Tuesday, June 8, 2010

alzheimer

Senin kemarin, sore hari. Hari pertama saya berangkat ke kantor dari kontrakan baru. Sebelumnya, hal yang sama pernah terjadi saat saya masih tinggal di kos, belum lama. Keinginan sekadar merebahkan tubuh di kasur empuk setelah bekerja seharian harus tertunda beberapa jam, akibat sifat pelupa tingkat tinggi saya, kunci kontrakan tidak ada! Menangis lah.

Awalnya saya kira kunci itu terjatuh di jalan waktu saya memasukkannya ke tas sambil berjalan waktu berangkat tadi pagi. Setelah saya telusuri sepanjang jalan dari kontrakan sampai tempat menunggu bus jemputan kantor, sambil sesekali menanyai tetangga-tetangga yang belum begitu kenal -karena saya baru menginap dua malam di kontrakan- yang sedang berada di teras-teras depan rumah mereka dan hasilnya nihil, saya baru ingat bahwa saya sempat mengeluarkan rombongan kunci –tidak hanya kunci kontrakan, ada juga kunci kamar, kunci gembok pagar, dan kunci laci meja kantor- tersebut di kantor untuk membuka laci meja tempat saya menyimpan laptop pinjaman. Kunci itu masih tergantung di laci, SMS teman saya. Dan saya pun terpaksa harus merepotkan teman saya mengantarkan saya kembali ke kantor untuk mengambilnya atau saya tidur di kolong jembatan.

Akibat kejadian itu, anak pemilik kontrakan langsung tahu bahwa saya seorang pelupa. “Mas Erwin emang pelupa ya?” tanyanya. “Hhe, iya Mbak, agak pelupa”, jawab mulut saya yang sedikit berbeda dari jawaban hati saya, “Sangat pelupa, Mbak.” Sambungnya, “Nanti kalau sudah nikah, istrinya jangan sampai tertinggal, dulu saya pernah ketinggalan di Monas waktu jalanjalan sama suami saya.” Sedikit menghibur, ternyata masih ada yang lebih pikun dari saya.

Hal yang serupa belum lama terjadi, beberapa bulan yang lalu. Ketika itu, karena baru kembali dari kampung halaman, ada dua tas saya di kantor dan saya membawa pulang tas yang salah. Tas yang di dalamnya terdapat kunci kamar kos saya justru tertinggal di kantor. Dan saya harus tidur di kamar sebelah, kamar kos paling depan yang bising dan luar biasa panas tanpa kipas angin.

Itu belum seberapa. Waktu masih tinggal di Jurangmangu, tak terhitung berapa kali saya menghilangkan kunci kamar kos. Dan setiap kali saya melakukannya, Babe si pemilik kos dengan gagah berani menghancurkan gembok dengan peralatan seadanya. Dan terakhir kali kejadian seperti itu di sana, saya sendiri yang mendobrak pintunya dengan satu kaki, sedikit sakti, dan sedikit sakit. Tapi setelah itu, saya minta tolong Babe juga untuk membenarkan pintunya. Hhe. Dan ternyata, waktu itu si kunci sebenarnya tidak kemanamana, tetapi ada di kantong kecil tas saya.

Pernah juga saya mengira kunci gembok kamar tertinggal di dalam. Setelah pintu didobrak, ditemukanlah kunci itu tergeletak pasrah di lantai kamar kos teman saya. “Saya di sini, jangan dobrak dulu pintu kamarnya. Yah..” Mungkin kunci itu akan berteriak, meneriaki saya, kalau bisa.

Saya juga memiliki satu dari beberapa kegemaran aneh waktu masih kuliah di STAN. Ketika teman kos yang lain gemar memasak mie instan dengan teko listrik pemanas air (kami menyebutnya heater), saya justru gemar meledakkan heaterheater itu. Tercatat tiga atau empat kali saya melakukannya. Yang pertama, saya salah mencolokkan kabel heater kosong ketika hendak mencolokkan kabel kipas angin. Dor. Yang kedua, saya justru mencabut kabel kipas angin ketika hendak mencabut kabel heater yang sudah tidak lagi berisi air. Dor. Yang selanjutnya, saya lupa kejadiannya.

Itulah sebagian kecil kekonyolankekonyolan saya. Masih ada yang lain yang mungkin akan atau mungkin juga tidak akan saya ceritakan. Malu. Memang benar, tak ada gading yang tak retak. *ngeles.

2 comments: