Skip to main content

Posts

Satu Semester, Semester Satu

L ebih sudah, dari satu semester, satu artikelpun tidak diunggah. "M ungkin 'dia' lelah." Haha. M ungkin saja benar. "Mungkin dia lel ah", entah beras a l darimana, kalimat ini, dari sudut pandang I lmu K omunikasi, bisa dik atakan telah menjadi fantasy theme (tema fantasi) dewasa ini, terutama di kalangan anak muda. Ilmu Komunikasi. Iya, sudah satu semester ini saya belajar ilmu komunikasi di Pascasarjana UI, Salemba, Jakarta, dengan Beasiswa dari Kementerian Kominfo. Semester satu berlalu, setelah berjibaku dengan buku. Alhamdulillah , nilai lumayan melimpah. Sebulan ini praktis, saya libur, full . Menghabiskan -tepatnya, memanfaatkan- waktu bersama anak-istri-keluarga di Solo pun menjadi pilihan terbaik. Sekarang, hari ini, sejak awal Januari, sampai awal Feberari, nanti, insyaAllah , saya di Solo. Suatu 'kemewahan' yang hampir mustahil didapatkan ketika saya aktif bekerja. Iya. Saya masih PNS. Berstatus tugas balajar, saya hanya diwaj...

Antara Al Qur'an dan Nyanyian (Musik)

Lihat diri kita. Lebih suka mendengar nyanyian (musik) daripada Al Qur'an? Lebih banyak hafal lagu daripada hafal Al Qur'an? Lebih mahir bernyanyi daripada membaca Al Qur'an? Tahukah kita hukum-hukum tajwid ? Tahukah sifat-sifat huruf? Tahu makhraj-makhraj huruf? Yang lebih sederhana, jangan2 kita pun tak tahu sekadar jumlah huruf hijaiyah. Jika keadaannya seperti ini, bagaimana bacaan Al Qur'an kita? Jika kita bacaan Al Qur'an kita tidak karuan, bagaimana kita akan suka membacanya? Jika tidak suka membacanya, apatah lagi menghafalnya? Apalagi mentadaburinya? Apalagi mengamalkan apa yang Rabb kita sampaikan dalam ayat-ayat-Nya yang mulia. Sungguh keterpurukan umat ini adalah karena jauhnya kita dari Al Qur'an. Jauhnya kita dari Al Qur'an adalah karena dekatnya kita dengan nyanyian yang melalaikan kita darinya. ** "Sungguh tidak akan berkumpul pada hati seseorang, (kecintaan kepada) Al Qur'an dan (kecintaan kepada) nyanyian selama-lamanya."...

Tentang Ucapan 'Selamat Natal'

Saudaraku, Apakah kita mengucapkan Selamat Natal sementara kita masih membaca Surat Al-Ikhlas? Ataukah kita tidak pernah mentadaburi apa yang kita baca? Apakah kita mengucapkan Selamat atas Hari Lahir Anak Tuhan, sementara Surat 'Sepertiga Qur'an' itu, kita masih hafal? Ataukah kita tidak pernah paham apa yang kita hafal? Saudaraku, Apakah nyawamu terancam jika tidak mengucapkan Selamat Natal? Apakah mereka merampas hartamu jika engkau tidak mengucapkan Selamat Natal? Ataukah engkau memang dengan sukarela, dengan senang hati mengucapkan Selamat atas Hari Lahir Anak Tuhan? --sementara Bilal tetap berucap, "Ahad, Ahad." meskipun disiksa sedemikian rupa. Saudaraku, Apakah engkau merasa tidak enak kepada manusia? Sementara engkau tidak pernah merasa tidak enak kepada Rabb-mu? Saudaraku, Apakah engkau berkilah itu sekadar ucapan, bukan keyakinan dalam hatimu? Maka aku bertanya kepadamu, apa seb...

VBAC, Persalinan Normal Setelah Caesar untuk Ibrahim (4): Alhamdulillah, Akhirnya Lahir Juga

