Tuesday, July 19, 2011

kaki kanan dan kaki kiri

Minggu pagi yang cerah, kaki kanan dan kaki kiri sedang bersepeda bersama waktu itu. Setelah keduanya hampir lelah mengayuh dan memutuskan untuk kembali pulang, mereka menyempatkan diri sekadar membeli makan pagi, alias sarapan dalam bahasa manusia. Mampirlah mereka membeli ketupat sayur di pinggir jalan, dibungkus, pakai telor. Masukkan ke keranjang sepeda di bagian depan; cukup satu bungkus yang akan mereka makan bersama; memang rukun sekali mereka berdua.

Dari situ, kedua kaki itu benar-benar hendak pulang. Tapi tunggu dulu, mereka tiba-tiba ingat sesuatu. Persediaan uang di dompet tuannya menipis. Kebetulan –qodarullah, red- di seberang jalan sana ada ATM *Automatic Teller Machine, bukan Anjungan Tunai Mandiri. Mereka kayuh kembali sepedanya ke ATM yang masih satu komplek dengan Apotik Rini itu. Apotik –yang entah kenapa- paling laris dari beberapa apotik yang ber-jejer di sepanjang Jalan Balai Pustaka.

Sampailah sepasang kaki itu di tempat tersebut. Ramai-ramai; rupanya sedang ada acara di Apotik Rini. Oh, mungkin ini yang bikin Apotik Rini berhasil memenangkan persaingan antar apotik di daerah Rawamangun selain karena sepertinya apotik ini apotik yang paling tua –bisa dilihat dari bangunannya. Sesekali waktu, mereka mengumpulkan pelanggan untuk sekadar senam pagi, lalu setelah itu bagi-bagi hadiah –mungkin.

Biasanya kaki kanan dan kaki kiri memarkir sepeda mereka di dalam komplek apotik. Tetapi karena kali ini tempat telah penuh dengan motor terparkir di situ, maka mereka hanya meninggalkan sepedanya di pinggir jalan, dikunci setang *jaman sekarang, sepeda mini pun pakai kunci setang.

Kaki kiri dan kaki kanan tiba tepat di depan pintu ATM, terjadilah apa yang terjadi pagi itu. ‘Seseorang’ membuka pintu ATM dengan serampangan. Ujung pintu ATM bagian bawah yang terdiri kaca tebal berlapis logam keras mengkilat itu menghantam telak kaki kanan, tepat di ujung kuku jempolnya. Seketika itu segar darah merah bersimbah, kuku jempol kaki kanan lepas separo. Kondisinya sangat mengenaskan, kuku itu seperti tutup botol yang baru saja dicongkel paksa. Belum terbuka sepenuhnya, masih menggantung setengah di tempatnya.

Kaki kiri pun panik, tetapi –alhamdulillah- masih bisa berpikir jernih. Segera ia papah saudaranya ke sepeda mereka. Ia naikkan kaki kanan ke sepeda, lalu dikayuhnya sepeda itu sendirian. Kebetulan –qodarullah, red- tidak jauh dari situ ada sebuah rumah sakit, Rumah Sakit Persahabatan. Saking terburu-burunya, tak peduli sepeda mereka melaju berlawanan arus. Saat menyeberang perempatan,  lampu merah yang menyala atau lampu hijau yang padam pun tak lagi dihiraukan.

Untunglah –alhamdulillah- kedua kaki sampai di RS Persahabatan dengan ‘selamat’. Sesampainya di sana, setelah meletakkan sepeda sekenanya, kaki kiri kembali memapah kaki kanan ke IGD –Instalasi Gawat Darurat. Satpam-satpam rumah sakit yang baik hati pun mengantarkan mereka sampai ke ruang medikasi.

Ada satu pasien manusia juga di ruang itu. Sepertinya ia habis jatuh dari sepeda motor. Kaki, tangan, dan dagunya lecet-lecet. Alhamdulillah, si kaki kanan hanya luka jempolnya saja. Kaki kanan pun berbaring di ranjang sebelah pasien itu. Darah sepertinya tidak lagi mengalir. Ganti keringat dingin sekarang yang mengalir. Tetapi, kaki kanan lumayan tenang sebenarnya waktu itu.

Setelah selesai mengurus pasien yang tadi, si perawat menghampiri kaki kanan dan kaki kiri. Setelah meminta izin untuk mencabut kuku malang itu, ia menyemprotkan pembius, menjepit kuku jempol kaki kanan, lalu mulai mencongkel tepi kuku yang masih melekat. Sakit, lumayan..

Keringat dingin semakin deras mengalir, tidak hanya di kaki kanan dan kaki kiri, tetapi juga di sekujur tubuh tuannya. Bahkan disertai sedikit kepala pusing dan pandangan agak kabur, seperti mau pingsan –untungnya tidak jadi, alhamdulillah. Sesekali sang tuan meringis kesakitan. Setelah beberapa saat, kuku berhasil dilepas seluruhnya, legalah, alhamdulillah.

Kemudian, Pak Perawat membubuhkan cairan obat dan membungkus jempol kaki kanan dengan kain kasa. Selesai.

Setelah menyelesaikan urusan administrasi, kedua kaki meninggalkan RS Persahabatan –tetapi tidak menanggalkan persahabatan-, pulang kembali ke rumah. Hari sudah mulai agak siang, sinar matahari sudah mulai terasa terik.


kaki kanan yang malang, "la ba`sa thohurun, insyaAllah"

Sesampainya di rumah, ‘seseorang’ yang membuka pintu ATM serampangan tadi baru diingat. Dia ternyata adalah si tangan kiri. Sudah seharusnya, dia meminta maaf. Tak apa, kita semua bersaudara. Dan toh si tangan kiri sejujurnya tak sengaja. Siang itu juga, setelah makan ketupat sayur yang telah mendingin, mereka semua tidur siang bersama.

No comments:

Post a Comment