, lebih cerdas lah sedikit.

Peta Lokasi Akad Nikah Saya, insyaAllahu Ta`ala

Gedongan, RT 02 RW V Bentakan, Baki, Sukoharjo.

alzheimer

Senin kemarin, sore hari. Hari pertama saya berangkat ke kantor dari kontrakan baru. Sebelumnya, hal yang sama pernah terjadi saat saya masih tinggal di kos, belum lama. Keinginan sekadar merebahkan tubuh di kasur empuk setelah bekerja seharian harus tertunda beberapa jam, akibat sifat pelupa tingkat tinggi saya, kunci kontrakan tidak ada! Menangis lah. Awalnya saya kira kunci itu terjatuh di jalan waktu saya memasukkannya ke tas sambil berjalan waktu berangkat tadi pagi. Setelah saya telusuri sepanjang jalan dari kontrakan sampai tempat menunggu bus jemputan kantor, sambil sesekali menanyai tetangga-tetangga yang belum begitu kenal -karena saya baru menginap dua malam di kontrakan- yang sedang berada di teras-teras depan rumah mereka dan hasilnya nihil, saya baru ingat bahwa saya sempat mengeluarkan rombongan kunci –tidak hanya kunci kontrakan, ada juga kunci kamar, kunci gembok pagar, dan kunci laci meja kantor- tersebut di kantor untuk membuka laci meja tempat saya menyimpan lapto...

dan, semester ini pun berlalu..

Kemarin, saya bolos ke kantor untuk sekadar menuntaskan perkuliahan semester genap di STEI tahun ini (wajar -dengan pengecualian-, jikalau sebagian dari anda tidak mengenal kampus ini, salah satu dosen kami, menyebutnya Sekolah Tinggi Elmu Ikonomi). Sepakat atau tidak, saya menyebut semester ini semester yang cukup melelahkan. Hampir mirip dengan semester ketiga di STAN, di mana di sana ada Trio Macan (begitu temanteman di STAN menyebutnya dulu untuk tiga mata kuliah “terkutuk”, Intermediete Accounting, Financial Management, dan Cost Accounting ) plus beberapa mata kuliah hafalan –dan saya paling tidak bisa menghafal, apalagi menghafal pelajaran-. Ya. Semester ini senin sampai sabtu saya kuliah. Melelahkan sekali, bukan? Siang bekerja mencari uang, malam kuliah mencari ilmu -halah-. Ahad, mencari istri -Haha, nggak lah-. Yang saya “sukai” dari semester ini adalah ada 4 mata kuliah akuntansi sekaligus (wow), akuntansi keuangan 2, akuntansi keuangan lanjutan 1, akuntansi manajemen, dan...

engkau dipercaya, akankah engkau berkhianat?

Sungguh, sepasang bola mata yang dengannya engkau dapat melihat indahnya warna-warni dunia ini seharusnya cukup untuk membuatmu senantiasa bersyukur kepada Allah.. Betapa banyak saudara kita yang tidak dapat melihat.. Tapi apa yang kau lakukan wahai Kawan? Kau gunakan mata itu untuk melihat apa-apa yang diharamkan Allah? Bukannya bersyukur, kau justru bermaksiat dengannya? La haula wa la quwwata illa billah.. Sungguh, sepasang telinga yang dengannya engkau dapat mendengar suara dunia ini seharusnya cukup untuk membuatmu senantiasa bersyukur kepada Allah.. Betapa banyak saudara kita yang tidak dapat mendengar.. Tapi apa yang kau lakukan wahai Kawan? Kau gunakan telinga itu untuk mendengar apa-apa yang diharamkan Allah? Bukannya bersyukur, kau justru bermaksiat dengannya? La haula wa la quwwata illa billah.. Sungguh, lisan yang dengannya engkau dapat menyampaikan pesan seharusnya cukup untuk membuatmu senantiasa bersyukur kepada Allah.. Betapa banyak saudara kita yang tidak dapat beruc...