Setelah ‘USG gagal’ itu, saya sebenarnya masih penasaran untuk mengulanginya, di dr. Aniek, RS PKU. Dan ternyata, istri saya pun punya pikiran yang sama. Hanya saja, ia khawatir. Pertama, takut ‘dimarahi’ dr. Aniek karena seharusnya sesuai jadwal, saat HPL, kami memeriksakan kandungan ke sana. Sepekan sebelum HPL (10 September), istri saya memeriksakan kandungannya ke dr. Aniek. Waktu itu, dr. Aniek bilang bahwa insyaAllah bisa untuk persalinan normal dan ini tinggal menunggu tanda-tanda persalinan. Kembali ke sini saat tanda-tanda itu datang atau periksa kembali sepekan kemudian, pas HPL. Kekhawatiran kedua, takut kejadian Maryam terulang lagi, niatnya sekadar periksa kandungan, malah berakhir dengan operasi Caesar. 23 September. Pagi hari. Setelah kemarin mendapati tanda-tanda flek dan bercak darah, hari ini istri saya mendapati tanda-tanda cairan bening. Khawatir itu adalah air ketuban yang pecah dini, Bu Bidan Umroh di-SMS. Pasalnya, ciri-ciri air ketuban masih samar bag...

VBAC untuk Ibrahim (3): Hari-Hari Penantian

Pengajuan cuti yang minimal tiga hari sebelum tanggal cuti menimbulkan sedikit masalah dalam menentukan tanggal yang tepat untuk pulang ke Solo, menjadi suami siaga. Berdasarkan masukan dari beberapa pihak, termasuk atasan langsung dan teman di SDM, diambillah tujuh hari cuti (dari sepuluh hari yang tersisa), ditambah dengan tiga hari izin atasan (satu hari sebelum dan dua hari setelah cuti), serta (rencana tersembunyi) bolos sehari. Total saya siaga di Solo sejak 13 sampai dengan 29 September. HPL (Hari Perkiraan Lahir) tanggal 17 September. Perjuangan suami siaga dimulai. Beberapa hari sebelum saya pulang, istri saya merasakan sebagian tanda-tanda persalinan, kontraksi yang terus menerus seharian. Tetapi kemudian tanda itu hilang, tanpa ada apa-apa. Saya tidak jadi kehilangan momen spesial, menemani istri melahirkan. 13 September. Setiba saya di Solo, istri saya masih seperti biasa, melakukan aktivitas sehari-hari   sambil menunggu ‘tanda-tanda cinta’. Tidak lupa jal...

VBAC untuk Ibrahim (2): Memupuk Asa

SOLO-- Pada usia kehamilan memasuki pertengahan bulan ke enam, kurang dari sebulan menjelang Ramadhan 1434 H, karena saya hendak bertugas ke luar kota dan 'kami' ingin melahirkan anak kedua di kampung, saya mengantar istri, Maryam, dan tentu saja calon adiknya Maryam pulang ke Solo. Salah satu agenda pertama di Solo adalah periksa ke dokter Solo. Beliau adalah dr. Aniek, salah seorang Dokter Spesialis Kandungan di Rumah Sakit Islam PKU Muhammadiyah, Solo. Maklum, setelah kejadian periksa ke dokter Jakarta itu, istri saya tidak berkenan memeriksakan kandungannya lagi di Jakarta, walaupun ke dokter lain, walaupun ke sekadar bidan. Walhasil, hampir dua bulan penuh, istri saya tidak memeriksakan kandungannya. Kepada dr. Aniek, kami mengonsultasikan vonis dokter Jakarta itu, lengkap dengan dokumen pendukung berupa print-out hasil USG yang sudah diberi catatan-keterangan si dokter Jakarta. Ternyata, dr. Aniek kurang sependapat dengan dokter Jakarta itu. Satu, beliau tidak meng...

VBAC untuk Ibrahim

JAKARTA-- Ketika itu, usia kehamilan anak kedua kami memasuki bulan keempat. Saya tahu kesedihan itu; kesedihan seorang ibu muda ketika dokter memvonisnya, Caesar lagi untuk kehamilan kali kedua ini. Kesedihan itu justru semakin tergambar ketika ia mencoba mengalihkan perhatiannya (juga perhatian suaminya) kepada binatang kecil yang dianggapnya aneh di lapangan parkir rumah sakit, seekor uler gagak * begitu kami menyebutnya di kampung * dengan ukuran yang ia anggap tidak biasa. Dokter Spesialis Kandungan tersebut berkesimpulan seperti itu setelah memeriksa (dengan USG) kandungan istri saya. Katanya, bekas jahitan Caesar pada kelahiran pertama dulu tidak sembuh dengan sempurna, ada celah yang tidak tertutup, tidak menyambung sempurna, yang sekaligus membuat tebal lapisan rahim bekas jahitan tersebut kurang memenuhi syarat untuk VBAC ( Vaginal Birth After Caesar ), Persalinan Normal Setelah --persalinan sebelumnya-- Caesar. Hancurlah hati istri saya, yang saya tahu ia sangat ing...