Monday, April 23, 2012

mengingat mati

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya”. [QS. Al A’raf: 34].

Tersentak hati ini ketika ahad pagi-pagi buta membaca sms yang ternyata dikirim sejak tengah malam. Dua buah sms dari dua orang rekan kerja. Isinya sama, mereka mengabarkan tentang seorang rekan kerja yang meninggal; Mas Rahmat, rekan kerja satu ruangan. Innalillahi wa 'inna ilaihi roji'un. Yang membuat hati tersentak adalah bahwa usia Mas Rahmat masih 34 tahun --sedikit lebih banyak dari separuh usia rata-rata umat Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam. Dan bahwa hari Jum'at, ia masih bekerja seperti biasa. Saya sempat melihatnya walaupun tak sempat bercakap-cakap dengannya hari itu karena ia sedang bertugas di kantor pusat, sedangkan saya hanya mampir sebentar ke sana. Namun, qodarullahu wa masya'a fa'ala, Sabtu malam, ia berpulang.

Mas Rahmat, seorang yang saya kenal pendiam, tidak banyak bicara, kalem, tenang itu kini telah tiada tanpa sedikit pun dinyana sebelumnya --akan secepat ini. "Pertanyaannya", tentu saja, kenapa yang masih muda? Ada beberapa orang di ruangan ini yang lebih "layak" duluan.

Bahwa kematian bukan hanya milik mereka yang telah lanjut usia...

Orang bijak adalah yang bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian.

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati..." [Ali Imran:185].

Saudaraku, kita semua yakin akan mati, bukan? Naif sekali orang yang mengingkari mati setelah jelas di depan mata kepala mereka sedemikian bukti. Lalu, apakah kita mengkhawatirkan sebuah kepastian? Sungguh, bukan kematian --yang pasti-- itu yang seharusnya kita khawatirkan, bukan? Akan tetapi, tempat kita nanti yang belum pasti; surga ataukah neraka?!!!

"Duhai, seandainya aku hanyalah sehelai rambut yang tumbuh di kepala seorang mukmin." [Abu Bakar Ash Shidiq radhiallahu anhu]

"Duhai, andaikan aku hanya seekor domba yang disembelih." [Aisyah radhiallahu anha]

"Seandainya turun kabar dari langit, bahwa semua orang masuk surga kecuali satu, aku khawatir itu adalah aku." [Umar ibn Khattab radhiallahu anhu]

Subhanallah! Sahabat-sahabiyah besar yang telah dijamin Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam masuk surga berkata-kata seperti itu, lalu apa yang hendak kita katakan? Kita yang amalnya tidak ada seujung kuku amal mereka...

"Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian." [HR Ibnu Majah, no. 4.258; Tirmidzi; Nasai; Ahmad].

ingat mati














| Duhai istriku, --seandainya engkau membaca tulisan ini-- "jika engkau bergantung kepadaku (dan Demi Allah jangan engkau seperti itu), maka aku tak selalu berada di sisimu, tetapi jika engkau bergantung kepada Allah, ketahuilah, Dia tidak pernah tidak ada." |

2 comments: